
Sang raja sinar telah sampai di cakrawala barat, pertanda waktu menunaikan ibadah empat rakaat telah tiba. Siluet kuning samar-samar terlihat menghiasi cakrawala barat karena senja segera tiba.
Kekhawatiran tengah melanda wanita paruh baya yang sedang duduk seorang diri di depan ruang bersalin. Ummi Sarah menautkan jari-jarinya untuk mengusir rasa cemas yang menghantui, beliau sedang memikirkan sang menantu yang sedang berjuang di dalam ruang bersalin itu.
"Ya Allah, kuatkan menantu hamba, lancarkan proses persalinannya serta beri keselamatan untuk keduanya," gumam ummi Sarah setelah berdiri dari kursi. Beliau mondar-mandir untuk mengusir rasa panik yang melanda.
Intan masuk ruang bersalin sejak dua puluh menit yang lalu karena ketubannya sudah pecah menjelang pembukaan sempurna. Sepanjang hari Intan mengeluh merasakan nyeri hebat di punggung dan Pinggulnya.
Seperti saat ini, dua orang perawat sedang mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk persalinan. Seorang dokter wanita sedang memasang selontong tangan karet di kedua tangannya sebelum membantu Intan melahirkan bayi nya.
Sementara itu, Aji hanya diam di sisi bed tempat istrinya terbaring. Lidahnya keluh karena melihat Intan tak karuan karena merasakan sakit yang begitu hebat. Aji hanya bisa pasrah kala Intan mencengkram tangannya dengan kuat, menarik rambutnya tanpa belas kasih saat merasakan kontraksi.
"dokter! saya pengen pup!" ujar Intan seraya duduk di atas bed, "eh, ganti dok! pengen pipis juga," Intan terlihat bingung antara ingin pipis atau pup.
dokter tersebut segera menghampiri Intan. Beliau berdiri di ujung bed Intan untuk memastikan jika saat ini sudah waktunya Intan untuk berjuang melahirkan anak pertamanya.
"Moms, itu adalah tanda jika pembukaan Moms sudah sempurna," ucap dokter tersebut seraya membantu Intan mengatur posisi yang benar, "setelah ini Moms ikuti instruksi yang saya berikan ya, mari kita berjuang bersama untuk menyambut kehadirannya," ucap dokter tersebut.
"Daddy, berikan semangat untuk Mommy ya!" dokter tersebut mengalihkan pandangannya ke arah Aji.
__ADS_1
Aji hanya mengangguk pelan setelah mendengar ucapan dokter yang sedang berdiri di ujung bed tersebut. Bulir bening perlahan turun dari mata teduh itu ketika melihat istrinya mulai mengejan dengan diiringi teriakan. Wajah manis itu terlihat merah dengan peluh yang mengalir deras karena perjuangan berat ini.
"Sayang ... semangat terus ya! kamu hebat! kamu pasti bisa! aku mencintaimu ...." bisik Aji sebelum mengusap keringat yang ada di wajah istrinya.
Detik demi detik terus berlalu ... Intan pun masih berjuang untuk menyambut kehadiran sang buah hati. Ia masih mengatur napas sebelum kembali berjuang. Suara teriakan Intan mulai terdengar di ruang bersalin itu sebelum terdengar suara tangisan bayi. Tepat pukul setengah lima sore Intan berhasil melahirkan bayi nya.
"oek ... oek ... oek ...."
"wah ... selamat ya Moms, Dad ... bayinya laki-laki nih! kondisinya sehat dan tidak kurang apapun!" seru dokter tersebut setelah berhasil menolong bayi yang sedang menangis kencang itu.
Intan menatap Aji dengan sorot mata haru. Ia menangis karena bahagia. Begitu pun dengan Aji, air matanya tak henti menetes setelah mendengar ucapan dokter tersebut. Aji tak henti menghujani wajah pucat sang istri karena perasaannya bercampur aduk saat ini.
Sebuah senyum manis adalah jawaban dari Intan. Rasanya ia tak dapat berkata apa-apa lagi karena rasa bahagia yang menyelimuti. Intan sangat lemas saat ini, ia seperti kehilangan seluruh energinya.
"Dad, silahkan ikut ibu perawat tersebut untuk mengadzani putranya, saya mau merawat moms dulu," ujar dokter tersebut seraya menunjuk seorang perawat yang sedang menggendong bayinya.
"istri saya mau di apakan, dok?" tanya Aji setelah melihat dokter tersebut membawa gunting.
"Moms harus dijahit dulu Dad, karena tadi moms mengangkat panggulnya saat melahirkan," ucap dokter tersebut.
__ADS_1
"hah dijahit? jadi buntu begitu dok?" Aji tertegun setelah mendengar penjelasan dokter.
Tantu saja, pertanyaan Aji itu membuat dokter dan perawat yang menangani Intan mengulum senyum. Intan pun menepuk keningnya setelah mendengar pertanyaan konyol sang suami, ia malu karena hal itu.
"Tidak dijahit semua Dad! tenang saja, pasti saya kasih jalan kok untuk Daddy!" kelakar dokter tersebut seraya menyiapkan alat jahit.
Malu, itulah yang dirasakan Aji saat ini. Ia sangat malu setelah mendengar dokter wanita itu berkelakar. Ia segera pergi dari bilik tersebut dan mencari dimana keberadaan putranya.
Setelah melihat bagaimana istrinya melahirkan, Aji terenyuh karena membayangkan ummi Sarah saat melahirkannya dulu. Bayang-bayang dosa yang dulu ia lakukan kembali hadir seiring dengan rasa bersalah yang begitu besar. Rasanya, Aji ingin memeluk umminya dan berterima kasih atas semua perjuangan yang sudah beliau lalui.
“Dan telah Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali.” (QS. Luqman:14)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo aku ada rekomendasi untuk kalian nih, sambil munggu up yuk kepoin😍
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1