
Masih dalam mode menolak bicara, Jen kini telah diantarkan sampai ke rumah mama Desy oleh Darren. Diperlakukan seperti ratu oleh Darren tidak membuat Jen luluh begitu saja, meskipun dia tetap mencium punggung tangan suaminya tersebut, lalu membiarkan Darren menyematkan kecupan di keningnya. Namun, jangan harap ada ekspresi yang mengkurva sedikit saja. Dingin dan datar.
"Ma ... nanti Jen ngga bisa lama, ya ... soalnya sudah janji sama papa Rian untuk nemenin papa hari ini." Ketika tangan Jen di penuhi oleh foam berwarna hijau yang menimbulkan remah-remah sebab ia kebagian tugas untuk membalut foam tersebut dengan lakban bening, lalu menata stik dengan lembaran uang yang sudah terbungkus plastik ke atas foam tersebut. Hari ini ada pesanan money bouquet seukuran orang dewasa untuk hadiah pernikahan. Dan itu memakan waktu cukup lama, beruntung pesanan hari ini sebagian besar diambil sendiri oleh customernya. Jadi Jen sedikit lega dengan urusan antar mengantar buket.
"Maafkan mama, ya, Nak ...." Desi sampai berhenti dari kegiatannya menata kertas wrap yang berwarna pink pucat senada dengan warna lembaran uang seratus ribuan itu, ia menatap Jen penuh permohonan maaf. "harusnya mama ngga minta kamu datang ke sini, apalagi kamu mau jagain papamu." Ia menggenggam tangan Jen dengan lembut.
Jen tersenyum dan menggeleng. "ngga papa kok, Ma ... papa katanya sudah baikan. Jen hanya mau nepatin janji saja." Ia kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti begitu buket gede ini selesai, kamu langsung ke rumah papa Rian ... Dinka mungkin akan pulang jam dua belasan, jadi dia bisa bantu mama. Lagipula kamu kaya kecapean gitu, apa kamu sakit? Atau capek karena seharian kemarin nganter mama?" Desy kembali bekerja, tetapi sesekali ia mencuri pandang ke arah Jen yang berekspresi datar.
"Enggak kok, aku ngga papa, Ma ...." Jen tersenyum lemah yang terpaksa. Ia kembali menunduk. Desy tentu saja merasakan perubahan Jen yang semula banyak bicara dan tertawa, kini seakan semua itu hanya ingatan semu belaka. Jen benar-benar terlihat murung.
Drama selanjutnya adalah si pemesan buket berisi uang itu ternyata kesulitan menemukan alamat Desy, hingga jadwal pengambilan buket itu molor cukup lama. Alhasil, Jen juga harus mengundur waktunya untuk ke rumah Rian.
Di depan sana masih terdengar obrolan mama dan customernya. Terdengar permintaan maaf mama Desy hingga kepalanya menunduk meski si customer tak menyalahkan mama mertuanya. Hingga mobil si pemesan itu berlalu barulah terdengar helaan napas yang cukup berat.
"Untung mereka gak kesel, Jen ... alamat rumah ini cukup sulit dicari. Andai saja mama mampu sewa tempat di kawasan yang strategis, Jen ...," kata Desy lebih kepada dirinya sendiri, lalu ketika menyadari Jen sepertinya juga ikut berpikir, Desy segera mengoyak perkataannya sendiri. "ah, sudahlah ... kamu segera ke rumah papa Rian, gih ... kasihan papamu pasti udah nungguin."
__ADS_1
Jen melengkungkan senyum dan hendak merapikan bekas kerjanya. "Jen rapikan ini dulu, ya, Ma ...." Ia mulai mengemas peralatan yang cukup berserak ke dalam sebuah keranjang berukuran tanggung.
"Biar aja begitu, Jen ... nanti masih kepake kok." Desy mengambil tangan Jen dan membawanya kembali berdiri. "Sampaikan salam mama untuk papamu, ya ... maaf karena mama belum sempat bersilaturahmi ke rumah papamu."
"Baik, Ma ... akan Jen sampaikan nanti." Jen mengulum senyum dan meraih tasnya. "Jen pergi dulu, Assalamualaikum." Ia mengambil tangan Desy dan mengecupnya, sebelum berlalu dari sana.
***
Sementara, Excel hari ini menyempatkan diri untuk mencari Sia ke Surabaya. Kos tempat Sia tinggal sudah satu bulan lamanya tidak dihuni. Ibu pemilik kosan juga tidak tahu kemana Sia pindah.
"Kemarin dulu, seingat ibuk, ada dept collector datang dan menangih hutang pada nak Alicia, Mas ...," terang ibu pemilik kos.
"Iya, Mas ...." Excel menoleh ke arah si Ibu kos. "denger-denger, utangnya ratusan juta. Eh ... Mas ini, bener kakaknya Alicia 'kan?" Ibu itu menyelidik Excel dari atas sampai ke bawah, entah apa maksudnya.
"Iya ... saya kakak Sia lain ibu." Excel mulai memikirkan banyak hal tentang uang ratusan juta yang dipinjam Sia dari rentenir atau sumber pinjaman lain.
"Aneh, ya, Mas ...." Si Ibu itu tertawa kecil, " Alicia punya kakak yang berkecukupan kok malah ngutang, ya?" Terlihat si ibu itu seperti mengejek dan memandang aneh pikiran Sia. Seperti tak habis pikir akan jalan pikiran anak muda. Menghamburkan uang demi kesenangan, dan akhirnya malah tidak jelas bagaimana nasibnya setelah hutangnya di tagih.
__ADS_1
Excel tidak menanggapi malah ia langsung berdiri dan berniat pamit. Dia merasa kesal karena ucapan ibu kos yang bukannya membantu tapi terkesan menjelekkan Sia. Excel sendiri masih ingin berpikir baik tentang adik tirinya itu, meski melihat riwayat dari kisah orang tuanya, hanya ada keburukan yang nampak.
"Saya permisi, Bu ... kalau adik saya sudah tidak punya tunggakan biaya kos, saya rasa saya tidak ada keperluan lagi di sini. Terimakasih atas informasinya, Bu ...," kata Excel sembari mengulurkan tangannya yang langsung di sambut ibu kos.
Excel kembali membelah jalanan kota Surabaya yang diliputi awan hitam yang menggantung. Berniat ke kampus dimana Sia menimba ilmu selama ini. Mungkin ada secercah pengetahuan akan keberadaan adiknya tersebut.
"Sia ... kamu dimana, Dek?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"