Suami Settingan

Suami Settingan
Perusak Suasana


__ADS_3

"Ikut Mama sekarang!"


Dada wanita berumur itu tampak kembang kempis, kesabarannya tampak habis. Tak mau lagi menggubris Harris yang menarik tangannya dengan lembut, Kira meletakkan sendok ditangannya dengan kasar. Ia bangkit dengan menggeser kursi dengan keras.


"Ada apalagi, sih, Ma?" Jen kesal sekali dengan segala ketidaknyamanan pagi ini. Ia membalas tatapan mamanya dengan malas.


"Mama tidak suka dibantah, Jen!" Mata Kira membeliak penuh ancaman, meskipun hal itu tak membuat Jen mengerti atau takut. Jen bangkit dengan gerak sedikit menyentak, tak lupa ia sematkan tatapan menyalahkan pada Darren. Semua gara-gara kamu!


Sementara, anak-anak membeku ketakutan, Harris hanya menggeleng pelan sambil memijat keningnya. Tabiat istrinya memang buruk. Dasar wanita pemarah, pikir Harris sambil tersenyum.


Darren menghela napas, ia juga tak lagi mengindahkan waktu terbaiknya untuk mengisi perutnya yang lapar. Tak lagi ada selera melihat tatapan Jen.


Seakan mengerti apa yang hendak dilakukan Darren, Harris mengisyaratkan dengan gelengan kepala. Ia segera bersikap dengan tangan menyiku di meja.


"Biarkan saja, Ren ... mamanya Jen akan semakin marah jika dicampuri urusannya. Biarkan dia melakukan tugasnya sebagai ibu bagi Jen. Papa tidak bisa menyalahkan mama yang melihat tingkah Jen tadi jadi merasa gagal dalam mendidik Jen."


"Jen mungkin belum terbiasa dengan hal-hal yang berurusan dengan rumah tangga, bukankah lebih baik jika diberitahu saja, Pa." Darren hanya merasa kasihan dan tidak enak hati pada kekacauan yang disebabkan olehnya. "Lagipula, aku terbiasa mengambil makanan untukku sendiri."


Harris tersenyum, batinnya berjingkrak gembira. Ia tak salah memilih Darren sebagai menantunya. Kedewasaan dan kebijaksanaan Darren, ia yakini bisa membawa perubahan yang baik untuk Jen. "Menurut Papa bukan itu yang dipermasalahkan Mamamu, tetapi bagaimana seorang istri menghargai suaminya. Sikap Jen tadi agak keterlaluan, sih."


Harris membuka tangannya, "Ayo lanjutkan lagi sarapannya," sambungnya dengan tersenyum.


Darren kembali menghela napas, ia hanya menoleh ke arah Jen menghilang sebelum kembali menikmati sarapannya yang terasa hambar. Bagaimana ia bisa menelan semua itu dengan nikmat, jika istrinya saat ini sedang dimurkai mamanya, gara-gara dirinya.


Excel yang berpapasan dengan mamanya di luar ruang makan, masih dilanda keheranan ketika masuk ke dalam ruangan ini. Ia bahkan masih menoleh hingga kakinya nyaris terantuk kursi.


"Kenapa dengan mama?" tanyanya seraya menyapukan pandangan ke seluruh penghuni meja makan yang tampak hening dan tegang meski mereka berusaha tetap tersenyum membalas tatapan Excel.


"Adikmu membuat ulah," jawab Harris. Ia tersenyum singkat, lalu kembali menikmati sarapannya. "Orang tua Naja sudah berangkat ke sini?"


Excel hanya manggut-manggut, lalu menarik kursi dan duduk. "Sudah Pa, aku akan segera menjemput mereka ke bandara," jawab Excel. Ia segera menyiapkan sarapannya sendiri. Naja sarapan di kamar karena Cio sedikit rewel hari ini, cowok kecil yang kadar kegantengannya sudah terlihat jelas itu sepertinya agak terganggu dengan acara semalam yang cukup berisik.

__ADS_1


"Segeralah berangkat, jangan lupa hubungi rumah sakit, mintakan perawat berjaga di sini." Harris menyelesaikan ucapannya lalu menegakkan tubuhnya sambil menyesap kopi. Ia sangat senang ketika besannya akan datang.


Excel mengangguk, "Baik, Pa." Ia segera menyelesaikan sarapannya. Nyaris bersamaan dengan Darren. Mereka melangkah bersama usai berpamitan pada Papa Harris yang masih menunggu mama Kira di meja makan sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Yang sabar menghadapi Jen ... lagian kenapa kamu ngga setting si Jen duluan, sih, Ren?" bisik Excel yang mengetahui persis apa yang terjadi. Berkat ide Naja sebenarnya, tetapi ia tak berpikir kalau Jen akan mengacaukan sendiri rencananya.


"Kamu tahu, Kak?" Darren seperti tersedak mendengar ini. Panas dingin dia dibuatnya.


Excel berhenti untuk menatap Darren yang terdengar agak aneh memanggilnya 'Kak' hingga bibir bercurva itu tak bisa menahan senyumnya.


"Kenapa? Ada yang salah?" sambung Darren ikut memperhatikan dirinya.


"Enggak, cuma aneh!" jawab Excel singkat di sela senyumnya yang berubah menjadi sebuah tawa geli, "kalau ngga nyaman, panggil kaya biasa aja!" Excel menepuk pundak Darren dan mengajaknya melangkah.


"Naja beritahu semuanya ke aku, makanya ngga usah heran lagi," terang Excel.


"Kupikir karena dia yang memintanya terlebih dahulu, dia bakal bisa jaga rahasianya sendiri, Kak. Ya, emang sih, disini aku yang harusnya bisa jujur pada semuanya, tapi Kakak tahu 'kan, aku suka sama dia sejak dulu. Jadi ya, kukira semua akan mudah." Darren menipiskan bibir dan menaikkan bahunya.


"Iya, Kak ... aku ngerti kok. Eh, segera jemput mertuamu sana, Naja pasti udah ngga sabar buat ketemu orangtuanya."


"Eh, iya ... emak-emak itu nanti bakal marah kalau sampai terlambat!" Excel menaikkan jam yang berada di tangan kirinya. Lalu kembali menepuk bahu Darren seolah setuju apa kata Darren lantas beranjak meninggalkannya.


"Suami bucin takut istri," celetuk Darren sambil terkekeh saat Excel berjarak beberapa langkah darinya.


"Kamu juga nanti lebih parah," sahut Excel sambil menoleh sekilas. Tangannya melambai tanda tak ingin mendengar lagi ucapan Darren.


Darren kembali sepi, ia celingukan mencari dimana kiranya Jen di marahi. Ruangan di rumah ini sangat banyak, dan akan kelelahan ia mencarinya. Yang ada malah ia sudah terlambat menemukan Jen dan tak bisa lagi memintakan pengampunan untuk istrinya tersebut.


"Biasanya di ruang kerja papa," Darren menoleh. Matanya bertabrakan dengan wajah Ranu yang seperti menahan sesuatu.


Darren tersenyum, ia mendekati Ranu berniat sekadar mengusap rambut semerah madu milik Ranu. Tetapi Ranu menghindar dan menatap Darren sekilas.

__ADS_1


"Aku sudah terlambat ...," ucapnya entah pada siapa, ia ingin tetap bersikap biasa tetapi hatinya terlalu sakit. Ranu berusaha tegar dengan mengusap cairan bening yang mulai menganak di pipi. Tetapi di mata Darren, sikap Ranu malah terkesan dingin dan berbeda.


Meski bingung, Darren tetap tersenyum, "Makasih untuk sarapannya, Ran ... hati-hati di jalan, ya."


Ranu melangkah pergi tanpa membalas ucapan Darren, justru hal itu membuat Darren semakin mengerutkan kening. Rasanya keberadaannya di sini mengubah atmosfer dalam rumah yang biasa ceria dan hangat.


Seperti cemburu.


Darren membuang napasnya, mengibaskan tangannya. Lalu tersenyum, "Itu tidak mungkin." Ia berbalik sambil mendesiskan tawa, tetapi ia masih sempat melihat udara yang ditinggalkan Ranu barusan. "Aku terlalu percaya diri." gumamnya.


Langkah Darren terhenti di depan ruang kerja papa mertuanya. Ia menggantungkan tangan berniat mengetuk, tetapi celah di pintu mengatakan bahwa di dalam sana sepi. Darren mengening, kepalanya mendesak pintu hingga tampaklah kedua orang yang saling berhadapan, tetapi berbeda sikap.


"Mama harap, kamu bisa belajar menghargai Darren jika pernikahan kalian bukan sebuah permainan. Jujur, Jen ... Mama sebenarnya tidak percaya kalau kalian pacaran. Tapi Papa meyakinkan. Jika kamu ketahuan ini semua hanya settingan, Mama orang pertama yang akan membuangmu. Papa sudah memercayai kamu sepenuhnya, Mama harap kamu menjaga kepercayaan itu!"


Getaran di ponselnya membuyarkan keingintahuan Darren, ia mendecak kesal. Tergesa ia mengangkat teleponnya, agar tak ketahuan mengintip.


"Nak, maaf Mama harusnya ngga ganggu kamu, tapi Nenek di ICU, Nak. Papa kamu belum bisa dihubungi ...."


Darren hanya bisa membola, ia tak lagi mendengar suara mamanya selanjutnya.


"Darren kesana sekarang, Ma." Ia menutup sambungan telepon sepihak, ia lalu kembali ke ruang makan untuk berpamitan.


Ketika ia melewati ruang kerja, ingin rasanya masuk dan mengajak Jen, tetapi ia pikir lagi lebih baik Jen di rumah saja. Membiarkan Jen menenangkan dirinya dulu.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2