Surga Hitam

Surga Hitam
Minggu ceria,


__ADS_3

"awww ...." Intan meringis kesakitan tatkala merasakan sinar laser mengitari tatonya yang ada di kaki. Intan memejamkan matanya ketika merasakan kulitnya seperti di tarik-tarik. Rasanya lebih sakit saat ini daripada saat di tato dulu.


Satu bulan telah berlalu begitu saja, setelah tabungannya terkumpul, Intan memutuskan untuk mulai menghapus tatonya. Ia datang ke salah satu klinik kecantikan yang menyediakan jasa penghapus tato permanen dengan laser. Dokter kecantikan itu pun menyarankan agar Intan menghapus tato yang ada di kaki terlebih dahulu, karena ukurannya lebih lebar daripada tato Intan yang lainnya.


Intan mulai mempersiapkan dirinya, karena dua minggu lagi ia akan pulang ke Jombang bersama Aji. Keputusannya sudah bulat setelah beberapa hari berpikir mengenai hal itu. Akan lebih bagus jika Ummi Sarah mengetahui keadaannya yang sekarang, karena dengan begitu ia tidak perlu lagi menerka bagiamana respon beliau.


"Jangan merubah apapun yang ada pada dirimu saat ini, biarkan saja Ummi tahu bagaimana keadaanmu yang sesungguhnya. Aku tidak akan memberitahu Ummi tentang masalahmu bersama Aga. Jadi, jangan risaukan hal itu."


Ya, itu lah kalimat yang pernah di ucapkan oleh Aji, hingga membuat Intan memutuskan untuk pulang ke Jombang. Ada rasa takut yang menyeruak di dalam hatinya ketika membayangkan respon Ummi Sarah dan keluarganya nanti. Oh, sungguh semua itu terasa mendebarkan untuk Intan.


Beberapa puluh menit kemudian, penghapusan tato telah selesai. Warnanya pudar lima puluh persen dari sebelumnya. Intan segera keluar dari ruangan itu setelah selesai konsultasi dengan dokter bernama Nirmala itu.


"Terima kasih dok, saya akan kembali sesuai jadwal yang sudah dokter atur," ucap Intan sebelum Intan keluar dari ruangan itu.


Intan melangkahkan kakinya menuju lobby klinik, di mana ada Aji yang setia menunggunya hingga selesai. Kedatangan Intan di sambut dengan sikap hangat dan senyum manis dari Aji—pria yang memiliki mata teduh itu, tengah bersedekap seraya menatap Intan yang semakin dekat dengannya.


"Sudah selesai kah?" tanya Aji ketika Intan berhenti di hadapannya, "bagaimana rasanya? apa tidak sakit?" tanya Aji seraya mengalihkan pandanganya ke bawah untuk menatap kaki Intan.


"Rasa sakit itu sebuah resiko yang harus di terima, Gus," ucap Intan dengan di iringi senyum tipis setelahnya.


"Ya sudah ayo ku antar pulang!" ucap Aji sebelum mereka keluar dari gedung estetika itu.


Mobil Avanza putih itu mulai melesat di jalan raya, membelah padatnya lalu lintas di hari minggu seperti ini. Aji mendengus kesal karena terjadi kemacetan panjang di sekitar pasar Ciputat.


"Gus, saya mau turun di sini saja. Ada sesuatu yang harus saya beli di pasar," ucap Intan ketika mobil yang ia tumpangi saat ini berada di depan pasar.


"Susah minggir, Tan. Jalannya padat. Memang kamu mau cari apa?" tanya Aji setelah sekilas menatap Intan.


"Emm ..." Intan bergumam sambil memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Aji, "Saya ingin membeli mukenah, Gus. Sekalian sama pakaian syar'i untuk di bawa pulang ke Jombang.

__ADS_1


"Tan ..." Aji menatap wajah Intan, "aku tidak menyuruhmu untuk memakai semua itu, jangan memaksakan diri jika hatimu belum siap," ucap Aji sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.


Kemacetan mulai terurai, jalanan sedikit longgar karena mobil box yang ada di depan sudah bisa jalan. Aji terus melajukan mobilnya tanpa menghiraukan permintaan Intan.


"Saya ingin menata hati lagi, Gus. Bukan karena siapapun, saya hanya ingin melepas topeng yang sudah lama menutupi diri saya yang sesungguhnya," ucap Intan dengan pandangan lurus ke depan.


Aji mengulas senyumnya ke arah Intan, ia bahagia setelah mendengar ucapan Intan. Perasaannya semakin bertambah besar kepada gadis pemilik tato mawar di tangannya itu.


"Jika memang semua itu yang kamu inginkan saat ini, maka aku yang akan memenuhi semua kebutuhan itu," ucap Aji dengan di iringi senyum yang sangat manis.


"Tidak, Gus!" tolak Intan, "saya masih bisa membeli semua itu, saya tidak mau merepotkan Gus," ucap Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Aji.


Aji tak menghiraukan penolakan dari Intan. Ia terus melajukan mobilnya sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Ciputat. Aji memutari bangunan raksasa itu untuk mencari tempat parkir kosong untuk mobilnya.


"Ayo!" ucap Aji setelah mobilnya berhenti di tempat parkir. Ia membuka pintu mobilnya dan segera turun.


"Duh! uang Gus Aji bisa habis nih kalau belanja di sini!" gumam Intan dalam hatinya seraya menepuk keningnya.


Aji membuka pintu mobil yang ada di samping Intan. Ia mengernyitkan keningnya ketika melihat Intan menundukkan kepala sambil memijat keningnya.


"Ayo! nunggu apa lagi?" tanya Aji sambil menatap Intan.


Akhirnya, dengan berat hati—Intan akhirnya turun dari mobil itu. Ia berjalan di samping Aji menuju pintu masuk tanpa bergandeng tangan tentunya. Mereka berjalan beriringan menuju salah satu toko perlengkapan sholat yang ada di lantai satu.


"Kamu pilih aja mukenah mana yang kamu suka," ucap Aji setelah mereka berdua masuk ke dalam toko tersebut.


Mau tidak mau, akhirnya Intan memilih deretan mukenah yang tertata rapi di tempatnya. Ia membelalakkan mata ketika melihat harga mukenah dengan merk ternama itu.


"Saya bingung pilih yang mana, Gus." Intan menatap Aji yang mengekor di belakangnya, "Tolong, Gus saja yang memilih," ucap Intan dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


Setelah terjadi perdebatan kecil, akhirnya Aji menyerah. Ia yang harus memilih mukenah untuk Intan. Sebuah mukenah sutra berwarna putih dengan hiasan bordir cokelat tembaga berhasil di pilih Aji.


"Saya pasti suka apapun pilihan Gus," ucap Intan ketika Aji bertanya pendapatnya tentang mukenah yang sudah dipilih.


"Oke, kalau begitu aku bayar dulu," ucap Aji sebelum berlalu meninggalkan Intan. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar mukenah dan sajadah yang sudah di pilihnya.


Belanja Mukenah telah selesai. Kini, Aji mengajak Intan untuk naik ke lantai dua, di mana banyak toko busana muslim berjajar rapi di sana. Aji mengajak Intan ke salah satu toko busana terbesar di lantai dua.


"Pilihlah mana yang kamu suka, karena aku tidak tahu selera berpakaian wanita," ucap Aji ketika Intan hanya diam sambil menatap berbagai model pakaian yang berjajar rapi di hadapannya.


Intan sendiri bingung harus memilih yang mana, karena untuk hal ini, Kinar lah yang biasa melakukannya. Pada akhirnya Intan memilih blouse lengan panjang dan span panjang berwarna hitam yang sesuai dengan ukurannya.


"Tan, bagaimana kalau yang ini?" tanya Aji setelah menemukan gamis berwarna ungu muda dengan model simpel, gamis itu sepertinya cocok untuk Intan.


Intan menatap pilihan Aji dengan binar bahagia. Rupanya Aji menginginkan dirinya memakai gamis itu untuk di pakainya saat pulang ke jombang. Intan akhirnya menyetujui pilihan Aji, lalu ia mencobanya di ruang ganti untuk memastikan ukurannya.


"Astaga! jantung gue rasanya mau copot! apakah seperti ini rasanya jika belanja bersama suami nanti?" gumam Intan dengan suara yang lirih saat menyandarkan tubuhnya di dinding kamar ganti.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2