Suami Settingan

Suami Settingan
Katanya Training, Kok ...?


__ADS_3

Bagaimanapun, seorang ibu tidak akan pernah tega membiarkan anak yang telah tumbuh dalam buaiannya, mengalami derita. Meski dalam hal ini, kecemasan berlebihan Kira tak beralasan. Memiliki suami yang menggenggam seluruh resah dan senangmu, tentu kau tidak perlu mencemaskan apapun lagi. Selain itu, anak perempuannya ini berada di tangan pria yang tepat dan hebat.


Semua tentu sudah dalam pengaturan pria yang tampak biasa saja, tenang, tetapi seluruh antisipasi telah dipikirkannya.


Kira ... tentu sangat berterimakasih akan hal tersebut, darinya pula ia belajar memutuskan dan bersikap tegas. Meski sifat labilnya masih sering kali muncul, tetapi hanya pada titik-titik tertentu saja ia terpaksa menyuarakan hal tersebut pada suaminya.


Lalu, dengan liciknya Harris memanfaatkan kesempatan itu untuk keuntungannya sendiri. Dan hanya satu yang pasti, meski dengan bibirnya maju beberapa senti, wanita itu bersedia melakukan apa saja yang ia pinta. Yah ... sedikit kesenangan di masa tua, bukanlah sesuatu yang buruk untuk dinikmati.


Meja makan penuh kenangan ini seakan membangkitkan lagi semangat masa mudanya yang menggebu. Di sini, mereka adalah keluarga besar yang bahagia, dan kini terulang lagi dengan rasa bahagia yang sama, tapi dalam formasi yang berbeda.


"Mama sama Papa ngga sarapan?" Jen baru akan mulai sarapannya setelah mengeluarkan lebih banyak piranti makanan untuk  menu sarapan yang dibawakan oleh mamanya.


"Mama udah makan sama yang lain di rumah tadi ... gak enak 'kan kalau tuan rumah ngga ikut sarapan, apalagi ada orang tuanya Naja ...." Tak ada suara yang berat menghalangi jalan suara wanita itu, usai memeluk putrinya sekadar menyematkan kata maaf atas kemarahannya tempo lalu, tentu Kira tak pernah malu untuk minta maaf terlebih dahulu. Ya, Jen dengan senyum lebar dan legowo mengakui kalau dirinya juga salah waktu itu, dirinya juga memintakan ampun atas khilaf ucapannya. Meski demikian, Jen tetap tidak bisa menjamin panas hatinya tidak akan tersulut lagi jika melihat suaminya bersikap manis pada orang selain dirinya. Darren hanya boleh memandang dirinya seorang saja. Its a must.


Jen hanya mengangguk, ia beralih ke papanya yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya, tetapi pria itu peka pada keheningan yang menjeda. Sekalipun denting sendok dan piring terdengar, tetapi tak ada suara manusia menyertai, membuat Harris segera menaikkan pandangannya. Ia tekun meletakkan ponsel dan menaruh perhatian pada keluarganya.


"Kalian sarapan saja ... jangan pikirkan papa. Jika ngga malu sama besan, mama pasti udah nyuapin papa tadi." Harris menggerakkan bola matanya ke arah ponsel yang terus saja berkedip yang menandakan betapa sibuknya pria tersebut.


"Papa harus tetap jaga kesehatan," nasehat Jen pada papanya. Ia tanpa sungkan mulai menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Papamu selalu begitu, 'kan? Masa mama tiap pagi harus jadi satpam buat ngawasin papamu sarapan ... mungkin Mama harus sembunyikan ponsel papa agar dia fokus pada dirinya sendiri saat di meja makan," omel wanita dengan kerudung membingkai wajahnya yang cantik. Tangannya dengan giat menawarkan kepada Darren apa-apa yang sekira perlu disodorkan pada anak mantunya tersebut.


Darren sejak tadi menyenggol kaki Jen, sebab merasa sungkan untu menolak tawaran mertuanya tersebut, hingga pada akhirnya ia pasrah dan mulai menolak dengan halus tawaran mertuanya itu sebab piringnya sudah dan masih penuh. Dan ia yakin tak akan mampu menghabiskan makanan tersebut saat ini.


"Ya, maksud papa 'kan selesaikan dulu kerjaannya, baru sarapan. Tapi ya, dimana-mana istri itu berkuasa, jadi papa memilih berdamai dengan keadaan, lagian ... sarapan tanpa kamu, rasanya sepi, Jen!" Ucapan Harris sukses membuat Jen menyengirkan senyumnya.


"Jadi, papa kangen Jen nih, ceritanya?" Ia sedikit gede rasa saat mendengar perkataan papanya tersebut.


Harris memundurkan sejenak tubuhnya, ia menundukkan kepala ke bawah meja, lalu kembali lagi menghadapi Jen. "Jujur saja, iya ...." Senyumnya melebar dengan lirikan terarah pada istrinya. Dialah pria yang tak pernah henti merindukan kebersamaan dengan anak-anaknya.


Kira duduk dengan tangan terlipat di atas meja makan, matanya mengedip perlahan dengan tujuan mengatur ritme dalam dirinya. "Semua juga kangen sama kamu, makanya pulanglah sekali waktu." Bergantian mata Kira mengawasi ketiga orang itu, penuh permintaan dan pengertian, bahwa kehadiran anak-anak mereka adalah kebahagiaan yang tak bisa ditandingi oleh apapun.


Bahkan Darren yang kurang mengerti apa maksud Jen mengatakan itu, merasa sungkan. Kepergian berdua tanpa anak, sudah barang tentu dibutuhkan oleh orang tua yang sibuk. Ia berdehem kecil dan menyenggol lengan Jen yang terasa percuma. Istrinya itu hanya jago nyeletuk, tanpa berpikir efek celetukannya.


Harris dan Kira saling pandang, lalu Harris segera menyudahinya sebab Kira juga tampak malu menjelaskan. "Kan waktu itu mama harus banyak pengalaman tentang kuliner di negara asalnya, mama waktu itu juga belajar 'kan? Supaya resto Mama berkembang." Ya, alasan mereka cukup konsisten dari dulu sampai sekarang. Orang dewasa bekerja dan tidak boleh diganggu, akan ada waktu mereka akan pergi bersama-sama. Terkadang, ia menggunakan istilah 'training' untuk membuat kesan berat pada perjalanannya ke luar negri tanpa anak-anak. Tentu itu sangat berhasil.


"Kalau belajar ke luar negri untuk resto mama, kenapa isi restoran mama menu makanannya indo semua? Kadang suka heran aku tuh, training kok tiap nelpon selalu bilang di kamar hotel."


Jen masih asyik menyuapkan makanan lain yang ia inginkan, tanpa peduli bagaimana reaksi dua orang di depannya, dan betapa Darren merasakan malu setengah mati dan dia hanya menunduk dalam tanpa berniat mengingatkan Jen. Ia menganggap dirinya sedang tidak mengerti arah pembicaraan Jen.

__ADS_1


Kira mengerjap kesal, lalu ia menoleh ke arah suaminya, "cepet habisin sarapannya, Jen ... kita harus segera belanja, mama sibuk hari ini." Memang bibir Kira menujukkan ucapannya pada Jen, tapi sorot mata menyalahkan itu tetap membeliak tertuju pada suaminya. Itu semua salahmu, Bang!


Harris menarik napasnya sangat panjang, ia hanya mampu mengeriutkan wajah dengan pasrah. Hembusan napas juga terbuang perlahan dan berat. Ya, wanita selalu begitu saat semua salah hanya pada lelaki. Mereka selalu lupa kalau kepalanya menggeleng, bibirnya berkata tidak, tapi yang lain malah disodorkan melekat. Lalu esoknya mengeluh lelah seakan punggungnya mau patah. Cobalah jadi lelaki sekali saja, punggung kami juga tak kalah sakit, kami ... kaum kami merasa puas jika kami melihat kepuasan di wajah kalian, wahai istri ...! Kami sangat sederhana untuk dimengerti, dibandingkan kalian yang kompleks dan rumit.


"Papa ke kantor dulu, ya ... kalian bisa pakai mobil kalian sendiri untuk belanja!" Ia menyudahi kunjungannya yang sangat luar biasa pagi ini, dengan menarik dirinya berdiri. Lalu mengulurkan tangannya untuk di semati sebuah kecupan oleh istrinya tersayang, "papa berangkat duluan, ya, Ma ...."


Kira tersenyum dan mengangguk, tetapi bibir Kira tak pernah bisa berhenti untuk menyela. "Ngga ada niat buat nemenin ...." Alisnya terangkat dengan seringai menggoda terbit di bibirnya.


"Cukup uang papa yang menemani, ya ... jangan ngelunjak, atau ...." Ucapan Harris belum sampai pada ujung, tetapi Kira segera memotong ucapan suaminya tersebut.


"Assalamualaikum, Papa ...." Ia mendorong tubuh suaminya tersebut dengan kedua tangannya agar segera meninggalkan ruang makan. Ia sudah tidak tahan dengan ancaman suaminya yang bisa saja meluncur tanpa melihat keadaan sekitar. Jangan sampai anak-anak mereka tahu perihal ucapan berbau ancaman yang meresahkan keluar dari mulut panutannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2