
Bayi kedua yang baru saja lahir, terlihat lemah dan membiru. Memang bayi kedua ini lebih kecil dari yang pertama. Tidak ada masalah memang dengan fisiknya, tetapi dia langsung dilarikan ke NICU karena mengalami kondisi gawat janin.
Sementara, Jen yang berusaha kuat, nyatanya juga tidak mampu lagi membuka matanya lebih lama. Dia jatuh dalam kondisi tak sadarkan diri setelah mengalami pendarahan.
Ruangan ini berubah menjadi ruangan yang sesak dengan kepanikan dan tangisan pilu seorang suami. Sementara di luar, saling berpelukan dan berdoa. Tidak ada yang berbicara, hanya isak tangis mewakili semua kesakitan dalam hati mereka.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Dokter Luna keluar. Membangkitkan empat manusia dewasa yang berurai kepedihan di raut wajah mereka.
"Saya minta maaf ...." Luna perlahan mendekat. "Tapi saya sudah mengupayakan yang terbaik untuk cucu anda. Dan Nona Jen saat ini dalam kondisi stabil, meski dia masih tertidur...."
Luna menjelaskan lebih lanjut mengenai kondisi Jen. Dimana dia mengalami kelelahan dan dehidrasi yang buruk, juga mengalami pendarahan setelah plasenta berhasil dikeluarkan.
Kira mengesah dan duduk kembali. "Dia lelah, Luna ... biarkan dia tidur." Wanita itu membekap mulutnya, menahan tangisan yang melompat keluar meski berusaha ditahannya mati-matian. Jen mengalami hari yang kurang baik saat hamil, Kira iangat betul saat itu.
"Aku akan melihatnya, lalu menggantikannya mengasuh si kembar. Dia akan kembali sehat setelah beristirahat." Kira bangkit dan meminta Luna mengantarkannya. Mengabaikan suaminya yang keberatan akan tindakannya itu.
__ADS_1
"Aku juga ...." Desy mengekori di belakang Kira. Saat ini, lebih baik bersikap tegar daripada terus meratap dan menangis. Jen pasti akan kembali kepada mereka. Itu keyakinan yang terus diucapkan Desy dalam hati.
***
Darren berada didepan dua boks bayi dengan berbagai alat penopang medis tertempel di tubuh keduanya. Jika yang satu terlihat lebih baik, yang satunya terlihat kepayahan dan lemah. Usai mengadzani kedua bayinya, Darren menyusupkan telunjuknya di jemari kedua anaknya.
Rasa haru dan bahagia hadir menyelinap, membuat pria itu kembali terisak. Padahal, semenjak meninggalkan Jen saat Jen masuk ruang perawatan intensif, Darren bertekat untuk tegar di depan kedua jagoannya yang bertelanjang dada itu.
Bibir Darren bergetar, lalu menghembuskan napas yang terasa panas. "Hai, Boys ...," panggil Darren dengan begitu rapuh. "Kalian hebat dan memenangkan pertandingan. Mami kamu menang dengan berhasil menunjukkan pada kalian dunia yang indah ini. Cepatlah baik dan panggil Mami kalian kembali."
Darren menengadahkan kepalanya agar kedua anaknya tak sampai melihat air matanya yang jatuh. Lantas ia kembali menatap putranya yang begitu tenang dalam mimpinya. Yang kiri memiliki tubuh yang putih kemerahan, detak jantungnya kuat, dan menggenggam tangannya erat sementara yang di sebelah kanan, tubuhnya sudah tidak sebiru saat dia keluar, tetapi monitor jantungnya berdenting lemah, pun dengan genggamannya yang terlihat begitu rapuh.
Darren melakukan ciuman di udara kepada dua anaknya itu, karena terhalang kaca dan hanya tangannya saja yang bisa menyentuh mereka. Itupun dengan sterilisasi yang sangat ketat. Pun dengan batasan waktu yang disediakan. Darren tidak bisa melakukan apa-apa selain patuh, semua demi kebaikan anaknya.
"Nanti Papi akan datang lagi ya, sekarang kalian bobok dulu yang nyenyak." Ia tersenyum dan melepaskan telunjuknya perlahan. Meski ia sangat tidak tega membiarkan anaknya sendirian di sana, tetapi ia segera beranjak dan meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
***
Hari sudah berganti pagi, dan Darren belum beranjak sama sekali dari sisi Jen. Ia terus menggenggam tangan Jen dan memandangi wajah pucat istrinya itu. Jen semalam mendapatkan tranfusi dan anehnya itu berasal dari Sia. Entah kebetulan atau apa, begitu Rian tidak bisa tidur memikirkan Jen, Sia nekat membawa papanya datang ke rumah sakit. Beruntung Sia ada di sana, jadi selain Jeje, Sia juga ikut memberikan sumbangsih yang membuat Jeje berburuk sangka padanya.
"Apa mimpimu indah sampai kau belum mau bangun juga?"
Darren mengembuskan napasnya. "Baiklah ... kau boleh tidur, memulihkan tenagamu, dan kau harus bangun untuk menyiksaku. Memarahiku, mengomeliku, bahkan kau boleh memusuhiku lagi. Silakan saja ... aku terima dengan senang hati asal kau bangun kembali. Dan ingat, berjanjilah jangan meninggalkanku lagi."
Sekali lagi hening menyelimuti. Hanya detik jam dan juga bunyi bib yang menyayat hati yang terdengar. Darren merebahkan kepalanya lagi di sisi lengan Jen. "Kau juga harus melihat anakmu yang tampan-tampan itu. Aku hanya tidak menyangka, keras kepalamu sungguh berhasil mengalahkan kecemasan kami. Beruntung waktu itu aku tidak menyetujui kuretase yang disarankan oleh dokter Luna, jika saja aku menyetujui tentu aku melewatkan melihat malaikat yang begitu tampan dan menggemaskan."
"Terimakasih sudah bertahan untuk mereka dan sekarang bertahanlah untukku." Darren mengecupi punggung tangan Jen dengan air mata yang tak bisa lagi dibendung.
*
*
__ADS_1
*
*