Suami Settingan

Suami Settingan
Keuwuan Pagi


__ADS_3

Menu sarapan pagi ini telah selesai disiapkan, pecel, telur ceplok, dan lele goreng sudah tersaji di meja makan. Menyisakan tempe goreng tepung yang belum selesai di goreng oleh Jen. Di bawah arahan Desy, Jen mulai belajar sedikit-sedikit mulai dari mengukur takaran bumbu dan tingkat kematangan suatu masakan. Sementara untuk menggoreng tempe, itu tidak terlalu sulit sebab ia terbiasa melakukannya bersama Ranu. Ah, Ranu ... apa dia masih kesal karena tamparan waktu itu?


Dapur di rumah ini memang di beri banyak jendela tetapi itu tetap tidak bisa membantu meringankan gerah dan keringat yang seakan membanjir. Jen sibuk membaluri tempe dengan tepung, sesekali ia membalik yang berada di atas wajan. Bersenandung lirih, Jen terlihat santai dan menikmati. Ia tak mengeluh, meski mama mertuanya telah keluar terlebih dahulu untuk bertemu pelanggan yang datang terlalu pagi. Entah membicarakan apa, pesan bunga mungkin.


Di luar, mendung merayapi permukaan langit, membuat suasana semakin gerah. Jen mengulurkan kepalanya, memeriksa langit.


"Aduh, mau ujan lagi." Padahal ia berniat segera menjual murah baju-baju miliknya mulai hari ini. Ia ingin segera bebas dari jerat kebangkrutan yang enggan sekali ia usahakan kembali berjaya. Entahlah, ia lelah.


Titik air mulai mengguyur ketika Jen memasukkan tempe terakhir. Derasnya membuat seluruh suara tak mampu menyela. Lalu tetes air itu mulai merembes dan bocor, awalnya menimpa bagian lain di dapur tetapi lama-lama, mengenai Jen juga tepat di kepalanya.


Cipratan itu mengenai minyak di wajan. "Aduh-aduh, ini kenapa bocor banyak sekali, sih?" Jen mengambil beberapa wadah dan menampung rembesan air hujan.


Tepat ketika itu terjadi, Darren baru saja tiba dan sedikit terkejut melihat Jen kelabakan. Ia berlari mendekati istrinya. Bocor itu menyebabkan lantai sedikit licin, ia khawatir Jen terjatuh.


"Pelan-pelan, Sayang!"


Jen melebarkan matanya, sentuhan di kedua pinggangnya membuatnya kembali meremang. Ia membeku.


Sayang?


Jen tak tahan untuk tidak menggigit bibirnya yang mengembang tanpa tahu malu. Darren semakin memiliki banyak cara untuk membuatnya terperosok jatuh dalam kubangan rasa yang indah. Atau entah bagaimana menjelaskannya, seperti ada jutaan warna dan jutaan rasa menghambur di setiap sudut hatinya.


Darren menuntun Jen yang kaku agar tidak terpeleset. "Rambutmu basah ...," tangannya berpindah mengusap rambut Jen yang terkena air. "Cepat mandi dan ganti baju, keringkan rambutmu."


Jen yang telah berhadapan dengan Darren mengedipkan kelopak matanya. Gugup. "I-iya ... ini belum selesai goreng tempenya," ucapnya mendesah di ujung kalimat dan sedikit tawa canggung menyertainya. Ia tak mau berlama-lama terjebak dalam situasi yang Darren ciptakan barusan, sehingga ia langsung menghadapi kompor lagi. Membiarkan kepalanya tertimpa air lagi.


Darren segera menarik Jen dari sana, "kepalamu kena air, Yang ... hati-hati." Suara itu hanya cemas dan panik. Namun, Jen malah beranggapan lain, Darren terlalu memikirkannya. Senang tentu saja.


"Nanti tempenya gosong, Ren ... bentar lagi kok. Nanggung," tolaknya dengan suara lembut dan bernada.


Jen kembali ke posisinya, tak peduli ia kena air. Tempe itu sudah hampir matang, tinggal nunggu krispinya.


Darren kesal tentu saja. Tanpa pikir panjang, ia mengulurkan telapak tangannya untuk melindungi kepala istrinya. Tubuhnya menempel di punggung Jen. Lalu ia mengangsurkan kepalanya ke sisi Jen.


"Aku belum mandi, masih bau keringat, tapi karena kamu nakal sekali, susah dibilangin ... terpaksa aku menempel padamu," bisiknya.


Bisikan yang membuat Jen kembali menegang, tetapi ia mencoba mengusirnya cepat-cepat. Ia menengadah, melihat aksi Darren yang akan terlihat berlebihan di mata orang lain.


"Darren, kamu berlebihan ... malu kalau dilihat mama atau papa. Ini hampir selesai kok, kamu mandi saja."

__ADS_1


"Aku selalu berlebihan jika berurusan sama kamu." Kini dagu Darren bergerak di pundak Jen, menelusup. Pun dengan sebelah tangan yang juga menelusur pinggang dan berakhir dengan sapuan kecil di atas perut Jen. "Sayangku." Sebuah kecupan yang tak bertuan terdengar berdecap dan memenuhi telinga Jen.


Ahh ...


Hujan dan dibuai seperti ini rasanya sungguh romantis sekali. Hah! Jen mengeluh dalam hati. Pantas saja banyak orang pacaran dan romantis itu selalu berakhir di ranjang dan berbuah bayi. Rupanya, Jen merasakan hal yang sama. Ingin naik ke dalam gendongan ala pengantin lalu bersarang di atas sana, kasur yang menggoda.


Jen!


Astaga. Seakan baru bangun dari sebuah mimpi gila, Jen segera membangun tubuhnya yang sempat meleleh dan terbuai. Ia kembali fokus dan segera mengangkat tempe di atas minyak yang berdecis. Tak peduli matang atau belum.


"Sudah selesai, Ren ... aku ke atas dulu."


Jen meronta dengan sangat pelan, mengoyak mata Darren yang terpejam. Otak pria itu sangat kotor ketika membayangkan dia bersarang di peraduan dengan kekasihnya ini. Pacaran setelah berlabel halal itu selalu berakhir di ranjang. Ahh ... my honey. Rasamu melekat dalam ingatanku.


"Beneran mau udahan ini? Aku masih mau lanjut sampai siang nanti. Begini terus selamanya."


Me too.


Eh!


Maksudnya ... iya-eh nanti dilanjutkan lagi.


"Lanjutin aja, ngga papa."


Serempak dengan sedikit terkejut, mereka berdua menoleh. Bagai tersiram air es, keduanya membeku ketika melihat seringai Rendi di ujung dapur. Desy juga nyengir dengan riangnya. Hanya Dinka yang tampak masam melihat kemesraan kakaknya. Ia berdecak dan menghentak kakinya, lalu ia pergi dengan kemasaman menjadi-jadi. Kesal karena papanya heboh memanggil mamanya, dan tampak misterius ketika mengatakan ada pemandangan indah di dapur. Pikir Dinka, ada pelangi atau ada kejadian luar biasa di sana. Ya, kalau dipikir lagi memang kejadian luar biasa, sebab Dinka jadi ragu dengan apa yang ia dengar kemarin.


Kalau kontrak, kenapa menghayati dan romantis begitu? Kan jadi ngiri gue. Batin Dinka seraya melemparkan tubuhnya di kursi meja makan. Ia mengambil satu telur ceplok dan memakannya dalam gigitan besar. Mengunyahnya seakan telur itulah penyebab semua ini. Ah, kalian berdua menyebalkan!


"Cepat mandi, Ren ... sarapan! Kerja, istri ngga bakal kenyang kalau cuma dikekepin begitu! Karena jajan butuh uang bukan keromantisan kalian," ucap Rendi lagi dengan senyum lebih lebar.


Darren menggaruk kepalanya, "iya, Pa ...," jawabnya dengan senyum salah tingkahnya. Rendi menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, tetapi juga senang melihat kemajuan hubungan mereka, jujur saja, dia sempat meragukan keputusan mereka untuk menikah. Namun sekarang, semua telah pudar berganti yakin dan percaya. Rendi menggaet istrinya untuk keluar dari dapur, membiarkan anak-anak mereka menguasai diri.


Jen melemaskan tubuhnya hingga terhempas turun, diiringi hembusan napas yang begitu keras ketika mertuanya telah hilang dari ambang pintu. Ia sempat menegang ketika melihat orang tua suaminya tertawa menggoda dan mencandai mereka.


"Kan? Kubilang juga apa?" desis Jen dengan gigi beradu, ia menghadap Darren dan menampar lengan suaminya yang tidak terbalut kain.


Darren meringis dan mengatakan 'au' tanpa suara, tangan lainnya memburu untuk menangkap tangan Jen yang sudah bersiap menamparnya kembali. Bukan Darren kalau tidak membuat wanita ini kelabakan dan merona. Ia mendorong Jen hingga terantuk meja dapur lalu menekannya dengan seluruh tubuhnya. Matanya mengerling Jen yang kembali kehilangan napas dan warna di wajahnya. Lalu ketika Jen fokus menatap matanya, Darren mendorong bibirnya menghisap bibir Jen dengan gerakan yang sensual, hingga terdengar bunyi 'pop' ketika ia melepaskannya.


Jen kaku sampai ia hanya bisa memegang erat lengan yang semula mencengkeramnya. Rasa hangat dan basah yang memabukkan membuat Jen ingin membalas dan berlama-lama menikmatinya, tetapi ketika ingatanya masih sadar dimana sekarang, ia hanya bisa pasrah ketika kehangatan itu pergi. Dasar Jen!

__ADS_1


"Jangan bilang kau sudah 'basah' ...." Darren menyeringai melirik tangan Jen yang berada di lengannya. Nakal sekali ia mengerling Jen hingga membuat wanita itu merengut dan menghempas tangan Darren.


Ketika Jen mendorong tubuhnya, ia segera menariknya lagi hingga wajah Jen terbenam di dadanya. "Love you, Sayang!" Darren mengeratkan dekapannya, diiringi hujan kecupan di atas rambut Jen yang sedikit basah.


***


Ketika hari merangkak menuju siang, hujan telah reda, tetapi mendung di atas sana belum mau menyingkir. Jen sedang menerima sebuah paket yang diantarkan oleh kurir.


"Makasih, ya, Pak," kata Jen yang langsung diangguki oleh si kurir sebelum melesat dengan sepeda motornya.


"Apa isinya, ya?" Paket itu untuk Darren, tertera nama dan alamat pengirimnya. Kotaknya besar tapi cukup ringan. Namun, karena itu milik Darren ia tak berniat membukanya, ia menyimpan kotak tersebut di kamar.


"Paling itu perintilan game, Jen ...," ucap Desy yang tengah sibuk menyusun sebuah buket bunga. Jen telah bergabung dengan mertuanya kembali lalu duduk lesehan di sana. Menjadi asisten mertuanya, karena ia tak tahu harus melakukan apa saat rencananya tak bisa berjalan sebab cuaca yang tidak mendukung.


"Hari ini ramai ya, Ma ... meski hujan," ujar Jen sambil memainkan sekuntum bunga mawar yang akan menjadi buket bunga.


"Iya, Jen ... Alhamdulillah. Hanya karena letak yang kurang strategis dan sulit dijangkau, akses ke pelanggan jadi kurang." Desy memberikan sentuhan terakhir pada buket bunga tersebut sebelum ia mengulurkannya ke depan Jen. "Cantik, ya?"


Jen mengangguk. Ya, Jen mengakui kalau pekerjaan mama mertuanya bagus dan memuaskan. Sekali lagi hanya akses untuk dilihat dan dikenal orang banyak yang menjadi penghalang. Jen melamun, pikirannya kembali penuh, meski matanya bergerak mengikuti kemana Desy menuju.


.


.


.


.


.


mon maaf typo✌


Untuk judul lain nyusul ya, saya on going juga di aplikasi kuda ungu ... meski gak bagus-bagus amat, aku usaha biar dapet gaji tetap🤭


Cinta banyak-banyak buat temans semuanya😍😍😍 semoga hari ini Jen bisa update dua bab ya😍😍😍 tunggu nanti malam🤭 kalau siang mamak cantik gak paripurna ini nguli bantuin suami🤭 mulung recehan juga🤭


Aih, jangan dibahaslah😆 recehwan kudu sabar biar jadi jutawan😆


Ketjup-ketjup😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2