Suami Settingan

Suami Settingan
Hukuman Tanna


__ADS_3

Dua buah mobil mewah berhenti nyaris bersamaan di sebuah hotel berbintang. Mereka turun dan langsung masuk dengan panduan salah seorang kepercayaan mereka. Raut wajah gugup tak bisa disembunyikan oleh pria itu, sementara si wanita tampak kaku hingga tangannya mencengkeram tas tangan mewahnya. Dari kelihatannya dia menyembunyikan kekesalan yang luar biasa.


Mereka menaiki lift yang akan membawa mereka menemui seseorang yang telah menunggunya. Keheningan sejenak menjeda.


"Ini urusan bisnismu, mengapa aku harus ikut datang kemari?" Alma, wanita dengan mata yang tajam dan make up bold, melirik sinis ke arah pria yang berdiri kaku di sampingnya.


Pria yang berdiri dengan tangan berada di saku celana itu tersenyum sinis. "Cobalah mengingat lagi, apa aku ada menghubungimu?"


"Sama saja, mau menghubungiku atau tidak, akhirnya aku tetap berada di sini! Aku meninggalkan pertemuan penting demi menguntungkan bisnismu!" sahut Alma ketus.


Husain menghadapi istrinya dengan sikap meremehkan. "Pertemuan pentingmu pasti terbayar dengan pertemuan-tidak-penting ini! Jika Harris Dirgantara yang menemui kita langsung, aku yakin ini adalah sebuah proyek yang besar! Bisnis resortmu itu akan kau tinggalkan begitu membayangkan keuntungan yang tak bisa kau dapatkan meski kau bekerja seumur hidupmu!"


Alma dengan sengit membalas suaminya, "Dan keuntungan itu akan selalu kau dapatkan tanpa sedikitpun kau beri untukku! Seperti biasanya 'kan?"


"Alma ... jika nanti Harris menyertakan bisnis kecilmu itu dalam kerja sama, tentu aku akan membaginya sesuai dengan kapasitasmu! Tapi kurasa kau ada di sini hanya- sebagai istriku! Istri-dari-Husain-Albarak!"


Husain terkekeh ketika Alma menggeram kesal setiap kali diremehkan olehnya. Baginya, cinta untuk Alma telah beku sejak Alma memilih hidup di pulau B dan berbisnis di sana, meninggalkan keluarganya. Sementara saat itu, Husain masih bekerja di bawah kakak-kakaknya dan hidup dalam kesederhanaan. Alma yang berasal dari keluarga berada tidak bisa hidup sederhana, ia memilih pergi dan meneruskan usaha keluarganya yang selalu dibangga-banggakan. Husain akhirnya berhasil dalam usahanya setelah warisan dibagi rata dan usaha Husain sendiri yang kian menggurita.


Alma ingin membalas tetapi lift telah berhenti, keduanya terbengong ketika dituntun ke sebuah kamar alih-alih berbicara di resto hotel. Sepenting itukah?


"Selamat malam, Tuan!" Harris menyambut dua orang yang mematung di pintu. Di sana, ada pengacara kondang, Hatman Prancis, Excel, Riko, Rega, dan beberapa orang yang langsung keluar dan menutup pintu.


Satu hal yang melintas di benak Husain adalah ia telah berbuat salah. Tapi apa?


"Ada apa ini, Kawanku?" Husain menyambut sambutan Harris dengan sikap biasa meski ulu hatinya mengigil.


"Hanya ingin berbincang dari hati ke hati denganmu, mengingat sibukmu, kurasa hanya ini yang bisa kulakukan agar anda bisa meluangkan waktu." Harris membawa Husain duduk di sofa, lalu di sambut dengan hormat oleh Excel.


"Kurasa ini tak ada kaitannya dengan bisnis!" bisik Alma ketika mereka hendak duduk. Husain hanya menjawabnya dengan hembusan napas pelan.


"Apa kabar, Pak Husain!" suara Hatman Prancis selalu menggelegar sehingga lebih mirip gertakan daripada sapaan.


"Baik, sangat baik ...!" mereka berjabat tangan hingga berguncang, lalu saling melepaskan. Husain seolah tak bisa berkata-kata ketika keadaan di sini terasa menghimpit.


"Saya rasa, kita tidak perlu berbasa basi lagi mengingat waktu anda sangat sempit." Harris menegaskan sikapnya, ketika dua orang di depannya memiliki raut kebingungan.

__ADS_1


Riko langsung menyodorkan beberapa lembar foto, lalu sebuah tablet yang menayangkan rekaman saat Tanna memasuki hotel dimana percobaan penculikan terhadap Excel terjadi. Kedua orang tua itu semakin tidak mengerti.


"Ini adalah hasil perbuatan anak anda, Tuan dan Nyonya Husain!" Suara Harris semakin tak ramah menghadapi ketidak mengertian orang tua itu. "Anda sebagai orang tua tentu tahu, bagaimana perilaku anak anda selama ini!"


"Maksudmu Tanna berniat menggunakan foto ini untuk merendahkanmu, begitu?" Husain menarik kesimpulan. Sorot matanya jelas menampakkan keraguan.


"Masih tidak percaya?" tanya Harris. Riko yang mendengar itu langsung keluar dan membawa salah seorang pria yang ikut menculik Excel.


"Saya saksinya, dan ini pelakunya!" Rega maju untuk memberi penjelasan. "Saya memergoki sendiri, Tannalah pelakunya. Dia, Diego, dan pria bernama Josh yang melakukan penculikan kepada Excel!"


Husain dan Alma mematung, Alma—terlebih Husain—tidak menyangka sama sekali, anaknya mampu melakukan perbuatan seperti itu. Terlihat menjijikkan.


"Tetapi untuk apa?" Husain tentu belum mencapai motif kejahatan anaknya.


"Tanyakan pada anakmu sendiri, Sein. Dia juga mendalangi video ini." Harris menunjukkan video yang menjelekkan keluarganya kepada Husain. Husain kembali membeku tak percaya melihat video itu.


"Sebenarnya aku tidak tega memperkarakan ini, Sein ... mengingat persahabatan kita, tetapi keluargaku dalam bahaya. Jadi di sini aku ingin memberimu dua pilihan, aku yang memberi pelajaran pada anakmu atau kamu sendiri yang melakukannya. Kami sudah siap dengan segala bukti dan saksi. Tinggal Diego yang akan segera kami ringkus."


"Perhatikan saja dengan banyaknya orang yang terlibat, pasti akan banyak pula tuntutan yang akan kami ajukan. Saksi bertambah satu, tuntutan tambah satu. Begitupun saat Diego tertangkap, dia adalah kunci dari kasus ini. Bukan begitu, Pak Hatman?" Harris melanjutkan.


Husain menatap penghuni ruangan satu per satu. Lalu pandangannya jatuh pada Excel, anak tiri Harris yang menjadi pokok permasalahan ini. Ia tahu kalau Tanna menyukai Excel, mungkin, dialah penyebab Tanna mendendam.


"Ris, kita sahabatan sudah sangat lama, apa hanya karena anak tirimu yang tidak ada hubungan darah denganmu—"


Harris melebarkan matanya dengan menahan segenap amarah. "Hanya karena darahku tidak mengalir di tubuhnya, bukan berarti aku menganggap mereka orang lain, Sein. Jika begitu, kita hanya bersahabat, mengapa aku harus berbaik hati dan membuang waktu menyelesaikan masalah ini dengan jalan kekeluargaan? Kita tidak ada hubungan darah yang memberatkan, jadi kita akan berjumpa di pengadilan!"


Harris mengepulkan amarah yang telah tersulut sumbunya. Ia merasa lelah bersabar lalu membiarkan anak-anaknya terluka hanya untuk mendapatkan ucapan tak bermoral seperti ini. Seharusnya, ia menghukum sendiri bocah-bocah ingusan itu.


Husain terkesiap, tetapi ia bergeming dan berniat melawan meski Harris sudah berkobar. Bahkan Alma sudah ketakutan hingga ia menampar lengan suaminya dengan keras agar merendahkan diri.


"Tuan, mohon beri kami waktu untuk bicara dengan anak kami. Tolonglah, Tuan!" pinta Alma.


"Ris, kau menghancurkan persahabatan kita. Kau sudah tidak lagi menghargai hubungan baik kita selama—" Husain tak sempat habis berkata, Alma sudah menariknya bersimpuh.


"Justru karena aku masih menghormatimu sebagai sahabat, Sein ... jika tidak aku sudah melaporkan kasus ini sejak lama. Tolonglah, uang kalau dikejar terus ngga bakal ada habisnya, Sein. Apa kamu kurang cukup dengan kekayaanmu sekarang? Kulihat setiap ada tawaran proyek kamu selalu datang!" Harris masih bergumul dengan amarah, tetapi ia sedikit melunak karena Excel dan Rega menenangkan.

__ADS_1


Husain menunduk, ia sungguh malu karena apa yang dikatakan Harris adalah benar.


"Sein, aku minta selain menghukum anakmu, kamu juga harus menghukum dirimu sendiri. Anakmu menjadi seperti itu karena kalian. Kalian lalai sebagai orang tua, sibuk dengan pekerjaan. Anak kalian tumbuh tanpa pengawasan dan perhatian. Merasa semua bisa diselesaikan dengan uang," sambung Harris lagi.


Sementara Alma menitikkan air mata, Husain seperti baru bangun dari kematian. Pucat dan kaku.


***


Dirumah, Tanna sedang menikmati kemenangan yang telah ia raih, seharian berita tentang Jen merebak tak terkendali. Cercaan bertubi-tubi datang di seluruh media sosial. Bahkan ia menyuruh Nella ikut menyerbu akun media sosial Jen. Sayang dari semua itu, Jen sibuk membujuk Darren untuk menikahinya, tanpa sempat melihat keributan di akun medsos-nya.


Dan lagi, karena Mark masih mendekam dengan manis di penjara, Tanna tak bisa merayakan lebih meriah kemenangan ini.


Ketika pintu kamarnya terbuka, ia langsung bangkit dan menahan napasnya. Botol-botol minuman berserak tak karuan, belum sempat ia bereskan. Tetapi ia langsung menyurutkan ekspresinya. Sementara Nella langsung berdiri dan membungkuk dengan hormat.


"Untuk apa Mama pulang?" tanyanya sinis dan tangan bersilang di dada.


"Tan, Mama bangkrut ... rumah ini disita! Kita harus pindah, Nak!" Alma berekspresi sedih dan memang karena ia tak tega jika harus membohongi anaknya, air matanya keluar tanpa bisa dicegah. Ibu mana yang tega ketika mengetahui anaknya akan dipenjara dan dia tidak boleh membantunya. Alma berpura-pura bangkrut demi membuat Tanna takut.


Tanna mematahkan kepalanya ke samping dengan tidak peduli, "Masih ada Papa yang uangnya mengalir seperti Sungai Nil." Tawa Tanna menggema, lalu sedetik kemudian, ia seperti kehilangan suara.


"Saudara Tanna, ini surat penangkapan anda!"


Suara berat seorang polisi yang langsung mendatanginya, membuat Tanna beringsut mundur dan menggeleng. Sepersekian detik ia kehilangan suaranya, tetapi detik berikutnya ia meronta.


"Mama ... Tanna ngga salah, Ma ... Tanna ngga nyulik Excel, Tanna cinta sama dia, Ma. Video itu bukan aku yang buat, tapi Diego. Ma ... tolong bebaskan aku, Ma!" teriak Tanna.


Alma meraung dan ambruk, sementara di luar, Husain meratap pilu melihat anaknya kacau dan mengerikan. Ia telah membuat seorang gadis manis menjadi monster.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2