Suami Settingan

Suami Settingan
Wise Man Say


__ADS_3

Kekhawatiran Desy sirna seketika, saat mendengar deru mobil memasuki pagar rumah. Sejak mendapat kabar dari Kira, Desy tidak bisa tidur, sehingga ia menunggu anaknya di ruang tamu bersama Rendi hingga fajar tiba.


Ia bergegas membangunkan Rendi, dan membukakan pintu untuk Darren dan Jen.


"Kalian ngga apa-apa, 'kan?" sergah Desy ketika melihat Jen dan Darren turun dari mobil.


"Enggak, kok, Ma ... kami baik-baik saja." Darren mengambil tangan mamanya untuk di semati sebuah ciuman.


"Syukurlah, Nak ... mama khawatir banget begitu kalian belum pulang sampai larut malam." Desy beralih pada Jen yang tersenyum canggung.


"Maaf, udah buat Mama cemas," ujar Jen tulus. Ia sungguh malu karena telah menyebabkan seluruh penghuni rumah dilanda kecemasan.


"Yang penting kalian baik-baik saja." Ia mengusap rambut anak mantunya dengan lembut. Kira telah menceritakan semuanya dan menitipkan Jen padanya.


"Segera bersihkan diri kalian, ya ... mama siapkan sarapan," pungkasnya menyudahi ketidak nyamanan di sini. Rendi segera mengajak anak-anak masuk ke dalam, subuh telah lama berkumandang, dan mereka harus bergegas.


***


Desy sibuk di dapur, menyiapkan sarapan seperti biasa. Hari ini ia harus bergegas, sebab ia telah membuka lagi toko bunganya.


"Ma ...," panggilan Darren membuat Desy sedikit terkejut dan menoleh dengan cepat sebab ia tak mendengar tanda-tanda anaknya masuk ke dapur.


Darren mendekati mamanya, berdiri bersisihan di depan kompor yang tengah menyala.


"Ada apa?" Desy tahu kesulitan Darren, pasti setelah apa yang terjadi pada Jen, ia akan memikirkan untuk menata hidup mereka sekarang.


"Darren mau jual motor." Darren tak berani menatap mamanya. Ia sibuk menggerakkan tangannya di antara bahan masakan yang telah berjajar rapi di wadah masing-masing.


Desy mengisyaratkan agar Darren memberinya sayur mayur yang sedang ia mainkan. "Kenapa? Udah bosen? Dulu ngebet banget belinya." Desy ingat benar bagaimana Darren rela menahan diri demi motor edisi terbatas itu. Namun, ia menyerahkan semua keputusan pada anak lelakinya tersebut.


"Spare partnya mahal ...," jawab Darren sambil tersenyum. Ia mengulurkan satu persatu bahan yang mamanya minta. Dari aromanya, mamanya akan memasak capcay.


"Ya sudah, kalau maunya kamu begitu. Sok atuh, jual saja, Mama ngikut keputusan kamu. Lagian Mama ngga suka naik motor kamu itu, agak susah naiknya."


Darren sebenarnya agak ragu mamanya menyetujui, ia pernah berdebat soal motor itu dengan mamanya. "Bener? Gak pake marah 'kan?"


Desy menghentikan gerakan mengaduk capcay yang telah menyerbakan aroma wangi yang khas. Ia menatap putra sulungnya. "Mama kesel sebenarnya, karena mama udah pernah bilang, pake motornya biasa saja, jangan yang mahal-mahal. Tapi ya, sekarang semua terserah kamu, asal uangnya gak habis buat jajan atau main-main saja, ingat itu udah punya istri, bentar lagi punya anak. Meski mertuamu kaya raya, bukan berarti kamu mau enak-enakan saja. Kerja yang bener, meski itu punya sodaramu sendiri."


Darren menipiskan bibir, lalu menepuk-nepuk bahu mamanya, berniat merayu dan menenangkan. "Aku ngerti, Ma ... makanya aku sekarang mau serius bekerja, gak main-main lagi. Doain anakmu ini bisa membimbing istriku jadi istri yang baik kaya mama."

__ADS_1


Desy tertawa, tapi hatinya sangat terharu. Sama sekali tak menyangka, kalau anak lelakinya yang telah tumbuh dewasa itu, sangat bijaksana. "Tentu, Nak ... mama akan doakan yang terbaik buat kalian."


"Eh, Ma ... gosong, tuh." Desy akan menarik Darren dalam pelukannya, tetapi kepala Darren mengulur ke samping, melihat capcaynya terlalu matang dan hampir gosong.


Desy melebarkan mata, diikuti tarikan napas yang dalam. "Astagfirullah, Darren ... ini semua gara-gara kamu," seru Desy panik dan mengambil spatula serampangan. "Kamu sih, gangguin mama masak, jadi gosong, 'kan ... duh ... papa kesian ini bawa bekal gosong. Bikin malu aja, ini nanti. Masa menejer bekalnya gosong ...."


"Maaf, Ma ... gak sengaja," Darren mundur saat mamanya masih ngomel panjang kali lebar.


***


Sementara dikamar, Jen sibuk menata bajunya kedalam lemari Darren, dan mengemas lingeri yang keterlaluan bentuknya  ke dalam koper, menyisakan yang masih bisa ditoleransi dan sopan saja.  Menyeramkan sekali baju itu, efeknya bisa sakit punggung sampai pagi.


Usai menata baju, Jen iseng membuka ponsel sambil beristirahat sejenak. Sejak semalam ia berpikir untuk menjual apartemen yang diatas namakan Diego. Ia sekarang bukan anak orang kaya lagi, jadi kenapa harus malu mengambil apa yang telah ia berikan pada Diego, pikirnya. Hampir 70% apartemen itu adalah uangnya. Tidak masalah menebalkan muka pada orang jahat macam Diego si bajingann itu.


Pertama ia menghubungi Vaya, meminta pendapat sahabatnya tersebut melalui pesan. Namun sepertinya, ia harus bersabar karena Vaya belum membaca pesannya meski telah menunggu sedikit lama.


"Setidaknya nanti bisa buat modal lagi, 'kan? Nyesel dulu gak nabung malah buat jajanin laki cap kadal," keluh Jen sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa malas yang langsung melesak.


"Bodo amatlah, lagian D juga jahat. Tar kubagi dua, deh, aku 75, dia 25. Seluruh biaya perantara ditanggung dia. Haih, belum mobil yang aku juga ikut nyicil. Ish, pokoknya kumau minta balik!"


Jen mulai berhitung, apa saja yang mampu ia ingat saat mengeluarkan uang untuk Diego. Mengitung total untung dan kerugian, lalu membebankan semua biaya pada Diego. Biar saja, ini pantas buat bajingann bau kencur macam dia.


***


Obrolan kedua wanita berbeda usia itu tampak akrab, diselingi canda, Desy dengan telaten mengajari Jen merangkai bunga. Sampai ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah, mereka langsung berdiri menyambut siapa yang datang.


"Papa ...," lirih Jen ketika mengenali mobil tersebut. Ia menelan ludah ketika perasaannya mencelos. Pikirannya sudah mengatakan yang tidak-tidak saja ketika melihat papanya turun dari mobil. Jas abu gelap itu tampak angkuh membungkus tubuh papanya. Gerakan elegan saat mengancingkan lagi jasnya, membuat pria setengah abad itu tampak berwibawa.


Jen berniat kabur, mungkin papanya membawa surat pemutusan hubungan kekeluargaan diantara mereka. Ya Tuhan, jika urat malunya sudah putus dan gengsinya setinggi pohon kangkung, ia pasti menghamburkan larinya ke kaki sang papa dan memohon agar ia mendapat ampunan. Namun, ia tidak dalam posisi seperti itu sekarang. Belum sempat Jen bergerak dari posisinya, Desy dengan tenang dan gembira menyambut besannya.


"Ngga sibuk, kok kemari jam segini?" Desy membukakan pintu lebar-lebar menyambut si besan.


"Sekalian ada meeting di sekitar sini." Ia memberikan kode kepada Desy dengan matanya saat menanyakan keberadaan Jen.


"Masuk, yuk ... dia di dalam." Desy menyingkir dari ambang pintu dan membiarkan Harris masuk.


"Pa ...," sapa Jen lirih saat ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tetap mendatangi papanya meski sebenarnya merasa enggan.


"Kamu baik-baik saja, 'kan, Sayang?"

__ADS_1


What?! Apa-apaan ini?


Jen terbengong hingga bibir yang semula terkatup kini memisah.


"Semalam, Jen ngga pamit sama Papa pas pulang, 'kan? Apa Jen marah sama Papa?"


Sebongkah batu seukuran gunung seolah menggelundung di atas tubuh Jen, melindasnya hingga ia rata. Gusti ... ini Papaku malaikat banget, batin Jen dengan mata berkaca-kaca.


Jen menunduk sambil memainkan tangannya di depan tubuhnya. "Maaf, Pa ... Jen pikir, Papa sama marahnya dengan mama, jadi ... ya, Jen—"


"Papa ngga punya alasan marah sama kamu, 'kan? Jen tahu 'kan kalau mama marah itu pasti kesalahan Jen sangat tidak bisa dimaafkan lagi?"


Jen mengangguk. "Maaf, Pa ...."


"Bagus, jadi sekarang Jen harus mempertanggungjawabkan perbuatan Jen." Jen mengangkat kepalanya, semakin sendu saja wajahnya saat ini.


"Bukan hukuman, Jen ... tapi kamu harus janji jadi anak yang lebih baik lagi, apalagi sekarang Jen sudah punya suami yang harus Jen taati. Papa tidak membelamu, Papa hanya ingin kamu tau, kalau kami hanya ingin yang terbaik buat kamu. Mengerti, 'kan?"


Hening ....


Harris memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, ia menghela napas dalam-dalam.


"Jen ngerti, Pa ... maafkan Jen, ya ... Jen janji akan jadi anak papa yang lebih baik."


"Dan istri yang baik, pastinya." Harris mengulurkan tangannya mengambil Jen dalam pelukannya. "Anak Papa pasti akan jadi anak yang baik semua." Ia mengusap rambut Jen dan mengecupnya sesekali.


"Maafin Jen, Pa ...," isak Jen yang begitu terharu dengan perlakuan papa sambungnya yang sangat bijaksana. Ia tak pernah menghakimi anak-anaknya, tapi ia selalu menunjukkan kemana kaki anaknya melangkah. Kesalahan seorang anak sepertinya tidak harus dihakimi dengan kejam hingga membuat anak trauma. Setiap kesalahan selalu ada motif yang kuat dan juga hikmah yang besar. Tinggal bagaimana orang itu menilai dari sudut yang benar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2