Suami Settingan

Suami Settingan
Grenada


__ADS_3

Jen benar-benar mewujudkan keinginannya pergi ke pulau kecil di kawasan Karibia itu. Menghabiskan waktu untuk yoga, menyewa musisi, berkeliling di kepulauan itu dengan yacht, dan menyusuri landscape kawasan indah itu setiap hari. Jen benar-benar memulihkan dirinya. Meski berdua dengan Darren, tapi suaminya itu kebanyakan syok melihat Jen secara langsung menghamburkan uangnya dalam jumlah yang fantastis. Meski untuk beberapa hal, dia tidak harus mengeluarkan uang, karena Jen punya Kristal yang bisa memberinya beberapa fasilitas gratis.


Yacht ini misalnya, Kristal menyewakannya secara Cuma-Cuma. Penerbangan pulang pergi juga sepenuhnya ditanggung oleh Kristal.


“Bikin bayi di sini, pusing ngga, Yang?” Jen membiarkan saja suaminya itu berwajah hampir pingsan setiap kali melihat nominal-nominal yang tertera di tagihan mereka. Dengan kesenangan, Jen terus menggoda Darren dengan hal-hal yang berbau mesum dan mengganggu gairah pria itu secara berlebihan. Mengerjai Darren dengan menyuruhnya menjadi tukang foto, tukang edit foto, dan video dadakan. Bahkan dia dengan sadar, sengaja menyalah-nyalahkan suaminya itu jika hasil fotonya kurang memuaskan. Darren bersungut, tetapi dia tetap melakukannya.


Darren berdecak, sebenarnya pikiran untuk menjamah istrinya itu ada, apalagi saat Jen memakai bikini dengan sehelai kain membalut pinggang, seperti sekarang, ditengah-tengah lautan pula. Pria mana yang mau melewatkan hal semacam itu. Jika dipikir lagi, mungkin Darren belum melakukan apa-apa setelah pertengkaran terakhir.


“Lagian di sini hanya kita berdua, sayang kalau ngga ngapa-ngapain, kan? Setidaknya kita bisa bercinta tanpa gangguan Ace …,” kata Jen ringan. Dia asyik meliukkan tubuhnya di pagar mengkilap yang dijadikan sandaran.


Darren melirik sekilas lalu mengembuskan napasnya keras-keras. Lantas dia mengalihkan tatapannya dari layar IPad-nya, untuk menirukan gaya Jen saat berbicara. “Lagian itu juga bukan hal menarik kan menurutmu? Memangnya pas begituan mau difoto apa? Dipajang di Instagram? Gak seru kalau jauh-jauh kesini hanya untuk begituan doang …!”


Jen terkekeh, lalu mendekati Darren yang selonjoran di kursi malas yang menghadap ke lautan lepas. Kaca mata hitam yang bertengger di atas kepala Darren di ambil oleh Jen lalu di kenakannya, sebelum duduk di atas pangkuan Darren. Menghadap Darren dan melingkarkan tangannya di leher suaminya tersebut.


“Mungkin aku hanya mampu ke sini seumur hidup sekali, Yang … jadi jangan heran kalau aku lebay dan melupakan kamu. Aku ngga ingin sia-siain liburan yang sudah kuinginkan sejak lama.”


Darren memandangi Jen yang kulitnya kecoklatan karena terlalu sering berada di bawah terik matahari. “Aku akan mengajakmu kemari lagi suatu hari nanti. Sekarang nikmatilah liburanmu, anggap saja kau masih gadis, panggil Kristal kemari, dan bersenang-senanglah,” kata Darren lembut, seraya meyisipkan rambut Jen di telinga. Melihat Jen bahagia dan itu terjadi saat bersamanya, tentu sesuatu yang membanggakan.


Jen tersenyum, lalu menunduk untuk menghadiahi suaminya itu sebuah kecupan singkat di bibir. “Tapi aku menghabiskan uangmu … tak tersisa,” kata Jen sembari terkekeh.

__ADS_1


“Aku bisa cari lagi, biar bisa mewujudkan mimpi-mimpimu yang lain juga.” Darren menarik pinggang Jen lebih dekat dengannya.


“Mimpiku sudah terwujud semua, tinggal ….” Jen menelusurkan tangannya ke rahang hingga ke dada Darren, lalu mendekatkan sekali lagi wajahnya ke telinga Darren, “… memberikan Ace adik bayi.” Jen mengakhiri kalimatnya dengan sebuah gigitan kecil di ujung daun telinga Darren.


“Nanti malem aja, Yang …,” tolak Darren seraya mendorong bahu Jen perlahan. Apa Jen kurang waras hingga bercinta di tempat terbuka seperti ini? Lagipula, dia sedang menikmati suasana bebas tanpa harus semprepet melihat tagihan Jen. Yacht ini gratis, beserta seperangkat fasilitas penunjangnya.


Jen menggeser bokongnya yang sudah mundur dengan gerakan yang sensual, membuat Darren mengerang lirih. Membentuk gesture tubuhnya layaknya model majalah dewasa di atas tubuh Darren. Menggoda dengan nakal di bagian dada. “Tidak ada salahnya pemanasan dulu,” desis Jen dengan bibir tergigit. Matanya menyipit, bahunya bergerak nakal.


“Kita coba sensasi alam terbuka, tengah laut—“


“Di atas gunung berapi bawah air yang sewaktu-waktu bisa meletus dan menimbulkan tsunami …,” sahut Darren sewot. “Jangan ngawur, nanti ada siluman laut, ada megalodon lewat, kita dalam posisi enak. Gimana?” Darren menakut-nakuti.


Darren terengah, lantas berusaha menyudahi dominasi Jen atasnya. Sayangnya, Jen benar-benar berusaha, sehingga mereka malah saling adu tarik dan dorong. Darren tak habis akal, dia menggelitiki Jen hingga wanita itu kegelian dan tertawa. Memburai pelukan dan cumbuan yang sudah kacau bentuknya.


Jen tertawa keras sembari menjauhkan tubuhnya, dia geli tak karuhan. “Kenapa …?” tanya Jen penuh nada, alih-alih kesal dan marah.


“Kau membuatnya takut. Lihat!” Darren menunjuk sesuatu diantara kakinya, “Kau bukannya mengajakku bercinta, tapi sedang memburuku, seolah kau ini sudah tidak makan berbulan-bulan.”


Jen tergelak sampai jatuh terduduk di lantai selasar kapal ini. Astaga … apa dia terlalu kasar dan berlebihan. Apa sebegitu amatirnya dia sampai lima tahun lamanya dia belum pro memulai sebuah petualangan cinta untuk suaminya. Ah, mungkin lebih baik dia membalas saja, memimpin memang bukan jalan ninjanya.

__ADS_1


Jen menyelesaikan hari lebih awal setelah berpacaran dengan Darren dengan bergulung di pasir, berkejaran dengan ombak, makan, dan menyelam. Sehingga ketika matahari baru saja tenggelam, Jen sudah duduk di atas tubuh suaminya. Decap suara khas bibir mereka berpadu memenuhi ruangan yang luas ini, sementara Jen terus berpacu. Jen benar-benar telah rileks, bebannya seolah diangkat, dia benar-benar menikmati posisinya kini. Darren benar-benar memahaminya.


Namun, semua itu tersela dengan dering ponsel Darren tak putus berbunyi. Jen tahu, Darren sedang tidak bisa diganggu, sehingga dia mencoba menggapai ponselnya. Dinka ternyata. Beberapa pesan terkirim dan Jen langsung membukanya. Seketika perasaannya buyar saat membaca tiga kata dari Dinka.


‘Ace mencari kalian’


Merasakan Jen tidak lagi lincah, Darren membuka matanya. Ia tahu semua tidak baik-baik saja ketika raut wajah Jen berubah, sehingga ia segera memeluk Jen dengan erat. “Sebentar lagi kita berkemas,” kata Darren tersengal.


Jen seolah mengerti, meski setengah perasaannya terbagi, tetapi dia tetap memberikan yang terbaik untuk suaminya tersebut. Mengambil jeda sebentar, mereka berdua bergegas pergi berkemas.


“Ace akan baik-baik saja.” Darren mengecup kening Jen. Ia tahu kalau istrinya itu khawatir, namun sengaja menyembunyikannya. Tidak peduli seberapa banyak lapisan yang ditutupkan, Darren akan melihat sekecil apapun kegelisahan yang dirasakan Jen.


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2