Suami Settingan

Suami Settingan
Siput Sawah


__ADS_3

"Kenapa, sih?" Jen memandang sekeliling di mana keluarganya sedang mengerumuninya. Malam-malam, dan mama papanya memakai pakaian tidur ketika sampai di kamar ini. Kedua adiknya juga memasang wajah horor dengan celana boxer membalut sepasang kaki mereka. Jeje bahkan masih memeluk guling ketika berjalan ke sini. Harris, saking cemasnya, sampai mengemudi sendiri dengan kecepatan penuh—dan Kira masih menyuruhnya melaju lebih cepat, lalu mengatakan kalau dia mengemudi seperti siput. Sungguh Jen ingin tertawa melihat pemandangan ini.


"Aku hanya demam dan dehidrasi saja. Dia tuh yang berlebihan ...," dagu wanita itu menunjuk Darren yang terlihat kacau, namun tetap berusaha tersenyum.


Kira mengusap rambut anaknya, "kamu seharusnya ngga mengabaikan sakit meski hanya demam atau flu, Sayang ... Darren ngga berlebihan. Ini adalah hal yang benar, kalau ngga gini 'kan kamu ngga bakal tau ada bayi yang tumbuh di perut kamu." Senyumnya akhirnya terkembang meski terpaksa.


Terselip rasa pilu yang luar biasa di hati Kira, seharusnya ini menyenangkan, tetapi, dengan adanya virus yang menyertai, meski kadar kebahagiaan itu tetap tinggi, tapi rasa khawatir tetap menghantui.


Jen menipiskan bibirnya, "iya, Ma ... maksudnya Jen tuh, gak perlu sampai ngabarin mama dan papa malem-malem gini, Jen tuh, gak papa, kalian bisa datang besok saja."


"Loh, justru kalau Darren ngga ngabarin kami malam ini juga, Papa yang akan marahin dia." Harris menyela diantara ketegangan ini. Suaranya selalu menjadi pemenang diantara semua perdebatan.


"Kan bikin papa keganggu istirahatnya ... papa udah lelah seharian, sekarang masih harus lari-larian ke sini." Jen sungguh merasa sungkan.


"Udahlah, gak usah mikir apa-apa lagi. Kami ngga merasa keganggu dengan semua ini. Kami terlalu khawatir dengan keadaanmu, Sayang ...." Kira memeluk putrinya tersebut, air matanya menitik begitu saja saat Jen menyentuh dadanya. "Selamat menjadi calon mama, ya, Nak ...."

__ADS_1


Jen mengangguk sebagai jawaban. "Jaga baik-baik anugrah yang dititipkan di rahim kamu ... jangan seenaknya sendiri mulai sekarang, dengerin apa kata Darren, kata dokter." Kira melepas pelukannya, "sekarang kamu tidur, periksanya besok saja, Ren ... biar Jen pulih dulu."


Darren mengangguk, ia juga berpikir demikian, tes darah—kata Dokter Andina, sebenarnya sudah cukup kuat. Untuk USG dan yang lain bisa dilakukan besok. Apalagi setelah kejadian barusan, Jen pasti masih sangat terpukul. Ini saja, Darren yakin, Yen mati-matian menyembunyikan rasa penasarannya akan kematian Myung yang membuat Dinka marah.


"Apa kami perlu menginap di sini juga?" Jeje yang menahan kantuk, sejak tadi merebahkan tubuhnya di sofa. Dia sangat lelah setelah seharian tadi berkeliling SSB yang ada di kota ini. Maklum, dia adalah bintang sekarang.


"Jangan ... sebaiknya pulang saja, Pa, Ma ... aku baik kok ... beneran deh." Jen tersenyum sembari menggenggam tangan mama papanya bergantian. Lalu ia mengedip pada dua adiknya yang ketika melihat Jen baik-baik saja langsung mundur dan meredakan ketegangan yang mencekik dengan melepaskan tubuh mereka di sofa tak jauh dari Jeje. "makasih, Brother, udah khawatir sama aku." Senyumnya terlihat begitu cerah di atas bibirnya yang masih pucat.


"Yah ...," kata Harris dengan napas terhela bersamaan. "... baiklah, kami akan pulang, tapi, kalau ada apa-apa, langsung kabari ya! Sehat-sehat anak papa dan calon cucu kedua papa." Ia menyematkan kecupan di puncak kepala Jen dan mengusap rambutnya perlahan penuh sayang. Jen memejamkan mata sembari mengangguk. Ah, beruntungnya dia, memiliki papa yang penuh kasih sayang dan memiliki seluruh dunia dalam genggamannya.


"Kita pulang, Kakak Sayang!" pamit Aziel mewakili Agiel yang melambaikan tangannya.


"Pa, kita pulang kaya tadi, ya," pinta Agiel serta merta.


"Ngga ada! Pulang mama yang nyetir! Kalau kaya tadi bisa-bisa mama jantungan mendadak!" potong Kira sembari mengambil kunci mobil dari tangan suaminya.

__ADS_1


"Lah, tadi mama yang bilang 150 itu kaya siput sawah!" protes Harris tidak terima ketika disamakan siput sawah. Padahal, dia selalu yang tercepat diantara yang lain, dulu.


"Ya, tadi mama masih mimpi, sekarang udah enggak!" Kira berkata ketus dan tidak peduli. "Kalau keberatan, kalian tidur saja di sini."


"Mama!" seru mereka serentak. Selalu saja begitu. Setelah wanita selalu benar, ada Mama yang tak pernah salah. Dan diantara ke empat pria itu, di tambah Excel, pasti hanya Excel yang langsung mengiyakan apa kata Kira tanpa berdebat atau mengajukan keberatan.


"Papa nemu wanita kaya gitu dimana, sih?" Agiel menggerutu dengan wajah kesal luar biasa. Padahal dia senang sekali melihat aksi papanya dalam mengemudi dalam kecepatan tinggi. Dan suatu saat bisa dia gunakan untuk menjungkalkan nasehat yang meminta mereka tidak mengebut di jalan.


"Di arena smack down!" jawab Harris yang membuat Jeje tergelak.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2