
Suasana pendopo itu terasa sunyi sepi karena Aji dan Kyai Yusuf sama-sama membisu. Aji belum berani menegakkan kepalanya, ia tahu bahwa Kyai Yusuf saat ini pasti sedang marah kepadanya. Dada Aji terasa sesak membayangkan hukuman apa yang di jatuhkan Kyai Yusuf untuknya.
"Jelaskan alasannya! kenapa kamu melakukan semua itu?" akhirnya Kyai Yusuf mengeluarkan suaranya.
Aji mulai menegakkan kepalanya, ia menurunkan kedua tangannya dan di letakkan di atas paha. Pandangannya lurus ke depan, menatap kedua mata teduh sang Ayah.
"Aji sudah menemukan Tata, Bah." Aji menghirup napasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "selama ini dia tinggal di Tangerang, Bah," ucap Aji tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"lalu apa hubungannya dengan Aga?" Kyai Yusuf mulai tertarik dengan kabar yang di sampaikan oleh Aji.
"Tata kabur akibat di lecehkan oleh Aga, Bah."Kilat amarah kembali terlihat dari sorot mata Aji.
Aji menceritakan semua kejadian yang di alami Intan empat tahun yang lalu. Ia pun menjelaskan bagaimana keadaan Intan saat ini. Suaranya bergetar ketika membahas tentang kerapuhan yang di alami Intan selama ini.
"Jadi karena Tata kamu mematahkan tangan sepupumu sendiri, Ji?" tanya Kyai Yusuf setelah Aji selesai bercerita.
"Iya, Bah. Aji tidak terima karena Aga yang menghancurkan masa depan gadis—" Aji menjeda ucapannya, ia hampir saja kelepasan di hadapan Kyai Yusuf.
"Aji menerima jika Abah menghukum tangan Aji." Aji kembali menyodorkan tangannya di hadapan Kyai Yusuf.
Kyai Yusuf berdiri dari tempatnya, beliau berjalan menuju sudut pendopo untuk mengambil tongkat rotan yang tersimpan di sana. Kyai Yusuf kembali ke hadapan Aji untuk memberikan sebuah pelajaran kepada putranya itu.
"Perbuatan yang di lakukan Aga memang harus mendapat hukuman. Tapi Abah juga perlu menghukummu, Ji! Kenapa kamu menggunakan ilmu pencak silatmu untuk menyakiti sepupumu sendiri?" tanya Kyai Yusuf seraya mengetukkan tongkat rotannya di lantai.
"Menghukum Aga bukanlah tugasmu! katakan pada Abah, kenapa kamu menghukum Aga? Apa dia mempunyai kesalahan kepadamu hingga kamu tega mematahkan tangannya?" Kyai Yusuf mulai memancing putra itu untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Tentu, Bah! dia sudah merenggut kesucian Tata. Dia sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Aji!" ujar Aji dengan kepala yang menengadah untuk menatap wajah sang Abah.
Rupanya, umpan yang di berikan Kyai Yusuf tepat pada sasarannya. Aji telah terjebak dengan pertanyaan Kyai Yusuf, hal itu membuat Kyai Yusuf mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Aji kembali menundukkan kepalanya, ia merutuki ke-bo-do-han-nya dengan mengucapkan jawaban seperti itu. Aji tak bisa lagi mengelak di hadapan Kyai Yusuf tentang apa yang baru saja terucap dari bibirnya.
"Aji siap menerima hukuman, Bah! Aji yang salah karena tidak bisa mengendalikan emosi!" ucap Aji tanpa berani menatap Kyai Yusuf. Ia mengangkat kedua telapak tangannya dan bersiap menerima hukuman dari sang Ayah.
"Bagus!" gumam Kyai Yusuf. Beliau segera memukulkan ujung tongkatnya di atas telapak tangan Aji.
"Awww!" Aji meringis kesakitan ketika merasakan rasa sakit dari rotan legendaris itu. Kyai Yusuf selalu menghukum semua anak-anaknya dengan tongkat rotan itu jika terbukti bersalah. Aji sudah tiga kali ini merasakan kerasnya tongkat rotan itu di tangannya.
"Abah harap setelah ini kamu menjadi pria yang lebih bijak! Abah tidak suka melihat orang yang berilmu seperti mu menghakimi kesalahan orang lain," ucap Kyai Yusuf setelah duduk kembali di hadapan Aji
Aji masih menundukkan kepalanya. Ia menatap kedua telapak tangannya yang menjadi merah karena rotan tersebut. Ia tahu rasa sakit yang ada di telapak tangannya mungkin tidak sebanding dengan yang dirasakan Aga saat ini.
"Bah, tolong jangan ceritakan semua ini kepada Ummi, Aji takut Ummi sakit jika mendengar berita ini. Aga sendiri yang meminta Aji untuk menutup masalah ini agar tidak di ketahui oleh orang lain," ucap Aji setelah menegakkan kepalanya.
Kyai Yusuf menatap kedua manik hitam Aji, beliau sedang mencari sesuatu yang sedang di sembunyikan putranya itu, "apa kamu mencintai Tata?" tanya Kyai Yusuf setelah beberapa menit terdiam.
Aji tertegun mendengar pertanyaan dari Abahnya. Kali ini mau tak mau, Aji harus berkata jujur bagaimana perasaannya kepada Intan, karena ia sendiri masih bingung harus bagaimana kepada Intan, ia masih ragu karena kesucian yang telah hilang dari gadis itu.
"Apalagi yang membuatmu bingung? bukankah kamu sudah menemukannya? ajak pulang dan menikahlah!" ucap Kyai Yusuf tanpa ragu.
"Bah, masalahnya Tata sudah tidak suci lagi. Dia juga sudah berubah, Bah. Dia gadis yang berbeda dari yang dulu kita kenal," ujar Aji dengan suara yang bergetar. Ia sendiri menjadi bingung untuk menyikapi semua yang sudah terjadi, "kenapa Allah menuliskan takdir seperti ini untuk Aji, Bah?" lanjut Aji seraya menghela napasnya setelah itu.
Kyai Yusuf hanya diam, beliau menatap wajah putranya yang terlihat gusar itu. Ini adalah hal yang serius karena selama ini Aji tak pernah berbicara hal-hal yang tidak penting jika duduk berhadapan dengan beliau seperti saat ini.
"Ji ..." ucap Kyai Yusuf, "sekarang Abah ingin bertanya, nama siapa yang sering kamu sebut dalam doamu selain orang tua dan keluargamu?" Kyai Yusuf bersikap lebih tenang kali ini.
Aji memutar bola matanya untuk memantapkan hati menjawab pertanyaan kecil dari sang Abah, "tentu saja Intan Rahma Ayunda, Bah." Aji menjawab pertanyaan Kyai Yusuf tanpa ragu.
"Lalu, kenapa kamu menyalahkan Allah? bukan kah Allah telah menjawab semua doa dan keinginanmu?" tanya Kyai Yusuf, "Allah sudah mengabulkan doamu, mempertemukan Tata denganmu di Tangerang, bukankah Allah sudah memenuhi apa yang kamu inginkan selama ini?" Kyai Yusuf melemparkan sebuah pertanyaan yang sulit di jawab oleh Aji.
__ADS_1
Aji hanya diam sambil mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh Kyai Yusuf. Ia menundukkan wajahnya lagi sambil berpikir dan menelaah semua pertanyaan yang baru saja ia dengar. Ia merasa tertampar karena kalimat yang terucap dari Abahnya itu.
"Tapi Bah, apa yang harus Aji lakukan agar ikhlas menerima keadaan Tata yang sekarang?" Aji kembali di landa rasa ragu.
"Gampang! lakukan semua karena Allah. Pasrahkan hidupmu kepada Allah! Cinta yang besar bisa menghapus semua keraguanmu, Ji!" ujar Kyai Yusuf sambil menatap Aji dengan tatapan yang tajam.
"Sekarang dengarkan Abah!" Kyai Yusuf mengubah posisi duduknya.
"Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah. Entah itu ketidaksucian, kejahatan, hal-hal yang buruk dan semua yang tidak kamu sukai di dunia ini. Kamu jangan sampai membenci semua itu, Nak! karena semua itu terjadi atas kehendak Allah."
"Jika kamu hanya suka dengan hal-hal yang baik saja, lalu bagiamana dengan yang buruk? bukankah Allah menciptakan isi dunia ini berpasangan? ada siang dan malam. Ada wanita dan pria. Ada baik dan buruk. Ada kiri dan kanan."
"Kamu jangan sampai lupa, Nak! bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Tata tidak suci pun karena takdir yang di gariskan oleh Allah. Lalu kenapa kamu meragukan gadis itu, jika kamu sudah tau semua ini terjadi karena kehendak Allah?"
Aji hanya menundukkan kepalanya setelah mendengar nasihat dari Kyai Yusuf. Ia menghela napasnya dalam karena lupa dengan semua hal itu. Ia terlena dengan keindahan dunia saja tanpa memahami bahwa semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Aji semakin tertampar setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Kyai Yusuf.
"Renungkan lah semua nasihat dari Abah! jangan sampai kamu menjadi hakim atas dosa orang lain!"
_
_
Wah hari senin nih😀yang punya vote nganggur boleh dong di kasihkan ke othor😍
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷