Suami Settingan

Suami Settingan
Vitamins Pagi


__ADS_3

Darren tetap terjaga hingga di belakang sana terasa sepi. Napas halus Jen yang teratur membuat Darren membalikkan tubuhnya.


Tangannya perlahan mengusap kepala Jen dengan lembut. Ia hanya ingin menjadi tempat bergantung dan meminta, hanya itu. Hanya ingin berguna bagi istrinya yang kaya raya. Darren menghembuskan napasnya. Ini tentu bukan salah Jen, mungkin wanita ini juga tidak bisa menolak pemberian mamanya. Tapi, mungkin karena Jen tidak menggunakan namanya sebagai suami dan kepala dalam rumah tangga mereka, jadi Mama Kira tidak bisa ditolak.


Darren memosisikan tubuhnya lebih dekat dengan punggung Jen, menghadiahi rambut istrinya dengan sebuah kecupan. "maaf, Sayang ... seharusnya aku ngga cuekin kamu seperti itu, tadi." Ia melingkarkan tangannya di atas perut Jen lalu sebelah lagi, ia selakan antara bantal dan leher istrinya.


Ia memilih ikut terlelap meski ia ingin mengatakan maaf pada Jen, menjelaskan semuanya, tapi rasa-rasanya percuma saja, sebab Jen tidak akan mendengarnya. Mengeratkan pelukan ketika kelopak matanya tiba-tiba menjadi sangat berat.


***


Bibir Jen bergerak lembut saat ia merasakan tubuhnya sudah puas bergelimang mimpi. Ia mencecapi bau yang sangat khas dan ia dengan rajin mengendusnya.


Aroma suamiku, kenapa sampai terbawa mimpi, ya?


Ia menyeringaikan senyum dengan mata masih terpejam. Tangannya yang tertekuk membelai benda padat di depannya, sesekali memberikan penekanan yang membuai. Lalu ia merasakan sesuatu yang basah menghinggapi bibirnya.


Dicium peri mimpi!


Jen setengah melayang, ia dengan rajin membalas ciuman itu sebelum ia benar-benar merasakan nyeri saat irisan bibirnya terisap kuat.


"Au ...," keluhnya sambil mengerjap dan menjilat dengan ujung lidahnya bekas yang disesap. Samar matanya menangkap bayangan Darren yang tersenyum hingga cekungan di pipinya muncul.

__ADS_1


"Pagi, Sayangku ...," sapa Darren dengan lembut. Tangannya bahkan terjulur mengusap pelipis sampai menyisihkan anak rambut yang nakal memburai. Menghalangi pandangannya untuk melihat wajah yang masih imut ketika bangun tidur. Punggung jemarinya menyusur di pipi hingga bermuara di dagu yang mulai tembam dan bulat.


Jen masih belum mampu mengingat bahwa ia semalam kesal setengah mati pada suaminya ini, sehingga ia dengan parau dan merona menjawab sapaan sayang suaminya tersebut.


"Pagi, juga ... kenapa badanku sakit semua, ya?" Telunjuk dan jari tengah Jen mengucek mata dengan posisi terbalik, menguap yang sedikit di tahan dengan tangannya yang lain, lalu meregangkan tangannya ke atas kepala. Menggeliat hingga terdengar suara melenguh yang sarat kepenatan. Dengan kegiatannya tadi, ia membalik tubuhnya hingga telentang dan kembali mengerjap.


"Astaga!" Jen melebarkan matanya dan menarik diri hingga terduduk dalam gerakan cepat. "Bisa kesiangan nanti ...," gumamnya sambil menurunkan kaki, berjalan cepat ke pintu kamar mandi. Mengabaikan Darren yang menyangga kepalanya sejak ia meraup bibir Jen yang telah lancang membangunkannya. Alis tebal pria itu sampai melengkung naik saking herannya dengan tingkah sang istri yang kelabakan.


Darren menghela napas, berharap paginya akan lebih indah usai dibangunkan dengan gerakan sensual di dadanya. Tentu, pria selalu peka dengan sentuhan, apalagi sentuhan istrinya. Namun, kini harapannya sia-sia dan musnah perlahan-lahan.


"Darren ...!"


Asa yang padam seolah bangun kembali kala mendengar panggilan yang menyentak, ia mengangkat wajahnya hingga pandangannya bertatapan dengan Jen yang hanya setengah badan memyembul di balik pintu kamar mandi. Darren bertanya-tanya dalam hatinya. Apa?


Langkahnya bergerak mengintimidasi seperti seorang penyelidik tengah menginterogasi tersangka. "Kamu pikir aku wanita gampangan apa?" ia menyilangkan lengannya di dada, "seenakmu sendiri cuek-cuekin aku, trus cium-cium aku!" Ia mendengkus kesal. Mata jernih itu menumpahkan amarah.


"Kamu pikir aku gak kesel kamu gituin? Sakit tauk! Gak ada peluk-peluk, gak ada cium-cium ... aku kesel sama kamu!" Ia meluruhkan tangannya lalu berbalik cepat ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, Jen menutup pintu dengan tubuhnya yang langsung bersandar di baliknya. Ia mendengkus lagi dengan bibir cemberut. "enak aja dia bersikap kaya gitu ... mana aku gak tau aku salahnya dimana! Eh, paginya nyosor duluan! Ck, nyebelin makhluk yang namanya laki-laki!"


Dalam hati ia menambahkan 'egois' sebagai imbuhan yang telak pada kaum yang di sebut pria. Jen menoleh dengan wajah masam dan bibir meliuk sinis seakan Darren berada di sekitar bahunya yang bisa melihat ekspresi kesal seorang Jen.

__ADS_1


Ia menarik dirinya dari daun pintu dan melangkah ke bak mandi, menenggelamkan diri di sana. Ini adalah bak mandi untuk ketiga adiknya dulu, ia ingat ketika rumah ini harus berulang kali di tata ulang ketika krucil-krucil mulai bermunculan di sekitar Jen dan sangat merepotkannya. Tapi, ia justru sangat rindu dimana krucil-krucil itu bisa ia manfaatkan untuk kepentingannya. Terkadang, mereka akan mendengar kesahnya saat ia kesal tanpa interupsi menyalahkan. Wajah polos mereka adalah hiburan tersendiri bagi Jen. Meski kini ia sering kesal dengan si kembar yang usilnya minta ampun.


"Kakak rindu kalian, adik-adikku!" Mata Jen mengembun basah. Lalu dalam hati merencanakan menemui mereka hari ini. "Astaga, kenapa aku bisa merasakan rindu pada pengganggu itu?" Jen menyeka bawah matanya yang sudah penuh air mata, ia tertawa sendiri melihat betapa ia sangat menyayangi adik-adiknya, meski sering kesal pada mereka.


Darren tertawa melihat kemarahan Jen yang malah terkesan lucu. "Orang dia yang mulai duluan, kok!" tuduhnya dengan senyum mengejek.


Darren beranjak bangun, niatnya ingin membuatkan sarapan untuk mereka. Entah apa yang akan dilakukan istrinya itu hari ini, sehingga dia mengatakan kesiangan. Rasa pengertiannya muncul begitu saja, melihat ketergesaan Jen.


Namun, ketika ia telah sampai di pintu dan hampir saja menutup pintu kembali, ia melihat kepala Jen menyembul di balik pintu kamar mandi. Celingukan dan mengendap. Terlihat lega, wanita itu menutup bagian depan tubuhnya dengan baju yang ia pakai tadi. Berjalan cepat ke arah lemari dan menarik handuk. Gerakannya kasar dan tergesa sehingga ia tampak kerepotan sendiri mana yang harus ia jaga.


Darren memiliki ide gila melintas di otaknya. Ia berjalan pelan menuju Jen. Lalu dengan cepat ia menyentuhkan ujung hidungnya di belakang telinga Jen. "biar kubantu!" tangan Darren memegang ujung handuk itu dan membalutkan pada tubuh Jen dengan sengaja menekan dan berlama-lama di bagian tertentu.


Jen menahan napasnya, suara Darren terlalu membius dirinya, hingga hanya jantungnya saja yang berdetak tak karuan. Sisanya membeku dengan warna wajah yang memutih dan pucat. Pasi sampai ia tak mampu merasakan wajahnya sendiri.


Darren menyusurkan hidung dan bibirnya di sepanjang leher Jen hingga wanita itu hanya mampu mendesis geli. "Vitamin pagi, mau?" tanya Darren sambil menyesap ringan bahu putih bersih yang menantang untuk diberikan tanda semerah ceri berbentuk stroberi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2