Suami Settingan

Suami Settingan
Terus Berusaha


__ADS_3

Jika Dinka telaten menghitung, mungkin sudah ribuan kali ia datang ke rumah ini. Usaha giat, modusnya sama, hasilnya ... sama juga, yaitu gagal dan tidak ada titik kejelasan. Masalahnya adalah gengsi dan ego yang tinggi.


Diam-diam, Dinka datang sore hari saat kakak iparnya itu rebahan di kamar sembari memperdengarkan anaknya musik klasik. Mondar-mandir di dapur, dengan kedua tangan asyik saling meremas dalam kegelisahan menunggu. Kedatangan Mbak Rantilah yang amat sangat dia harapkan kehadirannya, sebab melalui Mbak Ranti, Dinka tahu apa yang sedang diinginkan iparnya tersebut.


"Gimana, Mba? Kak Jen pengen apa?" Begitu Ranti muncul, Dinka segera duduk dengan tegak. Tak sabar menunggu Ranti memberikan jawaban.


"Ngga pengen apa-apa, Mba Din ... cuma lagi ngantuk aja, katanya. Tapi saya larang, kata orang pamali tidur jelang magrib, Mba ... apalagi wanita hamil. Gak boleh." Ranti duduk di depan Dinka yang langsung lemas.


"Yah ... percuma dong buru-buru kemari." Dinka merengut. Pikirannya kembali berputar, mencari ide yang sekiranya masuk akal dan tidak terlalu kentara.


"Mba Dinka ini sebenarnya ada masalah apa sama Bu Jen? Serius sekali sampai bela-belain ke sini hanya untuk nanyain ngidamnya Bu Jen?" Ranti mengambil bawang merah dan mengupasnya, selagi bawang merah murah, Ranti berniat membuat bawang goreng. Selama ini, Dinka tidak pernah jujur dengan alasan kenapa sering kemari dan bersikap aneh. Sembunyi-sembunyi dan bukankah mereka saudara ipar? Mengapa tidak tanya sendiri apa yang diinginkan kakaknya?


"Mbak Ranti ngga bakal ngerti ...." Dinka membuang napasnya dengan keras. Kepalanya berdenyut-denyut. Dia lelah begini terus, tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Hari ini, dikatakan beruntung sebab Darren tidak ada di rumah, jika ada kakaknya itu, Dinka sudah diusir tanpa babibu. Menyebalkan memang.


"Makanya kasih tau dong, Mba ... kali aja aku bisa bantu."


"Panjang dan rumit, Mba ... Mba Ranti gak bakalan paham." Dinka berdiri dan menyandang tasnya di punggung. "Aku balik aja, Mba ... mau mandi dan tidur. Disini lama-lama bikin bokong bisulan."


Ranti terkekeh, "hati-hati di jalan, salam buat Bu Desy dan Pak Rendi."


Dinka mengangguk, lalu mengambil jalan melewati pintu belakang.

__ADS_1


"Mbak ... buatin rujak dong." Suara Jen terdengar dari ruang tengah, dan membuat Ranti bergegas bangkit. Dinka yang sudah mengambang di pintu segera berbalik, hatinya senang bukan kepalang. Dia berlari dan melemparkan tasnya serampangan untuk mencuri dengar obrolan Jen dan Ranti.


"... yang diserut itu, loh, Mbak. Buah-buahan masih, 'kan?" Jen duduk di sofa ruang tengah sembari menyangga perutnya yang mancung. "Aku bantu kupasin buahnya, Mbak, bawa sini."


"Eh, biar saya kerjakan semuanya saja, Bu ...." Ranti membenarkan posisi Jen yang kesulitan menarik bantal sofa yang mengganggu duduknya.


"Aku mau agak banyakan, Mbak ...," kata Jen penuh pinta.


"Jangan, Bu ... saya takut Ibu dimarahi Bapak. Sebaiknya nurut apa kata Bapak, itu demi kebaikan Ibu juga." Nasihat Ranti pelan-pelan agar Jen tidak tersinggung.


"Iya, deh ... iya!" Jen menghela napasnya, "biar aku nonton tivi aja. Bilang sama bosnya Mba Ranti, aku beneran nurut dan gak macem-macem," sambungnya kesal. Segera dinyalakannya televisi dan menonton acara gosip sore.


"Artis sekaligus model, Diego Alvares, tersangka dalam kasus percobaan penculikan salah seorang pengusaha muda dan menyebarkan informasi palsu, hari ini menjalani sidang putusan."


"Diego yang sejak awal tidak mau didampingi pengacara ini terlihat santai, tanpa beban ketika memasuki ruang sidang. Sidang yang berlangsung selama satu jam itu akhirnya menjatuhkan hukuman penjara ...."


"Bu, mangganya habis!" Jen terperangah ketika Ranti berbisik rendah di sampingnya. "Biar saya beli dulu, Ibu tahan sebentar ya,"


"Iya, Mba ... akan aku tahan sebentar, kalau lama ya, keburu udah gak mau babynya," kelakar Jen yang biasanya membuat Ranti mengelus dada dan beristighfar banyak-banyak.


"Kilat khusus, Bu ... tenang aja, Bu!" Ranti melesat tanpa menunggu jawaban dari Jen. Lantas ia memanggil Dinka yang sudah siap melesat membelikan mangga.

__ADS_1


" ... sebelumnya, TN sudah dijatuhi vonis hukuman berlapis untuk kejahatannya yang cukup menyita perhatian masyarakat. Namun, dikarenakan kondisi kejiwaan TN yang kurang stabil dan kasus narkoba yang menjeratnya, sementara waktu, TN masih dirawat di RSKO untuk rehabilitasi dengan penjagaan yang ketat. Kami para pewarta bahkan tidak diperbolehkan untuk melihatnya."


Jen menarik napasnya dalam-dalam. Mungkin ini efek dari kehadiran bayi di perutnya yang membuatnya sedikit-sedikit tersentuh. Jen berpikir, jika apa yang dilakukan Tanna padanya, tidak sebanding dengan apa yang diperbuatnya pada Nella dan keluarganya. Jen merasa kejadian itu malah membawanya ke titik dimana dia melihat kebenaran dan kebaikan. Membuatnya sabar dan kuat menjalani hidup. Ada banyak hal yang diambil dari kejadian itu, dan tidak semuanya buruk, malah rasanya berbuah manis. Jen menyebut kejadian itu bukanlah sebuah cobaan, melainkan sebuah ujian untuk mendewasakannya.


"Semoga kau lebih baik setelah ini, Tan ...." harap Jen dalam hati.


Sementara, Dinka yang membeli mangga mengkal untuk rujakan telah mendarat kembali di dapur dengan napas tak beraturan karena ia terus saja berlari agar Jen tidak kehilangan minat pada rujak serut itu.


"Nah, makasih, ya, Mbak Din ... ini bumbunya udah siap, tinggal ngupas mangga dan disawut, baru deh dicampur." Ranti menunjukkan semangkuk buah-buahan serut yang sudah dicampur bumbu.


"Yah, gak tau apa bumbunya, dong?" Dinka menyeka dagunya. "Nanti kalau aku hamil dan ngidam rujak 'kan gak perlu panggil Mbak Ranti."


"Duh, Mbak Dinka ini ya, bicara aneh-aneh, entar diaminkan sama alam loh, Mbak. Nikah dulu, jangan ngidam dulu, biar urutan didunia tetap tegak, gak kebalik-balik." Mereka berdua tertawa.


"Bisa aja, Mbak Ranti ini. Doakan saya tetap lurus dan bisa bedakan mana yang merugikan mana yang mendatangkan manfaat."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2