
Wanita bertubuh sedang dan berkacamata berbingkai emas dengan kawat gigi itu tersenyum canggung dan berulang kali membungkukkan badan untuk meminta maaf.
"Ini dokter Andina, Tuan ...." Dokter jaga UGD itu mengabaikan permintaan maaf Andina, ia malah memperkenalkan Andina pada Darren yang masih mengerjap bingung dengan keadaan ini. Kepalanya berputar dalam kecemasan sementara dua orang ini seperti sedang mengatakan kalau semua baik-baik saja. Di sini, dia butuh kejelasan nasib istrinya.
"Dokter, sebaiknya anda segera memeriksa Nona Jenny, mari saya temani," perintahnya pada dokter Andina yang hendak mengulurkan tangan pdaa Darren berniat memperkenalkan diri, tetapi urung, dan tangannya itu langsung ditariknya mundur. Senyumnya pudar berganti dengan ekspresi serius. Ia membungkuk dan menghela napas untuk melepaskan beban yang telah mengepul di dadanya.
Cobaan selalu datang meski baru satu minggu bekerja.
"Mari, Tuan." Dokter jaga itu mempersilakan Darren yang masih berdiri tegang untuk mengikuti mereka berdua.
Pikiran Darren kosong, ia hanya menangkap sekilas saja apa yang dipintakan dokter dan perawat padanya. Sesekali ia mengangguk dan mengatakan 'lakukan yang terbaik untuk istri saya' setiap kali dokter meminta pertimbangan. Separah apa penyakit istrinya? Lalu ia melihat Jen diambil darahnya, samar kupingnya menangkap TORCH atau semacamnya. Sesaat ia menjadi bodoh dan linglung, di benaknya hanya ada Jen yang pucat dan lemah berbaring diam. Melihat banyaknya tes yang dilakukan, pikiran buruk saja yang melintas di kepala pria itu.
Sesakit itukah kamu selama ini, Sayang?
"Tuan ...."
Suara yang terdengar dari belakang, menyadarkannya dari lamunan. Ia menoleh dan mendapati seorang dokter wanita tadi memberikan senyum ramah penuh penghiburan. "Tenanglah, Tuan ... Nona tidak apa-apa! Kebanyakan karena kondisinya yang terlalu lelah."
Darren menipiskan bibir dan menunduk. "Ya, ini salah saya sepenuhnya, Dokter ... saya tidak memperhatikan istri saya dan sibuk sendiri."
"Em ... saya tidak menyalahkan anda, Tuan ... tapi saya hanya ingin bertanya satu hal."
__ADS_1
Darren menoleh dan mendapati dokter Andina tersenyum padanya. "Apa Nona tidak mengalami mual atau muntah?"
"Apa dia sakit parah, Dok?"
Andina terkekeh. "Ya, parah sekali dan itu akibat ulah anda!"
Darren melebarkan matanya dengan napas berhenti beberapa saat lamanya. "Ss-saya?" Telunjuknya menunjuk dirinya sendiri. Lagi-lagi karena dia?
Apa aku memang hanya jadi musibah saja buat Jen?
"Ya, karena perbuatan anda menyebabkan Nona Jen memiliki janin di dalam perutnya. Dan anda tidak tahu, itu sungguh keterlaluan!"
Tik ... tik ... tik ....
"Istri saya hamil, Dok?" tanyanya terbata.
Andina megap-megap kala tangan Darren menyambar kedua lengannya, mengguncang tubuh Andina hingga kacamata wanita itu melorot sampai ke ujung hidungnya. Darren tersenyum lebar sampai giginya terlihat semua. Sungguh Andina takut melihat ekspresi horor—meski terlihat bahagia, dari calon ayah tersebut.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama ketika Andina menjelaskan secara lebih rinci apa yang terjadi pada Jen. Jen rupanya terkena toksoplasma yang mengontaminasinya hampir berbarengan dengan kehamilannya. Dan Darren begitu terkejut ketika satu persatu sebab terpaparnya Jen oleh virus tersebut diterangkan oleh Andina.
"Kami tidak memiara kucing, tapi kucing adik kami sering dititipkan di rumah. Mungkinkah itu penyebabnya juga?"
__ADS_1
Andina mengangguk. "Ya, bisa jadi, Tuan ... tapi bukan hanya itu saja, mungkin Nona suka makan olahan daging yang dimasak setengah matang atau mentah."
Darren mengangguk lemah dan tanpa sadar ia menggumam. "Ya, dia dulu suka sekali sushi, sate, dan steak setengah matang ...." Darren menatap dokter Andina dengan tajam dan serius kemudian. "Dia suka makan makanan itu dulu sekali, Dok ... apa itu berpengaruh sekarang?"
"Seharusnya tidak, jika sudah lebih dari sembilan bulan terpapar, tubuh biasanya sudah memiliki kekebalan atau antibodi pada virus ini. Saya yakin, Nona Jen baru terpapar sejak hamil." Ia menyodorkan kertas yang berisikan hasil tes terhadap virus tersebut.
"Karena Nona Jen belum sadar, kami belum bisa memperkirakan dengan pasti berapa usia kandungannya. Setelah beliaunya siuman nanti, saya akan memeriksanya lagi, Tuan. Akan ada tes-tes selanjutnya yang berkaitan dengan hal ini."
Darren tidak mengerti apa yang tertera di kertas tersebut, setahunya, Jen dan anaknya dalam bahaya sekarang.
Tolong, jangan sampai terjadi apa-apa pada mereka, Tuhan!
Darren menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi. Seluruh tubuhnya terasa kebas. Baru saja bahagia, sudah ada saja yang membuat semua kacau tak bersisa.
.
.
.
.
__ADS_1
.