Suami Settingan

Suami Settingan
Partner In ...?


__ADS_3

Senyum penuh kebanggaan terlukis di sudut bibir Darren saat ia melaporkan apa yang barusan ia dapat. Nella bahkan lebih dari rela untuk menghabisi Tanna mengingat kejamnya wanita itu padanya, tetapi tentu saja lebih baik wanita itu merasakan kejamnya hukuman. Sekali lagi, mati hanya akan membuat semuanya lebih mudah bagi wanita keji itu.


Lebih dari 'mau' untuk mengatakan 'iya' pada permintaan Darren. Nella terlalu mendendam pada wanita berhati ibliis itu.


Harris, Excel, dan Darren hari ini juga melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk membawa Tanna ke meja persidangan. Tentu, Nella dijadikan kejutan untuk wanita itu, sebab setahu Tanna, Nella masih tunduk di kakinya. Seharusnya, Tanna sadar, lebih dari satu minggu mendekam tanpa ada yang mengulurkan bantuan, artinya hingga hatinya lelah berharap sekalipun, tak akan ada lagi yang akan peduli.


"Darren pulang dulu, Pa, Kak ...," pamitnya ketika mereka sampai di pelataran kantor polisi.


"Hati-hati di jalan, Ren ... Papa titip Jen ya ...." Harris menepuk pundak Darren serta menyerahkan tangannya untuk di salami dengan takzim oleh mantunya tersebut.


"Iya, Pa ...." Darren mengangguk, lalu beralih pada Excel yang merangkul pundaknya. "Sampaikan salamku untuk Cio, ya ...." Ia membalas rangkulan kakak iparnya dengan senyum lebar penuh kelegaan.


"Tentu, akan kusampaikan nanti. Kau juga harus secepatnya memiliki seseorang seperti Cio," bisiknya ditelinga Darren. Tak lupa sebuah tepukan mendarat dengan selamat di sisi lain bahu Darren.


"Aku akan berusaha ...," balasnya sambil menyipit. Keduanya tergelak usai sudut mata mereka saling beradu beberapa saat. Harris merasa di abaikan, langsung memisah kedua pria muda itu, menempatkan diri diantara keduanya.


"Papa harus sering berada diantara kalian ... agar semangat papa tetap muda." Harris menatap kedua anaknya bergantian.


Excel dan Darren hanya bisa menggeleng melihat Opa yang masih tampan itu, meski sudah berumur, tetap saja dia sangat tidak suka diabaikan.


Terus berjalan hingga sampai kendaraan mereka, pria-pria ganteng itu berpisah arah.


**


Darren tak langsung pulang, ia masih harus ke galeri sport karena permintaan Tamy.


"Akhirnya, Abang tampan datang juga ...," Tamy mengangkat wajahnya dari layar komputer yang tengah menyala ketika melihat bayangan Darren selintas muncul diambang mata. Memang sejak tadi matanya berulang kali mengamati pintu yang bisa ditarik dan di dorong itu, dengan perasaan gelisah. Harap dan cemas jadi satu, karena pria itu tak menjanjikan kedatangan pun tak juga menolak. Senyumnya melebar sempurna ketika ia meraih satu kotak berisi jengkol balado, lalu dengan langkah riang ia menyambut kedatangan Darren.


Tamy menyerahkan kotak itu ke depan Darren yang mengening dan bingung. Tak langsung menerima, Darren hanya memandangi kotak bening itu lalu beralih ke Tamy.


"Sogokan untuk apa, nih?"


Tamy menurunkan tangannya, lalu mendecak. "Pikiranmu negatif terus ya, sama aku?"


"Ya, terus apa? Biasanya kamu selalu ada maunya kalau kasih beginian." Darren akhirnya mengambil alih kotak tersebut dari tangan Tamy. "Betewe, makasih yak, mama pasti seneng banget ini nanti."


Tamy mengadukan kedua ujung telunjuknya, takut dan malu untuk mengatakannya. Sementara Darren, dia malah membawa kotak itu ke depan meja kasir dan membukanya.


"Ini pasti buatan ibumu, 'kan?" tebak Darren menyomot satu keping jengkol yang berlumuran bumbu merah, terlihat nikmat dan menggoda. Tamy yang menahan lapar terpaksa hanya menelan liur dan kata yang setengah jalan meluncur dari bibirnya. Berganti kata lain yang menjadi jawaban atas pertanyaan penuh ragu seorang Darren.

__ADS_1


"Biar wajah dan tingkah bar-bar, aku wanita tulen yang pintar masak. Sinkronlah, antara kelakuan dan wujud nyata sebuah kebar-baran seorang Tamy," ujarnya sambil menaikkan ujung baju di lehernya. Ya, itu benar! Hanya Darren senang sekali merendahkan gadis yang menjadi partnernya tak kurang setahun ini.


"Makasih, yak!" Darren menaikkan kedua alisnya, "ajarin mama donk, biar dia gak minta mulu dari ibu kamu."


"Bisa diatur ... asal kamu mau nurutin apa mauku!" Tamy seakan menemukan celah, ia yakin dengan begini, Darren bisa luluh akan keteguhan hatinya.


Darren berhenti mengunyah keping kedua jengkol balado itu. "Jangan sok misterius kamu, Tam ... emang ada apa? Aku gak mau ya, kalau itu sesuatu yang buruk." Darren menegakkan tubuhnya agar ia bisa mendengar ucapan Tamy.


Tamy menggerakkan ujung jemarinya. "Sini ...."


Darren mendekat, Tamy memang pemalu jika ada hal yang bersifat personal. Biasanya urusan perasaan.


Namun, dering ponsel di sakunya mengurung gerakan Darren. Ia bergegas menundukkan pandangannya, cepat-cepat ia mengambil ponsel di saku celananya.


Jen!


Darren menunjukkan ponsel ke depan wajah Tamy. "Bini gue nelpon!"


Tawa Darren yang sangat terlihat bahagia, membuat Tamy memajukan bibirnya. Ia mendecak dalam hati.


***


"Istirahat sana kalau kamu lelah, kuah sotonya udah jadi kok, tinggal nunggu dagingnya empuk." Desy tersenyum membelai lengan Jen. Gadis itu menatap kosong tembok di depannya, tangannya mengaduk kuah soto yang menggelegak tanda sudah matang. Terlihat kelelahan padahal pikiran Jen sedang mengembara ke rumahnya. Tentu saja untuk memarahi Naja, karena sampai sekarang pakaian yang dijanjikan Naja belum juga sampai.


"Aku ngga lelah kok, Ma ...." Jen tersenyum, pandangannya jatuh ke arah semangka dan melon yang baru saja dikupas Desy, "... buahnya di bawa ke depan, Ma? Ini kuahnya apa sudah matang?"


"Iya, matikan saja apinya ...," ujar Desy membenarkan perkataan Jen, lalu setelah Jen mematikan kompornya, Desy berkata. "... Mama udah sisakan buat kamu, nih ... ini Mama bawa ke depan. Jangan sungkan kalau ingin beristirahat, oke! Mama kedepan dulu, ya ...," Desy berlalu setelah menyodorkan satu kotak berisi potongan buah tersebut.


"Dagingnya gak usah ditunggu, Jen ... tinggal aja!" ujar Desy ketika tubuhnya hampir lenyap ditelan pintu.


Jen menurut, ia meletakkan buahnya di dalam kulkas setelah menutupnya dengan plastik wrap. Ia masih kenyang dan tidak terbiasa makan di jam-jam menjelang makan siang. Lagipula, selera makannya lenyap dan bersisa perasaan mendongkol pada Naja. Seakan tersentak oleh perasaan kesal, Jen segera meninggalkan dapur setelah mengaduk sebentar daging yang akan menjadi pelengkap soto daging buatan mama mertuanya.


***


Jen menggerutu ketika Naja tak menjawab teleponnya. Meski ia tahu, Naja pasti sedang tidur atau sibuk mengurusi anaknya, tetapi tetap saja ia merasa kesal setengah mati. Ia tak terbiasa memakai pakaian seperti ini, terlebih saat siang hari. Satu hal yang Jen belum pernah rasakan ketika di dalam rumah adalah gerah. Ya, daster dengan lengan pendek ini memang sedikit membuatnya nyaman tapi tetap saja ngga modis.


Membuka jendela lebar-lebar, menyalakan kipas angin dengan kecepatan tinggi, lalu merebahkan tubuhnya di sofa malas Darren, Jen sibuk mengotak atik ponselnya. Bibirnya masih mengucapkan gerutuan. Darren pun ikut ia beri keluhan, sebab sampai siang begini ia tak kunjung pulang.


Kenapa ngga telpon dia saja? Sekalian bisa dimarahin.

__ADS_1


Secepat kilat, Jen menekan nama kontak 'D' di buku kontaknya. Ia tak sempat memberi nama dengan benar untuk kontak Darren mengingat gentingnya waktu itu.


Nada terhubung mendengung khas di dalam ponsel Jen. Jen melamun lama, pikirnya, penting ngga menghubungi Darren karena apa yang terjadi padanya bukan salah Darren. Suaminya itu hanya pelampiasan saja. Secercah rasa iba mulai timbul, mata yang teduh itu mengobrak-abrik jiwanya, hatinya, dan perasaan tinggi yang senantiasa ia jaga pijarnya.


Gelagapan, seperti ikan kehabisan air, Jen menyalakan lagi ponselnya yang tengah menggelap. Harapan terakhirnya, Darren tak menjawab panggilannya tersebut.


Sayangnya ....


"Ya, Jen ...."


Mampus! Mesti ngomong apa?


"Em ...," Jen menggigit ujung kukunya, lalu membangun lagi keangkuhan yang sempat luruh. "... sebentar versi laki, bisa ngalahin cewek ya." Jen meninggikan suaranya.


"Aku ada keperluan sedikit sama Papa dan kak Excel tadi, Jen ... ini mau pulang! Maaf, ya ... kamu di kamar aja kalau ngga nyaman sama keluargaku."


Dasar, suami takut istri!


Suara yang ikut masuk ke ruang dengar Jen, membuat mata wanita itu membola. Tubuhnya menegak dengan rajin. Tiba-tiba dadanya bergemuruh, meletup-letup, dan panas. Wait, itu 'kan ... suara ...?


"Terserah!" ketus Jen sambil memutuskan sambungan ponselnya dengan wajah bengis.


"Tega banget, sih, biarin aku sendirian, kesusahan, sementara dia malah asyik-asyikan sama cewek lain. Kurang ajar!" umpat Jen pada ponselnya.


Ia mengangkat tubuhnya hingga berdiri, berjalan hilir mudik demi mengusir kesal dalam dirinya. Terkadang, ia membenarkan kemarahan yang mencuat muncul.


"Darren, nyebelin!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2