
Rate, Like, dan Komentar selalu ditunggu ;)
.
.
"Kami dekat, selalu bersama, liburan bersama tapi 'kan sama-sama yang lain juga. Ada crew, ada sahabatnya dia juga, so apa yang mesti diistimewakan? Soal foto-foto aku dan dia yang hanya berdua itu murni sebagai alat agar dia semakin terkenal. Taulah apa maksud gue 'kan? Sorry, bukannya nyombong, tapi yah ... emang kenyataannya 'kan kalau gue lebih terkenal daripada dia?"
"Kasarnya, dia ndompleng popularitas lo, gitu? Pansos, gitu?"
"Gue ngga bilang gitu, ya ... lo yang nyimpulin."
Jen meremas ponselnya saat Diego kembali berekspresi meremehkan. Tanpa terasa pipinya sudah basah. Mengigit bibir menahan isak. Sungguh apa yang ia saksikan adalah sebuah kenyataan yang begitu menampar. Setelah Diego bermanis-manis kata pagi tadi, ia tak menyangka ini yang akan terjadi.
Suara dari video itu kembali menggugah Jen dari tangisnya. Ia kembali mengarahkan ponsel ke depan wajahnya.
"Tapi bagaimana dengan foto ini?" si penanya yang tidak memperlihatkan wajahnya itu mengulurkan ponsel ke depan kamera.
Diego tampak waspada, namun kemudian ia merampas ponsel yang sudah terlanjur di pertontonkan di depan kamera.
"Weiisshh ... ini privacy, Bro!" Diego kembali terkekeh memandangi ponsel itu.
"No-no-no, itu bukti kalau lo sama Jen ada apa-apa, 'kan?"
Diego mengusap keningnya, seolah ragu menjawab. "You know lah, partner with benefit! Tanpa adanya perasaan, hanya bersenang-senang."
__ADS_1
BRAK!
Jen melempar ponselnya dengan geram hingga ke ujung ruangan. Lalu menggebrak mejanya dan meremas meja dengan kemarahan yang memuncak. Itu sangat menjijikkan. Partner with benefit? Tanpa perasaan? Hanya bersenang-senang?
Vaya yang berada di depan pintu, bergegas masuk. Khawatir sesuatu terjadi pada Jen.
"Jen? Apa kau baik?" Vaya menatap Jen dan seluruh ruangan, hingga pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di lantai dengan layar yang sudah tak berbentuk. Remuk.
Vaya berlari menghampiri Jen, melangkahi ponsel yang tak lagi jelas suara dan gambarnya. Ia meraih sahabatnya yang tengah menumpu wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Jen ...," lirih Vaya di atas kepala Jen. Ia mengelus sahabatnya dengan sayang, bahkan ia turut merasakan kesedihan dan luka yang dialami Jen hingga ia ikut terhanyut dalam isak tangis Jen. Vaya tahu betul bagaimana Diego memperlakukan Jen. Tak ada wanita yang tak kepayang ketika disayang dan diagungkan. Vaya mengakui Diego sudah melewati batas ketika menunjukkan adegan berciuman mereka.
"Itu Diego yang mengambil fotonya, Vay. Aku sudah melarangnya." Jen didekapan Vaya berusaha mengatakan hal yang sebenarnya. Ia menggeleng, jiwa pemberontak dalam diri Jen tergugah bangun. Dia selalu ditinggikan, hingga ketika ada orang yang merendahkannya, rasa tidak terima mengoyak batinnya. Nama Jen selalu baik dan bersih, dan sekalipun itu Diego, ia tak berhak merendahkan Jen dan nama baiknya seenaknya seperti itu.
"Iya, aku tahu itu. Aku bahkan tahu saat itu suasananya seperti apa." Vaya mendorong lembut bahu Jen, lalu ia seka air mata yang menggenang di pipi Jen.
Vaya yang melihat itu mengerti benar, bahwa Jen mengorbankan segalanya untuk membantu Diego mendapatkan banyak perhatian. Jen memperkenalkan Diego pada rekannya dan brand-brand yang pernah bekerja sama dengannya. Pernah juga Jen menyodorkan Diego pada kakaknya, hingga akhirnya brand internasional melirik Diego. Mendampingi Diego ketika masa sulit dalam hidupnya. Sebuah hal yang wajar jika Jen marah sekarang. Diego terlalu kejam membalas kebaikan Jen. Kasarnya, sebagian besar kecemerlangan Diego adalah berkat campur tangan Jen
"Aku mendukung penuh apa yang akan kamu lakukan padanya, Jen. Aku juga sakit hati, tauk! Tapi berhati-hatilah, Diego bisa saja berbahaya." Bibir Vaya mengerut meyakinkan. Ia mengguncang bahu Jen, menekan penuh dukungan.
"Aku pergi dulu, ya ...," ucap Jen sambil mengangguk. Amarahnya benar-benar sudah tidak bisa dibendung lagi. Jen bukan hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan reaksi mamanya. Ia tak bisa membayangkan betapa mamanya terpukul melihat berita ini.
"Hati-hati, ya. Maaf aku ngga bisa nemenin." Vaya merangkul bahu Jen. Melangkah bersama melewati pintu.
***
__ADS_1
Darren menggeber gas motornya kembali menyusuri jalanan kota yang cukup padat kendati waktu telah beranjak siang. Darren menyalip zig-zag agar segera sampai ditempat Jen. Biasanya ia cukup mahir melakukannya. Namun ia kali ini dalam keadaan penuh tekanan hingga ia tidak begitu fokus, akhirnya ketika sampai di perempatan yang ramai, Darren terlambat mengerem dan menabrak motor didepannya hingga oleng.
"Ah sial," umpat Darren. Ia segera turun dan menolong pengemudi itu.
"Maafkan saya, Pak. Saya buru-buru." Darren membantu bapak itu berdiri dan menegakkan motornya. Satu kantung penuh berisi kotak makanan tergeletak di tengah jalan, isinya meluber kemana-mana. Oh My ... Dareen menggigit bibir. Ini pasti pesanan orang, desah Darren dalam hati.
"Jalan hati-hati donk. Saya rugi kalau begini, 'kan?" bapak itu bersungut. Ia meratap kesal ke arah kotak-kotak berisi makanan yang ruah menumpah di jalan.
"Saya akan ganti rugi, Pak. Berapa semuanya?" Darren memunguti barang yang masih bisa di selamatkan. Tetapi ia sungguh tak punya waktu sekarang. Jadi ia segera mengambil dompet yang terselip di saku celananya. Ia ingat memiliki uang tunai.
"Tiga ratus ribu," ketus pria itu menatap Darren. Wajah penuh ketidaksukaan pada Darren nampak sekali di wajah pria itu.
Ada lima ratus ribu di dalam dompetnya, ia menyerahkan semuanya ke bapak itu. "Ini, Pak ... sisanya buat berobat bapak. Kalau motornya rusak, datang saja ke VIP Gym, Pak ... saya kerja di sana!" ujar Darren tanpa jeda. Ia mengangsurkan uang ke dalam genggaman pria itu. Lalu beranjak pergi menaiki motornya kembali sebelum pria itu menyusuli dengan keberatan yang lain.
Darren mengawasi sekeliling ketika ia telah berhenti di area parkir studio Jen. Ada beberapa orang yang tampaknya mengawasi pintu utama yang terbuat dari kaca bening itu. Lalu ada mobil dengan kaca film gelap yang parkir tak jauh dari tempatnya berhenti, padahal jelas sekali di sana terdapat rambu dilarang berhenti. Darren melepas helmnya dan berjalan masuk dengan santai ke dalam studio. Darren cukup tahu siapa Diego, nama yang sedang bersinar satu tahun ini. Dari kebiasaannya, pemburu berita pasti sedang bersiap kemari untuk menyerbu Jen. Jadi ketika di sini masih sepi, Darren curiga mereka hanya sedang bersembunyi dan menunggu.
"Ngapain kamu kesini?" Jen berhenti di ujung ruangan. Vaya yang dibelakang Jen ikut berhenti dan tersenyum kikuk.
.
.
.
.
__ADS_1
.