Suami Settingan

Suami Settingan
Gak Suka? Minggir!


__ADS_3

"Ada paket untukmu, Ren ...."


Malam harinya ketika mereka berdua duduk di sofa malas dan saling berimpitan. Sebenarnya, Jen agak canggung duduk seperti ini, tetapi ia juga sedang menganggur dan tidak melakukan apa-apa. Ingin keluar kamar, juga tidak ada teman sebab mertuanya sedang keluar dan ada beberapa teman Dinka yang datang berkunjung. Em ... sebenarnya Jen menghindari berada satu ruangan dengan Dinka bila tidak ada orang lain. Anak itu memancing sisi lain dirinya yang sedang 'mati-matian' ia tundukkan.


"Dari siapa?" Darren di belakang Jen, menempel pada punggung Jen, ia seperti habis bepergian jauh dan dalam waktu yang lama, sehingga malam ini ia enggan kehilangan waktu untuk terus memeluk wanita yang telah sukses ia jinakkan.


Ia masih menyandarkan kepalanya di punggung Jen dan memejamkan mata. Terbuai. Ah, sebenarnya ia ingin meminta Jen menghadap kearahnya saja. Pasti ....


Haish ... Darren! Jangan mesum!


Menampar pikirannya yang teramat kotor, Darren mengeratkan pelukan pada perut Jen. Cukup bayangkan saja kalau saat ini sedang bertumpu di dada istrimu, perintahnya pada imajinasinya sendiri.


"Lupa, sih, siapa yang ngirim." Ia berniat mengambilkan paket untuk suaminya, tetapi ketika ia hendak melerai lingkaran tangan Darren, yang ada malah Darren mengikatnya lebih kuat.


"Penting ngga? Kalau ngga penting, ngga usahlah ...," ujar Darren malas, ia mengendus aroma Jen sesekali mengecupnya. Gerakan kecil Jen yang berjingkat-jingkat dan menggeliat geli membuat Darren seperti tersengat.


"... ini lebih penting, Yang," sambung Darren mendesah. Ia mirip orang mabuk atau 'ngefly'.


"Mana bisa begitu!" Jen menarik tangan suaminya agar terberai, selain sesak, jujur saja ia sangat penasaran dengan isi kotak yang sangat ringan itu. Selain itu ia tak mau 'meler' sebelum waktunya. Darren membuatnya menahan geli setengah mati. Lagipula baru saja adzan Isya berlalu belum lama, jejak basah air suci juga masih terasa. Masih terlalu sore untuk adegan dewasa, bocil masih berkeliaran.


Berat hati, Darren melepaskan pekukannya, membiarkan Jen mengambil kotak yang di simpan di meja.


"Paket apa, sih? Perasaan aku gak pesen apa-apa?" Darren merebahkan tubuhnya dengan tangan sebagai tumpuan, pandangannya mengikuti gerak Jen yang memakai rok selutut yang melebar di bawah dan menyempit sampai di pinggang. Biasanya dipadukan dengan sepatu kets yang sedikit tinggi, sangat cocok untuk kakinya yang indah meski tidak jenjang. Tampilan yang sporty, menurut Darren.


Jen membolak-balik kotak dengan isolasi coklat muda melilit. Ringan bahkan ini lebih ringan dari balon. Menggoyangkan di dekat telinga, ekspresi penasaran sungguh kental terasa.


"Lah, ini atas nama siapa?" Jen mengulurkan sisi kotak yang tertera nama dan alamat tujuan.


Darren menerimanya, tetapi bukan kotak yang ia tarik, melainkan pergelangan tangan Jen, hingga tubuh Jen rubuh di atas tubuhnya. Darren menguncupkan bibirnya, memberi kecupan tanpa menyentuh bibir Jen.


"Makasih, Sayang ...." Darren terkekeh.


"Apaan, sih?" Jen semula terkejut hingga matanya melebar sempurna, lantas ia bersungut dan mendecakkan suaranya, meski begitu, rona-rona merah mulai bersemu di pipinya.


Ia bergegas bangun dari tubuh Darren, lalu duduk dengan baik di sisi Darren dengan posisi membelakangi. "Cepetan buka itu paketnya!"


"Iya, sabar." Darren duduk, membuka paket yang berisi kotak yang lebih kecil. Ia baru ingat kalau pesan itu kemarin, tapi mungkin tidak akan berguna lagi sekarang sebab Jen juga yang membatalkan permintaannya sendiri. Ketika kotak hitam tersebut berhasil di keluarkan, Jen meliriknya. Matanya langsung membola.

__ADS_1


"Ih, kamu beli itu beneran?" Jen seketika bergidik melihat benda terbungkus kotak berwarna hitam bertuliskan 001 dengan warna emas berisi sepuluh biji.


"Kan kamu yang minta ... ya, aku beli." Darren mengendikkan bahu, ia melempar-lemparkan kotak tersebut di tangannya. Seringainya sangat menyebalkan menggoda Jen.


"Gimana? Mau dicoba?" Alis tebal itu naik turun secara berulang, wajahnya sedikit condong ke depan.


"Ogah, ih ...," jawab Jen berpaling dengan raut wajah semakin malu.


"Aku beli yang paling tipis dan katanya meski bukan yang paling bagus dan paling mahal, ini recomended untuk pemula." Darren meneliti benda yang selama ini hanya mampu dilihatnya saja. Belum pernah ia menyentuh apalagi melihat isinya secara langsung. Ia menaikkan lagi pandangannya yang tak menampik fakta bahwa ia ingin merasakan sensasi 'memakainya'.


Jen, ketika Darren menatapnya, ia juga sedang melirik penuh rasa penasaran pada pengaman yang pernah ia pintakan kepada suaminya tersebut, jadi saat tatapan mereka bertemu, Jen langsung berpaling dan menunduk. Tubuhnya kebas terutama di bagian punggung, seperti mengembunkan cairan di sela pori-porinya.


Darren beringsut penuh minat, "coba yuk ... penasaran!"


Jen mendelik dan bergerak menjauhi jangkauan Darren. Matanya bergerak naik turun, antara geli dan tidak percaya bahwa pria ini—yang tampak alim dan lugu juga kalem—ternyata memiliki sisi mesum yang luar biasa. Astaga, Jen mengeluh dalam hati, penampilan luar yang sungguh menipu.


"Ngga mau!" Masih sore, woey ... di luar banyak bocil.


Jen mengalihkan perhatiannya dari Darren usai mengatakan penolakan dengan ketus. Ia sedang memikirkan obrolan lain agar terhindar dari topik yang membuat kepala cenat-cenut.


Darren seperti diingatkan, ia langsung meletakkan kotak 'oo1', gantinya ia meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil tempatnya menyimpan perlengkapan game.


Ia menarik Jen untuk duduk di depannya lagi. Melupakan perkara pengaman yang baru saja mereka bahas.


"Nih, coba lihat ini. Ada apartemen satu kamar, cocok sepertinya buat kita." Tangan Darren mengungkung tubuh Jen. Dagunya menyangkut di bahu Jen, menunjukkan foto sebuah apartemen convertible yang cukup hangat untuk tempat tinggal mereka berdua.


"Kenapa mesti apartemen? Gak perumahan KPR aja?"


"Yakin? Gak papa, nih?" Darren tentu tak percaya dengan ucapan Jen.


"Iyalah ... bosen tinggal di kotak kaca. Mending deket sama sawah dan kebun." Jen menghayalkan rumah seperti rumah neneknya dulu. "Eh, kalau nempatin rumah nenek gimana? Masih bagus loh, dan luas juga rumahnya. Deket sama rumah tante Viona dulu." Jen mengubah posisinya kembali, menyamping agar mampu menjangkau wajah Darren. Ia lebih suka berbicara dengan menatap suaminya tersebut.


Darren makin menaikkan alisnya, ia heran dengan pikiran istrinya itu. "Gak papa, nih, kalau aku gak beliin rumah buat kamu? Aku mampu loh, meski apartemen kecil. Ya, asal kamu gak keberatan aja, sih."


Jen mengibaskan tangannya secara berulang, lalu mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Darren. Darren sendiri melongo dengan tangan masih menggantung di sekeliling Jen. Otaknya blank sejenak.


"Ngga masalah kok, dimana aja aku oke. Malah nanti uangnya bisa buat keperluan lain."

__ADS_1


Jen bergerak rajin semakin mendekat ke pada Darren. Ya, ia tidak akan membuat Darren terbebani olehnya secara berlebihan. Ia ingin hidup sederhana dan bahagia, meski Darren pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk kehidupan mereka.


Eh, kejauhan, ya?


"Oke, jadi apartemen aku cancel semua, ya ... ingat! Ngga boleh berubah pikiran kalau sudah tinggal di rumah yang kamu mau! Setuju?" Darren mengangkat jari kelingkingnya yang langsung di sambut dengan senyum merekah oleh Jen.


Kelingking mereka saliang bertaut, "Deal! Gak bakalan berubah pikiran kok ... tapi kamu yang minta kuncinya sama mama." Jen tertawa penuh kemenangan melihat senyum lebar Darren mendadak pudar.


"Dasar kamu!" Darren mencapit hidung Jen dengan gemas hingga wanita itu mengaduh dan minta ampun.


"Sakit, Ren ... udah ih ...." Jen meringis menahan sakit di ujung hidungnya, ia mencoba menarik tangan Darren dari sana.


"Makanya jangan jahil! Mana boleh aku yang minta kuncinya? Apa kata mamamu nanti, he?" Ia menggoyang hidung Jen dan melepaskannya. Menyisakan warna merah yang pekat di ujung hidung Jen.


Jen merengut sambil mengusap ujung hidungnya. "Bolehlah, emangnya apa masalahnya kalau kamu yang minta? Mama pasti bakal ngasih kok, mama pasti seneng kalau rumah nenek ada yang menempati setidaknya tidak akan sepi kalau mama berkunjung ke sana."


"Kamu gak malu suamimu gak bisa kasih kamu rumah yang nyaman, Jen? Kalau apartemen 'kan kelihatan kalau aku yang beliin." Tentu Darren memikirkan harga dirinya di hadapan mertuanya. Apalagi sebagai lelaki, ia seharusnya menyediakan kenyamanan bagi istrinya, tidak seperti ini. Kesannya dia bergantung pada mertuanya yang memiliki segalanya. Walau opsi yang diutarakan Jen cukup masuk akal dan bisa di terima.


"Enggak!" Jen menggeleng. "Kalau orang lain boleh gengsi, Ren ... tapi kalau kita memanfaatkan kemudahan yang ada. Gak usah peduliin apa kata orang, kalau kata Jen mah ... bodo amat, ini hidup gue!" Jen terkekeh usai membusungkan dada ketika menyuarakan semboyan hidupnya.


"Ini hidup gue, gue yang jalanin, gue yang ngerasain! Lo suka lihatin, gak suka ... minggir!"


.


.


.


.


.


.


.


ngumpet di pojokan, bikos gak tepatin janji buat up lagi😆✌

__ADS_1


__ADS_2