Suami Settingan

Suami Settingan
Buruan Kawin!


__ADS_3

Berhari-hari selanjutnya, Jen lebih berhati-hati dalam segala hal. Ia tahu kalau Darren begitu khawatir padanya, jadi dia tidak lagi bertindak semaunya, meski dalam hati bertanya-tanya apakah virus akan menyerang manusia dua kali.


Mereka masih dilanda ketegangan pasal tes Amniocentensis yang harus dijalani Jen tak kurang dua pekan dari sekarang. Jen cemas bukan kepalang, dia tahu itu yang terbaik, tapi dia juga tidak siap menerima kenyataan jika bayinya nanti akan dinyatakan tertular atau lebih buruk digugurkan. Atau mungkin tes itu juga akan gagal dan berkali-kali membuat bayinya akan terganggu. Jen lebih baik tidak tahu apapun selama bayinya tidak apa-apa dan berkembang dengan normal—seperti pemeriksaan terakhir. Dia siap menerima bagaimanapun kondisi bayinya nanti.


Mengurai kecemasannya, setelah hari-hari ini dilalui dengan kembali bekerja, Jen memutuskan untuk menemui bayi gembul milik kakaknya. Naja masih tinggal di rumah Dirgantara, karena sang mama menolak ditinggal cucu tersayangnya. Oma muda itu acapkali bolos ke resto demi momong cucu, bahkan opa juga mulai nakal menyuruh-nyuruh Excel menggantikannya. Dan pasti Excel langsung menolak, kursi itu milik Ranu, Agiel, dan Aziel. Dia secara sadar memahami, hanya keturunan langsung dari Harris Dirgantara yang wajib duduk di sana, meski ketiga orang itu langsung melipir jika Excel membahas hal tersebut.


Bagi mereka, semua sama saja. Bisnis itu memusingkan!


Jen melangkah riang meninggalkan Darren yang masih memarkirkan mobil, suaminya itu masih melakukan panggilan dengan beberapa rekannya secara bergantian. Sejak drama pertengkaran terakhir, mereka kembali akur dan baik. Kembali romantis.


"Oke, baik ... nanti kita bi—astaga! Sayang, jalannya kenapa lompat-lompat begitu, sih?" Darren berteriak ketika melihat Jen melangkah dengan hentakan tertentu menapaki tangga undakan menuju teras rumah. Segera saja kaki Darren menghamburkan larinya, mencekal tubuh Jen dan menggendongnya sampai ke teras.


Jen tertawa riang, entah kenapa dia tiba-tiba ingat langkah kecil Agiel dulu. "aku hanya menirukan langkah Agiel saat melewati tangga itu." Ia melingkarkan tangan ke leher Darren dan merebahkan kepala di bahu suaminya. Menggesekkannya perlahan.


"Senang kau, ya ... bikin aku jantungan!" sungut Darren yang langsung menurunkan istrinya di depan pintu besar gelap.

__ADS_1


"Kenapa diturunkan? Ngga takut aku lompat-lompat lagi?" godanya masih dengan cengiran yang menampakkan giginya, sembari mendorong pintu itu terbuka.


Darren berdecak, "kamu ngga bakal macem-macem kalau udah di dalam sana."


Jen semula memunggungi Darren, tetapi ia segera berbalik dan menaikturunkan alisnya. "Bilang saja kalau kamu malu ketauan Jeje!" Jen terkekeh melihat Darren yang nyaris keluar bola matanya.


"Dih, manten baru ... ketawa mulu!"


Jen dan Darren menoleh ke arah suara. Jeje terlihat baru saja menuruni tangga dan bersandar malas di pegangan tangga.


Jen meringis dan mengusap bekas jitakan Jeje yang ia sangka tangan saudaranya yang terjulur tadi digunakan untuk melakukan tos dengan Darren. "Sakit ... sialan!" Jen melotot kesal kepada Jeje yang mengerutkan bibirnya.


"Rasain!" Dan, ya ... mereka memang dewasa tapi kelakuan masih seperti anak-anak. Tangan dua orang itu sudah terangkat untuk saling memukul karena mulut saja rasanya tidak cukup untuk berdebat. Tetapi, Darren segera menangkap pergelangan tangan Jen, menariknya mundur.


Jeje terkekeh, "ingat, lagi bunting tuh ... sering-sering bilang amit-amit jabang baby, Ren ... takut kalau sifat galaknya nurun ke anak kamu!" Jeje memainkan wajahnya penuh provokasi pada Jen yang menggeram kesal pada Darren dan Jeje.

__ADS_1


"Awas saja kalau cewek lo bunting, gue sumpahin anak-anak lo mirip lo semua! Puyeng, puyeng dah, sono!" umpat Jen sembari menarik tangannya dari cekalan Darren. "Lepasin, Ren," gerutu Jen pelan.


"Jangan begitu, pelan-pelan aja bisa, 'kan? Iya-iya, ini aku lepasin ...."


Jeje seketika terdiam, perdebatan Darren dan Jen seperti sedang di mute dalam ruang dengar Jeje. Sekilas bayangan lalu, menyergapnya tiba-tiba, hadir dan samar. Entahlah, itu mungkin hanya fantasinya saja atau mimpi. Erika jauh disana, dan dia sedang ingin melupakan gadis itu. Tekatnya semakin menggulung dan besar.


"Gak usah syok gitu ... lagian cewek mana yang mau dibuntingin lo! Mikir ...!" cibir Jen sembari mengetuk sisi kepalanya. Dia tertawa bahagia sebab akhirnya berhasil menohok dengan telak saudaranya itu, hingga Jeje terlihat pucat tanpa mampu membalasnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2