
source : google(popbela.com)
Darren tercenung, ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang ditata begitu apik dengan seikat bunga mawar putih di sudut ranjang. Ia merenungkan ucapan mama mertuanya setelah acara usai.
"Ren, mama serahkan Jen padamu. Ajari dia bagaimana cara menghargai dan berjuang. Kau bisa memilih tinggal dimana ... ada beberapa rumah milik kami yang kosong, atau kau memiliki rencana lain, mama ikut keputusanmu. Tolong, bimbing dia!"
Darren hanya bisa mengesah dalam sambil terus berpikir. Tantangannya sungguh besar, dan dia hanya sendirian.
***
Jen segera membersihkan diri dan memakai piyama bercorak bunga-bunga. Celananya hanya mencapai pertengahan paha dan atasannya berlengan pendek. Tetapi, alangkah terkejutnya, ketika ia melihat Darren merebahkan diri di atas ranjang. Jen kembali galak, seakan ia baru tersadar dari mimpinya.
"Ngapain kamu di situ, Ren? Minggir ...!" Ia berjalan dengan cepat dan bersedekap tak ramah pada suaminya. Ia bisa saja menarik tubuh Darren agar menjauh, tapi rasanya ia risih sekali bila bersentuhan dengan Darren. Sungkan.
Darren yang rebahan dengan tangan sebagai tumpuan, hanya menggerakkan sedikit saja bola matanya. Bergeming dengan kemeja putih dan dasi yang masih bertengger.
"Ren, bangun!" ucap Jen sambil menahan kesal. Ia sangat lelah dan ingin beristirahat, tapi Darren menguasai kasurnya yang nyaman.
Darren bangkit dan melepas dasinya, ia hanya menatap sekilas wajah segar milik Jen. "Kenapa memang? Ini 'kan kasurku juga!"
Jen membelalak lebar. "Enak saja—"
Tak selesai Jen berkata, bibirnya sudah ditutup Darren dengan telunjuknya. "Ingat, aku adalah suami kamu! Jangan bertingkah seolah kau tidak tahu balas budi atas kebaikanku. Jika bukan aku yang menyelamatkanmu, kau jadi bulan-bulanan orang!" kecam Darren. Ia menancapkan pandangannya ke arah Jen yang membeku.
Usai berkata begitu, Darren beranjak pergi meninggalkan Jen. Hanya bola mata Jen yang mampu bergerak mengikuti gerakan Darren, tubuhnya beku. Darren begitu mengerikan dan sama sekali tidak ramah dan bersahabat. Apa setelah menikah semua orang berubah?
Jen mengesah dan segera memakai krim perawatan wajahnya. Semua ia lakukan dengan cepat agar bisa menguasai kasur. Rasanya seluruh badannya terasa pegal.
Tepat ketika ia mencium aroma yang begitu menyentak, Jen tengah merebahkan tubuhnya. Remang-remang ia merasakan gerakan porinya membesar. Jen bahkan tak mau berpikir yang tidak-tidak meski mereka telah menikah, lagipula ia juga tidak berniat melakukan apapun dengan Darren. Meski aroma itu ....
Jen menaikkan selimutnya mencapai batas keningnya. Di dalam, ia sibuk membayangkan kejadian pasca pernikahan. Tubuh yang pelukable itu seketika memenuhi kepala Jen. Tangannya semakin kuat mencengkeram ujung selimut ketika tempat tidur terasa berguncang.
"Ngapain kamu di situ?" Jen menurunkan selimutnya ketika dadanya penuh dengan letupan-letupan kecil.
Darren menoleh, "Mau tidur, memangnya kamu mau apa kalau malam? Nyangkul?"
"Bukan begitu, kamu jangan tidur di situ. Sana di sofa!" usir Jen dengan wajahnya.
__ADS_1
Darren mendengkus. "Nikah itu buat cari teman tidur! Kalau aku tidur di sofa, ngapain nikah? Sudah keluar uang dan terikat janji, masa tidur harus sendiri? Lebih baik, uangku buat sewa hotel aja kalau jadinya cuma tidur di sofa."
Jen menggeram. "Aku ngga biasa tidur sama orang lain."
"Aku bukan orang lain ... jadi biasakan! Mulai sekarang hingga nanti!" sergah Darren tak sabar. Sebenarnya matanya mulai lelah.
Jen kehabisan kata-kata dan merasa terjebak. Ya, Tuhan ... semua itu benar dan dirinya yang memulai semuanya. Jen menggigit bibir dengan panik. "Tolong jaga jarakmu dan jangan berpikiran macam-macam!"
"Sekalipun aku suka sama kamu, tapi aku bukan pemaksa. Hanya perlu kamu ingat dan tahu, setelah menikah kewajibanmu menurut dan melayaniku, atau kau akan jadi istri yang durhaka," ucap Darren datar.
Mendengar kata durhaka, Jen sedikit merinding. Mulai Malin Kundang hingga cerita Azab yang ia tonton dengan neneknya dulu, mulai melintasi pikirannya.
Azab istri durhaka, tersambar petir, dan jasadnya ditolak tanah.
Seketika kantuk dan lelahnya hilang, lalu ia beranjak bangun dan mendekati Darren. Darren yang hampir terlelap, berjingkat mundur. Matanya menatap Jen dengan heran.
"Kau butuh apa? Makan? Minum? Biar kuambilkan."
Darren tertawa dalam hati. "Tanya sama mama kamu, apa yang dilakukan istri pada suaminya setelah menikah."
Jen membeku. "Apa maksudnya seperti orang menikah pada umumnya?"
"Jangan asal ya, Ren ... untuk yang menikah karena cinta mungkin malam pertama itu dinantikan. Tapi kita beda, aku dan kamu hanya rekan saja. Aku butuh kamu demi—"
Darren menarik tubuhnya hingga duduk bersandar pada headboard ranjang. "Perjanjian ini hanya menguntungkan buat kamu, tapi aku tidak mendapat apa-apa. Malah, karena ini terlihat seperti sungguhan, pada akhirnya nanti aku yang akan menafkahimu. Aku yang bertanggung jawab penuh atas kamu. Jadi tolong beri aku sedikit saja kebahagiaan, setidaknya sebagai bentuk penghargaan kamu untukku."
Keduanya bersilang mata begitu lama. Darren hanya ingin kepura-puraan ini setidaknya bisa dilalui bersama-sama, bukannya Darren tidak mau bersusah payah dan berusaha lebih, tetapi ia tak mau Jen lepas tangan dan seolah telah menang lalu melupakan pengorbanan Darren.
Sementara pikiran pendek Jen menerjemahkan makna bahagia adalah ....
Darren menghela napas melihat Jen yang terlihat tertekan dengan ucapannya. Lalu ia mengusap tangan Jen dengan ragu. Ia selalu tidak tega melihat ekspresi Jen yang menyedihkan seperti itu.
"Sudahlah, jangan berpikir berlebihan. Waktu kita masih lama. Sekarang lebih baik kamu tidur."
Jen menunduk, setelah melihat ekspresi kecewa dari wajah Darren. Benar, jika hanya begitu saja, kenapa ia tak bisa memberi? Lagipula akan sangat aneh jika sudah janda tapi masih perawan.
Jen menahan tangan Darren yang hendak beranjak pergi. Debar di dadanya mulai tak tak seimbang. Segenap keberanian ia kumpulkan untuk menatap mata Darren.
Darren mengerutkan alisnya, Jen sungguh membuatnya takut. Apa dia salah bicara?
__ADS_1
Jen gemetar saat menarik tangan Darren untuk menyentuh pinggangnya. Wajahnya sudah dipenuhi darah yang mendidih.
"Ambillah jika ini bisa membuatmu sedikit bahagia!"
Darren semakin mengerutkan keningnya. Apa sih maksudnya? Mata Darren melihat kemana Jen membawa tangannya bermuara. Lantas kemudian ia tertawa ketika mulai paham bagaimana Jen memaknai ucapannya.
"Bahagiaku bukan dari membuatmu jadi wanita, Jen ... tapi setelah hari ini, kamu harus berhati-hati dengan tindakan dan ucapan kamu. Bersikaplah sebagai seorang istri dan bekerja samalah denganku," ucap Darren lalu menyentuh pipi Jen. Mata indah wanita itu masih mengerjap sedikit bingung.
"Iya, aku akan bekerjasama ... dan ini tidak apa-apa, kok! Aku ikhlas ...." Jen berusaha menggulung perasaannya lebih bulat. Iya ini tidak apa-apa, kata orang ini menyenangkan dan kelihatannya begitu, pikir Jen.
Darren tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya. Sekilas ide muncul dibenak pria ganteng itu. "Baiklah ... jika itu maumu!"
Sedikit mengambil posisi nyaman, Darren menyusupkan jemarinya ke arah punggung leher Jen. Memiringkan kepala dan memadukan bibirnya. Salah paham itu kadang tidak usah dijelaskan jika berakhir menguntungkan dan mendatangkan kebaikan.
Jen memejamkan mata. Sedikit bisa ia melakukan seperti ini, setidaknya ia tak terlalu kaku. Yang ia tidak bisa adalah mengendalikan perasaan indah ini. Darren, bagaimanapun tak pernah ada dalam barisan tujuan hidupnya. Mustahil baginya untuk dekat dengan Darren, apalagi bersama. Itu sangat mustahil. Tapi apa sekarang, mereka malah saling memperdalam pagutan mereka.
Darren menghentikan gerakannya yang membuai Jen. Ia terlalu waras untuk menjadi gila saat ini. Ia tak ingin hubungan yang sedikit baik ini, akan rusak esok pagi jika Jen sadar kalau dia sudah luruh dikakinya.
"Kenapa berhenti?"
What? Darren seperti tersedak sampai hilang napas. Ia kelimpungan sendiri saat ia tak bisa mengendalikan diri, tetapi Jen menanyakan sesuatu yang memancing nalurinya meraung-raung kegirangan.
"Jen ... aku takut kau menyesal. Saat ini kita berdua sadar. Sangat sadar. Aku tidak mau ada komplain atau bahkan kamu ungkit-ungkit. Kau mengerti resikonya."
"Setidaknya, jangan buat aku hamil dulu."
Astaga Dragon. Wajah lugu itu ternyata mengerikan. Darren tersenyum, ia mengusap pipi merah Jen dengan lembut. "Kalau begitu tidak usah dilakukan. Aku tidak bisa menjamin itu, karena aku tidak punya persiapan!"
Darren tertawa, "Kuharap besok kau tidak jadi Jen yang galak lagi."
Darren mendorong tubuh Jen merebah. "Tidurlah ... besok jika aku sudah siap, kita coba lagi!"
Jen gamang. Antara malu dan nanggung. Semoga Darren tidak bisa membaca pikirannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.