
Jen kembali merapatkan selimutnya, ketika Darren menjatuhkan lutut di atas kasur yang sama dengannya. Peluh mulai bermanik di sekujur tubuh ketika dadanya berdebar tak karuan. "Ja-jangan seperti itu, Ren ... aku—"
Mata Jen hanya bisa membola, saat Darren tanpa basa basi menghangatkan bibirnya. Sebuah sesapan lembut membuat tangan Jen hanya bisa meremas selimut. Secara alami, bibir Jen terbuka ketika hidungnya tak sanggup memenuhi suplai oksigen ke paru-parunya. Namun, bukan hawa menyejukkan yang ia dapat, melainkan desakan lembut yang mematikan.
Jen masih lekat menatap wajah Darren yang tenang dan anggun. Mata itu memejam. Hati Jen berperang, ia masih takut bila terlihat gampangan dan melakukannya karena terjerat naafsu saja. Ia takut jika debaran ini hanya perasaan sesaat. Sebenarnya, ia bingung dan takut menyesal.
Tangan Jen gemetar terulur, menekan dada Darren, tetapi itu hanya mirip sebuah usapan saja. Bukan mendorong untuk menghentikannya.
Merasakan tangan Jen, Darren berhenti dan menjauh. Keduanya mengadu pandang cukup lama dan dalam.
"Aku-aku—"
"Apa perasaanku saja tidak cukup untukmu, Jen?" Dada Darren naik turun, ia tahu Jen tidak menyukainya, tapi ketika itu diucapkan bibir yang baru saja ia tinggalkan, rasanya itu sama seperti peluru yang menembus jantungnya. Ia sangat takut.
Jen menggeleng.
Eh ...!
Kenapa malah menggeleng? Ah ... otak Jen kacau saat ini.
Darren menarik sudut bibirnya, meraih tangan Jen dan memadukan jemarinya. Matanya kembali melancarkan rayuan agar Jen menurutinya. "Cukupkan dirimu denganku, Jen ... cukuplah perasaanku untukmu sebagai alasan agar kita tetap bersama."
"Aku—"
"Percayalah padaku, Jenny!" Darren tak sabar lagi. Ia kembali menyerbu bibir Jen yang sejak tadi tampak menggodanya. Perseetan esok pagi, jika Jen marah atau mencekiknya. Ia tak peduli.
Deru napas Darren menyapu pipi Jen hingga melahirkan rona merah yang hangat. Tangannya berada dalam kuasa Darren, menyela dan menyatu lalu Darren mengarahkan tangan itu ke pundaknya. Tubuhnya meremang, lalu matanya memejam. Menyerah, sebab Darren telah melemahkan dirinya.
Darren menjeda gerakannya, ia menatap wajah Jen, lalu mendorongnya berbaring. "Be mine, Jen ...!"
Rontok sudah Jen yang tinggi di kaki Darren, mata sayu itu benar-benar membuatnya lumpuh. Tak menjawab saking gugupnya, Jen hanya mengedipkan kelopak matanya.
Angin bertiup menerpa Darren, ia tak membuang waktu lagi, sekali lagi, sisi lain tubuhnya bergerak kegirangan. Ia segera mengecup kening Jen dan menggumamkan kata 'Love you' di antara sapuan kecil di seluruh wajah Jen.
Napas Jen tertahan, selain mencengkeram lengan Darren, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ini baru pertama ia lakukan.
"Emm ...," Jen meringis.
"Maaf, Sayang ...," Darren mencoba menenangkan Jen dengan menciuminya. Darren tak mau buru-buru, sehingga ia menunggu Jen kembali rileks, baru ia bergerak kembali. Sebenarnya ia juga tak kalah gemetar dan gugup tetapi keinginan untuk mengklaim Jen sebagai miliknya mengalahkan kegugupannya.
Darren tak mau kehilangan momen, ia benar-benar menikmati Jen. Tak sejengkalpun terlupa untuk ia tuai. Buah kesabarannya. This is love!
"Jen ...."
"Eeemm ...," Entah itu jawaban atas panggilan Darren atau bukan, sejak tadi bibir wanita itu hanya mendesahkan kata 'em' dan 'ah' sesekali mendesis.
"Love you, Jen ... love you!" lirih Darren sedikit mendesah. Itu membuat Jen merinding dan dingin. Ingin membalas tetapi Jen tak sempat berucap, Darren kembali merajai bibirnya. Bersama dan tenggelam semakin dalam.
Nikmat!
***
Jen tak bisa memejamkan matanya. Ia bahkan belum bergerak sejak Darren selesai dengannya. Kepalanya terasa penuh. Ia hanya belum pasti, ia hanya belum merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan pada Diego dulu.
Darren baru kembali dari dapur, mengambil minum untuknya sendiri dan untuk Jen. Mengenakan celana pendek yang biasa ia pakai untuk tidur, Darren melangkah dengan wajah berseri-seri.
"Belum tidur?" Desy mengejutkan Darren yang masih lekat dengan bayangan percintaannya barusan. Mata wanita itu mengecil penuh selidik. "Bahagia sekali?" sambungnya sambil menyikapkan diri menghadap sang putra.
"Jen haus, Ma ... jadi aku ambilkan minum!" Ia menggoyang satu botol Waferware milik Dinka yang tampak mengembun di depan Desy.
Sebagai respons atas jawaban Darren, Desy memiringkan kepalanya. Meski memang gerah, ini hampir jam satu pagi, hawa mulai mendingin. Desy mengening, tetapi kemudian ia memgembangkan senyum. Ia kemudian menatap putranya penuh makna.
__ADS_1
Darren memang biasa berkeliaran di rumah dengan bertelanjang dada seperti ini, tetapi kali ini terasa agak berbeda. Ia salah tingkah dipandangi mamanya. "Apaan, sih, Ma?"
"Ngga papa, Sayang." Desy menepuk pipi anak lelakinya sambil menyengirkan senyumnya. Bentar lagi nimang cucu, pikir Desy. "Sana! Jen-nya keburu kering!" Desy sedikit mendorong Darren, tetapi ekspresinyaitu sungguh membuat Darren malu.
Darren mengangguk malu, ia menggaruk rambutnya yang sangat kacau akibat ulah Jen. Desy menggeleng sebelum melanjutkan niatnya ke kamar mandi.
"Lama banget, sih ... aku kebelet, Ren," sergah Jen yang masih berbalut selimut. Masih sama persis saat terakhir Darren tinggalkan.
Darren menutup pintu, "Mama masih di kamar mandi, tunggu bentar, ya!" Ia mendekati Jen, membukakan tutup botol waferware itu.
"Ngga ada sedotan?" tanya Jen.
"Buat apa?"
"Buat minum lah, Ren ...."
"Kamu gak bisa minum langsung dari botolnya?" Darren mengambil tisu berniat membersihkan bibir botol. "Ini bersih kok, bukan bekas siapa-siapa, aku juga minumnya dari botol lain."
Jen mendesah. "Bukan itu, tapi ...," Jen menggigit bibirnya.
Gimana ngomongnya yak?
"Tapi apa?" Darren sangat penasaran, hingga ia menggeser tubuhnya lebih dekat pada Jen.
"Anu ... itu," Jen mengalihkan matanya, wajahnya terasa panas. Ia menguatkan hatinya. "Kalau aku bangun, aku pipiis di sini." Kelopak mata Jen menutup sempurna. Mengertilah, Ren ... ini rasanya udah keluar, batinnya.
Darren bingung, "Udah gak tahan banget, ya ... ke kamar mandi bawah ya, aku antar!"
"Tapi ini udah keluar, Ren ... aku sudah ...," ujar Jen ketar ketir.
Melihat Jen ketakutan hingga wajahnya memerah, Darren akhirnya mendekat. "Aku gendong, ya ... bentar aku ambil handuk dulu. Udah gak papa, besok pagi-pagi aku bawa ke londrian." Ia menyematkan kecupan di rambut istrinya untuk menenangkan, sebelum ia mengambil handuk.
"Tapi, Ren ...,"
"Udah, gak papa, nanti biar aku ganti!" Ia meyakinkan Jen, lalu dengan gerakan pelan tubuh polos itu bangun. Sedikit meringis, ia membenarkan posisi selimutnya.
"Sakit?" Darren sekilas melihat ekspresi kengerian di wajah Jen, tetapi gadis itu menggeleng. Mata Darren berkeliaran mencari kaos Jen yang entah dimana ia lemparkan tadi. "Katanya pertama kali itu sakit, Jen, kok kamu enggak?" Ia mendapati kaos putih miliknya telah kusut di tempat yang di tinggalkan Jen.
"Gak percaya kalau ini pertama kalinya?" sergah Jen sambil menahan malu, ia mendelikkan wajahnya ke arah Darren yang terbengong.
Salah bicara keknya.
"Bukan, maksudnya setelahnya. Maksudku saat ini, itu gak perih. Pintu surganya, maksudku." Ia mulai membantu Jen mengenakan bajunya.
Jen berdecak dibalik gerakannya. Ia risih membicarakan hal ini dengan pria. Apaan, sih, 'kan malu!
"Hem ...?" Darren menaikkan alisnya, tetapi wajahnya sangat datar. Ia masih penasaran dengan bekas yang ia tinggalkan.
"Apaan, sih?" Jen bersungut.
"Sakit?"
"Dikit ...," jawab Jen sambil beringsut bangun, meraih handuk, dan membalutkan di pinggangnya. Mengabaikan rasa yang kurang nyaman, ia berjalan cepat ke kamar mandi.
"Ngga jadi digendongnya?"
"Enggak ...!" ketus Jen sedikit mengentak pintu hingga terbuka.
"Dasar ngga peka!" gerutu Jen.
Darren bengong sesaat, lalu ia tersenyum dan menggeleng. Biarpun galak, tetap saja rasanya sangat manis. Ia bergegas bangkit untuk mengemas spreinya, tetapi ia kembali tercengang melihat sesuatu ditempat yang ditinggalkan Jen. Bibirnya tak tahan untuk tetap diam, ia tertawa lebar. Entah ... rasanya senang saja. Lucu rasanya ketika ia salah memaknai apa yang dimaksud Jen dengan kebelet.
__ADS_1
"Pantes dia kesel ...," ujarnya sambil terus memandang bekas semu kemerahan di atas sprei.
***
Dering alarm bahkan tak mampu mengoyak kedamaian pelukan sepasang pengantin baru itu, hingga ketukan di depan pintu yang sudah berulang kali terdengar berhasil membangunkan kesadaran Jen.
Matanya mengerjap berat, dan perlahan terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat pelukan suaminya.
"Nak, subuh udah lewat!" seru Desy di balik pintu.
"Iya, Ma ...," balas Jen sambil mengangkat kepalanya. Ia yakin suaranya bisa di dengar oleh mama mertuanya.
Kepalanya kembali merebah, ekor matanya tersangkut paras tak terlalu tampan di sisinya. Jauh sekali dari Diego, sejauh jarak Bumi ke Mars.
Memang, perasaannya ke Diego sudah tak bersisa sejak kejadian itu, tetapi ia juga tidak bisa begitu saja beralih ke Darren. Khawatir jika semua itu hanya sebuah pelariannya saja.
Jen menghela napas, ia memutuskan untuk membiarkan perasaannya mengalir seirama air, membiarkan hanyut bersama waktu. Tak akan berkeras hati lagi akan sesuatu yang mengecewakan hatinya nanti. Satu tahun baginya tak akan lama, tetapi tentu kebersamaan akan mengubah segalanya. Ya, satu tahun itu waktu yang tampak lama ketika di pikirkan, tetapi bila di jalani, itu hanya seperti satu kedipan mata.
"Ren ...," putusnya menyudahi diskusi dalam hatinya. Tangannya ia beranikan untuk menyentuh bahu pria itu. "... bangun!"
Melihat Darren yang membuka mata itu seperti melihat kuncup bunga langka yang mekar. Mata Jen takjub menyaksikan ini, tetapi ia langsung mengerucut. Pasti dibuat sedramatis mungkin, agar terlihat menawan, pikirnya.
Penglihatan Darren telah terhiasi sempurna oleh seraut wajah cantik yang masih lelah. Gadis cantik yang telah menawan hatinya, memakai lengannya untuk bersandar. Seperti mimpi, Darren memajukan wajahnya untuk menyematkan sebuah kecupan di pelipis. Ini pasti mimpi, batin Darren berlama-lama di sisi kepala Jen. Jika dalam kenyataan, kini badannya pasti telah sakit semua dan telinganya sudah penuh dengan cacian dari mulut wanita ini.
"Dipanggil mama, Ren ...."
Apa aku sudah mati? batin Darren ketika suara Jen terdengar lembut membelai telinganya. "Emm ... sebentar, Yang."
Jen meremang, suara Darren begitu merdu dan seksi menembus kulitnya. Jen menggigit bibir, rasa itu muncul lagi.
Astaga, menjijikkan sekali jika aku teringat terus adegan itu!
"Bangun ...!" Jen menyodok tulang iga Darren sedikit keras.
"Ah ... sakit!" keluh Darren dengan mata melebar. Sedetik kemudian, ia tersenyum lebar. Ia tidak bermimpi.
"Pagi, Jen!"
Kalau panggil Sayang pasti ngamuk.
"Hmm ...! Pinjamkan aku bajunya Dinka ya, Ren!" Mengabaikan ucapan selamat pagi Darren. "Sama dalamaannya!"
"Emang ukurannya sama?"
"Coba aja dulu ...," rengek Jen. Kesal rasanya ketika ia hanya bergantung pada orang lain, terlebih Dinka yang nyata-nyata tak suka padanya.
"Okey, tunggu bentar ya," Darren kembali mengangsurkan wajahnya ke pipi Jen, tetapi Jen menjauh.
"Mau apa? Tampol?" Mata itu mendelik galak. Tangan Jen sudah setengah jalan terangkat di udara.
"Yah, tadi aja mau, sekarang kok enggak!" Darren membatin dan terkekeh. Ia segera beranjak dan melakukan apa yang Jen pinta.
.
.
.
.
.
__ADS_1