Suami Settingan

Suami Settingan
Hanya Ujian


__ADS_3

Pada akhirnya, Jen mengambil gurame yang sudah dingin itu dan membawanya ke galeri Jeje demi menyelamatkan dirinya. Darren katanya sudah sampai dari bepergian bersama Tamy. Dia ingin memperjelas apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres dari hubungan mereka berdua. Ah, entahlah, apa ini hanya dia saja yang tidak mengenal Darren atau memang Tamy sama seperti Ranu. Dan yang lalu-lalu, bukankah mereka pernah berbicara tentang 'hampir menikah'.


Gusti, apa ini namanya ujian? Ujian perasaan? Ujian rumah tangga? Atau sebuah kelas pendewasaan dimana pengalaman adalah gurunya.


Hujan sebentar lagi turun ketika Jen mendongak ke langit sambil menenteng sebuah tas berisikan makanan untuk Darren.


Jen mendorong pintu kaca yang bisa di tarik dan didorong itu hingga menganga menelan tubuhnya. Salah seorang pegawai menyambutnya, seperti biasa.


"Pak Darren di lantai atas, Bu ...," katanya sambil menundukkan wajah. Entah siapa yang mengajari pegawai di sini untuk memanggilnya 'Ibu'. Setua itukah dia?


Jen membalasnya dengan ramah, yah, mau bagaimana lagi? Kesal pun percuma, pegawai itu hanya secuil tambahan kesal yang membuat Jen memompa sabar.


"... kenapa gak hati-hati, sih ... siapa juga yang mau minta makananmu!" suara yang seharusnya keluar dari mulut Jen itu malah terucap dari wanita lain. Wanita yang bukan siapa-siapa bagi Darren.


Mata Jen semakin memanas ketika melihat suaminya tengah kepayahan akibat tersedak makanan yang sedang dinikmatinya. Di balik pintu yang mencelah seukuran separuh tubuh dan wajah Jen, matanya yang berkabut menyaksikan Tamy sedang memberikan perhatian pada Darren.


"Minumlah dulu ...! Kau ini sedang mikirin apa, sih?" kata Tamy sambil menepuk pelan punggung Darren.


Jen berbalik dan turun ketika ia tak lagi mampu menahan sesak di dadanya. Seperti itu rupanya. Langkah Jen terayun cepat hingga menghentak dengan keras.

__ADS_1


"Mbak, tolong berikan ini pada Pak Darren ya, sepertinya dia sibuk!" Jen menyerahkan tas yang sejak tadi menjadi pelampiasan kecemburuan Jen.


"Tapi, Bu—"


"Tolong katakan untuk menghabiskannya." Jen menukas dengan cepat, dan berlalu dengan cepat pula agar pegawai itu tidak sampai melihat air matanya.


"Darren, aku tadi seperti melihat ada yang datang." Tamy sekilas pandang melihat ada yang berlalu dari depan pintu ruangan ini. Namun ia tak sempat jelas melihat itu siapa.


Darren menggembungkan pipinya dengan air mineral yang ia gunakan untuk melegakan tenggorokannya yang perih. Ia baru saja tersedak kuah bercampur sambal yang ia pikir bisa membuat gairah makannya kembali. Seharian ini, pikirannya dipenuhi oleh pikiran akan nasi goreng yang sempat ia intip dari balik pintu dapur, ketika ia hendak berangkat lagi. Ia terlalu sibuk dengan beberapa pesanan mamanya dan ketiga temannya yang turut serta.


Melihat dua piring dengan nasi berwarna coklat kemerahan, dan telur ceplok yang warnanya eksotis akibat kematangan, tadi pagi, ia dihantui rasa bersalah. Jen bisa saja kembali tidur setelah perbuatannya yang cukup melelahkan tadi pagi, tetapi ia memilih kembali menyegarkan tubuh dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Namun, bukannya makan barang sesuap, ia malah segera pergi begitu saja. Dan Jen, semoga dia tidak marah, melihat istrinya tersebut mengantarnya berangkat. Ah, semoga.


"Pak ... Bu Jen tadi kemari, mengantarkan ini. Bu Jen berpesan agar anda menghabiskannya," kata wanita yang baru Darren sadari telah berdiri lama di depannya. Dia hanya melamun.


"Sudah pulang, Pak ...."


Darren seperti dilecut oleh sebuah cemeti berbalur kilatan petir ketika mendengar ini. Jen mungkin mengkhawatirkannya, tetapi melihat dia dan Tamy di ruangan yang sama, dia jadi salah paham. Namun, apa iya Jen sampai salah paham karena hal seperti ini? Toh Jen tahu benar bagaimana perasaannya selama ini. Dan juga dia kenal benar siapa Tamy. Apa dia kurang mengatakan bagaimana perasaannya selama ini?


Darren turun dengan tergesa dan mendorong pintu sampai terbuka lebar, namun ia tak menemukan siapapun di sana. Bahkan seolah Jen enggan meninggalkan jejak aromanya di sini. Tempat ini seperti tak pernah di datangi oleh Jen hari ini.

__ADS_1


"Jen ...."


***


Pening tak terkira ketika Jen mengemudikan mobilnya dalam perjalanan pulang. Mungkin karena seharian belum makan jadi kepala dan lambungnya perih.


Jen membuang napasnya kasar, ia tak berniat sakit, jadi dia langsung membelokkan mobilnya ke rumah sakit milik keluarganya. Dia butuh pemeriksaan. Mungkin sakit hatinya ada obatnya di sana.


Dan, ya, benar saja ... tekanan darahnya rendah. Namun ia menolak dirawat, cukuplah pereda sakit kepala saja. Dia sadar, semua karena beban di hati sebagai biang keladi.


Sekatung obat telah di tangan, Jen bergegas kembali ke parkiran dimana mobilnya terparkir sembarangan.


"Jen ...," panggil seseorang yang membuat Jen menoleh.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2