
Sore menjelang petang saat semburat senja menjelaga dunia dengan temaram teduhnya. Yah, beginilah kota ini dengan segala kesibukannya. Orang pulang kerja, anak-anak dan ibunya sedang mengobrol di tempat permainan anak yang ada di depan mini market dan swalayan. Lalu anak muda dan remaja bermain skate board dan BMX sedang menjajal kemampuan skillnya di trotoar jalan yang lebih tinggi dari posisi jalan raya. Lalu lalang kendaraan roda dua dan empat saling berlomba untuk sampai pada kepentingan masing-masing. Adalah sebuah hal lumrah dijumpai.
Sepanjang jalan dari halte yang jaraknya sekitar satu kilo meter untuk sampai ke rumah mereka, dua anak manusia itu saling menautkan tangan. Ya, walaupun Darren ingin merangkul bahu Jen, tapi lalu lalang orang membuatnya urung melakukan. Jen dengan kaos berwarna lilac dengan gambar gadis manis sedang menumpu dagu tercetak dengan jelas di bagian depan. Ujung kaos itu masuk kedalam jeans berwarna biru pudar dan sepatu putih tanpa tali membalut kaki mungilnya. Langkahnya ringan, senyumnya mengembang saat menelunjuk bangunan atau sebuah area di mana ia dulu memiliki kenangan. Entah dengan Kakek, Uti, atau Papa Harris. Pun saat menunjuk sebuah bangunan besar dengan plakat dokter spesialis anak tertempel di bagian depan pintu pagar bangunan, Jen masih saja menggerakkan bibirnya. Dalam rekaman optik Darren, gerakan indah dari tubuh wanita itu selalu dalam mode slow motion yang menawan. Senyumnya ringan tanpa beban. Ia selalu suka dan menyukai. Cinta bisa begitu ya? Aneh!
"... pas lagi panas waktu itu! Mama ke luar negeri sama Papa berdua, kami di titipin ke Uti 'kan? Lalu aku di bawa ke sini karena panas mencapai 40°, eh, pas mau diperiksa dokter aku nangis, sampe uti bingung. Aku ingat kata dokter waktu itu, orang tuanya mana? Mungkin lagi kangen sama mama papanya ... nah, aku tuh saat itu langsung peluk dokternya. Ya Tuhan, dokter ini pasri peri, sampai dia tau kalau aku kangen mama papa. Kan ditinggal lama untuk pertama kalinya. Campur kesel gak di ajak, sih!"
Jen akhirnya menoleh dengan tawa malunya. Selain itu, sudut matanya seperti menangkap kalau Darren sedang intens menatapnya.
"Awas, Ren!" Jen membulatkan mata sambil menunjuk ke depan Darren.
Darren yang belum bisa move on dari wajah cantik istrinya, menoleh dengan cepat ke arah yang di tunjuk Jen. Ia mendapati seorang anak remaja menaiki BMX dengan berbagai style menujunya. Darren sigap mengelak dari anak yang sepertinya juga tidak bisa mengendalikan BMX-nya. Darren melepas tangannya dan mendorong Jen agar tidak sampai melukai wanita itu, sementara Darren yang sedikit terlambat menjauh, lengannya tersenggol stang sepeda itu. Darren oleng dan jatuh. Lalu si anak tadi juga jatuh karena tidak bisa menyeimbangkan sepedanya usai melanggar Darren.
"Darren!" pekik Jen. Ia yang menabrak tembok pagar langsung berlari ke arah Darren dengan kepanikan yang sangat banyak saat melihat Darren meringis kesakitan. "Kamu tak apa-apa? Mana yang sakit?"
Ia meraba dada dan pipi Darren yang masih meringis kesakitan. Dia tidak bisa bohong atau menyembunyikan perasaan ini, memang sakit sekali. Jen mengulik kepalanya hingga patah ke kanan dan kiri. Iya memang sakit tapi di pantatt dan lengan bukan di situ! Hadeh!
"Darren, jawab ...," pinta Jen dengan kecemasan makin bertumpuk-tumpuk di wajahnya. Keterdiaman Darren membuatnya berpikir lagi, apa dia salah saat menanyai Darren? Ia mengerjap sejenak, lalu menepuk pipi suaminya, memaku agar tegak menatapnya.
Saat seperti ini juga harus melakukan itu? Sebegitunyakah absurdnya atau sebegitunyakah inginnya?
"Sss ... Sayang ... ka-kamu baik-baik aja, 'kan?" gagap Jen saat mengatakan itu. Bukan hanya suaranya, tetapi juga tangan dan tubuhnya juga gagap dan mengembun hangat. Bisa dibilang ini perhatian pertamanya pada suaminya ini. Dulu, jika Darren terluka pasti dia akan tertawa. Ia ingat saat kelas lima SD, dan Darren baru masuk sekolah setelah khitan, Jen ingat betul kalau Darren hanya bisa duduk di dalam kelas tanpa bisa menjahilinya. Dan waktu itu Jen bilang dengan tawa yang mengejek.
'Rasain kamu! Anak nakal itu dihukum dengan dipotong burungnya!'
Ya, hidup dengan kakak lelaki sedingin freezer frozen food dan saudara kembar yang agak kurang tahu malu, membuat Jen tahu semua tentang pria di usianya yang masih muda. Kebetulan Jeje dikhitan lebih awal dari Darren yaitu kelas satu SD. Keterbatasan biaya waktu itu akhirnya membuat dua kakak lelakinya khitan di waktu yang sama pada sebuah acara khitan masal. Jen yang dekat dengan Uti dan Mamanya yang sibuk berkerja, membuat Jen mau tak mau ikut mengurus dua kakaknya tersebut. Jen ditugaskan sebagai asisten kakak-kakaknya, apa saja yang dimau orang dua itu, Jen-lah yang mengambilkan.
"Apa wajahku jadi semakin tampan setelah jatuh?" Ucapan Darren membuat fokus mata Jen tersedot kembali ke masa sekarang. Ia menggerakkan matanya yang masih menyisakan ingatan masa lalu ke arah suaminya yang sedang menumpu siku pada trotoar jalan yang kasar.
"Ah, ya—maksudku ... ya, aku minta maaf—"
Eh! Untuk apa, Jen? Karena 'burung' yang kau ejek dulu sekarang jadi 'burung' yang menyenangkanmu? Atau ngga nyangka jadinya sebagus itu? Eh! Auto membungkam mulut!
"Kenapa minta maaf?" Pertanyaan Darren yang semakin membuat Jen tergiring ke sudut. Ia hanya bisa menelan semua kenyataan akan suaminya itu bersamaan air salivanya yang turun ke tenggorokan.
"Pipimu merah ...!" Darren mengulurkan ibu jarinya menyentuh pipi Jen.
Astaga! Kenapa jadi begini, sih?
"Egh ... kalau kamu ngga papa, sebaiknya kita segera pulang." Jen gugup setengah mati. "Ha-hampir magrib!" gagapnya dengan suara naik dan menegaskan.
__ADS_1
Ia menarik tangan Darren dari pipinya lalu membawa pria itu berdiri. Tangannya sibuk membantu Darren membersihkan bajunya yang kotor.
"Eh, mana anak-anak tadi?" tanya Jen linglung saat mencari keberadaan segerombol anak yang bermain BMX tadi. Sekitar mereka sepi. Hanya satu dua orang berjalan dan menatap mereka dengan heran.
"Kamu beneran ngelamun tadi?" Darren menatap Jen serius. "Ngelamunin apa?"
Jen hanya menggeleng dan menunduk. "Bisa jalan, 'kan?" elaknya. Itu sangat memalukan untuk di bicarakan. "Beli siomay di warung depan gang, yuk? Aku laper."
Jen menarik tangan suaminya dengan kaitan hingga tubuh mereka saling berdekatan. Ia mengamit sangat erat dan kuat sekali.
Sepertinya apa yang Jen lamunkan sangat memalukan! Ngelaknya gini banget!
"Bu, siomay dua bungkus, sambel dipisah, ya!" pinta Jen saat kakinya mencapai ambang pintu warung kecil yang cukup bersih itu. Anggukan dan jawaban 'ya' diiringi senyum merekah membuat Jen kembali bingung. Seharusnya ada percakapan lain yang bisa membuatnya selamat dari interogasi Darren yang masih terus mengintainya.
Jen menunduk, memainkan ujung kakinya, mencari topik bahasan untuk mengusir kecanggungan ini.
"Bu ... anak ibu ada berapa?" Pertanyaan Jen membuat si ibu penjual mengernyit. Pun dengan seorang lelaki setengah baya yang sedang meminum kopi hitam di cangkir hadiah kopi merek 'POT'.
"Dua, Neng ... ada apa memangnya?" Menanggalkan kecurigaan si ibu mengulas senyum.
"Laki apa perempuan?"
"Emm ... ibu suka senam?"
"Jen ...," sela Darren menarik tangan Jen. Ia sungkan dengan pertanyaan Jen yang mengusik urusan orang lain. Dari gestur wajahnya, Darren memohon pemakluman dari si ibu penjual siomay.
Jen menyadari kalau Darren tidak suka dengan sikapnya, jadi ia segera memberitahu apa tujuannya menanyakan itu semua.
"Saya ada baju yang diobral, Bu ... tapi saya ngga bawa contohnya sekarang. Besok saya bawa beberapa dan ibu boleh pilih untuk ibu dan anak ibu. Gratis Bu ...," ucapnya menjelaskan. Takut kalau dikira hanya modus promosi atau marketing semata.
Jen mendekatkan kepalanya, si Ibu penjual secara refleks juga mendekatkan telinganya seolah paham kalau Jen akan membisikkan sesuatu.
"Dijual gak laku, Bu ... jadi saya kasih ke siapa aja yang aku temui."
"Oh, begitu ... terimakasih, ya, Neng!" Senyum si Ibu penuh kelegaan.
Jen mengibaskan tangannya, lalu berkata 'sama-sama' dengan senyum renyah menyertai.
Membuat orang lain tersenyum itu sangat mudah bagi seorang Jen. Istrinya Darren! Itu yang membuatnya lupa kalau Jen akan memiliki wajah lain saat menatapnya dulu. Hanya karena salah paham mengartikan, mereka berdua jadi musuhan bertahun-tahun.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Hai, Miss semuanya temennya Miss😄😄
Miss mau kasih pengumuman yang akan bikin kalian sedih dan seneng😄
Sedih karena sampai tanggal 18 nanti Miss yang baik hati, tantik, dan agak songong ini mao izin gak up.🙈
-Kenapa, Miss?
Bikos, mulai tanggal 18 Oktober, Miss ikutan kreji up yang diselenggarakan NT. Jadi Miss Hel mau nabung bab dulu, biar gak keteteran dan ancur😂
-Hubungannya sama gak up apa, Mis?
Jadi, otak Mis yang kadang suka Mis ini kalau di suruh nulis 3k kata sehari bisa cepet aus😄 kesian dong belum tua dan masih kaya oma Puspa Dewi, otaknya gak bener?😄
Biar gak bagus kaya othor femes ... Miss usahain buat tulisan yang sedikit ada nilai plesnya. Kalau isi bisa dinilai sendiri ya, seberapa gak bagusnya😂 Sumvah, revisi itu mengerikan! Jadi wan de, kalian nemu tulisan saya di iklan fb, gak malu2in amat. Gitu, ya!
Mis menghargai kalian yang baca kaya jempol gendutku ini dengan bahasa dan tulisan yang 'nyrempet' kaidah kepenulisan. Menurutku, sebagus apapun alur sebuah cerita, gak akan bisa dinikmati kalau sakit mata. Ini karena songongnya saya, ya ... 😂
Jadi, suatu saat saya ini dari gold lompat ke diamond(Aamiin🤲🏻) seenggaknya, gak memalukan banget. Kadang tuh ya, mikir jauh, meski pf baca gratis kenapa gak di kasih tulisan yang baik? Sad 'kan aku?
Untuk mengingatkan juga, Miss lagi on going di Aplikasi mimpi(inggriskan) dan udah setengah jalan. Tau 'kan gak enak nya kalau udah 'setengah' eh, tiba-tiba buyar gara2 gabisa bagi waktu?
Jadi untuk 5k kata dengan genre yang berbeda agak membuat saya ngelag, ngebug, dan ngebass suaranya😂 tapi tenang, Mis masih cantik kok, gada kantung mata🤭kantung doraemon ada😂
Intinya usaha itu perlu, nulis dan baca itu panah dengan dua mata. Gak ada namanya penulis kalau gak ada pembaca. Pun sebaliknya, ya😍
Duh, ngarep banget kl gak up gini nanti di kangenin kaya thormes ono😂 di sebut2 di grup fb😂😂😂
Mulai tanggal 18-31 Oktober, bakal puas dengan 3 bab sehari ... So donmisit!😍😍😍
__ADS_1
Maafkeun semuanya, ya ... kl kangen baca lagi Mama Kira🤭 atau Wa Miss juga boleh🤭