Surga Hitam

Surga Hitam
Datang ke Makam.


__ADS_3

Bulir bening kembali berjatuhan dari pelupuk mata seorang gadis yang sedang bersandar di dinding kamar. Rasa sakit kembali menyerang hatinya tatkala mendengar sendiri penolakan dari wanita yang sudah di anggapnya sebagai ibu.


Rasa kecewa bisa ia dirasakan, meski hal ini sudah di prediksi Intan sejak awal memutuskan menemui Ummi Sarah di Jombang, tapi mendengar langsung penolakan itu rasanya begitu menyesakkan di dada. Sekali lagi Intan harus berjuang untuk mendapatkan restu dari Ummi Sarah.


Intan bergegas pergi dari tempat itu agar tidak ketahuan jika ia mencuri dengar pembicaraan Ummi Sarah dan Aji. Intan buru-buru menjauh dari kamar itu, ia memilih menyendiri di ruang tamu sambil memikirkan bagaimana langkahnya setelah ini.


"Ya Allah apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Intan bermonolog dengan kepalanya yang menengadah karena menahan air mata yang sulit untuk di bendung.


Intan segera menghapus air matanya ketika mendengar derap langkah seseorang dari ruang keluarga menuju ruang tamu. Intan berusaha menyembunyikan kesedihannya, apalagi ketika ia mengetahui bahwa itu adalah suara langkah Aji.


"Kenapa di sini sendirian?" tanya Aji setelah menemukan Intan duduk di ruang tamu seorang diri.


"Cari inspirasi, Gus!" seloroh Intan dengan di iringi senyum tipis yang membuatnya terlihat semakin manis, "Gus, bisa mengantar saya ke rumah bibi sekarang saja?" tanya Intan seraya menatap Aji.


"kenapa buru-buru?" tanya Aji setelah duduk agak jauh dari Intan.


"Saya sudah tidak sabar bertemu Bibi, Gus." Intan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau melihat mata teduh yang sedang menatapnya itu.


Aji hanya diam setelah melihat ekspresi Intan. Ia bisa melihat jika gadis pujaannya itu tengah di selimuti keresahan. Namun, Aji tidak mau menanyakan apapun kepada Intan saat ini, karena ia sendiri sudah tau jika Intan tidak mudah untuk mengatakan isi hatinya.


"Ya sudah. Kamu siap-siap dulu, setelah ini aku antar pulang. Dua hari lagi aku jemput kesini sebelum kita kembali ke Tangerang." Akhirnya Aji mengikuti apa yang di inginkan oleh Intan.


Intan beranjak dari tempat duduknya setelah mendengar jawaban dari Aji. Ia berjalan menuju kamar Ninis untuk bersiap pulang ke rumah Bibi nya.


"Ning, saya mau langsung ke rumah Bibi setelah ini," ucap Intan setelah masuk ke dalam kamar Ninis.


"Kenapa buru-buru?" tanya Ninis.

__ADS_1


"Saya sudah rindu kepada bibi, Ning." Intan menatap Ninis dengan senyum yang sangat manis.


"harusnya kamu ke makam orangtuamu dulu, Tan!" usul Ninis yang membuat Intan tertegun.


Intan benar-benar lupa jika di kota ini lah orangtuanya di makamkan. Ia menghentikan aktivitasnya saat ini, lalu segera keluar dari kamar Ninis untuk mencari Aji.


"Gus, saya mau ke makam Ayah sama Ibuk dulu, nanti saja pulang ke rumah bibi setelah ashar," ucap Intan setelah menemui Aji di ruang tamu.


"Kalau begitu sekarang saja, mumpung hujannya reda," ucap Aji saat melihat situasi di luar rumahnya.


Mereka berdua langsung pergi ke makam tanpa berpamitan kepada Ummi Sarah, karena beliau sedang beristirahat setelah debat dengan putranya sendiri. Kepergian Intan dan Aji diketahui oleh Rahma yang baru saja sampai di halaman samping.


"Mau kemana ya mereka berdua?" gumam Rahma saat mobil Aji berlalu dari hadapannya.


***


"Tan!" ucap Aji. Ia tidak tahan karena perubahan sikap Intan saat ini.


Intan mengalihkan pandangannya ke arah Aji, "ada apa, Gus?" tanya Intan seraya menatap Aji dengan tatapan mata yang sayu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Aji tanpa menatap Intan.


Helaian napas berat terdengar di sisi Aji. Sudah bisa di pastikan, jika Intan saat ini sedang memikirkan hal yang berat. Aji bisa mengetahui hal itu, tapi ia tidak tau apa pokok permasalahannya di mana.


"Ummi Sarah pasti sudah tau 'kan kalau saya punya banyak tato?" Intan menatap Aji, ia bisa melihat jelas perubahan ekspresi Aji.


"Kamu tau dari mana?" Aji menyelidik seraya menatap Intan dengan intens, ia terkejut karena masalah yang sedang ia tutupi ternyata sudah di ketahui oleh Intan.

__ADS_1


"Rahma!" ucap Intan dengan ekspresi wajah yang datar. Ia mendadak tidak suka menyebut gadis itu, "sepertinya dia yang mengadu ke Ummi Sarah. Saya tadi ketemu dia di dapur dan dia mengatakan jika Ummi Sarah sudah mengetahui semuanya." Intan mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya.


Aji menjadi geram setelah mendengar penjelasan dari Intan. Ia kesal dengan gadis bernama Rahma itu, berani-beraninya gadis itu merusak semua rencananya, "jangan khawatir, Tan! aku pasti memperjuangkanmu!" ucap Aji seraya menatap Intan.


Intan hanya diam, ia tidak tahu harus mengatakan apalagi. Saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah pasrah meskipun ia tidak rela jika Allah menuliskan nama pria lain dalam garis hidupnya. Suasana mobil kembali sepi, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga mobil itu sampai di tempat pemakaman umum di salah satu daerah yang ada di Jombang.


Tempat pemakaman umum yang ada di sudut kampung itu sunyi sepi, apalagi setelah di landa hujan beberapa jam. Tanah itu pun masih basah karena air hujan yang baru saja reda.


Intan menitikkan air matanya tatkala melihat dua pusara yang bersebelahan. Ia tergugu ketika melihat nama ya terukir di batu nisan itu. Rasa rindu yang besar membuat dadanya sesak.


"Ayah, Ibuk ... Intan pulang!" ucap Intan dengan suara yang bergetar ketika tangannya menyentuh pusara Ayahnya.


Aji menepuk bahu Intan, ia memberikan kode kepada Intan untuk segera membaca tahlil seperti yang di lakukan orang-orang pada umumnya. Aji yang memimpin tahlil kali ini. Intan semakin menundukkan kepalanya ketika mendengar suara merdu ustad muda yang ada di sampingnya.


"Ayah, Ibuk ... Intan datang kesini membawa calon suami Intan, tapi jika Allah menghendakinya. Ayah, Intan minta maaf karena Intan tidak bisa menjadi wanita yang shalihah seperti keinginan Ayah."


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍


_


_


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2