
"Pah, Intan pulang ke Jombang ya, Pah!" ucap Intan setalah mengurai tubuhnya dari pelukan Pak Gatot.
Waktu yang ditunggu Aji telah tiba. Hari ini adalah hari terakhir Aji berada di Tangerang. Semua barang-barang sudah di kirim melalui jasa pengiriman dan kini ia berada di rumah Pak Gatot untuk berpamitan.
Perasaan haru tengah menyelimuti keluarga Pak Gatot karena malam ini Intan dan Aji akan berangkat ke Jombang. Intan terisak ketika berpamitan kepada keluarga angkatnya yang selama ini menolongnya dari keterpurukan.
Bu Leni yang dulu sempat membenci Intan, kini menangis setelah putri angkatnya itu pamit pulang. Beliau sebenarnya tidak mau berjauhan dengan Intan karena rasa sayangnya mulai tumbuh kepada wanita yang dulu sempat membuatnya cemburu.
"Kalau kalian ada waktu, kalian harus main ke sini ya!" ucap bu Leni seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"pasti Mah, saya akan mengajak Intan mengunjungi Mamah jika ada libur panjang," ucap Aji seraya mengembangkan senyumnya kepada bu Leni.
Setelah berpamitan kepada semua anggota keluarga, akhirnya Intan dan Aji masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat dengan iringan air mata Bu Leni dan Kinar, hal itu semakin membuat Intan sedih dan tidak rela pergi dari Ciputat.
Intan terus menatap keluarga angkatnya yang sedang melambaikan tangan. Ia menangis ketika keluarganya semakin tak terlihat dari pandangannya. Mobil yang di kendarai Aji semakin lama semakin menjauh dari rumah pak Gatot.
"jangan nangis lagi ya! kita masih bisa mengunjungi mereka kalau ada waktu," ucap Aji setelah sekilas melihat Intan.
Intan hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Ia masih sibuk mengusap air matanya yang tidak bisa dihentikan. Ia benar-benar sedih karena harus berjauhan dengan keluarga angkatnya, apalagi setelah merasakan perubahan sikap bu Leni, ia kembali mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama ia rindukan.
"Mas, janji ya nanti gak bakalan ninggalin aku lama-lama! kalau Mas pergi dinas ke luar kota aku harus ikut!" ucap Intan setelah beberapa menit terdiam. Ia menatap Aji yang sedang fokus dalam kemudinya
Aji hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebelum kembali fokus dengan kemudinya. Ia bahagia melihat sikap Intan yang posesif tapi ia sendiri ketar-ketir jika membayangkan hal itu.
"Gimana ya kalau nanti aku udah tinggal di jombang?" gumam Aji dalam hatinya.
Ia hanya tersenyum tipis ketika membayangkan hal itu, yang pasti kehidupannya selama di Tangerang akan berubah jika sudah berada di Jombang. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kedua orang tuanya nanti. Aji hanya berharap istrinya diterima dengan baik di sana.
__ADS_1
Aji semakin menambah kecepatan laju kendaraannya setelah masuk ke gerbang tol Tangerang. Perjalanan panjang siap di mulai, ia harus fokus agar selamat sampai tujuan.
"Sayang, tidurlah jika lelah! jangan memaksakan diri untuk menemani aku sampai pagi!" ujar Aji seraya mengusap kepala Intan yang terbalut jilbab hitam.
Sudah dua tahun ini Intan istiqomah memakai jilbab. Ia tetap fashionable meskipun dengan pakaian yang tertutup. Hanya ketika di dalam rumah dan ada Aji saja ia memakai pakaian terbuka, apalagi jika sudah berada di dalam kamar, sudah pasti ia memakai pakaian dinas pemberian suaminya itu. Pakaian kurang bahan seperti pemberian dari Kinar dulu.
...๐น๐น๐น๐น...
Fajar terlihat indah di cakrawala timur, siluet jingga terlihat indah menghiasi langit yang redup. Aji menghela napasnya panjang setelah mobilnya keluar dari gerbang tol Jombang. Setelah ini ia akan sampai di rumah orang tuanya.
"Mas, kira-kira barang-barang kita nanti di taruh mana ya?" tanya Intan tanpa menatap Aji, tatapannya lurus ke depan.
"Kemarin kata mas Aslam, barang-barang kita sudah sampai. Katanya udah di simpan di gudang," ucap Aji setelah sekilas menatap Intan.
Intan hanya diam tanpa menjawab ataupun menatap sang suami. Ia sibuk membayangkan bagaimana nantinya jika ia ada di Jombang. Belum apa-apa perasaannya sudah tak karuan ketika membayangkan hal-hal yang akan terjadi nanti.
Intan terkesiap ketika merasakan tepukan di lengannya. Ia menoleh ke samping untuk menatap Aji, "ada apa sih, Mas?" tanya Intan dengan wajah yang cemberut, lamunannya hilang begitu saja karena ulah sang suami.
Intan mengalihkan pandangannya untuk menatap apa yang ada di hadapannya. Ia tertegun setelah melihat rumah kyai Yusuf di depan, ia baru sadar jika mobil yang dikendarai suaminya telah sampai di tempat tujuan.
Tanpa banyak bicara lagi, Intan segera membuka pintu mobilnya untuk menyusul Aji yang sudah berdiri di depan mobil, "kopernya gak di bawa sekalian Mas?" tanya Intan.
"Tidak usah, kita masuk aja dulu!" ucap Aji seraya meraih tangan Intan sebelum mengayun langkah menuju rumah besar tersebut.
Kedatangan Aji di sambut hangat oleh ummi Sarah. Kebetulan di dalam ada Nuril, putri ketiga kyai Yusuf yang menginap sejak tadi malam. Mereka saling melepas rindu dengan memeluk satu sama lain, ummi Sarah sampai menitikkan air matanya karena belum percaya jika Aji dan Intan akan menetap di Jombang.
"Ummi bahagia karena pada akhirnya kalian menetap di dekat Ummi!" ucap ummi Sarah sambil menatap Aji dan Intan bergantian.
__ADS_1
"Setelah ini Ummi tidak rindu Aji lagi dong, Mi?" seloroh Aji sambil menatap Ummi Sarah.
"Jangan Mi, jangan rindu! kata anak-anak muda rindu itu berat!" sahut Nuril sambil menahan tawanya.
"Kenapa ummi harus rindu, kan setiap hari bisa dekat dengan kalian berdua," jawab ummi Sarah dengan senyum yang melengkung dari bibirnya, wajah keriput itu menampakkan gurat kebahagiaan.
"Abah kemana, Mi?" tanya Aji setelah sadar jika pagi ini abah Yusuf tidak ada di rumah.
"Abah masih di rumah ibumu," jawab ummi Sarah sambil mengusap rahang Aji, "sekarang ajaklah istrimu istirahat dulu, mungkin abah akan pulang nanti malam," lanjut ummi Sarah.
Intan tertegun setelah mendengar ummi Sarah setegar itu menyebutkan panggilan itu untuk istri kedua suaminya. Pikiran Intan pun semakin melayang-layang kala membayangkan bagaimana perasaan ummi Sarah dulu ketika abah Yusuf memutuskan untuk poligami. Tubuh Intan meremang tatkala ia membayangkan jika dirinya yang ada di posisi itu.
"gak! itu gak boleh terjadi!" gumam Intan sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"apanya yang gak boleh terjadi?" tanya Aji sambil bersandar di pembatas tangga.
Intan menatap Aji dengan intens. Ia tidak sadar jika dirinya sudah berlalu dari hadapan ummi Sarah. Intan mengedarkan pandangannya sejenak sebelum melangkahkan kakinya kembali.
"ingat ya Mas!! jangan sekali-kali kamu punya keinginan untuk poligami! aku gak rela!" ucap Intan sebelum berlalu meninggalkan Aji yang tertegun di tempatnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐
_
__ADS_1
_
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท