Surga Hitam

Surga Hitam
Flashback 2: Kabur!


__ADS_3

Guyuran air shower yang ada di kamar mandi Ummi Sarah mengalir deras, membasahi rambut panjang yang tergerai itu. Intan menengadahkan kepalanya di bawah guyuran air shower, rasa perih di matanya tak sebanding dengan rasa pedih yang saat ini sedang menguasai hatinya.


Intan tergugu di sana, meratapi nasib buruk yang tengah menimpanya. Berkali-kali ia mengutuk keponakan Ummi Sarah itu—pria yang sudah merenggut mahkota yang akan Intan persembahkan kepada suaminya nanti. Nasi sudah menjadi bubur, apa yang telah hilang tak bisa di kembalikan lagi.


Intan termenung di dapur Ummi Sarah setelah selesai mandi besar. Saat ini, pikiran Intan sedang berkecamuk, Ia sedang berpikir kemana ia melangkahkan kakinya setelah ini. Ke Surabaya tidak mungkin, karena di sana adalah tempat tinggal Aga. Setelah berpikir panjang akhirnya Intan memutuskan untuk pergi ke Jakarta saja.


"Tapi—aku tidak punya uang untuk di pakai bekal kesana," gumam Intan seraya mengusap wajahnya kasar.


Sebuah ide kotor terlintas dalam pikirannya. Ia segera melangkahkan kakinya ke dalam rumah Ummi Sarah. Ia menganyun langkah cepat menuju kamar Ninis.


"Ning, maafkan aku Ning!" gumam Intan seraya membuka pintu almari Ninis. Ia menarik laci yang ada di dalam Almari itu untuk mengambil uang Ninis yang tersimpan di sana, "aku janji akan mengembalikan uang Ning Ninis setelah aku mendapat pekerjaan di Jakarta," imbuh Intan setelah meraup uang yang tersimpan di laci.


Intan bergegas keluar setelah mengambil uang Ninis. Ia sedikit berlari agar segera keluar dari rumah ini. Intan tertatih-tatih menuju pesantren, ia harus mengambil dompet dan dokumen pentingnya sebelum kabur dari tempat ini. Ia memasukkan beberapa pakaian beserta surat identitas dirinya ke dalam kresek besar bewarna hitam. Ia tidak mau orang-orang curiga jika melihatnya membawa tas keluar dari pesantren.


"Mbak Tata mau kemana?" tanya Satpam yang berjaga di gerbang depan.


Intan tertegun mendengar pertanyaan Satpam itu, ia memutar bola matanya ke kanan dan kiri untuk mencari jawaban yang tidak mencurigakan, "Mau ke pasar, Pak. Mau tukar baju kemarin beli ukurannya kurang besar," jawab Intan tanpa berani menatap Satpam tersebut.


"Kalau begitu Mbak Tata hati-hati, ya." ucap Satpam tersebut sebelum Intan keluar dari gerbang pondok.


Intan berjalan kaki menuju tempat pangkalan ojek yang ada di dekat pasar. Jarak antara pesantren dan pasar tidak terlalu jauh, kurang lebih satu kilometer saja.


"Pak, tolong antar saya ke terminal," ucap Intan setelah sampai di pangkalan ojek.


"Ongkosnya agak mahal ya, Mbak. Terminal kan jauh," ucap Tukang ojek tersebut.

__ADS_1


"Tidak masalah, Pak. Pasti saya bayar," ucap Intan sambil menatap tukang ojek itu dengan wajah penuh harap.


Setelah menyetujui kesepakatan harga dari tukang ojek, Intan bergegas naik ke jok belakang motor matic itu, tak lupa ia memakai helm sebelum motor itu melaju ke jalan raya.


Di sepanjang perjalanan, air mata Intan terus berjatuhan. Dalam satu hari ini ia melakukan dua dosa sekaligus. Kepalanya tertunduk untuk menguras cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya.


Rasanya, air mata itu tak akan bisa surut sampai motor matic itu berhenti di depan terminal. Intan menghapus air matanya terlebih dahulu sebelum turun, lalu ia merogoh uang yang ada di dalam tas kreseknya untuk di berikan kepada tukang ojek.


"Terima kasih, Pak." Intan segera berlalu setelah memberikan ongkos yang sudah di sepakati sebelum berangkat tadi.


Jujur saja, ini adalah pertama kalinya Intan menginjakkan kakinya di terminal. Ia takut ketika melihat banyak pedagang pria yang mendekat dan menawarkan barang dagangannya. Intan sedikit trauma berdekatan dengan pria karena ulah bejat Aga.


"Ibuk, Ayah ... maaf Tata harus pergi dari kota ini," gumam Tata dalam hatinya. Tata duduk di bangku panjang setelah mendapat karcis bus jurusan Jakarta, ia harus menunggu terlebih dahulu karena jadwal keberangkatan bus tersebut nanti siang.


***


"Lihat saja, setelah ini kamu akan bertekuk lutut kepadaku! kamu tidak akan bisa terlepas dariku!" Aga menyeringai, ia sangat berambisi mendapatkan Intan meskipun dengan cara yang kotor.


Aga segera bangkit dari ranjangnya. Ia keluar kamar untuk melihat situasi di luar, ia ingin memastikan jika Intan tidak berbuat macam-macam. Langkah Aga harus terhenti di ruang keluarga, ketika kedua manik hitamnya tak sengaja menangkap CCTV yang terpasang di sana. Ia tertegun dan berpikir, mungkinkan kelakuannya tadi terekam kamera CCTV?


Aga segera mengelilingi rumah besar ini, ia mencari di mana saja CCTV itu terpasang. Tak lupa Aga masuk ke dalam gudang untuk melihat keadaan gudang tersebut. Aga tersenyum puas ketika melihat darah yang ada di atas kardus. Ia merapikan kardus yang tertata di lantai itu kembali seperti sebelumnya.


Keadaan gudang kembali seperti semula, kardus itu pun di bawa Aga ke kamarnya, entah untuk apa ia nyimpan kardus yang menjadi saksi betapa bejat kelakuannya itu.


"oke, sekarang aku harus mencari di mana monitor CCTV yang ada di rumah ini," gumam Aga seraya membuka pintu kamarnya. Aga mengelilingi isi rumah Ummi Sarah, ia membuka semua pintu ruangan yang ada di rumah tersebut untuk mencari sesuatu yang ia inginkan.

__ADS_1


Senyum tipis terbit dari bibir Aga tatkala menemukan apa yang ia cari. Aga bergegas menutup pintu ruangan itu dan segera duduk untuk melihat rekaman CCTV satu jam yang lalu.


"Oh, jadi gadis itu masuk ke kamar Ning Ninis!" Aga mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menunggu apa kejadian selanjutnya, "oh, rupanya dia mencuri uang Ning Ninis," gumam Aga setelah melihat Intan keluar dari kamar Ninis dengan menggenggam uang segepok.


Aga terus mengawasi gerak-gerik Intan. Lalu ia mengganti rekaman kamera yang ada di Pesantren. Ia melihat Intan keluar dari Pesantren sambil membawa kantong kresek hitam.


"Apa dia kabur dari sini?" Aga bertanya-tanya ketika lama menunggu Intan yang tak kunjung kembali.


Jari jemari Aga segera bergerak lincah di atas remote control. Ia menghapus rekaman CCTV yang menyorot dirinya saat keluar dari gudang. Ia mengatur CCTV itu agar dirinya tidak terkena masalah setelah Ninis tau bahwa uangnya hilang.


Pria berumur dua puluh lima tahun itu segera keluar dari ruangan monitoring setelah menyelesaikan misinya. Ia bisa bernafas lega setelah menemukan alibi yang pas jika nanti di tanya keluarga ummi Sarah tentang keberadaan Intan.


"Kemana kau kucing manis? jika kau pergi dari sini, maka masalah ini akan terkubur selamanya," ucap Aga sambil menatap kardus yang tergeletak di lantai kamar, ia tertawa lepas seraya menghempaskan diri di atas ranjang.


Flashback End


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2