
Dada ummi Sarah terasa sesak ketika melihat kedua menantunya sedang bersitegang. Pada akhirnya, bom yang sudah dirakit beberapa hari yang lalu meledak juga di hadapan Intan. Semua perasaan sedang bercampur aduk di hati ummi Sarah—sedih, marah dan kecewa karena sikap yang ditunjukkan Firda.
"loh kenapa tidak mungkin terjadi, Dik? poligami itu diizinkan loh di agama. Abah dan suamiku juga berpoligami. Jadi, seharusnya kamu mendukung Aji untuk melakukan poligami, bukankah pintu surga akan dibuka dari segala penjuru jika seorang istri mengizinkan suaminya poligami." kalimat panjang yang diucapkan oleh Firda berhasil menusuk hati Intan.
Intan semakin emosi mendengar ucapan Firda. Iparnya itu sudah keterlaluan dengan ikut campur masalah rumah tangganya. Ia tak dapat menahan emosi yang ada dalam hatinya ketika melihat ekspresi wajah Firda yang sangat menyebalkan di mata Intan.
"Kita itu dua orang yang berbeda, Ning! Jadi, makna surga diantara saya dan Ning Firda tidak sama!" ujar Intan dengan nada penuh penekanan.
"Ning Firda harus tahu batasan! Ning tidak punya hak untuk mencampuri urusan rumah tangga saya dengan Mas Aji!" sarkas Intan dengan tatapan penuh amarah.
Harga diri Firda rasanya runtuh setelah mendengar ucapan Intan. Ia sangat malu karena mendapat perlakuan tidak sopan dihadapan mertuanya. Emosinya mulai terpancing karena Intan tak sedikitpun menundukkan pandangan kepadanya.
"Dasar wanita tak berpendidikan!! apa kamu tidak punya sopan santun kepada orang yang lebih tua heh!" teriak Firda dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
"Jika ingin dihormati layaknya orang yang lebih tua, tolong tunjukkan sikap bijak Ning! apakah selama ini Ning pernah menjaga perasaan saya? Ning selalu bersikap manis di depan ummi tapi dibelakang ummi bagaimana?? haruskah saya bongkar sikap Ning selama ini?" Intan benar-benar hilang kontrol saat ini. Ia sampai lupa jika sedang berdebat di depan ummi Sarah.
"Kurang Ajar!! dasar wanita ...." Firda harus menghentikan ucapannya karena teriakan ummi Sarah.
"Firda!! cukup!!"
Intan mengalihkan pandangannya, tatapan matanya perlahan kembali seperti semula ketika melihat ummi Sarah menangis. Intan melangkahkan kakinya untuk mendekat ke sisi ranjang saat melihat nafas ummi Sarah mulai tersengal—wanita paruh baya tersebut tengah memegang dadanya karena merasakan sesak napas.
"Ummi! apa yang ummi rasakan sekarang?" tanya Intan seraya mengusap wajah ibu mertuanya itu, Intan semakin panik tatkala ummi Sarah hanya menggelengkan kepala pelan. Napasnya semakin tersengal-sengal.
Firda berlari keluar kamar untuk memanggil suaminya. Ia terlihat panik ketika melihat keadaan ummi Sarah. Rasa bersalah dan rasa takut telah menyerang hatinya, ia tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Sholeh setelah mengetahui bahwa dirinya yang menyebabkan semua ini.
__ADS_1
Singkat cerita, kini abah Yusuf, Sholeh dan Aslam berkumpul di kamar ummi Sarah. Sholeh bersiap untuk mengangkat tubuh sang ibu, mereka akan membawa ummi Sarah ke rumah sakit agar mendapat penanganan medis. Ummi Sarah tak sadarkan diri ketika ketiga pria tersebut masuk ke dalam kamar.
Semua ikut mengantar ummi Sarah ke rumah sakit, Intan satu mobil dengan abah Yusuf dan ummi Sarah, sedangkan Aslam, Sholeh dan Firda berangkat dengan mobil yang lain.
Air mata Intan tak dapat dihentikan, ia menyesali perbuatannya sendiri. Ia sedih karena merasa menjadi penyebab tidak sadarnya ummi Sarah, masalah poligami sementara ia lupakan karena ada hal yang lebih penting saat ini.
Lima belas menit kemudian dua mobil tersebut sampai di salah satu rumah sakit swasta yang ada di Jombang. Petugas keamanan yang ada di depan IGD langsung mendorong brankar ketika Intan mengatakan ada pasien yang pingsan di dalam mobil.
"Maaf, yang masuk satu orang saja," ujar petugas tersebut ketika keluarga abah Yusuf hendak masuk.
"kalau begitu saya saja yang masuk," ucap Sholeh sebelum mengayun langkah menuju IGD.
Semua duduk di ruang tunggu yang ada di depan IGD. Tak ada yang mengeluarkan suara, semua sibuk berkelana dalam pikiran masing-masing. Intan hanya menundukkan kepalanya, ia berharap Aji segera datang setelah Intan memberinya kabar sebelum berangkat ke rumah sakit.
Beberapa puluh menit kemudian, pandangan Intan menangkap sosok pria yang sangat dikenalinya tengah berlari dari parkiran. Hatinya sedikit lega karena setelah ini ada tempat untuknya bersandar.
"Abah tidak tau, Ji. Tadi ummi mu di kamar bersama Firda dan istrimu," ucap abah Yusuf seraya menatap Aji.
Firda terlihat gelagapan setelah mendengar jawaban abah Yusuf. Ia belum punya jawaban untuk menyelamatkan diri dari amukan semua orang termasuk suaminya nanti. Sementara Intan, ia bersikap tenang sambil mengamati Firda, ia menyiapkan hati dan telinga untuk mendengar cerita yang disampaikan Firda.
"Ning, ada apa?" tanya Aji setelah duduk di samping Intan. Ia sengaja bertanya terlebih dahulu kepada Firda sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua.
Firda menarik napasnya dalam seraya menatap abah Yusuf dan Aji bergantian, "semua ini gara-gara istrimu, Dik!" ujar Firda. Ia sengaja mengatakan semua ini dihadapan abah Yusuf agar tidak disalahkan semua orang, ia tahu bahwa Intan tidak mungkin berani mendebatnya dihadapan abah Yusuf dan suaminya.
"andai istrimu punya adab, pasti ummi tidak akan seperti ini! dia melawanku dihadapan ummi! kami bersitegang di kamar ummi!" ucap Firda seraya melirik ke arah Intan.
__ADS_1
Aslam dan abah Yusuf masih diam, kedua pria tersebut mengamati mimik wajah Firda dan Intan. Aslam menaikkan satu alisnya ketika melihat pandangan Intan lurus ke depan, ia penasaran dengan kebenaran yang diungkapkan Firda.
Aji membelalakkan matanya ketika mendengar pengakuan Firda yang membahas masalah poligami dengan Intan. Jujur saja, Aji sendiri menjadi geram dengan istri kakaknya itu.
"Tolong, Dik! beri nasihat istrimu itu agar lebih sopan jika dihadapan orang yang lebih tua!" ucap Firda tanpa rasa malu sedikitpun, ia terlanjur bersandiwara agar semua orang tak menyalahkan dirinya.
Abah Yusuf duduk bersedakap sambil mengamati Intan, beliau rasa ada sesuatu yang ditahan oleh Intan, "Tan, sekarang ceritakan semua kejadian versi mu, Nak! kami ingin mendengar darimu juga," ucap abah Yusuf seraya menatap Intan.
Aji meraih telapak tangan Intan. Ia menggenggam telapak tangan lembut yang terasa dingin itu. Aji tahu bahwa Intan sedang menahan sebuah rasa yang membuncah di dadanya.
"Sayang, ceritakan semuanya," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Intan mengalihkan pandangan, ia menatap telaga bening yang ada di hadapannya. ia menyelami telaga bening itu untuk mencari cinta yang selama ini terpancar dari sana, ia tidak rela jika ada wanita lain yang memiliki telaga bening dan menenangkan yang ada di hadapannya itu.
"saya tidak ingin mendebat apapun yang diucapkan Ning Firda. Mungkin yang diungkap Ning Firda tidak semuanya benar seperti itu," ucap Intan sambil menatap abah Yusuf dan Aji bergantian, "saya tidak bermaksud bersikap tidak sopan dengan Ning Firda." Intan menghentikan ucapannya saat mengalihkan pandangan untuk menatap Firda.
"tapi ... saya hanya ingin mempertahankan agar istana saya tetap terjaga, tanpa ada orang lain yang masuk dan mencoba untuk merusak kebahagiaan saya dengan memasukkan calon selir ke dalam istana," ucap Intan dengan nada penuh penekanan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷🌷