
Pengajuan pindah di approve secara tidak sengaja, membuat pasangan itu kalang kabut. Mereka pindah dengan kecepatan tinggi dan telah selesai saat tengah hari menjelang. Desy malah terkesan mengusir anak dan mantunya itu, sebab ia masih melihat Dinka tampak bengong dan kelihatan sekali pikiran gadis itu kemana-mana setiap kali menatap kakaknya.
Desy menahan geram sesekali menoyor kepala Dinka agar kembali fokus. Lalu ketika ia melambaikan tangan pada mereka berdua yang menyewa sebuah mobil milik tetangganya, tak kuasa pula ia menahan air mata yang sedari tadi terbendung.
Dinka juga segera berangkat ke kampus, mengingat siang ini ia ada kelas. Lebih tepatnya ia bolos di mata kuliah paginya. Ia belum rela kehilangan momen yang mungkin saja tak akan terulang. Dan Dinka merasa kehilangan tontonan romantis gratis yang baru dua kali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Jujur saja, kakaknya adalah tipe orang yang cuek tapi romantisnya mbaperi. Cowok idaman banget.
Memangkas proses pindah yang rumit, Darren kini berada di depan rumah yang dulu sekali pernah menjadi tempat yang sangat bersejarah untuk Jen dan keluarganya. Penuh kenangan akan kakek neneknya yang telah berpulang, jauh sebelum Wisnu Dirgantara juga menghadap Yang Kuasa.
Jen membawa tangannya menyapu seluruh ruangan di rumah ini. Ada foto-fotonya waktu kecil dan keluarga besarnya. Sebuah foto besar tergantung di dinding dalam bingkai keemasan. Keluarga besarnya.
Jen berhenti untuk mengenang masa itu. Masa dimana ia masih duduk di bangku SMP. Masih sering disuapi oleh neneknya, atau masih dipeluk saat tidur oleh papanya. Ah, masa indah itu.
Tangan besar segera saja melingkari pinggangnya, membuat Jen terkesiap. Namun ia segera menimpa tangan suaminya, dan merebahkan kepalanya di dada.
"Dulu kamu yang paling dimanja sama mereka, sebentar lagi kamu manjain anak dan keluarga kamu." Darren mengucapkan itu ketika Jen sedang trenyuh dan merindu sehingga ia langsung berbalik memeluk suaminya. Menumpahkan air mata yang meleleh turun.
"Aku kangen mereka, Ren ... aku kangen kakek dan uti, juga kakek Dirga," isaknya.
"Kalau rindu kirimkan doa buat mereka agar mereka tenang dan tersenyum dalam tidur panjangnya." Darren mengusap kepala Jen. Mengecupi kepala istrinya dengan sayang, lalu melerai pelukan itu demi menatap wajah Jen yang merah dan terus menunduk
"Jangan nangis dong, 'kan udah di rumah Uti lagi ... jadi kita hidupkan rumah ini dengan kenangan akan mereka."
Jen menolak ketika Darren menaikkan dagunya agar Jen menatap suaminya tersebut. Ia malah melemparkan tubuhnya mendekap tubuh Darren dengan erat, bahkan seperti mampu menghisap.
Darren menelan ludah, Jen meremas punggungnya dengan kuat, lalu desakan Jen yang malah terkesan 'ndusel' membuat Darren sedikit merasa berbeda. Gerakan Jen sedikit membuat respons tubuhnya salah paham.
"Eh, Hani ... kita berberes dulu, yuk ... nanti pelukan lagi. Barang-barang kita masih berserak di luar."
Shitt! Darren menegang.
"Sebentar saja, Ren ... aku pengen dipeluk kamu!" ucapnya tak jelas sebab Jen menenggelamkan wajahnya di dada Darren.
Darren membuang napasnya perlahan. Mencoba menekan perasaannya yang mulai bergerak tak nyaman. Membasahi bibirnya yang kering dengan ujung lidahnya. Dia hanya merasa heran, kenapa tubuhnya memberi respons yang berlebihan setelah pernah bersarang.
Meski pegal, akhirnya ia pasrah. Memikirkan hal lain yang membuat pikirannya teralihkan. Namun, tangannya terus saja membelai ringan kepala belakang hingga punggung istrinya tersebut.
"Darren, udah ... capek. Kakiku pegel," rengek Jen sambil menggerakkan kepalanya ke atas, mengerling wajah suaminya sebatas dagu.
"Lah, 'kan harusnya aku yang bilang gitu, Hani!" Ia menunduk, membentur kening Jen.
"Lepasin ...!"
"Kan kamu yang meluk!"
Jen terkekeh sambil menghela napasnya, lalu menarik tubuhnya yang seperti terkena lem. Tangan Jen mengusap dada suaminya yang basah oleh air matanya secara berulang hingga terdengar bunyi 'plak' berulang.
"Ih, Jen ... kamu jorok, itu mesti keluar dari idung kamu 'kan?" Darren memandang baju dan hidung Jen bergantian. Rasa jijik terpancar dari sorot wajahnya yang tampan hingga bergidik.
"Enggak! Mana ada?" Jen menggesekkan punggung tangannya pada ujung hidung.
"Ini ...!" Darren menelunjuk dadanya yang basah.
"Ini air mata doang!" Jen kembali ke depan dada Darren dan mengusapnya lagi. Namun, Darren menangkap pergelangan tangan Jen lalu mengalungkan di lehernya.
Jen melebarkan matanya saking terkejut akan tindakan tiba-tiba Darren. Tatapan penuh goda itu membuatnya salah tingkah, tapi ia tak melakukan perlawanan. Ia hanya mengalihkan pandangannya ke bekas air matanya tersebut.
"Bercinta, yuk!" ajaknya tanpa babibu.
"Hah ...!" Jen malu bukan kepalang setelah terkaget-kaget mendengar ajakan Darren yang terlalu berterus terang.
"Kenapa? Ngga mau?" Ia menyisipkan tangannya ke pinggang. Kedua tangan itu berpisah arah ketika menelusur.
"Bukan—eh ... maksudku masih siang dan-dan kita belum menata barang-barang kita, Ren." Bias merah kembali merekah di pipi Jen. Ia gugup ketika Darren malah mengecupi pipinya hingga kepalanya terdorong ke belakang.
__ADS_1
"Alasan ...!" Darren menghela napas sembari melepaskan Jen yang langsung kabur begitu saja.
Jen segera mengambil barang-barangnya yang tak seberapa ke dalam rumah. Sementara Darren sedang menghubungi seseorang untuk membantu berbenah.
Rumah ini tidak terlalu kotor karena memang dibersihkan secara berkala, tetapi rasanya kalau tidak bebersih dan beberes dikhawatirkan ada kuman dan bakteri yang menempel.
Jen memilih kamar yang biasa ia tempati dulu, kamar yang ada kamar mandi di bagian dalam. Kamar yang di renovasi sebab sejak kehadiran Ranu dan kembar rumah ini jadi tidak muat menampung mereka. Dua kamar di bedah jadi satu, dan lengkap dengan fasilitasnya.
Jen mulai memeriksa pemanas air, benda yang amat sangat sakral untuk hidupnya saat ini, lalu AC juga ia pastikan dalam kondisi prima.
Ia membersihkan kamar dengan menyedot debu yang berada di ranjang besar itu. Sementara itu dulu, sebab ia merasa lelah dan ingin tidur. Lantas ia mengambil sprei dari dalam koper dan memasangnya.
Ketika semua telah selesai, ia segera melemparkan tubuhnya ke atas ranjang yang empuknya masih sama. Membiarkan alat-alat kebersihan masih berserakan.
"Nyamannya ...," Jen menggerakkan tangan yang berada di samping tubuhnya ke atas dan ke bawah diikuti kakinya yang membuka dan menutup. Bibirnya terlipat kedalam dengan senyum tertahan. Matanya terpejam menikmati keselesaan udara siang yang terik dengan rebahan.
Darren masuk, melihat pemandangan itu rasanya ingin langsung terjun ke atas tubuh Jen. Namun, karena ia tersandung vacum cleaner, terpaksa ia menyingkirkan benda tersebut. Dasar ceroboh!
Lantas ia menyegerakan niatnya yang sejak semalam terus tertunda. Mulai dari bagian tengah tubuh Jen, Darren menyentuh pinggang istrinya.
Jen terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba hingga ia terbangun.
"Ouch!"
Aduhan mereka bergema di seluruh ruangan. Dua orang itu berguling dengan tangan memegang dahi.
"Sakit, Jen ...!"
"Sakit, Ren ...!"
Keduanya berhenti dan saling menatap usai mengucapkan kalimat bersamaan. Lantas keduanya tertawa sampai terbahak-bahak.
"Kenapa kita bisa ngomong samaan dan barengan coba?" Jen berkata di sela tawanya. Ia masih memegang kening dan perutnya. Keduanya sakit.
"Aku terkejut jika kau tidak tau kenapa aku bangun tiba-tiba ...," jelas Jen dengan nada sedikit kesal.
"Kan aku gak tau kamu masuk kesini," sambungnya.
"Yakan di rumah ini cuma ada aku dan kamu, masak aku manggil Diego kemari?" Darren mendudukkan tubuhnya dengan bersila usai berguling. Merah di keningnya tampak membulat ketika rambutnya ia sibak ke atas.
Mengabaikan ucapan Darren, Jen mendekati pria itu. Tentu orang yang ketabrak pasti lebih parah efeknya dari yang nabrak. "Sakit banget?" tanya Jen sendu. Ia merasa bersalah juga mau tak mau. Namun, itu juga salah suaminya yang jahil mengagetinya. Tangannya perlahan terulur untuk mengusap kening Darren.
"Sedikit ...." Darren menaikkan biji matanya ke atas seolah bisa melihat lebam di keningnya.
Jen meniup dan mengusap-usap kening suaminya dengan lembut. "Maaf, ya ...," ucap Jen di sela tiupannya.
Darren menipiskan senyumnya samar, istrinya yang galak ini sangat perhatian dan lembut juga. Perlahan, Darren menarik pinggang Jen ke atas pangkuannya. Memposisikannya dengan intim dan nyaman. Meski Jen sedikit memberat. "Cium dong, biar cepet sembuh," rajuknya manja. Ia mengedipkan kelopak matanya berulang-ulang.
Jen meragu sejenak, lalu ia mengecup dahi yang merah itu.
"Kok di situ, Han ...," protesnya keberatan. Ia memajukan bibirnya berharap Jen mau membalasnya.
"Aku Jenny, bukan Hani, Hana, apalagi Hantu!" ketus Jen sambil menangkup pipi Darren. Menggoyangkannya perlahan.
"Sayang aja kalau begitu ...."
"Ngga mau, sama Myung kamu juga sayang!" Jen melengos sadis. Tangannya bersikap di dada.
Darren meliarkan gerak matanya. "Beby?"
"No! Itu nama mantan kamu pas kuliah."
"Eh, kok tau ...?" Darren membuka tautan tangan itu, lalu mendorong tubuh Jen hingga merebah membuat Jen membeliak. Ketika Jen bersiap kabur, segera ia kunci dengan kekuatan tubuhnya. "Kamu tau Beby dari mana?"
__ADS_1
Jen menggigit bibirnya. Sial, kelepasan!
"Jeje lah ... emang tau dari mana lagi?"
Jen menghindari kontak mata dengan suaminya yang mulai berminat padanya. "Lepasin, ih ...!" Ia mendobrak malu-malu dada suaminya. Plis, posisinya, Pak! Anda sedang menindih saya dengan sesuatu yang mencuat!
"Katakan sebenarnya, Jen!" Darren dengan nakal mendesak bagian bawah tubuh Jen membuat gadis itu meringis. Terus mengelak, Jen menggelengkan kepala.
"Kau mengikutiku? Atau kau kesal karena aku saat bersama Beby jarang main ke rumahmu? Kau merindukanku waktu itu?" Darren kukuh memaksa Jen untuk mengatakan sebenarnya.
"Enggak kok ...," kilah Jen dengan mendorong dada suaminya.
"Kau memaksaku, Jen!" Darren mulai beraksi. Ia tanpa ampun mengoyak pakaian Jen dan pakaiannya sendiri hingga polos.
"Jangan, Ren ...!" pinta Jen lirih dan langsung tertelan oleh ciuman brutal suaminya tersebut.
Seingatnya, ia tak pernah mengatakan kepada Jeje sekalipun saat ia dan Beby terlibat hubungan dekat. Sebatas teman mesra sebab Darren merasa hampa dan kecewa pada Jen. Perasaan tak kunjung terbalas, kejudesan Jen, dan sikap tidak peduli istrinya ini dulu.
"Katakan, Jen!"
"No—akh!" Jen memekik ketika Darren berubah gila. Meski masih menyisakan perasaan lembut dan membuai, Darren menyentakkan terlalu kuat. "Kau apa-apaan?"
"Kau kesal saat aku bersama Beby?" engahnya penuh kesal. Tapi tidak menyakiti.
"No ...!"
"Kau memaksaku, Jen ...!" Ia menarik dirinya lalu mengubah posisi Jen hingga membelakanginya. "Katakan atau aku tidak akan berhenti!"
"Iya ... iya! Aku kesal kau tidak datang lagi ke rumahku! Aku kesal kamu sama Beby mesra banget di kampus!" Jen kembali mengerang. Darren menyengatnya berlebihan.
"Kau menyukaiku tapi kau ketus padaku? Apa itu memuaskanmu?"
"Iya ...," teriak Jen di sela erangannya.
"Aku senang membencimu, itu adil karena kamu jahat sama aku tapi aku rindu saat kamu berhenti menggodaku! Puas kau sekarang?" seru Jen dengan wajah memerah. Sial kau, Ren!
Jen mencengkeram sprei yang mati-matian ia tata dan rapikan hingga tak ada kerut di sana. Kini, semua terkoyak termasuk dirinya sendiri.
Mad you, Darren! umpat Jen terus mengerang. Dan meringis.
"Sangat, Cintaku!" Darren baru saja menuntaskan dirinya dengan sangat dalam. Ia mengusap punggung Jen dengan gerakan ringan. Senyumnya mengembang. "Kalau cinta itu katakan sejak awal, biar aku ngga salah paham. Tau gini, 'kan kita udah nikah sejak dulu!"
Darren sama sekali tidak di hiraukan oleh Jen. Ia sibuk menata tubuh dan napasnya. Tubuhnya seolah terbelah oleh kelakuan suaminya tersebut. Ah, sial!
"Tidurlah ... kau kacau sekali!" Darren terkekeh melihat Jen merengut kesal tapi tak mampu menggerakkan tangannya.
Darren menarik selimut dari dalam koper yang bisa ia jangkau tanpa perlu turun dari ranjang. Lalu menutupkan pada tubuh polos Jen yang masih menelungkup. Kening dengan warna merah yang masih tercetak itu ia semati kecupan yang lembut dan lama. Ia bertubi mengucapkan rasa syukur sebab Jen memang telah memiliki perasaan sebelumnya.
"Love you, Darl!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kopi mana kopi😁