Surga Hitam

Surga Hitam
Kamu sudah dewasa!


__ADS_3

Detik demi detik telah berlalu, kini jarum jam telah berhenti di angka satu dini hari. Semua insan sedang asyik berkelana di alam mimpi, suasana alam yang menenangkan seakan menjadi selimut jiwa-jiwa yang sedang beristirahat.


Semua itu berbanding terbalik dengan pria yang sedang mendekap tubuh sang istri. Pria itu masih terjaga sambil membelai rambut hitam milik wanita yang menemaninya selama ini. Pria itu tak lain adalah Aji. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan ibunya, ia terus membayangkan bagaimana nanti keadaan Intan ketika mendengar rencana ummi Sarah.


"Sayang, semoga kamu tidak mendengar apapun yang bisa menyakiti hatimu!" ucap Aji dengan suara yang lirih. Pandangannya tak lepas dari wajah manis yang terlihat sangat tenang itu.


Aji terus memikirkan jalan keluar atas permasalahan ini. Ia ingin masalah ini cepat selesai tanpa diketahui sang istri, ia tidak sanggup jika melihat Intan sedih karena permintaan ummi Sarah. Intan baru saja merasakan ketenangan karena kehadiran Ikhsan, apa ia harus kembali setres gara-gara masalah ini?


Tidak! itulah jawabannya. Perlahan Aji melepaskan tangannya dari kepala Intan. Ia menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuh sang istri, lalu Aji segera turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Satu persatu anak tangga mulai di lewati oleh Aji. Ia mengayun langkah menuju belakang rumah atau lebih tepatnya menuju pendopo—tempat kyai Yusuf menyendiri.


Dari jauh Aji melihat sang Ayah sedang duduk bersila dengan mata yang terpejam. Ia melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuyarkan konsentrasi kyai Yusuf. Namun, tepat di saat Aji duduk di hadapan kyai Yusuf, beliau membuka kelopak matanya.


"Assalamualaikum, Bah ...." ucap Aji seraya menundukkan kepalanya.


"Waalaikumsalam ... ada apa, Ji?" jawab kyai Yusuf tanpa basa-basi lagi.


Aji masih terdiam, ia sedang merangkai kata untuk menceritakan gemuruh yang ada di dalam hati. Ia menarik napasnya kuat dengan mata yang terpejam.


"apa kamu mau membahas tentang poligami?" tanya kyai Yusuf ketika melihat putranya hanya diam.


Aji membuka kelopak matanya, ia menatap kyai Yusuf dengan intens, "apa Abah sudah di kasih tau ummi?" tanya Aji, ia sangat penasaran kenapa abahnya bisa tau.


"ya, anggap saja begitu," ucap kyai Yusuf seraya mengubah posisi duduknya.


"Jadi menurut Abah, apa yang harus Aji lakukan?" Aji menatap wajah kyai Yusuf dengan intens.


Keheningan terasa di dalam pendopo tersebut, kyai Yusuf masih diam dengan kepala yang tertunduk. Beliau nampaknya masih memikirkan sesuatu yang harus di sampaikan kepada Aji.

__ADS_1


"Poligami itu berat, Ji. Kamu harus bisa bersikap adil. Bukan perkara materi tapi cinta dan nafkah batin pun harus benar-benar adil. Jangan sampai membedakan di antara keduanya," ucap abah Yusuf dengan tenangnya.


"ini bukan masalah poligaminya, Bah! Aji pusing memikirkan ummi! apa yang harus Aji lakukan? bagaimana caranya agar Aji tidak menyakiti hati ummi dan Intan? karena Aji sendiri tidak mau poligami seperti yang disuruh ummi." Helaian napas berat mengiringi unek-unek yang dikeluarkan oleh Aji.


Abah Yusuf hanya tersenyum ketika melihat raut wajah Aji. Beliau mengamati wajah sang putra beberapa menit sebelum menjawab pertanyaan Aji.


"Ji, semakin umur mu bertambah, maka kamu akan menemukan masalah. Anggap saja saat ini kamu sedang menghadapi ujian dari Allah tentang sebuah keadilan,"


"Kamu harus bisa mencari jalan keluar, bagaimana caranya membuat dua wanita yang berharga dalam hidupmu sama-sama bahagia. Tenangkan dirimu dalam situasi saat ini, kamu perlu menyendiri untuk mencari jawaban yang tepat!"


"Seorang ibu dan istri kedudukannya sama. Kamu harus bisa mengambil keputusan dengan tidak mengorbankan perasaan keduanya, ini memang sulit, Ji!"


"Kali ini abah tidak bisa membantumu untuk mengambil keputusan. Kamu sudah dewasa, abah percaya jika kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik kali ini!" ucap abah Yusuf dengan raut wajah yang serius.


Helaian napas berat kembali berhembus dari indera penciuman Aji. Kali ini ia kecewa karena abah Yusuf tidak bisa membantunya keluar dari kebimbangan hati yang sedang menerpa.


Aji menundukkan kepalanya setelah abah Yusuf pergi. Kini ia menyendiri di pendopo untuk mencari solusi atas masalah yang di hadapinya. Aji memejamkan matanya untuk merasakan keheningan malam.


Kelopak mata Aji terbuka lebar setelah tiga puluh menit mencoba berdiam diri sambil merasakan keheningan malam. Ia tak dapat menemukan apapun selain wajah sang istri, akhirnya Aji memilih pergi dari pendopo tersebut dan berjalan menuju kamarnya.


"Hanya Intan yang berhak menemaniku berlayar! aku tidak mau ada wanita lain yang menemaniku berlayar!" gerutu Aji ketika menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.


Perlahan Aji membuka pintu kamarnya, ia tidak mau jika Intan sampai bangun dari tidur nyenyaknya. Aji segera naik ke atas ranjang dan memposisikan diri di samping Intan.


Aji meraih tubuh intan kedalam dekapannya, ia menghujani puncak rambut itu dengan kecupan penuh perasaan. Jari jemari Aji menyusuri wajah tanpa polesan make up itu hingga membuat tidur nyenyak Intan terusik.


"ada apa, Mas?" tanya Intan seraya menatap Aji dengan mata yang sayu karena menahan kantuk.

__ADS_1


Aji mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar Intan tidak curiga jika ia sedang menyembunyikan masalah. Kemudian Aji melirik jam yang ada di kamarnya menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.


"Biasanya jam segini adalah waktu yang cocok untuk berkembang biak loh!" ucap Aji yang berhasil membuat Intan membuka matanya.


"benarkah??" tanya Intan seraya menjauhkan tubuhnya dari Aji.


"iya, Sayang! waktu menjelang subuh adalah waktu yang baik untuk kemurnian bibit unggul. Lihatlah, bahkan gagang cangkulnya sudah berdiri tegak!" ucap Aji seraya menatap bagian bawah tubuhnya sebagai kode untuk Intan.


"ih bisa aja!" ucap Intan seraya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aji.


Berbagai rayuan telah di ucapkan oleh Aji hingga membuat Intan memilih pasrah dan menikmati apa yang sedang di lakukan sang suami. Serangan sebelum fajar tak bisa dihindari lagi. Mereka terbuai dalam indahnya sebuah rasa yang tercipta. Suara-suara manja lolos begitu saja dari bibir Intan ketika merasakan betapa mahirnya sang suami dalam berpacu.


"Aku nanti mau lagi, Mas!" ucap Intan setelah permainan selesai dan Aji merebahkan diri di sampingnya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


Tenang ya gengs!! tidak akan ada poligami di sini, kita berkonflik dlu ya sebelum merasakan indah pada waktunya😍


jangan lupa kasih othor hadiah biar gk oleng😂


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2