
Darren tak henti mengomeli Dinka dan meminta adiknya pulang dengan ancaman akan melenyapkan Myung, dan itu berhasil membuat Dinka pulang sehari berselang.
Dan kini, berhari-hari berselang setelah kepulangan Dinka. Akan tetapi, Myung lagi-lagi membuat pasangan itu kerepotan, sebab setelah melihat Myung baik-baik saja ketika bersama Jen, Dinka kini sering menitipkan kucing itu ke kakak iparnya, melalui Darren, Vaya, atau ia tinggal begitu saja di depan pintu rumah kakaknya tersebut. Tanpa berkata apa-apa.
Jen hari-hari ini sangat sibuk dengan pekerjaannya yang sedikit menampakkan kenaikan yang cukup baik. Tak dipungkiri, keputusannya menjalin kerja sama dengan Konveksi Agung rupanya benar-benar mampu menggeliatkan kembali usahanya. Satu per satu mitra yang dulu hengkang, kini kembali merapat dan Jen dengan sedikit angkuh memberikan syarat kerjasama yang cukup memberatkan.
Berkonsultasi dengan kakak dan papanya, Jen kini mampu mengembangkan seringai jahatnya dengan tangan menyilang di dada.
Kalian dulu jahat sama aku, hanya karena aku terlihat tidak berdaya. Kini, kalian yang harus meminta dengan sungguh-sungguh padaku.
Jen mematikan AC di ruangan ini ketika ia merasakan flu yang dideritanya beberapa hari terakhir ini semakin buruk saja. Tubuhnya merinding dan hidungnya mampet.
"Jen, kamu makin pucat!" Vaya yang baru kembali dari makan siang, menyambar dahi Jen yang berkeringat. "Ya, ampun, Jen ... badan kamu makin panas loh."
Vaya tampak khawatir dan terus mengalihkan punggung tangannya ke leher dan seluruh lengan Jen. Sudah berhari-hari Vaya dengan intens mengawasi Jen yang sakit, ia tak bosan mengingatkan sahabatnya itu agar memeriksakan diri. Bahkan rasa-rasanya, ia ingin memanggul tubuh Jen dan melemparkannya ke depan dokter. Entah kenapa itu menjadi sulit sekali kelihatannya bagi sahabatnya tersebut.
Dasar kepala batu!
__ADS_1
"Masa, sih, Vay, aku hanya flu biasa aja, kok. Masa sampai panas banget, perasaan biasa saja, deh." Jen mengerutkan wajahnya, lalu kembali ke balik meja kerjanya yang sama sekali tak berubah dari dulu. Sederhana dan tidak pernah rapi. Tak terlalu menanggapi kekhawatiran Vaya yang dirasanya berlebihan.
"Kamu itu kalau dibilangin kok, ngeyel sih?" ucap Vaya kesal. "Buat apa aku mengada-ada kalau demammu makin parah? Masa sih, kamu gak ngerasa greges atau kepala kamu berat, gitu? Gak enak di badan, gitu? Gak terganggu dengan sakitmu, ini?" tanya Vaya keheranan dan sedikit menekankan kata-kata yang mungkin bisa mengoyak sedikit saja sisi takut dalam hati Jen.
Vaya sedikit mendudukkan tubuhnya di ujung meja kerja Jen dan bersedekap memandangi sahabatnya yang terlihat pura-pura sibuk.
"Enggak, sih, kemarin aku udah ambil obat flu pas ke rumah Papa Rian, sedikit mendingan, sih—seharusnya."
Jen seperti tertohok ucapannya sendiri, tangannya langsung meraba leher dengan gerakan samar. Ya, memang terasa panas dan tenggorokannya sakit. Padahal kemarin belum. Ah, Jen mengeluh dengan helaan napas berat terembus ketika menyadari hal ini. Namun ia enggan mengakui itu, hatinya terus berkata 'kemarin belum'. Pekerjaannya terasa lebih penting sekarang, tapi, membuat janji dengan dokter tidak buruk juga. Tangannya segera meraih ponsel ragu-ragu, sesekali ia melirik Vaya yang masih menghakiminya melalui sorot matanya.
"Masih ngga percaya?" Jen meletakkan kembali ponselnya. Ia menatap Vaya yang sudah mengalahkan emak-emak bawelnya, beberapa saat lamanya.
Jen membuang napas kasar. "Ya, deh, tar aku periksa ke rumah sakit sekalian jalan pulang." Jen menyerah dengan segala omelan Vaya. Ia lantas menarik kursinya lebih dekat ke meja kaca persegi itu dan membuka sebuah berkas yang baru saja sampai di tangannya. Berkas yang berisi desain logo dan tema kaos yang akan dikerjakan Konveksi Agung dalam waktu dekat ini.
"Kok nanti, sih?" Vaya sampai merengut dan berdiri ketika mendengar perkataan Jen. Kesal sendiri. Temannya ini terlalu keras kepala pada dirinya sendiri.
"Nanti makin parah, tau rasa kamu!" bentaknya menakut-nakuti.
__ADS_1
Jen menghela napas dan mengalihkan perhatiannya pada Vaya yang masih menatapnya tajam. "Aku ngga papa, kok, masih kuat jika sampai jam empat sore."
"Ter-se-rah." Vaya berlalu sembari menghentakkan kakinya. Dia sudah menyerah untuk memberi tahu Jen tentang bahaya penyakit yang disepelekan, dan temannya tersebut sama sekali tidak peduli.
"Yang punya tubuh siapa, yang khawatir siapa ... orang aku gak papa kok." Kepala Jen menggeleng pelan sembari bergumam.
Jen kembali menghadapi kertas ditangannya, sekitar satu jam lagi dia akan pulang. Namun, ia juga tak lupa mengatur pertemuan dengan salah satu dokter yang ada di rumah sakit keluarganya. Yah, jika dipikir-pikir lagi, kalau tidak segera disembuhkan pasti nanti akan merepotkan. Dan, ia tidak ingin mendengarkan omelan Vaya lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1