
Beruntung ketika Darren kembali dari ruangan dokter Andina, kamar inap Jen sudah dipenuhi oleh suara mamanya yang histeris begitu Jen mengatakan kalau janin yang di kandungnya kembar. Desy sangat senang hingga tubuhnya melompat-lompat. Jadi ia bisa merasa sedikit lega beberapa saat lamanya. Cobaan ini terlalu berat baginya.
"Sayang, kamu ngga ngidam apa gitu? Mama mau loh, beliin apa yang di maui cucu kembar mama?"
Jen tersenyum, "Jen ngga mau apa-apa, Ma ... mungkin karena masih sakit jadi aku belum ada keinginan apa-apa."
"Duh, kamu manis sekali, sih, sekarang. Mama sampe ngga ngenalin cara bicara kamu, loh, Nak ... apa jangan-jangan ini bawaan bayi, ya ... bayinya cewek lemah lembut dan cantik. Aduh, mama mau pasang story nih, mama juga jadi oma dengan dua cucu sekaligus."
"Mama ...!" Rendi yang semula hanya menggelengkan kepalanya, kini meraih tangan Desy dan mencegahnya. "Pamali, Ma ...," jawabnya membalas tatapan tanya kenapa tidak boleh, dari Desy.
"Ih, papa gak asik ... mama kan terlalu seneng, Pa ...," gerutunya mau tak mau menuruti. Ya, kalau sudah di sebut pamali, Desy langsung ciut nyali. Tidak mau sampai cucunya kenapa-napa hanya karena tingkah konyolnya.
Jen tersenyum sipu melihat dua orang yang heboh sendiri. "Mama ngga buka hari ini? Papa ngga ngantor?"
__ADS_1
"Aduh, maunya, mama disini nemenin kamu dan cucu mama saja, Nak ... toko biar diurus anak-anak." Desy berkata penuh nada dan berlebihan. Dia sangat bahagia. Di benaknya akan ada acara empat bulanan, tujuh bulanan, atau apa sajalah, yang biasa dilakukan saat anaknya hamil. Aduh duh, rasanya sangat bahagia menyiapkan acara khusus menyambut calon cucu.
"Mama kenapa mukanya cengar-cengir begitu, sih?" Rendi lagi-lagi mengoyak bayangan indah itu. Sementara Jen lagi-lagi hanya tertawa. Rasanya begini ya, jadi sumber kebahagiaan mertua dan orang tuanya sendiri. Mungkin prestasi tertinggi seorang anak dan menantu adalah berhasil menjadikan mereka oma dan opa. Sungguh ia baru merasakannya sendiri sekarang. Dulu dia tidak percaya dengan hal emosional seperti ini.
"Papa ini ganggu mama aja, sana ngantor, nih, nanti beliin cucunya baju yang cantik, mainan yang banyak buat cucunya." Desy mendorong-dorong lengan suaminya dengan wajah bersungut.
"Ih, mama ...." Rendi menarik lengannya dan menjauh, tanpa di suruhpun, Rendi juga akan bersiap berangkat, lagian dia sudah sangat terlambat hari ini. "Papa berangkat dulu, ya. Jen ...," pamit Rendi yang langsung berubah ekspresinya. Ia kembali hangat dan ramah seperti biasa. Jen mengangguk dan menerima usapan di kepalanya.
Tepat ketika Rendi membuka pintu, Darren juga siap masuk ke dalam kamar inap VIP ini. Berbincang sejenak, akhirnya Rendi berlalu, dan Darren masuk dengan senyum anehnya—menurut Jen. Tapi ia tak mau ambil pusing dengan semua itu, ini akan dia perjelas ketika tak ada sesiapa yang ada di antara mereka nanti. Sungguh menghermankan sikap suaminya itu.
"Ma ... udah, deh ... Jen waktunya minum obat dan istirahat." Darren akhirnya menghentikan baik ocehan, gerakan, maupun tawa mamanya. Jen bahkan tampak tak berdaya dan lelah menghadapi kehebohan itu. Meski bersungut, akhirnya, Desy meninggalkan ruangan ini dan ke floristnya.
"Maafkan sikap mama, ya ...," kata Darren usai mengantarkan mamanya, dan menutup pintu kamar.
__ADS_1
Jen sedang membenarkan posisi tidurnya agar nyaman, mendengar itu, ia mengerutkan keningnya. "Hobi banget mengatakan maaf, sih, semalam Dinka, sekarang mama. Apa menurutmu mama menyakitiku? Dan apa kamu ngga sungguh-sungguh membelaku di depan Dinka? Atau kau ada salah tersendiri padaku?"
Darren sampai berhenti melangkah, tak sangka Jen akan berkata demikian. "Aku-aku hanya takut sikap mama membuatmu tak nyaman ... kalau Dinka, aku sungguh-sungguh kesal dengan sikapnya padamu, Jen ... aku tidak suka ketika kamu sudah baik padanya, tapi dia malah membalasmu dengan buruk. Aku merasa kalau keluargaku hanya membuatmu kesusahan ...."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.