
Satu bulan kemudian,
Mentari pagi telah datang menyapa semua insan, sinarnya berhasil menghangatkan jiwa-jiwa yang baru saja diterpa dinginnya angin malam. Aktivitas pagi mulai dilakukan, mulai dari masak hingga bersih-bersih.
"Sayang! masak apa pagi ini!" tanya Aji setelah memeluk Intan dari belakang. Ia mengirup aroma tubuh Intan yang tertutup daster lengan panjang.
"Mas jangan gitu!!" ujar Intan seraya mengedarkan pandangannya untuk melihat keadaan di dapur, "malu ih kalau ada yang lihat!" Intan mulai menggerakkan tubuhnya agar Aji menjauh, ia tidak enak hati jika sampai kepergok ummi Sarah atau yang lain.
"Biarkan saja! aku rindu saat-saat seperti ini! semenjak pulang ke Jombang, aku tidak pernah begini!" ucap Aji seraya m-e-r-e-m-a-s dua gundukan yang ada di balik tubuh Intan.
Intan menghela napasnya sebelum melanjutkan untuk memotong wortel. Ia membiarkan Aji berbuat sesuka hatinya karena ia sendiri rindu saat-saat seperti ini. Intan merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya selama satu bulan ini, ia harus menyesuaikan diri karena tinggal bersama mertua.
Aji mengurai tubuhnya ketika mendengar derap langkah dari arah belakang. Ia segera pergi dari dapur sebelum ada yang mengetahui perbuatannya, "setelah ini siapkan bajuku ya, Sayang!" ucap Aji sebelum berlalu dari dapur, tak lupa ia mengerlingkan matanya sebelum benar-benar menghilang dari dapur.
Intan terkekeh melihat kode dari suaminya itu, sebuah kode rahasia untuk misi pembuatan Saka Junior, "Harus cepet nih!" gumam Intan saat mencuci sayur.
Tiga puluh menit telah berlalu begitu saja, menu sarapan pagi ini telah tersaji di atas meja makan. Intan segera naik ke kamarnya untuk menemui bayi besar yang minta disiapkan pakaiannya.
"kenapa lama?" tanya Aji setelah Intan masuk ke dalam kamar.
"Ya nunggu matang dulu Mas! kenapa sih?" Intan pura-pura lupa jika ia sudah menerima kode dari Aji.
Intan berlalu dari hadapan Aji, ia membuka pintu almari untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya itu. Intan pura-pura bodoh di hadapan Aji, memang semua itu sengaja ia lakukan untuk menggoda pria yang sedang duduk di sisi ranjang.
"ini pakaiannya Mas! mandi dulu gih!" ucap Intan setelah meletakkan pakaian Aji di atas ranjang.
__ADS_1
"kalau mau mandi ya harus buka baju dulu dong! sekarang bukain bajunya!" Aji menatap Intan dengan wajah penuh harap.
Intan melakukan apa yang diinginkan sang suami, ia hanya tersenyum ketika tangan Aji mulai bergerilya kemana-mana. Pagi yang cerah di awali dengan sarapan—sarapan khusus bagi sepasang suami istri yang saling menginginkan madu dari surga.
***
Sarapan bersama telah selesai. Kini waktunya Aji berangkat bekerja. Senyumnya begitu cerah seperti mentari yang bersemangat menampakkan diri. Aji mengecup kening Intan sebelum masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati, Mas!" ucap Intan setelah mengecup punggung tangan Aji. Ia menatap keberangkatan sang suami sampai hilang dari pandangannya.
Seperti biasa, Intan harus menyibukkan diri setelah Aji berangkat mengajar. Entah itu bersih-bersih, membuat camilan, ngaji atau apapun yang membuat dirinya tidak bisa bergabung dengan istri Sholeh dan Aslam. Setiap pagi kedua menantu ummi Sarah tersebut selalu ada di halaman rumah sambil mengawasi anak-anak mereka yang masih kecil. Awalnya Intan sering bergabung dengan mereka, tapi lama-lama ia memilih untuk menjauh saja daripada harus mendengar obrolan seputar anak.
"ya beginilah, Dik! kalau sudah jadi ibu dan punya banyak anak, ke salon saja gak sempet!"
"Dik, kamu gak pengen usaha lewat alternatif? banyak tuh yang berhasil setelah pijat di mbok Sunah,"
"iya, jangan hanya dokter aja! sesekali cobain ke alternatif yang di Perak, Dik!"
"kamu harus berusaha, Dik! biar Aji gak cari istri lagi!"
"iya tuh! karena kan harus ada penerusnya Aji di masa depan,"
Ya, begitulah kalimat yang pernah Intan dengar. Jujur saja hatinya meradang mendengar semua kalimat itu. Ia sampai menangis semalaman gara-gara ucapan kedua iparnya. Aji sampai bingung malam itu ketika melihat Intan terus menangis di pelukannya.
Sebenanrnya, Intan sendiri merasa tertekan karena obrolan seputar anak tersebut. Tekanan itu bukan dari ummi Sarah ataupun abah Yusuf, tapi dari kedua ipar yang ada di sekelilingnya. Aslam dan Sholeh memang tidak tinggal serumah dengan ummi Sarah, tapi rumah mereka ada di samping rumah ummi Sarah, alhasil setiap hari Intan pasti bertemu dengan mereka.
__ADS_1
"ngapain lagi ya?" gumam Intan setelah semua aktifitasnya telah selesai. Ia duduk di ruang makan setelah minum jus alpukat kesukaannya.
Keadaan di dalam rumah terasa sepi karena ummi Sarah sedang pergi ke desa sebelah untuk mengisi pengajian jamaah istighotsah ibu-ibu. Biasanya, jika ada ummi Sarah, Intan selalu menemani beliau duduk bersantai di ruang keluarga sambil menunggu adzan dhuhur.
Intan mencoba keluar dari rumah, ia mencari udara segar di gazebo yang ada di halaman samping. Ia duduk di sana seorang diri sambil membuka ponselnya. Ia mencari rekomendasi tempat penghapusan tato di sekitar Jombang. Tabungan Intan sudah cukup untuk menghapus tato yang ada di dadanya. Mungkin ini jalan yang harus ia tempuh agar Allah memaafkan segala kesalahannya dan segera memberinya momongan, seperti cita-citanya selama ini.
Penghapusan tato di dada itupun sudah mendapatkan izin dari Aji. Setelah diberi pengertian dan sedikit rayuan, akhirnya dengan berat hati Aji mengizinkan Intan untuk melakukan kegiatan menyakitkan itu.
"Jangan memaksakan diri jika kamu tidak kuat menahan rasa sakitnya! Kamu harus ingat, jika Allah tidak pernah membenci umatnya. Allah selalu memberikan rahmatnya kepada semua makhluk." Itulah kalimat yang pernah dikatakan oleh Aji ketika Intan meminta izin kepadanya.
Sebagai umat kita hanya bisa berikhtiar. Berdoa saja tidak cukup untuk merubah jalan hidup tanpa adanya usaha. Jangan memikirkan buahnya, karena hasil ikhtiar kita adalah rahasia Sang Pencipta. Pasrah adalah jalan yang terbaik untuk bisa menerima apapun yang diberikan Tuhan kepada kita.
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'ad: 11)
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1