Suami Settingan

Suami Settingan
The Feeling I Feel


__ADS_3

Malamnya, Jen sedang merapikan baju yang baru saja kering tadi sore, menyetrikanya dan menatanya di dalam lemari. Darren masih diluar sedang berbincang dengan Jabir dan mama Desy.


Ketika menutup pintu lemari, ia dikejutkan dengan kehadiran Darren yang berdiri di depan pintu dan memandangnya sedikit aneh.


Mata Jen membesar, "mengejutkan saja! Bisa bersuara gak kalau masuk?"


Darren ingin berkata, tetapi ia tiba-tiba enggan mengeluarkan sepatah kata. Perasaannya masih kesal setelah melihat Jen yang ternyata menemui Diego dan membawakan makanan. Perhatian itu seharusnya diberikan kepadanya, bukan pada orang yang nyata-nyata membuatnya dalam masalah.


Darren menghembuskan napasnya perlahan, lalu ia menuju kasur dan mengenyakkan tubuhnya di sana. Mengabaikan Jen yang masih tercenung dan bingung.


"Jabir sudah pulang?" Jen masih mengawasi suaminya tersebut, lalu beberapa saat kemudian, ia melangkah menuju meja kecil di dekat kasur untuk membersihkan wajahnya dari kotoran sebelum beranjak tidur.


"Sudah ...," jawab Darren singkat, lantas ia membalik tubuhnya membelakangi Jen.


Jen menjawabnya dengan 'oh' singkat dan lirih, ia juga mengendikkan bahu tanda tidak mau ambil peduli. Secepatnya ia menyelesaikan perawatan kulit wajahnya agar segera bisa tidur.


Tak butuh waktu lama, Jen sudah merangkak ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya 'mepet' tembok. Menjaga jarak dari Darren yang telah memejamkan mata.


Jejak sisa pembersih wajah yang terasa segar dan beraroma khas membuat sudut mata Jen enggan memejam. Dengan Darren menghadapnya, ia salah tingkah sendiri meski pria itu tampak damai dalam tidurnya. Beberapa saat lamanya, ia hanya berbaring dengan posisi yang sama. Lantas, ia mengambil selimut dan menutupkan di tubuhnya, dan membelakangi Darren.


"Cinta itu seperti nyamuk yang menghisap darahmu, ngga akan terasa gatal sampai dia kenyang, lalu ketika kamu sadar, nyamuk itu telah pergi dan meninggalkan rasa gatal luar biasa, dan membuatmu kesal dan marah karena ngga bisa melakukan apa-apa lagi. Nyamuk pergi dan kamu hanya bisa menggaruk dan mengobati sisa gatal yang ada."


Napas Jen seperti diambil paksa oleh perkataan Darren. Antara terkejut dan tertohok. Kepala Jen menoleh meski yang tampak dimatanya adalah langit-langit kamar yang menggelap. Ia berpikir.


"Aku-aku ...." Jen tidak bisa berkata meski ia ingin menjawab. Kesusahan mengutarakan isi hatinya. Menyeribak lagi jauh kedalam hatinya, akan perasaan untuk suaminya.


"Semua orang punya batas meski cinta mati sekalipun. Jangan besar kepala meski dicintai sepenuh hati, jika perasaannya tak juga bersambut, cinta itu bisa pergi."


Jen membalik posisi tubuhnya, hingga ia menghadap Darren yang masih menutup matanya. Perkataan Darren mencubit keras sisi hatinya.


"Buka matamu, kalau belum tidur!"


Jen langsung ketus ketika Darren membuka mata, "aku tahu bagaimana perasaanmu padaku, tapi aku juga butuh kepastian pada diriku sendiri. Memangnya kamu mau hanya jadi pelarian saja? Atau aku akan mengatakan cinta tapi sebenarnya tidak? Aku hanya butuh waktu, Ren ... tapi tidak masalah kalau kamu hanya butuh ungkapan saja tanpa perlu ada cinta yang sesungguhnya. Aku bisa mengatakan, karena mulutku fasih sekali kalau diajak berbohong."


Darren menatap mata yang begitu bening dan jujur. Kilatan kekesalan di ambang mata itu terlihat jelas bersamaan dengan kejujuran.

__ADS_1


Jen mendesah ketika melihat Darren masih terlihat dingin dan menelisiknya tajam. "Kau benar-benar ingin aku mengatakan kata-kata itu? Baiklah ...."


Jen mengangkat tubuhnya hingga duduk di depan Darren. "Aku cinta sama kamu, Ren."


Jelas sekali itu hanya sebuah kalimat sarkas yang menggelikan. "Jangan minta bukti karena itu hanya sebuah ucapan!"


Darren menghela napas ketika Jen menatapnya sinis dan sengit. Kenapa jadi dia yang lebih galak, sih? Kan ceritanya aku yang cemburu, kesal, dan marah!


"Aku tahu kamu butuh waktu, tapi selama waktu itu kamu juga harus menjaga perasaanku, tunjukkan kalau kamu juga sedang otewe membalas perasaanku, Jen. Lupakan mantanmu itu! Kalau kamu ingin move on, jangan temui dia lagi."


Jen mencerna dengan lambat ucapan Darren, menerjemahkan satu-satu setiap makna yang tergabung di sana. "Kamu melihatku ke kantor polisi? Jadi karena aku kesana dan menemui Diego artinya aku masih belum move on dari dia?"


Jen membuang muka dan menyilangkan tangannya di dada, lalu melirik tajam ke arah Darren. "Kalau kamu tahu aku ke sana, kenapa ngga ikut masuk? Jadi ngga perlu kaya anak kecil pakai acara marah gak gelas kaya begini!"


Kini giliran Darren yang tampak bodoh. Iya juga, kenapa tadi setelah tahu kalau Jen menemui Diego, dia malah pergi? Daripada panas hati dan kesal sendiri, lebih baik masuk dan melihat apa yang mereka percakapkan.


"Sadar sekarang?" sinis Jen masih dengan posisi yang sama kecuali tubuhnya yang sudah merapat ke tembok.


Darren malu sendiri, tak punya pembelaan selain kembali menatap istrinya dengan fokus. "Karena aku terlalu mencintai kamu, Jen ... kupikir kamu masih perhatian sama dia," ucapnya lirih.


"Nih, alasan kenapa aku menemui Diego." Jen melemparkan ponselnya perlahan di depan Darren. Ia sendiri memilih membelakangi Darren yang mengambil ponselnya tersebut. "Sementara hanya chat dari Bian buktinya, besok kalau laku, akan aku kasih ke rekening kamu. Biar kamu tahu kalau aku hanya sedang berusaha tidak terlalu membebanimu."


Darren tercekat. Ia benar-benar tidak menyangka kalau kini dialah yang berlebihan. Tapi ketidakpastian perasaan juga mempengaruhi pikiran seseorang, 'kan? Wajar kalau Darren marah melihat semua itu.


"Aku tahu kamu cinta sama aku, itu juga yang membuatku memilihmu. Sampai aku rela memohon, tapi aku memilih jujur padamu agar kamu ngga merasa seperti pelarian saja. Aku hanya ingin membuat diriku pantas untukmu."


Jika ingin bersamamu selamanya.


Jen melegakan dirinya. Kekacauan dan ketidak siapan dirinya tentu adalah tantangan, oleh sebabnya ia tak mau salah menjatuhkan perasaannya pada Darren. Ia hanya ingin pantas bagi pria itu. Tentu setelah kebenciannya yang mendalam, lalu menjadi cinta yang tiba-tiba, akan terasa sangat aneh di hatinya. Sama dengan ketika kamu minum teh dengan campuran garam di dalamnya.


Darren segera menepiskan ponsel itu, ia meraih Jen dalam pelukannya, menciumi kepala wanita yang sedang berusaha menuju padanya. Seharusnya ia membimbing, bukan malah mengabaikan dan membuatnya kesulitan.


Mendapat perlakuan tiba-tiba, Jen merasa hangat dan trenyuh. Ia merasa seperti Darren sedang mengatakan maaf dari sentuhan itu. Dekapan posesif ini ... membuat Jen tersentuh, tapi itu tidak berhasil membuat air matanya tumpah. Jen segera menengadahkan wajahnya, mencegah bulir-bulir itu turun.


"Bersabarlah untukku. Butuh waktu yang sangat lama untuk mengubah benci menjadi cinta, tapi aku tidak menolak kenyataan bahwa hatiku sedang beralih kepadamu," ucap Jen bergetar. Itulah perasaan Jen sebenarnya.

__ADS_1


Bibir Darren mengembang, ya, dia adalah pria yang haus pengakuan. Begini saja hatinya sudah bermandi bunga yang indah. Cinta selalu butuh pengakuan.


"Maaf, Sayang ...," ujar Darren sambil meraih telapak tangan Jen dan mengecupinya. "Maaf ...," ucapnya sedikit mendesah dan berhasil menggetarkan segaris perasaan di tengah tubuh Jen, merayap naik hingga nyaris tumpah. Jen membenci bibirnya, dan dia langsung menghukum bibir tersebut dengan sebuah gigitan keras. Oh, Shitt!


Darren gemas sendiri ketika merasakan tangan itu meremas dan tegang. Ia juga merasakan hawa panas dari leher belakang Jen dan sensor di tubuh pria itu seperti peka terhadap hawa panas sehingga alarmnya langsung turn on.


Darren seperti mendapat dorongan alami jiwa kelelakiannya, atau entah apa itu, sehingga ia mengarahkan bibirnya mencecap tengkuk yang begitu hangat berpadu di dalam bibirnya. Gigitan kecil itu tidak meninggalkan bekas, tetapi ketika Darren mengeraskannya, daun telinganya jelas meneropong suara merintih yang dalam.


'Lepaskan, Jen ... lepaskan' racau naluri dalam diri Darren. Dan ... ketika 'ahh' meluncur mulus, lalu kepala Jen menengadah, Darren seperti mendapat suntikan semangat. Jen mempersilakan Darren masuk dengan leluasa. Lantas satu persatu pakaian ia sibak dan nikmati, tak tersisa sejengkalpun. Absensi yang melekat dalam ingatan Darren, titik-titik dimana ia bisa melumpuhkan wanitanya dalam sekejap.


Mata Darren terpaku pada wajah dan ekspresi Jen selama ia bekerja. Wanita itu seperti mengalami serangan kegilaan dengan jeritannya yang dalam dan menyenangkan. Jiwa Darren seakan penuh ketika Jen medapatkan jeritan itu lebih keras, dan Darren menyuplainya dengan sentuhan yang dalam.


"Hani ...," panggil Darren ketika Jen terlalu memabukkan baginya. Ia mendekatkan suara ke telinga Jen. "... aku lupa pengamannya. Ini udah ngga tahan, Hani," sengal Darren di ujung suaranya.


Persetann dengan pengaman, batin Jen. Ia malah menelan tubuh Darren lebih dalam, membenamkan pria itu seperti lumpur hisap.


"Hani, kau membuatku berdosa."


Jen melenguh, "aku yang meminta."


Persetann dengan semuanya. Desakan dan cengkeraman terakhir menyatukan napas mereka dalam satu hembusan. Begini setiap hari pasti akan menggeser hatinya lebih dekat dengan Darren. Mungkin ini sebabnya jika di sebut Making Love.


Dua pasang mata itu seperti baru kembali dari perjalanan yang gila yang memabukkan, lalu mereka tertawa. "Tunggu aku mengatakan 'i love you'." Senyum Jen yang langsung mengangkat kepalanya, mengecup bibir Darren yang masih basah.


"Tidak usah mengatakannya, aku hanya milikmu." Darren membalas ciuman itu, rasanya ingin menelan wanita itu, menenggelamkan dan larut dalam dirinya. Cinta selalu seperti itu. Bekerja sesuai logika seseorang berjalan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2