
Rian benar-benar menghabiskan waktunya bersama Jen di sisa hari ini. Jen di temani Gita memasak berbagai macam makanan, sejenak ia melupakan Darren. Dengan telaten Gita mengajari Jen beberapa trik memasak.
"Kalau memasak itu pakai seni atau perasaan Jen, tapi kalau baking itu lebih ke teknik. Jadi kalau kamu bisa dua-duanya, kamu istri yang sempurna ...," kata Gita yang sedang meletakkan satu loyang bolu dengan gula jagung di oven, "biasanya laki-laki jatuh cinta itu dari lidah, perut, baru ke hati."
Gita menoleh dengan senyum cerah, "kalau kamu pasti dari terbiasa dulu, nyaman, lalu hati terpikat. Sementara urusan kepuasan lidah dan perut diserahkan sama restoran," kelakar Gita masih dengan senyumnya yang lebar.
Jen tersenyum kecut menanggapi, dalam kasusnya, tidak juga kedua tipe itu masuk. Entahlah, tidak juga untuk hari ini saat hatinya buram oleh perasaan cemburu berlebihan. Meski sudah tak sebesar kemarin, tapi dia masih kesal dengan suaminya itu.
Gelengan kepala Jen membuat Gita mengerutkan kening. "Kenapa?" Melepaskan sarung tangan yang baru saja ia gunakan untuk meletakkan loyang bolu, Gita ikut posisi Jen yang berdiri membelakangi meja dapur. "ngga mungkin, 'kan, kalian nikah tanpa cinta?" Gita memajukan kepalanya sebab Jen mengelak dari pandangan Gita.
"Dijodohkan ... begitu?" terka Gita yang membuat Jen menoleh dengan senyum miris.
"Nggalah, Mbak ... kami menikah karena sudah saling menyukai sejak lama, tapi karena satu dua hal aku salah paham sama dia, jadi aku benci dia gitu. Dan ...," Jen memutar kepalanya menunduk. Diperhatikan dari dekat dan intens membuat Jen ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Jangan cerita kalau berat ... tapi katakan kalau kamu butuh masukan," kata Gita sambil menjauh. Ia bersiap turun lagi karena sudah terlalu lama di sini, tugasnya utamanya di bawah sana. "timer udah aku nyalakan, Jen ... ngga sampai 15 menit lagi udah mateng kok." Gita mengisyaratkan dengan tangannya bahwasannya dia akan ke lantai bawah.
__ADS_1
"Apa wajar kalau seorang istri itu marah sama suaminya karena mengabaikan si istri? Dan dekat dengan teman wanitanya, apa itu bisa dikatakan cemburu berlebihan?" ucap Jen cepat ketika kaki Gita turun satu anak tangga ke bawah. Gita menengadah, menatap ke arah Jen lagi.
"Maksudku, apa lelaki kalau dicemburui berlebihan, juga akan berpaling, meskipun katanya cemburu itu tanda cinta?" Jen bertanya dengan cepat, tanpa jeda, dan terengah sedikit malu akan pertanyaannya tersebut.
Tapi Jen dalam hati mengatakan kalau dia melakukan itu karena Darren suaminya, miliknya. Sebenarnya, itu hanya untuk menjaga saja, menjaga perasaannya agar tidak mencebur terlalu dalam di dalam jebakan cinta Darren. Dia pernah salah meletakkan rasa cinta untuk Diego, dan dia tidak mau jika Darren juga melakukan hal yang sama seperti kadal tengik Diego.
Darren bahkan lebih parah, habis manis, di sepah jauh-jauh, dan gombalan yang mengatakan 'aku hanya milikmu' itu adalah bulshit. Jen bergidik samar, lalu kembali fokus pada Gita.
"Wajar kalau keadaanya benar ... tapi lebih baik bicarakan baik-baik apa yang menjadi masalahmu. Jika kamu belum percaya, selidiki! Lalu dari hasil itu kamu simpulkan dan putuskan. Semua di tangan kamu, pikirkan dengan kepala dingin dan matang, Jen ... jangan sampai salah langkah." Gita tersenyum, sebelum melanjutkan.
Gita menaikkan bahu setelah ceramahnya yang terlampau panjang. "setumpul itu perasaan pria. Jadi kita sebagai wanita akan kesal sendiri jika apa-apa tidak diluapkan, dia ngga akan ngerti begitu saja."
Gita terkekeh diujung kalimatnya, sementara Jen menghela napas dan menyimpulkan. "jadi ujung-ujungnya kita yang mengalah, Mbak?"
"No ... kita tidak perlu mengalah, kamu tetap bisa mendominasi, luapkan saja marahmu kalau kamu tidak bisa mengolah emosimu. Itu lebih baik dan dia akan paham kalau kamu sedang kesal. Katakan saja begini," Gita mengubah gestur wajahnya yang santai menjadi lebih tajam. "Aku marah, Mas ... kalau kamu tidak menjawab telponmu, kalau kamu deket wanita lain, kalau kamu ingkar janji ...."
__ADS_1
Jen manggut-manggut dengan bibir mengerut hebat. Jadi didiamkan juga bukan membuat Darren mengerti apa salahnya. Tetapi, dia benar-benar tidak yakin bisa menguasai dirinya kalau sedang marah. Ia takut malah akan melukai perasaan Darren kalau-kalau ucapannya salah.
"Ingat, Jen, marahlah yang benar. Benar alasannya dan benar penyampaiannya." Gita kali ini benar-benar turun. "Kue mu sudah matang, segera matikan ovennya." Ia terkekeh dan berjalan turun dengan tangan mengepal di udara untuk menyemangati teman barunya.
Jen bergegas menuruti apa kata Gita sambil terus berpikir. Entahlah ... apa dia bisa menguasai diri dan mengendalikan emosi saat sedang marah. Dia belum pernah mencobanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.