
Jen melangkahkan kakinya sangat cepat ketika sampai di rumah Rian, seakan tak sabar untuk memaki Sia. Anak dari perusak rumah tangga orang tuanya itu sungguh membuat Jen ingin menjambak dan meremas habis wajahnya, terlebih, gadis itu benar-benar replika seorang Melisa. Makin geram saja Jen ketika melihatnya.
“Eh, Jen ... kamu kemari, Nak?” Rian menoleh dan tersenyum, tetapi melihat raut wajah Jen yang siap menerkam, membuat senyum Rian mendadak sirna. “Sia sudah kembali ...,” kata Rian yang sudah tidak tahu lagi harus merespons kedatangan anaknya.
“Kita bicara di luar ...,” ujar Jen datar. Matanya langsung hinggap di wajah Sia yang merepet dan sembab di samping Rian.
Jen mengendikkan dagunya agar Sia melangkah terlebih dahulu keluar ruangan ini. Sama sekali tidak melunakkan ekspresinya, meski Rian mengiba saat menatapnya, maupun Excel yang memegang bahunya agar mengendalikan diri.
Begitu Sia melangkah melewatinya, ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang ini dan Rian, tetapi suara Rian yang bergetar membuat langkah Jen terhenti.
“Tolong, jangan terlalu keras padanya, Nak ... Sia juga sedang kesusahan.” Jen tidak menanggapi, ia hanya segera berlalu dari ruangan itu.
“Kau dengar, ‘kan, apa kata papa barusan?” Jen memulai penghakimannya pada Sia. Gadis manis dengan mata seindah boneka itu memejamkan mata ketika Jen membelai telinganya dengan pernyataan yang tajam dan tidak bersahabat. Bulir bening juga perlahan ikut jatuh di sela bulu mata pendek yang lentik dan lebat. Sungguh dia adalah gadis yang sangat cantik.
“Apa susahnya, sih, memberi kabar orang rumah? Papa itu khawatir sama kamu ... kamu harusnya seneng. Aku saja dulu saat kamu masih di perut mamamu setiap hari menangis ingin bertemu papa, ingin digendong papa, dan kamu, papa sampai sakit hanya mengkhawatirkan kamu. Harusnya kamu itu bersyukur, mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang aku gak pernah dapat dari ayah kandungku, Sia ....”
Sia menggigit bibirnya sampai terasa sakit, air matanya jatuh semakin deras. Menunduk semakin dalam, tanpa berani membalas tatapan Jen yang masih tajam dan penuh kekesalan. Ia merasa sangat bersalah dan juga menghangat.
“Katakan, apa yang kau lakukan diluaran sana?” Jen menyandarkan tubuhnya pada tembok di belakangnya. Teras belakang yang kecil dan asri dengan beberapa tanaman hias di pot kecil-kecil ini sungguh menyejukkan mata.
Sia menarik napas dan mengatur dirinya untuk menghadapi Jen. Ini kali pertama mereka berbicara dan langsung dipenuhi amarah, jika boleh berharap, Sia ingin berbicara dengan Jen dalam suasana yang lebih baik. Namun bagi Sia, ini juga tidaklah buruk, sebab ia tahu Jen mulai peduli padanya.
“Aku tinggal di rumah dosenku, Kak ... ponselku rusak dan aku sama sekali tidak punya uang selama ini. Aku ...,” ucapnya tak sanggup berkata lebih banyak, sebab air matanya kembali menderas jika ingat masalah yang telah lama ia coba lupakan.
“Aku tidak percaya kalau kamu
sampai tidak punya uang ... bukankah kau mendapat kiriman uang dari kakak
setiap bulan? Kemana uang itu?” Jen mendengkus sinis, melihat Sia tampak baik
dengan pakaian yang layak, dan lihat sepatunya, Jen bahkan tahu berapa harganya
__ADS_1
dalam sekali lihat. Dasar pembohong!
“Aku menggunakannya untuk kuliah
seperti biasa, Kak ... aku bersumpah dan tidak berbohong soal itu.” Sia
menegakkan kepalanya, tetapi segera menunduk. Ia tahu apapun alasannya, dia
tetap salah.
“Lalu untuk apa kamu berhutang?”
Jen jelas sekali sangat kesal, sampai ucapannya terdengar meninggi. “sampai
ratusan juta, kalau aku tidak salah mendengar.”
Sia mengubah posisinya diikuti
Jen. “Aku yakin kalau kakak tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang akan
aku katakan. Aku hanya korban, kak ... aku sedang tertipu, Kak ...,” kata Sia
dengan wajah berlinang air mata. Ia lelah dengan praduga, alasannya mungkin tidak
bisa diterima oleh sebagian besar orang. Tapi semua ini benar adanya, dia telah tertipu oleh sahabatnya.
Jen melihat kesungguhan di wajah Sia tersebut, ya, meski ia masih belum percaya sepenuhnya, tetapi ia memberikan kesempatan pada Sia untuk berbicara. Sia mengatur napas dan menyeka air matanya, lalu mengalirlah semua cerita tentang kejadian yang sebenarnya terjadi dalam hidup Sia dua bulan ke belakang.
“Ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu, kak ... tapi aku sudah membereskan dengan bekerja sambilan untuk menopang cicilan pada rentenir itu. Natania adalah teman satu kosku, yang kabur dengan meninggalkan hutangnya padaku. Ya, aku tahu aku juga salah dengan membiarkan dia memakai identitasku untuk meminjam uang, sebab pada awal-awal dulu, Nata tidak pernah menunggak. Aku tahu, Nata memang kesulitan keuangan sebab ayahnya mengalami kecelakaan dan mengalami kegagalan operasi. Ibunya meninggal dengan meninggalkan banyak hutang padanya. Aku hanya berniat membantu, Kak, tapi aku gak nyangka kalau Nata melakukan ini padaku.”
Jen tertegun dengan mata menyelidik wajah Sia.
__ADS_1
“Aku berani bersumpah, Kak, tapi aku juga tidak berharap kakak percaya padaku.” Sia pasrah melihat reaksi Jen.
“Lalu selama dua bulan ini kamu kemana? Kak Excel bilang kamu udah gak di kosan lagi?” Jen membuyarkan tangannya yang bersikap di dada. Ia sedikit melunak pada adiknya tersebut.
Sia terlihat seperti orang yang mau pingsan ketika mendengarkan ini. “Aku tinggal di rumah dosenku, Kak. Kebetulan rumahnya besar dan memiliki banyak kamar. Aku ditampung sementara di sana.”
Jen melihat Sia menyimpan getir yang tertahan di bibirnya, sehingga dia tidak tahan untuk tidak bertanya. “kamu gak ada main sama dosen kamu itu, ‘kan?”
Sia menggeleng cepat, “tidak, kak ... dia sudah beristri ...,” ucapnya menggantung.
“Sebaiknya, kata-katamu ini bisa kupegang. Melihat penampilan kamu, aku sedikit tidak percaya.” Ya sepatu yang melekat di kaki Sia diperkirakan sekitar tujuh ratusan dollar, dan hampir setara dengan uang yang diberikan Excel sebagai biaya kuliah, di samping biaya tambahan untuk hidup Sia yang diberikan secara terpisah oleh Excel. Jen tahu semuanya.
“Ini pemberian dari istri dosenku, Kak ... beliau kasihan melihat sepatuku yang sudah rusak.” Sia mengatakan apa yang sebenarnya. Jangankan beli sepatu, pulsa saja dia sampai tidak sanggup membeli.
“Lalu bagaimana kamu menyelesaikan hutangmu?” selidik Jen lebih dalam.
“Aku ... dibantu dosenku itu, kak ... dengan membayarnya semampuku,” jawab Sia polos. “Lagipula, kuliahku sebentar lagi selesai, aku bisa bekerja untuk membayar hutang-hutang itu, dan aku juga akan menghubungi Nata,” katanya lagi.
Jen menghembuskan napasnya, “sebaiknya kamu sering-sering menghubungi Papa, ingatlah bahwa kamu masih punya orang yang selalu menunggu kepulanganmu, mengkhawatirkan kamu setiap waktu. Ingat bahwa dulu aku pernah menangis sepanjang malam untuk mendapatkan semua itu.”
Sia mengangguk dengan perasaan lega, “aku mohon, jangan sampai papa tahu semua ini, Kak ... aku akan menyelesaikan urusanku sendiri tanpa membebani papa.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sia bohong gak ya, soal ini? yok ditebak