
Dua bulan kemudian ....
Semakin lama cinta yang tumbuh di antara Intan dan Aji semakin besar. Mereka melewati hari-hari yang indah dengan diiringi cinta dan kasih yang tiada habisnya. Perlahan rasa trauma Intan mulai hilang, tubuhnya tak lagi bergetar ketika Aji mulai menyentuhnya, hanya saja sejauh ini mereka belum melakukan hubungan suami karena Intan belum sepenuhnya melupakan rasa sakit yang pernah dilakukan oleh Aga.
Setiap hari Intan bekerja di studio dari pagi hingga sore, ia tak mengambil jam malam seperti biasanya. Saat malam Ia harus stay di rumah untuk menemani suami tercinta. Kehidupan damai benar-benar dirasakan oleh Intan meskipun dikelilingi emak-emak komplek yang sedikit julid.
Kehadiran Intan seakan menjadi pintu pembuka rezeki Aji. Kafe yang ia kelola bersama berjalan dengan lancar. Menu-menu baru telah di tambahkan, hal itu membuat omset kafe semakin meningkat karena orang-orang di sekitar Ciputat mulai mengenal kafe itu.
Aji sendiri sudah mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar Intan minggu depan. Ia sudah menyiapkan seserahan yang akan dibawa ke rumah pak Gatot. Keluarga Jombang pun sudah siap berangkat ke Tangerang dua hari sebelum acara, hanya keluarga inti saja yang ikut melamar Intan.
Semua uang yang didapat Intan dari gaji menjadi Tato Artist telah ia gunakan untuk biaya penghapusan tatonya. Kini tato yang ada di kaki dan tangan Intan telah hilang sembilan puluh persen. Gadis itu telah berjuang melawan rasa sakit demi berubah menjadi istri yang shalihah setelah ini.
"Jangan menghapus tato di da-da dan punggungmu dulu! aku tidak mau melihat kamu kesakitan lagi."
Ya, itulah yang pernah dikatakan Aji setelah melihat sendiri bagaimana Intan melawan rasa sakit saat penghapusan tato di tangannya. Aji tidak tega melihat Intan menjerit kesakitan, ia tidak bisa membayangkan jika rasa sakit itu menyerang permukaan bukit yang belum sepenuhnya ia nikmati itu.
Aji sudah pernah mencoba melakukan proses pembuatan Saka Junior, tapi semua itu harus terhenti karena Intan tiba-tiba saja histeris ketika melihatnya tanpa sehelai benang pun, kenangan buruk itu kembali terputar di memori Intan. Alhasil Saka Junior gagal OTW.
Seperti saat ini, sepasang suami istri itu sedang memadu kasih di ruang tengah. Mereka membiarkan televisi di ruangan itu menyaksikan bagaimana kedua bibir itu saling menyesap, tarian lidah yang lincah pun mengiringi kegiatan mereka. Tentu saja kegiatan ini bukanlah yang pertama kalinya untuk mereka.
Suara dering ponsel yang ada di samping bantal membuat mereka harus menghentikan kegiatannya. Aji melepaskan kungkungannya dan segera meraih ponsel itu, ia segera menggeser icon hijau di layar ponselnya setelah melihat nama Ninis di sana.
Obrolan serius terdengar di ruang tengah itu, Intan pun bangkit dari tempatnya. Ia duduk di samping Aji seraya mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu.
"Ada apa, Gus?" tanya Intan setelah Aji meletakkan kembali ponselnya di atas karpet.
__ADS_1
"tidak ada apa-apa, tadi ning Ninis cuma bilang kalau Ning gak bisa ikut melamar kamu karena Ning harus menjaga rumah," ucap Aji seraya merebahkan kepalanya di atas paha Intan.
"memang kenapa rumahnya di jaga, kan ada mbok Sumi dan Santi," jawab Intan seraya mengusap rambut Aji, ini adalah kebiasaan baru yang ia lakukan di saat malam—mengusap kepala suaminya hingga terlelap.
"Aga sudah kembali ke pondok putra," ucap Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Intan terkejut karena kabar itu, tubuhnya meremang ketika teringat seringai jahat yang pernah ia lihat dari wajah penghancur masa depannya itu. Intan bergidik ngeri dengan mata yang terpejam ketika memori otaknya masih menyimpan semua kejadian itu.
"Maka dari itu Ning gak bisa ikut ke sini. Ning tidak mau kecolongan lagi seperti dulu. Ya ... meskipun Aga sendiri tidak pernah ke ndalem." ucap Aji seraya bangkit dari pangkuan Intan.
"Ayo ke kamar! ini sudah malam, waktunya istirahat." Aji mengulurkan tangannya ke arah Intan. Ia menarik telapak tangan yang ada di genggamannya agar Intan segera berdiri.
Pemanasan yang sempat terjadi itu pun harus tertunda karena Aji tak mungkin melanjutkan semua itu setelah melihat ekspresi yang ditunjukkan Intan. Sabar, mungkin itulah sikap yang sedang di terapkan Aji dalam penantiannya, ia tidak pernah memaksa Intan walau ia sendiri sudah di buat penasaran dengan rasa madu milik istrinya.
Hari yang ditunggu Intan akhir tiba. Sejak kemarin sore Intan sudah berada di kediaman Pak Gatot untuk membantu persiapan lamarannya. Aji sendiri yang mengantar Intan kesana setelah keluarganya datang ke kota ini.
Acara lamaran itu akan diselenggarakan pagi ini. Tentu saja pagi ini semua orang yang ada di rumah pak Gatot sedang disibukkan dengan segala persiapan. Semua hidangan sudah berjajar rapi di tempat masing-masing. Kini mereka semua sedang mempersiapkan penampilan yang terbaik untuk menyambut keluarga kyai Yusuf yang akan datang satu jam lagi.
"eh Piranha! elu mau ngapain?" tanya Intan setelah melihat Kinar menata kerudung berwarna senada dengan pakaiannya saat ini.
"gue pengen pakai kerudung lah!" ujar Kinar tanpa menatap Intan. Ia sibuk mencocokkan kerudung dengan ciput yang senada.
"lu mimpi apa sih kok mau pakai kerudung?" tanya Intan seraya meletakkan lipstiknya.
"Sahabatnya laki lu pasti ikut 'kan?" tanya Kinar ketika dirinya mulai memakai kerudung pastel itu.
__ADS_1
"jadi lu masih ngincer Pak Farhan?" tanya Intan seraya mengerutkan keningnya.
Kinar hanya tersenyum ke arah Intan. Ia malu untuk mengatakan jika dirinya mempunyai rasa kepada pria yang belum move on dari calon istrinya itu. Beberapa kali Kinar bertemu dengan Farhan ketika dirinya berada di rumah Aji.
Semua persiapan telah selesai dilakukan. Tepat pukul sembilan pagi, Aji dan keluarganya telah sampai di kediaman pak Gatot. Mereka mendapat sambutan hangat dari keluarga besar mantan preman itu.
Satu persatu rangkaian acara telah dilaksanakan. Kini tibalah saatnya acara tukar cincin. Intan dan Aji berhadapan di depan backdrop yang sudah di desain dengan indah itu. Keduanya bergantian menyematkan cincin pertunangan dengan iringan sholawat yang menggema di ruang tamu itu.
"Sebenarnya ini acara apa sih Mbak? wong ya sudah nikah siri kok ya pakai acara lamaran segala," bisik istri Gus Aslam kepada istri Gus Sholeh.
"entahlah! kita lihat saja bagaimana setelah ini, apakah ummi tidak salah milih mantu?" gumam istri Gus Sholeh dengan pandangan yang tak lepas dari sepasang sejoli yang sedang tersenyum bahagia itu.
Kedua menantu ummi Sarah itu sedikit tidak suka dengan Intan. Tentu saja semua itu karena Intan sudah berubah menjadi sosok yang berbeda—bukan Intan yang pemalu seperti yang mereka kenal dulu.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1