
Darren sampai ketika mentari mulai bersemburat jingga, namun cahayanya masih terang dan membentuk bayangan.
Kediaman mertuanya dengan hangat menyambut kedatangannya. Darren tersenyum malu membayangkan betapa bodohnya dirinya selama ini. Dia sendiri yang mempermasalahkan kekuranganya, padahal mertuanya biasa saja. Malah terkesan merangkul. Jika dipikir lagi, daripada susah-susah mencari orang lain, kenapa tidak papa mertuanya saja? Beliau juga punya segalanya, kan?
Darren menepuk keningnya berulang-ulang dan menggelengkan kepala, mungkin rasa malu dan bodohnya bisa jatuh berguguran dengan gerakannya itu. Lalu ia menyadari betapa mertuanya begitu baik dan juga sabar padanya. Alih-alih tersinggung, Harris Dirgantara malah kerap berbincang dengannya, bertukar pikiran. Juga … beliau sering bertanya bagaimana cara menanam ini, merawat itu, memasarkan ini, mencari produsen itu, dan masih banyak yang lainnya lagi. Darren seolah baru menyadari apa yang terjadi lima tahun ini. Obrolan-obrolan ringan—bahkan obrolan selintas lalu, itu ada maksudnya, ada tujuannya. Astaga!
“Kau memang bodoh, Ren! Beruntung Jen mau bertahan dengan orang kekurangan otak sepertimu!” Darren terkekeh geli, membayangkan betapa mengerikannya dirinya ini. Mungkin, karena sikap mertuanya yang biasa saja, Darren jadi lupa, lupa kalau dia dulu selalu takut dan sungkan berhadapan dengan seorang Harris Dirgantara. Darren terlalu nyaman.
Darren memarkirkan mobilnya di samping mobil milik ayah mertuanya. Tidak lagi ada jarak ataupun rasa minder seperti dulu, mobilnya—meski tetap dibawah mertuanya, juga termasuk golongan mobil mewah, Darren tersenyum puas. Setidaknya dia tidak hanyut dalam rasa minder tersebut. Darren berhasil mengubah rasa minder tersebut menjadi dorongan untuk maju dan berusaha lebih baik lagi.
Suara mobil lain terdengar olehnya, Darren yang asyik mengamati mobilnya, menoleh. “Ngga lembur, Kak?” sapanya pada si empunya mobil, yang tampak terburu-buru turun. Dia tersenyum, terlihat kegelian.
“Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu …!” Excel tertawa akhirnya, “Nyonya besar janjian sama Jen untuk nginep di sini. Oma juga udah kangen sama tiga bocah gue.”
Kini Darren yang tertawa, kakak iparnya yang tidak biasa pakai lo-gue, terdengar kaku mengatakannya, malah aneh jatuhnya. Sejak kontaminasi dirinya dan Jeje melanda, Excel sedikit longgar dan santai. “Gak usah maksa, jadinya aneh … bahasa lo-gue gak bisa dipaksakan, Bro … harus dari hati yang benar-bener santai ….” Darren menghampiri kakak iparnya, lalu merangkul pundak setelah saling beradu tangan ala mereka sebagai salam jumpa.
Excel melebarkan senyumnya mencerna ucapan Darren, tidak berniat menanggapi. “katanya gak pulang, kok udah sampai di sini saja?” pria muda itu melihat jam di pergelangan tangannya, memastikan dengan benar apa yang ia peroleh dari istrinya, dengan keadaan sekarang. Jika benar, Darren harusnya masih berjam-jam lagi sampai di sini, kecuali pria itu ngebut untuk cepat sampai ke sini. Excel lantas memandang Darren yang sepertinya kesusahan menjelaskan keadaannya.
“Lagi ada masalah dengan Jen?” seringai Darren mengisyaratkan kalau tebakannya benar, “harusnya diselesaikan di rumah, jangan di sini ….” Excel menepuk pundak adik iparnya yang mengaruk pelipisnya dengan bingung.
__ADS_1
“Bukan masalah besar … dan ini aku yang bermasalah, kok, Kak. Aku hanya perlu minta maaf padanya ….” Darren menggigit bibirnya dengan perasaan resah yang tak bisa dijelaskan. Bukan … bukan dia tak bisa menjelaskan, tapi lebih tidak ingin menjelaskan, dia sangat malu. Teramat sangat malu.
Melihat gesture adik iparnya, Excel tersenyum maklum. “Ayo, masuk kalau begitu …,” ajaknya dengan terus menarik Darren dekat dengannya. Excel begitu memahami keadaan seperti ini. Mereka memang dekat dan akrab, tetapi mereka punya urusan sendiri-sendiri dalam rumah tangga mereka. Secara tidak tertulis dan memang sepertinya sudah diajarkan dengan baik oleh Papanya, kecuali mereka berkenan membagi cerita mereka, seingintahu apapun, sebaiknya jangan mendesak untuk bertanya dan mencari tahu. Kecuali sudah sangat mendesak dan memang perlu campur tangan pihak lain. Diam dan perhatikan saja.
Darren lega akhirnya, inilah yang membuatnya terlena. Di sini tidak ada sesuatu yang harus dikatakan dengan terpaksa, semua diserahkan sepenuhnya pada si empunya masalah. Dan Darren juga tidak sadar, kalau mereka saling memperhatikan, tanpa saling mengungkapkan.
“Gak ada lembur atau meeting dadakan, kah, Presdir baru Grup WD?” Darren mencandai Excel yang baru saja menduduki jabatan tersebut untuk memecah suasana canggung yang tercipta. Pastinya dengan terpaksa, Excel menerima itu.
Excel berdecak, Darren tertawa lebar. Dari ekspresinya, Darren tahu Excel kesal sekali dan tidak ingin membahas soal itu. “Memaksa mereka lembur tidak akan membuat hasil kerja optimal, mereka bukan robot. Gak ada lembur dalam kamus gue … kerja cukup di waktu efektif bekerja saja. Mereka butuh keseimbangan hidup, istirahat, bersenang-senang, biar gak separuh waktu hidupnya habis untuk kerja. Hidup Cuma sekali kok, gak dinikmatin.” Terdengar angkuh dan sok bijak, sehingga Darren tertawa makin lebar setelah menjauhkan diri dari kakak iparnya. Namun, Excel datar menanggapi tawa Darren. Sungguh susah sekali menularkan sebuah pengaruh pada pria itu, bahkan tawa sekalipun.
“Eh, Daddy sudah pulang …!” Naja membuyarkan keakraban saudara ipar dengan sapaannya yang keras. “Lho, ada Om Darren juga?” dia terlihat kesenangan dengan hal itu.
“Sore semuanya ….” Excel merentangkan tangannya untuk menyambut kedua pangeran kecilnya, Cio dan Finn. Cio yang sudah masuk kelas satu sekolah dasar, dengan sabar membersamai langkah Finn, adiknya yang baru berusia satu tahun.
“Sore, Daddy …,” jawab Naja yang masih terus menjaga langkah Finn yang belum begitu lancar. “Kakak Finn ati-ati ….”
Darren melewati mereka, setelah menyapa Naja dengan sebuah senyum sekilas. Matanya terus mengawasi Jen, meski saat ini langkahnya sedang terarah menuju Mama mertuanya. “Sore, Ma ….” Darren mencium tangan Kira dengan penuh hormat.
“Sehat, kan, Nak?” Kira langsung menghadiahi menantunya itu dengan usapan di bahu, dia memperhatikan Darren dari dekat. Sedikit banyak ia paham, ketika si bucin Jen tidak segera memyambut suaminya dengan cengiran yang biasa itu. Astaga, jadi kangen Opa, batin Kira gemas mengenang masa-masa bucinnya dengan sang suami.
__ADS_1
“Sehat, Ma …,” jawab Darren dengan senyum lebar, menyembunyikan ketegangan yang mungkin sudah dilihat oleh mama mertuanya. Ya, ketika dia bersitatap dengan Jen, istrinya itu terlihat biasa saja. Biasa saja artinya masih dalam mode kesal, dan membujuknya adalah hal yang susah. Ah, mungkin jika Darren bersujud, Jen akan memaafkannya. Atau hanya bisa dibujuk dengan mewujudkan keinginannya. Astaga … itu berat. Darren memompa nafasnya naik ke dada, seakan beberapa saat terendap di dasar perutnya sehingga dadanya menjadi sempit dan sesak.
“Saya ke kamar dulu, Ma …,” pamit Darren bahkan dia belum sempat duduk, dia hanya mengerling Celine yang sedang menggerakkan tangannya. Ace langsung bangkit dan menubruk papanya.
“Iya, mandi sana … kamu abis jalan jauh, takut bawa kuman pas deketin Celine.” Kira mengerti suasana yang dialami Darren. Meski dia bersikap biasa saja, sama dengan Excel tadi.
Dengan menggendong Ace, Darren meninggalkan ruang tengah penuh kenangan ini. Jen mau tak mau mengekor di belakang Darren bersama seorang pengasuh Ace.
*
*
*
*
*
4/5
__ADS_1