
Semburat rona jingga telah terlihat di cakrawala timur. Sang Raja sinar mulai bangun dari tidur nyenyaknya—bersiap untuk menampakkan keangkuhannya setelah ini. Udara segar kota Jombang akhirnya bisa dirasakan Aji dan Intan. Mobil yang mereka tumpangi pun sudah keluar dari jalan tol. Kini mereka dalam perjalanan menuju tempat yang mereka rindukan selama ini.
Jalanan kota Jombang masih sepi, Aji melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah abahnya. Ia pun sudah lelah setelah terjaga selama semalaman suntuk.
"Gus! nanti kalau ada Rahma di sana bagaimana?" tanya Intan setelah teringat bahwa setelah ini ia akan sering bertemu dengan Rahma—gadis penguntit suaminya itu.
"Kan kemarin udah dihukum sama ummi," jawab Aji tanpa menatap Intan.
Entah mengapa, meskipun Rahma sudah dipindahkan menjadi pengurus pondok, tetap saja Intan merasa khawatir jika dirinya dan Aji berada di Jombang. Sungguh, gadis itu seperti predator yang sedang mengincar mangsanya.
"gak usah khawatir! aku tidak tertarik sedikitpun dengan gadis itu," ucap Aji setelah menatap Intan sekilas, ia bisa melihat gurat kekhawatiran di wajah istrinya itu.
Intan hanya mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan sang suami. Seharusnya Intan bersikap tenang karena ia lah pemenangnya, Ia sang pemilik hati seorang Ajisaka.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit dari gerbang tol, akhirnya mobil putih Aji berhenti di halaman luas rumah kyai Yusuf. Mereka segera keluar dari mobil tanpa membawa barang-barang yang ada di dalam mobil.
Kedatangan Aji dan Intan disambut hangat oleh ummi Sarah dan abah Yusuf yang sedang duduk santai di ruang keluarga. Mereka ikut duduk di sana, ngobrol santai dengan kedua orangtua nya itu.
"Kalian berdua istirahat dulu, nanti kita bicara lagi," tukas abah Yusuf setelah melihat wajah lelah putranya itu.
"iya Bah, kalau begitu kami ke kamar dulu," ucap Aji sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Sepasang suami istri itu segera masuk ke kamar. Aji menghempaskan diri begitu saja di atas ranjang tanpa ganti baju atau melepas jaketnya. Ia terlalu lelah karena terjaga sepanjang malam.
"loh, cepet banget tidurnya!" ujar Intan setelah mendengar dengkuran halus di dalam kamar itu.
Intan berjalan menuju ranjang—di mana suaminya terlelap dalam alam mimpi yang indah. Ia melepas sneaker yang masih melekat di kaki itu, tak lupa ia juga melepas kaos kaki berwarna hitam yang masih terpasang di kaki suaminya itu.
Intan berjalan menuju almari Aji, ia ingin mencari kaos Aji yang bisa dipakai untuk tidur. Ia malas untuk turun lagi membongkar koper yang masih ada di dalam mobil.
"Nah! ini sepertinya pas dipakai tidur!" gumam Intan setelah menemukan kaos oversize hitam milik suaminya. Ia segera mengganti pakaian syar'i yang melekat ditubuhnya saat ini dengan kaos lengan pendek milik suaminya.
__ADS_1
Intan menghela napasnya panjang karena merasa lega setelah melepas syar'i nya. Ia pun menghempaskan diri disisi Aji dan mulai bersiap untuk berangkat ke alam mimpi yang indah.
...🌹🌹🌹🌹...
Hari yang di nanti Aji dan Intan akhirnya tiba. Besok pagi adalah akad nikah resmi mereka. Semua persiapan telah selesai dilakukan. Rapak pun sudah di gelar dua minggu yang lalu. Semua undangan pernikahan telah tersebar sesuai dengan alamat yang ada.
Pernikahan mereka berdua akan di gelar di halaman rumah abah Yusuf yang sangat luas itu. Dekorasi, pelaminan dan tenda pernikahan tema arabian pun sudah terpasang dengan megah di halaman tersebut.
Semua orang disibukkan dengan segala persiapan untuk besok pagi. Aji dan Intan pun sibuk membantu keluarganya untuk menata beberapa souvernir di tempat yang sudah di sediakan.
Keluarga dari Tangerang sudah tiba sejak tadi pagi. Mereka di tempatkan di salah satu rumah abah Yusuf yang ada di desa sebelah. Farhan dan keluarga pun ikut datang ke Jombang, tapi mereka menginap di hotel yang tak jauh dari pusat kota.
Dari jarak yang cukup jauh, Rahma mengamati semua yang ada di halaman rumah abah Yusuf. Jujur saja ia sangat sedih karena pada akhirnya ia tak mempunyai cara untuk bisa mengalahkan Intan. Rahma mengusap air matanya ketika melihat Aji tertawa lepas bersama Intan dan keluarganya.
"Harusnya besok aku yang duduk di pelaminan itu," gumam Rahma ketika menatap pelaminan megah.
Gadis itu masih berharap Aji akan menjadi suami masa depannya. Tapi harapannya harus di patahkan karena ternyata pria idamannya itu tak mempunyai rasa sedikitpun kepadanya.
Rahma beranjak dari tempatnya, ia harus segera pergi karena tak tahan untuk melihat kebahagiaan di antara suami istri itu. Lebih baik ia membantu kegiatan di dapur saja, meskipun hanya mengupas bawang di sana, itu jauh lebih baik.
Sementara itu, di depan teras rumah. Aji dan Intan sedang duduk berdampingan seraya menatap tenda pernikahan yang sangat indah itu. Kedua tangan itu pun saling menggenggam erat, sesekali tatapan mereka bersirobok dengan diiringi senyum yang tak ada habisnya.
"ehem!! mau nyebrang kemana nih?" tiba-tiba terdengar suara Ninis di belakang sepasang suami istri itu.
"opo toh Ning?" tanya Aji saat memalingkan wajahnya ke arah Ninis.
"Gandengan mulu sih kalian! takut di ambil orang ya!" kelakar Ninis ketika duduk di samping Intan.
Intan mengulum senyumnya setelah mendengar Ninis berkelakar. Ia hanya menatap kakak iparnya itu dengan senyuman yang sangat manis.
"Cie, yang besok resmi jadi suami istri." Ninis semakin menggoda Intan yang tersipu itu.
__ADS_1
"Sekarang kan udah jadi suami istri, Ning!" jawab Intan.
"Tapi kam gak punya surat nikah weeh!" sarkas Ninis, ia tak mau kalah jika sudah berhadapan dengan Aji.
"yang penting halal!" ujar Aji dengan percaya diri.
"udah halal kok belum di apa-apain!" Ninis menjulurkan lidahnya ke arah Aji. Sepertinya ia menang dalam perdebatan kali ini.
Intan tertegun setelah mendengar ucapan Ninis. Ia teringat jika Aji belum pernah merasakan madu dalam pernikahan siri ini. Senyum Intan pun langsung pudar karena rasa bersalah itu semakin menyesakkan dadanya saja.
"Besok kan masih bisa Ning di apa-apain!" jawab Intan tanpa berpikir panjang.
"Hah serius nih?" sahut Aji setelah mendengar kode itu dari Intan.
Ninis tertawa lepas melihat kelakuan aneh adiknya itu. Bisa-bisanya mereka membahas masalah intim di hadapannya tanpa rasa malu sedikitpun. Ninis hanya menggelengkan kepalanya setelah mendengar obrolan adiknya itu.
"Aji pancen ora waras kok!" ujar Ninis sebelum meninggalkan Aji dan Intan.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1