
Plak!
Darren begitu murka melihat kelakuan kasar adiknya kepada istrinya yang sedang sakit. Dan jangan lupakan, Myung juga ikut menjadi tersangka atas virus yang menjangkiti istrinya tersebut. Ya, andai saja Myung tidak dititipkan di rumahnya, andai Jen lebih sedikit berinteraksi dengan kucing itu, pasti berita ini akan menjadi berita yang menggembirakan. Ah, sayangnya ....
"Kakak ...!" seru Dinka dengan raut tak percaya. Pipinya terasa perih, tetapi hatinya jauh lebih perih. Ini kali pertama kakaknya tersebut menyakitinya.
"Kenapa? Kau tidak terima? Seharusnya kakak sudah melakukan ini sejak dulu, Din, agar kamu tidak keterlaluan pada Jen. Apa kamu tidak melihat kalau Jen sedang sakit, ha?"
"Ya, aku melihatnya, dia hanya demam dan lihatlah, dia bertingkah seolah dia paling menderita di dunia ini ... apa sakitnya tidak bisa di sembuhkan? Sampai sebegitunya kalian merawat dia? Apa karena dia anak orang kaya, mentang-mentang punya rumah sakit sendiri, jadi sakit sedikit saja harus di infus dan di beri bantuan oksigen?" Dinka dengan berani dan berapi-api meluapkan rasa yang sudah mengepul di hatinya. Rasa kehilangan dan sakit hati bercampur jadi satu. Dia benar-benar larut dalam amarah yang luar biasa besar.
"Hah ... Ranu saja yang benar-benar anak orang kaya tidak bertingkah belagu seperti itu ...," imbuhnya sambil membuang napas dan wajahnya ke samping. Menghindari tatapan marah dari kakaknya.
__ADS_1
"Berhenti membanding-bandingkan Jen dengan Ranu ... mereka tetap saudara, dan hanya kamu yang menganggap mereka orang lain ... kamu yang selama ini terlalu kekanakan menilai hubungan orang lain ... dan jangan lupa, Ranu sudah menerima hubungan kami. Tidak sepertimu, yang masih menutup mata dan terus membenci Jen ... asal kamu tau, Din ... kamu telah membenci orang yang salah!"
Napas Darren naik turun dengan cepat, pria itu seperti sudah muntab dengan semua beban yang selama ini dia pendam, berharap dengan kesabaran Jen dan hal-hal kecil yang dilakukan istrinya itu bisa membuat hubungan mereka lebih baik. Tidak ... Jen memelihara kucing itu sepenuh hati, meski Dinka tak pernah berterima kasih, meski Dinka selalu kasar padanya, tapi Jen tidak pernah berniat membalas perlakuan adiknya itu sekalipun. Dan, inikah balasannya?
Dinka menarik wajahnya dengan cepat untuk menghadap Darren lagi, "oh, ya? jadi aku harus menyayangi orang yang telah membunuh kucingku? Begitu?"
Darren mengerutkan wajahnya, sungguh ia merasa sangat kesal dan semakin marah, "kau bersikap begitu kasar hanya karena kucing sialan itu? Apa kau tau, kucing sialanmu itu yang membuat nyawa anakku dalam bahaya? Apa itu sebanding? Apa kau tau, aku senang sekali akhirnya dia tau diri untuk pergi jadi aku tidak perlu repot-repot memusnahkan kucing itu dengan tanganku sendiri!"
"Ya, kau tidak salah dengar. Saat ini, kucingmu itu telah menularkan virus ke dalam tubuh Jen yang saat ini sedang mengandung ... jika tidak ada keberuntungan menaungi, dia akan mati dalam hitungan minggu ke depan." Darren menajam dengan tangan mengepal ketika mengatakan itu. Jika dia saja sudah merasakan perih saat baru membayangkan, bagaimana dengan Jen yang tubuhnya telah disemayami? Bagaimana jika semua perkiraan dokter Andina benar adanya?
Dinka tercekat beberapa saat, kepalanya menggeleng perlahan, rasanya saat ini pikirannya sangat penuh dan ada sedikit rasa tidak percaya. Namun, dalam hati kecilnya, ia tahu, kakaknya tidak pernah main-main dengan hal yang serius seperti ini. Dan, jika dipikir lagi, sekalipun tidak suka, kakaknya itu tidak pernah berusaha mengusir atau kasar pada Myung.
__ADS_1
Ini pasti serius.
Dinka mundur dengan perasaan kacau. Rasa bersalah kian menyelimuti ketika lalu lalang perawat masuk ke kamar inap kakak iparnya. Ya, Tuhan ... benarkah dia sudah sangat keterlaluan?
Darren menjatuhkan kedua tangannya yang menekuk ke dinding. Ia merasa bersalah telah berbuat kasar seperti ini pada adiknya itu. Seharusnya, dia bisa menahan diri agar tidak melampaui batas. Namun, sungguh ... saat ini dia terlalu kacau dan dipenuhi emosi. Sungguh dia merasa menjadi orang yang tidak berguna. Terlebih sebagai seorang suami, dia tidak bisa melindungi dan memberi rasa aman pada istrinya tersebut. Dan terlalu kecewa dengan sikap adiknya yang berlebihan dan teramat kasar.
.
.
.
__ADS_1
.