
"Anak-anak di rumah dengan siapa?" tanya Sholeh ketika menyambut kedatangan Nida di lobby rumah sakit.
"Saya titipkan di rumah ibu, Yah!" ucap Nida dengan suara yang rendah.
Ya, Nida sampai di Surabaya tepat di saat adzan dhuhur berkumandang. Ia dijemput Aslam di rumahnya setelah tadi pagi Sholeh memintanya untuk datang menemui Firda di Surabaya. Setelah berpikir panjang dan mengetahui penyakit yang di derita sang istri, akhirnya Sholeh memutuskan untuk menghubungi Nida dan menceritakan keadaan yang menimpa istri pertamanya itu.
Sholeh benar-benar terpukul setelah dokter spesialis penyakit dalam visit tadi pagi. Dokter tersebut menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium saat Firda sampai di rumah sakit ini. Firda menderita tukak lambung kronis, tak hanya itu ... Firda pun mengalami sirosis (kerusakan parah pada hati atau biasa disebut kerusakan tahap tiga). Oleh sebab itu hatinya mantap untuk mempertemukan Firda dengan Nida, ia berpikir mungkin dengan ini Firda lebih semangat untuk sembuh.
"Ya Allah ... kenapa mbak Firda sakitnya separah itu!" gumam Nida setelah mendengar penjelasan Sholeh saat mereka berjalan menuju ruangan Firda.
Setelah melewati koridor rumah sakit akhirnya mereka berdua sampai di lantai lima, di mana ruang rawat inap Firda berada. Aslam sendiri tidak mau ikut masuk, ia lebih memilih untuk menunggu di kantin atau di mushola rumah sakit. Ia hanya ingin memberi ruang untuk Sholeh dan kedua istrinya.
"Assalamualaikum ...." ucap Nida setelah Sholeh membuka pintu ruangan.
Firda mengalihkan pandangannya ke arah pintu ketika mendengar suara madunya. Ia tertegun ketika melihat wajah cantik yang sedang berdiri di sisi suaminya, "waalaikumsalam ...." ucap Firda dengan suara yang lirih.
Bola mata Firda mengikuti Nida yang sedang berjalan ke tempatnya berada saat ini. Jantungnya semakin berdetak kencang ketika Nida duduk di kursi yang ada di sisi kanan ranjangnya.
"Apa kabar?" tanya Firda setelah Nida duduk dan menatapnya.
"Kabar saya baik-baik saja, Mbak. Bagaimana keadaan Mbak Firda?" tanya Nida dengan suara yang terdengar lembut.
Sholeh hanya diam di sisi kiri bed Firda, ia sedang mengamati interaksi kedua istrinya itu. Ini untuk kedua kalinya Firda dan Nida bertemu setelah dulu Firda melamar Nida untuk Sholeh.
"Mi, katanya ada yang ingin disampaikan." Sholeh mengingatkan Firda tentang obrolannya tadi malam.
Firda menatap Sholeh sekilas, bibirnya masih terkunci dan kelopak matanya terus berkedip, sepertinya ia sedang merangkai kata untuk disampaikan kepada Nida.
"Nida ... bisakah saya meminta sesuatu kepadamu?" tanya Firda setelah beberapa saat terdiam. Kini, tatapan matanya tak lepas dari sosok cantik yang ada di sisinya.
"silahkan, Mbak! saya pasti akan memenuhi permintaan Mbak Firda asal saya mampu untuk hal itu," jawab Nida dengan di iringi senyum yang sangat manis.
__ADS_1
Firda menghela napas panjang, matanya mulai berembun ketika hatinya merasakan berat untuk mengatakan semuanya. Ia tahu seharusnya semua yang ada di pikirannya saat ini tidak boleh diucapkan, tapi hatinya tak sanggup untuk memendam semua rasa itu.
"Nida ... saya tetap akan berjuang sembuh demi anak-anak walaupun penyakit saya separah ini! tapi jika di tengah jalan saya berjuang ternyata Allah menuliskan takdir yang lain ..." Firda menghentikan ucapannya, air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.
"Lebih jelasnya ... jika setelah ini saya harus kembali ke pangkuan Sang Pencipta, maka saya titipkan semua anak saya kepadamu. Anggaplah keempat anak saya seperti anak kandungmu karena mereka juga darah daging mas Sholeh!" ucap Firda dengan suara yang bergetar. Rasanya ia tak sanggup membayangkan bagaimana nasib anak-anaknya nanti.
Tatapan mata Sholeh dan Nida bersirobok, mereka berdua tertegun setelah mendengar kalimat panjang yang baru saja diucapkan oleh Firda. Sholeh meraih tangan Firda dan menggenggam tangan yang terasa dingin itu.
"kamu pasti sembuh, Mi! jangan mengatakan semua itu. Kita pasti bisa menua bersama untuk menemani anak-anak tumbuh menjadi orang-orang yang sukses." Sholeh mencoba menghibur istri pertamanya itu.
"Ya memang benar, Bi. Saya pun memiliki keinginan yang sama seperti Abi tapi siapa yang bisa melawan takdir Sang Kuasa, Bi?" tanya Firda seraya menatap Sholeh.
Sholeh hanya menggeleng pelan, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Firda. Matanya pun ikut berembun karena perasaan yang membuncah di dada. Sedih, mungkin itulah yang menyelimuti hati Sholeh saat ini.
"Mbak harus semangat sembuh ya! Allah pasti memberikan obat kepada Mbak Firda," ucap Nida setelah menyentuh tangan Firda.
Firda tersenyum kecut mendengar ucapan Sarah. Ia sendiri tidak yakin jika bisa terbebas dari rasa sakit ini. Rasa sakit yang berawal dari hilangnya perhatian sang suami karena rengekan manja madunya.
Senyum tipis terbit dari bibir Firda ketika kedua orang yang ada di sisinya menganggukkan kepala. Firda menatap langit-langit kamar inap yang ia tempati saat ini.
"Saya sangat berharap kepadamu, Nida ... jadilah ibu yang baik untuk anak-anak saya nanti. Jangan biarkan anak-anak saya kekurangan kasih sayang dan perhatian dari Abi nya seperti sayaโkarena rasanya begitu menyakitkan, Nida!" keluh Firda dengan air mata yang tak henti menetes.
Sholeh menaikkan satu alisnya setelah mendengar kalimat panjang yang terucap dari bibir sang istri. Ia menahan diri untuk diam saja sebelum istrinya selesai mengeluarkan semua yang terpendam di dalam hati.
"Saya tahu kamu dan Mas Sholeh memiliki perasaan yang sama sebelum Saya dinikahkan dengan Mas Sholeh. Saya minta maaf karena kehadiran saya membuat kalian harus memupus rasa cinta yang kalian miliki, tapi ...." Firda mengalihkan pandangannya untuk menatap Nida yang mematung di sisinya.
"Saya tidak bersalah dalam hal ini. Saya hanya menjalankan kewajiban saya untuk patuh kepada orangtua, maka dari itu saya menerima perjodohan yang sudah disepakati orangtua saya dan abah,"
"rumah tangga yang saya jalani memang berawal tanpa cinta tapi semakin lama cinta hadir di antara kami setelah kelahiran anak pertama." Firda menatap Sholeh dengan sorot mata kecewa.
"Entah bagaimana awalnya, saat itu saya terkejut saat Mas Sholeh meminta izin kepada saya untuk menikahimu! awalnya saya tidak setuju tapi setelah saya bicara dengan guru saya dulu tentang poligami, akhirnya saya bersedia melamar kamu untuk menjadi istri kedua Mas Sholeh," ucap Firda seraya menatap Nida.
__ADS_1
Perasaan tidak enak mulai menyapa hati Nida saat Firda menghentikan ucapannya. Ia sedang menyiapkan hati untuk mendengar jeritan hati Firda selama ini.
"Saat itu saya yakin jika Mas Sholeh adil dalam membagi segala hal untuk saya dan kamu, Nida! termasuk cinta dan perhatiannya tapi kenyataannya semua itu hanya angan belaka!" air mata Firda semakin mengalir deras ketika mengingat semua penderitaannya selama ini.
"setelah kelahiran putra keempat ku, Mas Sholeh semakin terlihat tidak adil. Dia lebih sering memperhatikanmu dan membiarkan aku mengurus anak-anak sendirian. Aku diabaikan begitu saja ... bahkan Mas Sholeh tidak pernah tahu jika aku sakit," Firda semakin tergugu saat menyampaikan hal ini.
Sholeh menggenggam tangan Firda, ia seperti ditampar ribuan kali setelah mendengar keluh kesah yang dirasakan oleh Firda. Ia terlambat menyadari hal itu.
"saya tahu jika kamu sering mengirim pesan kepada Mas Sholeh saat jadwal Mas Sholeh berada bersamaku. Bahkan saya tahu jika kamu mengeluh sakit kepala dan menyuruh Mas Sholeh untuk datang menemui ... seharusnya kamu tidak melakukan semua itu, Nida! seharusnya kamu sadar jika kamu melewati batasanmu! kamu ingin memiliki Mas Sholeh seorang diri!"
"Kita sama-sama wanita! coba bayangkan jika kamu ada di posisi saya? sanggupkah kamu menahan rasa untuk tidak iri? bisakah kamu berlapang dada menerima poligami jika suamimu berlaku tidak adil kepadamu? saya rasa kamu tidak akan sanggup, Nida!" akhirnya Firda mengeluarkan semua duri yang menyiksa hatinya.
Air mata tak henti menetes dari pelupuk mata Nida. Ia tidak menyangka sikap manjanya selama ini telah menyakiti Firda. Entah mengapa setelah mendengar semua yang diucapkan Firda, ia merasa tertampar dan merasa bersalah. Dari semua penjelasan panjang yang diucapkan oleh Firda, ia bisa menyimpulkan bahwa dia lah yang menjadi penyebab Firda menjadi seperti ini.
"Maafkan saya, Mbak! maaf ... maaf! selama ini saya tidak sadar jika sikap saya telah membuat Mbak Firda menjadi seperti ini," ujar Nida dengan suara yang bergetar karena tangisnya pecah saat memeluk tubuh Firda. Ia menangis di atas bahu Firda yang bergetar.
๐นTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐โฅ๏ธ bagaimana nih kalian masih greget sama si Firda gak setelah tahu kebenarannya?๐น**Maap nih yee ada sedikit kekeliruan nama๐**
โโโโโโโโโโโโโโโโ
Hallo guys ... sambil nunggu othor update, kuy kepoin karya temen othor yang keren ini๐
Author: Putri Nilam Sari
Judul: Hey!!! Gadis Berkacamata
Blurb: Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya.
Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga.
Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น