Suami Settingan

Suami Settingan
Bertemu Papa


__ADS_3

"Papa ...." Jen membeliakkan matanya yang sempat menyipit, "sedang apa papa di sini?" Ia berlari menghampiri papa kandungnya. Tiba-tiba secercah cahaya muncul begitu melihat papanya di sini. Ya, meski dia tak pernah dekat dengan ayah biologisnya, tapi melihat air mata pria tua ini saat menikahkannya dulu, rasanya Jen mengerti kalau papanya benar-benar sudah berubah.


"Papa apa kabar?" Jen sungguh merasa bersalah melihat Papanya hari ini. Tampak pucat dan rambutnya sudah putih sebagian. Ah, salahnya juga dia ikut-ikutan Jeje yang masih memendam kebencian pada papa kandung mereka. Entahlah, mungkin sebenarnya selama ini dia tidak peduli pada siapapun.


"Papa baik, Nak ... kamu sendiri?" Rian memerhatikan anak gadisnya yang terlihat pucat dan kuyu. Matanya sipit dan merah. "Abis nangis?"


Jen tertawa garing, menyembunyikan fakta, "Jen hanya sedang pusing, Pa ... sakit kepala," kilahnya sambil meringis. Berharap kalau papanya tidak melihat matanya yang sedang berbohong.


"Papa sakit?" Jen buru-buru mengelak dengan menerka sekenanya. "Kesini naik apa?" Kepalanya celingukan dengan canggung. Kentara sekali dia sedang mengalihkan perhatian. Tetapi Rian hanya tersenyum menanggapi. Mereka tidak terlalu dekat untuk mengusik keresahan ataupun masalah putrinya tersebut. Dan, ya ... kalau boleh jujur, reaksi Jen ini sungguh diluar dugaannya. Pikirnya Jen akan pergi begitu saja ketika mendengar sapaannya.


"Tekanan darah papa naik dan papa terkena diabetes, Jen ...," jawabnya dengan senyum masih menghiasi. "Kamu kesini sama siapa? Apa perlu papa antarkan pulang? Papa naik taksi tadi."


"Kalau gitu pulang sama Jen aja, Pa. Jen bawa mobil sendiri." Mengamit lengan papanya, Jen sedikit menarik lengan pria itu agar mau menuruti maunya.


"Papa mikirin apa sampai tekanan darahnya naik? Papa kesepian? Nikah lagi aja, Pa ...," godanya dengan kerlingan nakal di mata yang selalu membuat Rian dipenuhi sesal.


"Papa udah tua, Nak ... wajar kalau darah tinggi. Ngga ada hubungannya sama kesepian atau ngga nikah." Rian mengusap kepala anaknya perlahan. Hatinya menghangat saat ini. Setelah Excel, kini Jen mau membukakan pintu maaf untuknya. Meski seumur hidup mereka tetap membenci, Rian tetap lapang dada menerimanya. Itu pantas dan sepadan.


Sungguh ia rela menukar seluruh dunia dengan saat ini. Saat anak gadisnya bergelayut manja di lengannya. Dimana seharusnya ini terjadi waktu dulu, saat anak-anak membutuhkan sosok ayah sebagai pelindungnya. Cinta pertamanya harus digantikan pria lain yang lebih sempurna. Dan dia sungguh menyesal.

__ADS_1


***


Jen menatap prihatin pada sebuah ruko yang dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat usaha yang sengaja di sisakan oleh papanya. Ya, setelah kepergian Melisa dan ibunya, Rian menjual semua aset miliknya, milik ayahnya, menyisakan ruko ini yang menjadi cikal bakal berdirinya usaha ini. Apotek yang menjadi saksi kehidupan keluarga Atmaja mulai dari nol sampai menggurita dan bercabang-cabang.


"Papa di sini sendirian?" Jen memandang sekeliling dengan perasaan iba. Tempat ini bukan tidak layak huni, tapi membayangkan pria tua sakit-sakitan dan hidup sendiri pasti akan sangat menyiksa. "Kenapa papa izinin Alicia kuliah di Surabaya kalau papa saja ngga ada yang nemenin?"


Rian tersenyum, ia mendorong pelan pundak Jen dan mendudukkannya di sofa panjang berwarna krem di dekat jendela kaca yang menampilkan rintik hujan saat senja menjelang. Kota yang ramai dengan geliat kegiatan manusia di senja hari. Rumah-rumah makan sesak, jalanan membludag, swalayan tak kalah penuh dengan hiruk pikuknya, dan rintik hujan pun tak mau kalah ikut meramaikan.


"Sia hanya ingin mandiri, Nak ... jadi papa tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia bersikukuh ingin kuliah di sana. Lagi pula, kak Excel juga memberikan dukungan, jadi papa tidak bisa menolak, meski papa sendiri khawatir akan keselamatannya."


Jen menangkap nada getir dalam suara papanya. "Sia sering pulang, 'kan, Pa?" Jen mengalihkan perhatian dari suasana luar yang sedikit mengobati gundah hatinya. Sore ini sangat indah dilihat dari ruangan ini.


Rian menundukkan wajahnya, ia merasa tidak enak hati jika membicarakan Sia yang sudah dua bulan tidak bisa dihubungi, "Dia pasti sibuk, Nak, kuliah sedang sibuk-sibuknya."


Mereka tidak pernah saling sapa, bagaimana bisa saling berkomunikasi?


"Terakhir kali dia bilang kalau ponselnya rusak, Nak ... dan sekali waktu dia memakai ponsel temannya untuk menghubungi Papa."


Jen menaikkan alisnya, sedikit tidak percaya dengan penuturan sang Papa. Setahu Jen, Excel mendukung penuh seluruh kebutuhan Sia selama kuliah, jadi kalau ponsel biasa saja pasti Sia mampu membelinya. Namun, Jen tidak berkata apa-apa selain mengusap lengan papanya.

__ADS_1


"Nanti biar Kak Excel yang urus, Pa ... papa buat pikiran papa tenang. Papa boleh minta bantuan kak Excel atau aku kalau butuh sesuatu. Jangan sungkan, Pa ...," hibur Jen dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Sekarang Papa makan dulu, minum obat, dan istirahat." Jen bangkit dan menuju meja makan kecil tak jauh dari posisinya sekarang. Ia melihat ada cah sayuran dan steam daging ikan. "Siapa yang masak ini, Pa?"


Rian menoleh, "Itu Gita yang masak ...." Gita adalah apoteker yang sudah bekerja di sini sejak lima tahun terakhir.


"Oh ...." Jen mengangguk den membulatkan bibirnya, ia mengambil piring dan menyendokkan nasi ke piring tersebut lengkap dengan lauk pauknya. "Eh ... kenapa papa ke rumah sakit? Kan papa jualan obat-obatan?"


"Papa hanya penjual obat, Jen ... bukan dokter. Papa ke rumah sakit cari dokter dan obatnya ambil di apotek papa sendiri, seperti biasa." Rian tersenyum melihat kepolosan Jen yang tak berubah sejak kecil. Dia membalut luka—Rian tau kalau Jen habis menangis, dengan senyum ceria.


Dan gestur Jen yang menggaruk kepalanya dan nyengir seperti itu, adalah satu hal yang sangat ingin ia lihat di sisa usianya.


.


.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2