Suami Settingan

Suami Settingan
Cu 2 —Menghargai Wanita


__ADS_3

Untuk mengalihkan pikiran Jen tentang kehamilan yang membuat istrinya galau, Darren mengajak Jen membicarakan hasil kerja kerasnya seharian. Tentang bagaimana memasarkan sebuah produk yang tepat sasaran, tentang bagaimana promosi yang efisien, dan tentang mengolah keuntungan. Ya, awalnya menarik, tetapi mungkin karena tubuh istrinya ini sangat lelah, jadi akhirnya Jen menyerah dan segera beranjak ke kamar.


Darren memastikan Jen telah tidur dengan lelap saat ia mengendap keluar dari kamar. Sudah pukul sepuluh malam, pasti kedua sahabatnya sudah uring-uringan tidak jelas karena terlalu lama menunggu. Tanpa menyalakan lampu di ruang TV, Darren berlalu menuju ruang tamu.


Begitu Darren membuka pintu depan, tampaklah salah satu sahabatnya yang merengut kesal sedang berjalan melewati halaman depan yang basah.


"Lama bat, sih, lu keluarnya!" Bisma menurunkan hodie jaketnya dari atas kepala.


"Sori ... Jen gak tidur-tidur soalnya ...," jawab Darren sambil menggaruk rambutnya. "masuk gih ...!"


"Gak usah, disini aja, ganggu lo nanti!" Bisma duduk di kursi teras depan menunggu Jabir yang memasukkan sebuah mobil yang baru saja Darren beli untuk Jen.


"Ganggu apaan?" Darren duduk di seberang Bisma yang terpisah oleh meja kayu kecil.


Bisma menoleh dengan cibiran memenuhi wajahnya. "Ganggu lo main domino ...," sembur Bisma. "... sok polos, lo!"


Darren hanya menyengirkan senyumnya, "gitu aja kok sewot, Bis ... mau jujur takut lo ngiri bin ngenes."


"Sialan lo, emang ya!" Bisma kembali menghadap ke depan. Mencoba mengusir bayangan akan Sanaa di pikirannya.


"Lo belinya kes?" Bisma menerawang, melihat mobil yang masih berbau pabrik dan terbungkus plastik itu berhenti tepat di ujung teras. Andai dia juga bisa membelikan Sanaa mobil seperti ini, pasti Sanaa tidak akan meninggalkan dia dan anaknya.


"Iya ... awalnya mau buat beli rumah, tapi Jen ngga mau, pilih tinggal di rumah utinya dulu!"


"Lo enak ya ... punya istri yang ngerti suaminya. Gak kaya gue yang dituntut ini itu sama bini gue." Bisma mengucapkan sebaris kalimat itu dengan wajah sendu mendayu. Pria berbadan kekar tapi hatinya mellow kaya sandal swallow. Lemah karena wanita yang sebenarnya mengajak suaminya mau berusaha, tetapi Bisma salah memaknai mau istrinya tersebut.


"Lo juga enak, cuma gak nyadar. Sanaa maunya lo kerja yang bener, buat nafkahin anak bini lo ... Sanaa tuh cinta sama lo, sampe ninggalin hidup dia yang lama. Cuma demi hidup sama lo!" tukas Darren dengan nada meninggi.


"Lo laki baperan ...!" sambungnya masih dengan tempo suara yang sama.

__ADS_1


Bisma menoleh, saat itu Darren masih melayangkan tatapan sinis pada Bisma. "Lo gak tau rasanya jadi gue."


"Ogah ... gue gak mau jadi lo meski cuma sedetik. Otak lo banyakan minesnya!" potong Darren cepat. Ia sampai memajukan tubuhnya saat mengatakan itu.


Bisma hendak menjawab, tetapi Jabir yang baru saja turun dari mobil langsung menukas.


"Kalian berdua mau Jen bangun dan gagalin surprise yang udah kita buat susah payah ini? Udah capek gue seharian kaya orang gak waras mantengin hape buat nunggu kode dari lo!" Ia mengulurkan kunci mobil ke depan Darren lalu menjatuhkannya saat telapak tangan Darren menadah di bawahnya.


"Ya, maaf ... soalnya tadi Jen sempet badmood sedikit, jadi agak molor dari perkiraan gue. Yakin gue, dia gak bakalan bangun. Udah capek seharian jualan baju di pasar." Darren mengemas kunci mobil barunya di meja. "Mau minum apa?"


Bisma berdecak, "kaya punya wine aja pake tawar-tawarin minum. Kopi hitam ajalah, biar gak ngantuk!"


"Haih ... dasar gak modal! Wine bisa nyambung ke kopi gimana ceritanya?" Darren bangkit, membiarkan Jabir mengambil alih posisinya. Ia mengusap turun wajah Bisma dengan sedikit penekanan. "Lo dibuatin apa, Bir?"


"Apa aja asal gak sama Jesica ...," jawab Jabir sambil merenggangkan tubuhnya yang terasa di bekuk-bekuk. Terhitung satu minggu dari sekarang, ia akan menikahi pujaan hatinya. Jadi persiapan berkas dan segala ubo rampe pernikahan mulai di siapkan.


"Oke, tunggu, ya ...." Darren beranjak, menyisakan dua orang pria yang suka labil ini. Mereka termangu dalam diam. Jabir yang sebentar lagi menikah mendadak bimbang. Dua sahabatnya memiliki riwayat pernikahan yang ajaib, cinta jadi buyar, dan musuhan jadi bucin. Sementara dia selama menjalin hubungan sudah seperti judul lagu. Putus nyambung.


Bisma menghela napas, "enggak! Siapa yang ragu nikahin gadis kaya Sanaa? Cantik, baik, dan mau hidup sama gue yang pas-pasan."


"Tapi kenapa lo lepasin dia kalo menurut lo Sanaa tuh baik?"


"Bawel dan sering marah-marah sejak ada Wawa ... ini salah, itu salah! Pas kerja di suruh cepet balik, sampe rumah gak ada makanan, masih ngurusin anak, trus istri ngomel kalau gue tidur!"


Jabir menoleh dengan menaikkan alisnya. "Ngeri ya, Bis ... apa gue juga bakal ngalamin apa yang lo alami, ya? Secara Sanaa aja yang alus begitu jadinya mengerikan!"


Apalagi calon bini gue, yang nyolotnya setengah mati!


"Tapi lihat Jen ... yang galaknya minta ampun, jadi nurut sama gue!" sahut Darren yang muncul dari pintu dengan nampan kecil berisi tiga gelas dengan uap mengepul di atasnya.

__ADS_1


Bisma dan Jabir menghela napas ketika mendengar sahutan Darren. Benar ... kenapa bisa gitu yak? Darren meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja, bahkan belum sampai menyentuh permukaan meja, Bisma dan Jabir langsung mengambil masing-masing satu di tangan mereka. Meniupnya sekilas lalu mulai menyeruput kopi tersebut. Tak mereka hiraukan rasa panas yang melekat di atas lidah, yang mereka tahu, Darren sebentar lagi akan berkhotbah.


"... istri itu tinggal bagaimana suami mengarahkan. Kalian tuh bertanggung jawab penuh pada istri-istri lo! Lo imam ... tau artinya imam? Pemimpin ... mimpin anak istri dan keluarga lo ke jalan yang baik. Lah kalo lo berdua aja gak baik, anak istri lo gimana? Nikah tuh siap lahir batin, Bir ... kalau ragu mending mundur, sebelum terlambat dan nyakitin banyak orang. Jangan kek Bisma, siapnya karena Sanaa udah di unboxing dan takut hamil duluan."


Bisma tersedak sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan Darren. Namun, ia sempat mendelik ke arah sahabatnya tersebut saking geramnya. Ya, tentu saja dia sangat geram, itu sebuah rahasia yang hanya dia dan Sanaa yang tau.


"Bener, Bis?" Jabir melongo tak percaya. "Lo main rahasia sama gue, ya ... kata lo kita sohib? Kenapa lo gak kasih tau gue soal begitu?" Jabir tak terima, beruntung gelas berisi kopi miliknya telah diletakkan. Kalau belum mungkin akan tumpah karena Jabir bergerak bangun dengan cepat untuk memprotes sahabatnya tersebut.


Bisma melotot kesal ke arah Jabir. "Lo gila, ya ... perkara begitu mana boleh diceritain ke temen? Sohib sekalipun ... lo pikir urat malu gue dah putus?"


"Tapi itu gak adil, Boskyu, lo cerita sama Darren tapi enggak ke gue. Dahal gue cerita kok semuanya tentang gue dan kisah gue ke elo, gak ada yang gak gue bagi sama lo berdua!" balas Jabir masih tak terima jika Bisma hanya memberitahu Darren tanpa memberitahunya.


"Udah ... diem!" Darren melerai pertengkaran sahabatnya itu. "... mana ada aib dibagi-bagi, Bir ... lo mau nanggung dosa zina si Bisma kalau dia cerita sama lo?" Jabir membeliak dan menggelengkan kepala, lalu tangannya mengibas dengan cepat diikuti kata 'ogah' yang terdengar ketus.


"Nah, makanya ... lu gak usah protes!" Darren beralih ke Bisma. "Dan lu, gak usah salah-salahin Sanaa lagi. Laki kudu gentle ngakuin kalau salah dan perbaiki diri. Jangan jadi laki dengan bibir lemes, sibuk jelekin istri yang semua orang tau kalau dia istri yang baik. Lo ngomongin keburukan istri lo itu sama aja dengan ngebuka aib lo, bahwa lo sebagai laki gak becus didik istri lo!"


Bisma dan Jabir kembali menyesap kopi yang rasanya sudah tidak enak lagi. Mereka tiba-tiba malu pada kekurangan diri, dan malah menuntut wanita yang seharusnya menerima kebaikan dan kasih sayang pria. Mungkin karena Darren adalah pria yang menghargai wanita, jadi Jen dengan mudah takhluk padanya.


"Gue pamit pulang! Makasih kopinya!" Dua orang itu segera beranjak pergi. Terlalu malu menghadapi Darren yang melibas habis harga diri mereka.


.


.


.


.


.

__ADS_1


#maaftypoya🙏


__ADS_2