
Ketika Jen masuk ke kamar, Darren baru saja keluar dari kamar mandi. Keduanya sama-sama sedang menutup pintu dengan gaya yang sama. Meski pintu itu tak akan lari setelah kaitnya menceklik, tetapi dua ornag itu meyakinkan dengan menekan daun pintu dengan tubuh belakang mereka.
Bola mata mereka berpadu, lalu Jen segera memutuskannya kala ia tak mampu menahan rasa canggung yang luar biasa memenuhi tubuhnya. Jadi, dialah yang salah selama ini. Benar Darren sudah mengatakan banyak kali kepadanya, tetapi ia tak sangka sama sekali bahwa itu termasuk Ranu di dalamnya. Darren hanya mencintainya. Hanya dirinya seorang saja.
Berlaku juga kah untuk Tamy? Atau Tamy saja yang belum bisa bersikap legawa seperti Ranu? Mendamaikan diri dengan keadaan, daripada sibuk mencari perhatian dari suami orang.
Tubuh ramping Jen segera menelusup di bawah selimut yang hangat, tangannya saling meremas dalam gelisah. Tatapan Darren sungguh membuatnya tak bisa berkata-kata. Padahal sudah jutaan kata maaf terangkai sekaligus dengan seperangkat ekspresi yang diperkirakan bisa meluluhkan suaminya itu. Namun, kenyataan membuyarkan segalanya. Darren tampak datar saja.
Darren sudah membuka mulutnya untuk bicara, tetapi ia segera menelannya dalam-dalam. Ia tahu Jen sangat malu dengan pikirannya, dengan segala kekesalannya, tetapi ia memberi waktu sampai semua pudar dengan sendirinya. Membiarkan malam melakukan tugasnya, menyembuhkan luka dan lara.
Darren segera berpakaian melangkah ke sisi Jen, membelai pelipis yang bertebar rambut lembut Jen dan mengecupnya.
"Mimpi indah, Sayang ...," katanya bergumam dan bergelut senyuman.
Darren segera memenuhi dadanya dengan udara, sayangnya, ia tak bisa membagi kesenangan ini dengan Jen. Lagipula, ia menyiapkan semua untuk nanti jika semua usaha yang perlahan dirintis ini telah membuahkan hasil. Meski ia juga tak berniat menutupi, tapi karena keadaan seperti ini, ia mesti menahan rasa ingin berbagi kebahagiaan ini dan merayakannya juga harus ditunda.
Darren mengambil ponselnya dan segera menghubungi Adi, asiten Kenang, yang meminta penjelasan singkat tentang usaha mereka. Dia tidak berniat pergi dari kamar ini, biar Jen sekalian mengerti kalau dia tidak menyembunyikan apapun dibelakangnya.
***
Subuh telah datang, Jen telah duduk di samping ranjang tepat di sebelah Darren yang masih terlelap dengan mukena membingkai wajah mungilnya. Kemarin ia melakukannya sendiri, kini tak ada alasan lagi baginya untuk tidak membangungkan sang imam dari buaian mimpi.
__ADS_1
Tangannya mengambang ragu, namun waktu terus bergulir, "Ren ...," panggilnya lirih dan jangankan Darren, dirinya sendiri saja nyaris tidak mendengar suaranya yang barusan keluar.
"Bangun, Ren ...," ulangnya lagi lebih keras setelah berdehem kecil agar suaranya kembali ke mode normal. Tetapi tetap saja ia hanya mendesis, pada akhirnya, tangan kanannya juga yang turut andil untuk mengoyak mimpi suaminya tersebut.
Darren tersentak benar-benar, ia sampai mengangkat kepalanya saking terkejutnya. Ia menolehkan kepalanya.
"Subuh ...," kata Jen perlahan. Ia langsung beranjak dari sisi Darren karena dirasa tugasnya telah selesai, lalu menempatkan diri di posisi yang telah ia tata sedemikian rupa.
Darren mengusap wajahnya yang masih digelayuti kantuk berat, dia baru tidur sekitar dua jam. Adi yang hari ini harus bertolak ke Beijing untuk menemui Kenang, harus mengebut persiapan awal yang diminta Kenang. Data yang akurat dan tepat menjadi syarat wajib untuk diperiksa pria yang namanya tidak ditemukan di mesin pencarian. Sungguh aneh dan misterius, tetapi Darren tetap memercayai Kenang dan Adi. Entah, feelingnya berkata demikian.
Darren bersiap tak lama kemudian dan tegak sudah kewajiban dua rekaatnya tak sampai sepuluh menit lamanya. Lalu ketika ia memutar tubuhnya ke belakang, Jen sudah mengulurkan tangannya.
"Aku hari ini bekerja dari pagi dan akan pulang agak malam," kata Darren sambil mengusap rambut Jen, dan ketika istrinya duduk tegak usai mengecup punggung tangannya, Darren memberinya kecupan yang lama di kening istrinya itu.
"Aku akan masak ...," kata Jen sambil membenarkan ikatan rambutnya, tanpa menatap Darren. Sungguh ia sangat canggung menghadapi suaminya itu. Kata maaf yang sudah diujung lidahpun seakan enggan untuk melompat keluar dari kungkungan bibir tipis Jen.
"Aku yang akan membersihkan rumah dan mencuci." Darren tak tahan lagi untuk memeluk istrinya yang sangat tinggi di depannya ini.
"Katakan apa saja, apa saja yang membuat kamu lega ... katakan apa yang akan kau lakukan hari ini, katakan apa yang kamu pikirkan tentangku, aku akan menjawabnya."
Tangan Darren melingkar di perut Jen yang ramping, dagunya menyamping di sisi kepala istrinya yang menegang karena ulahnya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Bibir Darren mengecup ringan bahu Jen dengan gerakan berulang-ulang. "Aku tau kamu kesal karena kamu khawatir padaku, dan aku tahu kamu benar-benar telah beralih kepadaku. Kamu mulai sayang sama aku."
Jen menyembunyikan bibirnya yang hampir kelepasan mengatakan iya. Namun, dalam hati ia bersorak, entah untuk apa, tapi dia sangat senang Darren memperjelas kekeruhan hatinya. Sebuah simpulan yang sangat tepat dan tidak berlebihan rasanya.
"Katakan ya, jika aku benar ...." Darren memutar tubuh Jen dan menatap mata yang begitu jernih di depannya. Wajah yang berbinar penuh keindahan.
"Tapi tidak usah ... bagiku kamu mengatakan atau tidak, kamu membalas cintaku atau tidak, aku hanya ingin mencintaimu sepenuhnya. Aku hanya mencintai kamu. Hanya kamu!"
Darren menyentuhkan hidungnya di ujung hidung Jen. "Cinta kamu banyak-banyak ...," katanya dengan tawa yang memenuhi bibirnya. Lalu mendekap erat tubuh istrinya itu. "Jangan diamkan aku lagi ...."
Jen menggigit bibir, hatinya berdesir-desir. Sangat pelan ia menengadahkan wajahnya, "Jauhi Tamy juga ...," kata Jen sambil mengerjapkan matanya.
Darren tersenyum. "Dia hanya temanku ... kami berteman lama sekali," kata Darren, lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah ... jika itu membuatmu tenang."
Jen meneliti setiap jejak di wajah suaminya, mencitra satu-satu apa yang ada di sana. Dia tidak akan mau dibohongi, tidak oleh pria yang telah menghinggapi hatinya sampai tak ada celah untuk lari. "Janji?"
Darren tergelak melihat ekspresi Jen yang masih menolak percaya pada perkataannya. "Aku harus apa agar kau percaya?" Darren menjatuhkan lagi hidungnya di atas hidung Jen, kali ini bersama bibirnya, yang langsung rindu menjelajahi bibir mungil ini.
.
.
__ADS_1
.
.