Suami Settingan

Suami Settingan
Jeje Is Back


__ADS_3

Jen datang sedikit terlambat ke persidangan hari ini, sehingga ia hanya bertemu Tanna di aula sidang. Dia terlihat lebih kurus dan pucat, tetapi tidak menyurutkan kesan angkuh penuh permusuhan dari seorang Tanna. Terlihat juga orang tua Tanna yang saling berpegangan tangan dan tampak merana seolah cahaya kehidupannya telah hilang. Tidak ada lagi kesan glamour dari make up dan perhiasan yang biasa melekat ketat di leher, jemari, dan cuping telinganya. Terlihat biasa saja, muram, dan lebih bersahaja, malah terkesan kurang terawat. Mereka berdua duduk sedikit jauh dari yang lain setelah berbincang sejenak dengan Tanna yang terlihat kurang senang pada penampilan kedua orang tuanya.


Jen menimba napas banyak-banyak dan menatap atas kepala seluruh penghuni ruangan setelah namanya di panggil, ia menunjukkan rasa hormat dan penghargaan pada seluruh penghuni ruang sidang dengan menundukkan


kepalanya sedikit. Tanna yang pucat semakin putih saja rupa wajah wanita itu, ketika nama Jen disebutkan, seperti nama itu memberikan beban yang cukup mengimpit dadanya, menyedot darah yang memenuhi tubuhnya, lalu dengan tatapan yang terlihat kesal dan sinis ia mengikuti gerak tubuh Jen. Ada banyak kecamuk pikiran yang berperang di balik tempurung kepala Tanna. Melihat Jen tampak baik dan menjalani hidup dengan baik, dikelilingi orang yang menyayanginya, Tanna mengepalkan jemarinya yang gemetar tanpa sadar.


Apa yang salah dengannya hingga dia bernasib seperti ini? Atau jalan hidupnya memang harus seperti ini? Apa Tuhan salah menggores takdir hidupnya sehingga dia lahir sebagai manusia yang hina dan berlumur dosa serta penyesalan? Bukankah hidupnya lebih sempurna? Lihatlah dia ... papa sambungnya bahkan tidak sekaya orang tuanya, papa kandungnya buruk dan cukup memalukan kisah hidup dan nasibnya. Lalu hidup Jen yang selalu selamat walau satu dua kali dirinya berhasil mengenainya. Tanna mengembuskan napas dengan keras menyadari ini, ia lalu menundukkan kepalanya. Sesuatu yang salah pasti terjadi menelisik beda dia dan Jen. Meski dia terlihat tidak menggerakkan tubuhnya,


tetapi ada satu orang penjaga yang memegang bahu Tanna mendengar hembusan napas Tanna.


Sungguh dia hanya ingin mendapatkan cinta dari pria yang sangat didambanya sejak pertama kali melihatnya. Lalu menyingkirkan duri yang menjadi penghambat laju tujuannya, dengan sedkit cara yang lebih praktis dan mudah. Apa itu salah?


Tidak banyak yang ditanyakan saat sidang berlangsung, tentu saja karena mungkin persidangan ini hanya formalitas melihat bagaimana mereka memperlakukan Harris di sini. Ya, pria itu duduk dengan kaki menumpu satu sama lain, jas hitam dengan kilatan yang sangat rapi di bagian kerah, membalut dengan pas tubuh tua yang menolak untuk menua. Rahang tegas dengan tatapan lurus tajam, sesekali memindai sekeliling, membalas sapaan yang tertuju padanya dengan senyuman kecil sarat makna. Seorang Harris Dirgantara hanya perlu ada dan hadir di antara mereka, lalu semua orang tiba-tiba tahu harus melakukan apa, secepat mungkin membereskan semuanya agar tidak banyak membuang waktu seorang pengusaha yang tidak banyak bicara tetapi banyak melakukan usaha. Kekaguman akan sosok itu semakin bertambah saat satu atau segelintir orang mengetahui dia di sini untuk siapa, lalu mereka akan memandang dengan takjub dan memuja. Sebesar itu efek kehadiran seorang Harris.


Tak jarang pula ia akan memandang Jen ketika anak perempuannya terlihat gagap dan tersendat saat mengatakan


kesaksiannya, memberikan dukungan secara penuh dan meyakinkan putrinya bahwa semua akan baik-baik saja. Pria berwibawa itu tampak rileks duduk bersama dengan menantu dan anak lelaki yang baru saja sampai dari Jepang. Bahkan wajah lelah setelah perjalanan udara tak bisa di sembunyikan oleh kacamata abu-abu terang yang tak dilepaskan dari pangkal hidungnya. Di sini, Jeje memberikan dukungan moril untuk sang adik kembarnya. Meski hidup mereka tak pernah akur, tetapi mereka saling mengkhawatirkan satu sama lain.


Jeje dan Darren datang saat Jen sudah mulai menjawab pertanyaan dari jaksa, mereka berdua muncul dengan bentuk semangat yang berbeda, jika Jeje mengepalkan tangannya di depan dadanya, Darren hanya memberi senyuman yang belum pudar hingga sekarang. Pria itu terus menatap Jen dengan berbagai ekspresi yang malah membuat Jen semakin gugup dan salah tingkah. Tatapan Darren malah membuat konsentrasi Jen terpecah belah.


Sampai pada akhir kesaksiannya, tiga pria itu keluar dari aula sidang dan menyambut wanita kesayangan mereka.


Pertama, Jeje yang langsung menyambar tubuh kecil Jen, memeluk erat, dan memutarnya.. “kau makin berat ...,” keluhnya tertahan di tenggorokan. “makan apa sih, kamu?”


Jen tertawa lebar, “kalau kangen, udah bilang aja, gosah deh, pakai acara body shaming pada tubuhku yang seksi


ini.” Jen melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Jeje dengan pelan ketika kakinya sudah menjejak tanah.

__ADS_1


“Kenapa kau pulang sebelum aku kesana lagi ... kamu bilang masih lama lagi di sana,” ujar Jen dengan cemberut manja yang dibuat-buat.


“Aku selalu homesick selama di sana, ingat kecerewetan mulutmu dan juga kegalakanmu.” Jeje tersenyum dan mengusap rambut adik kembarnya. Sebenarnya, ia ingin melihat Ranu, hampir setiap hari adiknya itu menghubunginya dengan panggilan video, sekadar bertanya kabar, tetapi ketika ia kembali, adiknya tersebut tidak sempat menunggunya. Jeje sedikit tahu apa yang membuat adiknya bersedih, dan itu pula yang menjadi


alasannya untuk tidak melanjutkan kontrak di Jepang. Jeje tahu dengan jelas bagaimana Ranu sangat menyukai Darren, jadi dia juga tahu seberapa banyak hati gadis itu menderita luka. Ia ingin menghibur adiknya tersebut mengobati lukanya hingga tak terasa lagi.


“Selamat atas pernikahanmu ...  semoga kau bahagia.” Jeje segera mengubah gestur tangannya menjadi sebuah uluran, ketika ia melihat adiknya tersebut tampak tak sepakat dengan alasan Jeje untuk pulang.


“Yeah ... makasih,” jawabnya malas sembari menyambut tangan saudaranya itu dengan jabatan erat tetapi singkat.


“pulang dan makan, yuk ... laper.” Jen mengusap secara memutar perutnya yang ramping.


“Mama pasti terkejut ...,” awang Jeje membayangkan bagaimana reaksi mamanya nanti saat melihatnya pulang.


“Kau jahat sekali, sih, sampai ngga kasih tau mama, padahal mama yang paling merana atas kepergianmu, paling


“Yeah, dan yang paling sering memarahiku,  jika kau lupa, aku ingatkan.” Jeje menukikkan bibir atasnya, mamanya memang sering marah, menarik telinga, menampar pantatnya, dan kadang meneriakinya tanpa tahu tempat. Dia bahkan harus menahan malu ketika berhasil menyarangkan bola di jaring gawang pada laga perdananya.


Harris sedang  menerima telepon dari Kira, sementara Darren sibuk menelepon rekan kerjanya, dia baru mengambil alih Jen ketika istrinya itu sudah mendekat padanya, lalu menghadiahi kening istrinya dengan sebuah kecupan, sengaja memberikan waktu sebanyak-banyaknya sampai puas melepas rindu dengan saudara kembarnya.


“Bagaimana perasaanmu, Sayang?” Darren menarik dirinya dari kening Jen dan menurunkan pandangannya ke arah mata bening milik Jen, seolah menanyakan apa semua lebih baik sekarang?


“Tak pernah sebaik ini ...,” jawabnya dengan senyum mengembang penuh kelegaan dan kepuasan. “Makasih udah membuatku tenang dan lebih baik hari ini ....”


Darren tertawa kecil dan mengusap rambut Jen dari puncak kepala sampai ke bagian belakang. “sudah menjadi


tugasku, Yang ... jangan ucapin termakasih terus.”

__ADS_1


Jen dengan suka rela menempelkan tubuhnya ke bagian depan tubuh Darren, melingkarkan lengan di punggung suaminya. “akan lebih baik lagi jika kalian segera membawaku untuk makan ... sidang ini membuat selera makanku lenyap secara tiba-tiba.” Jen berkata seperti itu sebab melihat sang papa mendekat ke arahnya dengan senyuman mengambang di bibir. Ia tahu pasti saat ini mamanya sedang mengkhawatirkan dirinya sebab sejak ia berangkat kemari wanita yang melahirkannya tersebut mengiriminya banyak pesan dan sekali waktu menelpon untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Sampai Jen terpaksa mematikan daya ponselnya karena kekhawatiran mamanya justru membuat Jen membayangkan sengeri apa persidangan itu. Mungkin saat sidang cerainya dulu meninggalkan bekas trauma yang cukup mengerikan dalam ingatan mamanya.


“Mama sudah menyiapkan makan siang untuk  kalian ...,” kata Harris saat sudah sampai di depan ketiga pemuda itu, tatapannya beralih kepada Jeje dengan kepala sedikit miring , “ ...berkurang Jeje sebab mama tidak tahu kamu pulang hari ini.” ia merangkul anak itu dengan dekapan erat merapat ke bahunya. “papa


merindukanmu, Nak ....”


Di bawah tatapan pasangan yang saling merangkul pinggang itu, Harris dan Jeje berpelukan erat, seolah mereka sudah sangat lama tidak bersua. Padahal, hampir tiap hari dua orang itu saling bertukar suara, tapi di keluarga mereka rindu selalu ada saat mereka tidak bersama. Sedekat itu, Harris dan anak-anaknya.


“Aku makan siomay sama cilok aja nanti, Pa ... bosan sama daging, telur, sayur, buah organik, dan susu murni,”


kata Jeje menanggapi kelakar dari sang papa. Lagipula, di restoran mamanya dia tidak akan kekurangan menu makanan yang lezat.


“Jen abang somay dan cilok dekat kampusmu dulu masih jualan,’kan?” Ia beralih memandang ke arah Jen, “kita


panggil ke rumah nanti, biar puas makannya,” sambungnya saat Jen mengangguki pertanyaanya.


“Maruk, lo ...,” sembur Jen dengan cibiran melukis bibirnya. Mereka semua tertawa dan akhirnya berlalu dari pengadilan dengan senyum terkembang bahagia.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2