
"Bang! gue itu udah besar! kenapa sih harus diatur seperti anak kecil! gue juga pengen tau rasanya pacaran, ngedate berdua sama pacar dan yang dilakukan anak muda pada umumnya! gue sekarang udah umur dua puluh tiga tahun, Bang! loe gak pengen liat gue bahagia seperti gadis pada umumnya?" cerocos Kinar setelah Tommy mencecarnya dengan beberapa pertanyaan seputar siapa Farhan di hadapan orangtuanya dan Intan.
"Justru semua ini gue lakukan demi kebahagiaan lu! gue tidak mau lu menangis gara-gara di permainkan cowok!" Emosi Tommy mulai terpancing setelah melihat adiknya itu.
Intan mengusap lengan Kinar agar gadis itu tidak terpancing emosi seperti Tommy. Bagaimanapun juga bertengkar dihadapan orang tua itu tidak di benarkan karena semua itu akan menjadi beban di hati orangtua.
Pak Gatot menepuk keningnya setelah melihat perdebatan di antara kedua anaknya. Beliau tidak mau membela siapapun saat ini karena keduanya sama-sama benar. Beliau sendiri kasian melihat Kinar kesepian semenjak Intan menikah, tapi membiarkan Kinar pacaran pun beliau tidak tega, apalagi beliau mengetahui seluk beluk dunia itu.
"Pah, Bang Farhan itu bukan apa-apanya Kinar. Dia dulu pernah menolong Kinar dan Bang Tommy tahu kok waktu Kinar di antar pulang Bang Farhan dulu. Kebetulan dia itu temen suaminya Intan!" ucap Kinar seraya menatap pak Gatot, "tadi kami ngobrol di ruang makan itu karena Bang Farhan nanya foto Papah sama Kakek Amin, ternyata dia itu cucunya Kakek, Pah!" imbuh Kinar yang membuat Pak Gatot dan Tommy mengalihkan pandangan kearahnya.
Pak Gatot terkejut ketika Kinar menyebut nama seseorang yang sempat beliau rindukan itu. Sosok tua yang menuntun beliau berhenti dari dunia preman dan sejenisnya. Sayangnya, Pak Gatot tidak bisa mengunjungi kakek Amin ketika berada di akhir hayatnya.
"Kamu tahu dimana tempat tinggal temanmu itu?" tanya Pak Gatot setelah beberapa menit terdiam.
"Tidak lah Pah! Kinar belum sempat kenal lebih jauh!" ujar Kinar seraya melirik Tommy yang hanya diam di tempatnya.
Suasana ruang tamu itu mendadak sepi. Semua sibuk menyelami pikiran masing-masing. Malam ini kerinduan di hati Pak Gatot kepada sosok Almarhum seakan tak bisa dibendung lagi, beliau mendadak sedih karena sudah tidak bisa memberikan apapun disaat keadaan ekonominya melambung seperti saat ini. Pak Gatot ingat bagaimana Kakek Amin ikut merasakan hidup susah bersamanya, makan pun harus di bagi agar cukup di makan satu keluarga.
Suara ketukan pintu beberapa kali berhasil membuyarkan lamunan semua orang. Intan beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang datang. Senyumnya mengembang begitu saja ketika melihat siapa yang datang, ia menyambut kedatangan suaminya itu dengan senyum hangat.
"Silahkan masuk, Gus!" ucap Intan setelah membuka pintu itu.
"Mari pak, silahkan masuk!" Aji mengalihkan pandangannya ke samping.
Intan terkejut ketika melihat kehadiran Farhan dan kedua orang tuanya di sisi dinding ruang tamu. Ia segera membalikkan tubuhnya menghadap ke arah pak Gatot, "Pah, ada Pak Farhan dan orangtuanya!" ujar Intan yang membuat semua orang beranjak dari tempat duduknya.
Pak Gatot segera bangkit dari tempatnya, beliau ingin menyambut tamunya, "silahkan masuk Pak!" ujar Pak Gatot setelah menjabat tangan kedua orangtua Farhan.
__ADS_1
Akhirnya, semua orang duduk di ruang tamu. Mereka duduk di atas karpet yang dipakai saat lamaran Intan tadi pagi.
"Apa benar Bapak yang bernama Gatot Suratno?" tanya orangtua Farhan.
"Iya benar, saya Gatot Suratno, apa Anda ini putranya Pak Amin?" tanya Pak Gatot tanpa basa-basi lagi karena wajah ayahnya Farhan sembilan puluh persen mirip dengan Pak Amin.
"Iya Pak, saya putra semata wayangnya Pak Amin. Nama saya Arifin," ucap Pak Arifin dengan pandangan yang tak lepas dari Pak Gatot.
Akhirnya, mereka berdua membahas tentang Pak Amin. Semua yang ada di ruang tamu hanya diam ketika Pak Gatot dan Pak Arifin mencocokkan cerita yang dulu pernah di sampaikan Pak Amin kepada putranya itu sebelum meninggal dunia.
"Sebenarnya saya sudah lama mencari Anda tapi tidak ketemu. Saya sampai pindah ke Ciputat ketika anak saya ini diterima menjadi dosen di salah satu kampus yang ada di sini," ucap Pak Arifin seraya menepuk lengan Farhan.
"Oh iya Pak Gatot, tujuan saya datang menemui Anda malam ini adalah untuk menyerahkan ini," ucap Pak Arifin seraya memberikan map biru kepada Pak Gatot.
"Sebelum sakit parah Bapak memutuskan untuk mengalihkan semua hartanya atas nama saya, lalu Bapak memberikan sebagian perkebunannya untuk Pak Gatot. Jadi, yang ada di dalam map itu adalah sertifikat perkebunan dan surat dari Bapak saya untuk Pak Gatot," ucap Pak Arifin dengan pandangan yang tak lepas dari Pak Gatot.
"Pak, untuk apa Pak Amin memberikan semua ini kepada saya?" tanya Pak Gatot setelah membaca isi surat-surat yang ada di dalam map.
"karena Bapak juga menganggap Pak Gatot sebagai anaknya. Mohon di terima ya Pak, karena semua ini adalah keinginan terakhir almarhum," ucap Pak Arifin dengan sorot mata penuh harap.
Pak gatot terharu setelah mendengar penjelasan dari Pak Arifin. Rasanya semua ini seperti mimpi, beliau tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan semua ini dari kakek tua yang pernah beliau tolong di stasiun dulu.
"Ini semua anaknya Ibu dan bapak?" tanya istri Pak Arifin untuk memecah keheningan yang terasa di ruang tamu ini.
"iya Bu, ini anak-anak kami, yang satu ini baru lamaran tadi pagi," ucap Bu Leni sambil menepuk paha Intan, "Yang ini namanya Kinar dan yang ada di sudut itu anak sulung saya, namanya Tommy," ucap Bu Leni sambil menunjuk Kinar dan Tommy.
"Oh, jadi ini yang namanya Kinar. Gadis kecil yang dulu sering di ceritakan Bapak. Katanya Kinar dulu nakal ya, suka bikin temennya nangis!" sahut Pak Arifin, hal itu membuat Kinar melebarkan matanya.
__ADS_1
"Tidak Om! saya tidak nakal," ucap Kinar sambil menggelengkan kepalanya.
Semua yang ada di ruang tamu tergelak setelah melihat ekspresi yang di tampilkan oleh Kinar. Begitu pun juga Farhan, ia bisa tersenyum lepas setelah melihat gadis yang duduk di samping ibunya itu. Ada keunikan tersendiri yang membuat Farhan tak melepaskan pandangannya dari gadis bertato itu.
"Pak, kami permisi dulu. Kapan-kapan kita sambung silahturahmi ini lagi ya pak," ucap Pak Arifin setelah bertamu cukup lama di rumah Pak Gatot ini.
"Terima kasih Pak atas semua yang bapak berikan malam ini, semoga kedepannya hubungan persaudaraan ini semakin lebih baik ya Pak," ucap Pak Gatot sebelum merengkuh tubuh Pak Arifin.
Setelah pamit kepada semua anggota keluarga Pak Gatot, akhirnya Farhan dan orangtuanya segera pergi dari rumah ini. Aji menatap kepergian sahabatnya itu sampai hilang dari pandangan.
"Kamu sudah selesai bantu-bantu Mamah?" tanya Aji setelah masuk ke ruang tamu untuk menemui Intan.
"Sudah, mau pulang sekarang kah?" tanya Intan.
Aji hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan istrinya itu. Mereka harus segera pulang karena Aji sendiri merasa lelah hari ini.
"Kami pamit pulang ya Mah, Pah," ucap Intan setelah menjabat tangan kedua orang tua angkatnya itu.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️ 😍
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷