
Suara adzan magrib telah selesai berkumandang. Keluarga Kyai Yusuf sholat berjamaah di ruang ibadah yang di sediakan di dalam rumah. Intan pun ikut bergabung di sana, ia berada di antara Ummi Sarah dan Ninis. Kewajiban tiga rakaat akhirnya selesai di laksanakan. Aji lah yang di tunjuk Kyai Yusuf untuk menjadi imam.
Rencana Intan pulang ke rumah bibi nya setelah ashar harus di tunda karena tadi sore Kyai Yusuf ingin bertemu dengan Intan. Beliau berbicara empat mata dengan Intan di pendopo yang ada di belakang, bahkan Ummi Sarah tak di izinkan untuk ikut bersama Kyai Yusuf.
Semua keluarga Kyai Yusuf berkumpul di ruang tamu, Ummi Sarah mencoba bersikap biasa saja walau sorot matanya masih menyiratkan kekecewaan yang besar.
"Ummi ingin ikut mengantar Intan ke Lamongan, Ji," ucap Ummi Sarah setelah Intan pamit pulang. Hal itu membuat Aji menaikkan satu alisnya.
"Ummi yakin mau ikut?" Ninis menatap Umminya dengan wajah yang tak percaya, "ini perjalanannya lumayan loh Mi, nanti lewat hutan juga," lanjut Ninis.
"Iya, Ummi yakin!" jawab Ummi Sarah dengan tegas, "Ummi ambil tas dulu ya," pamit Ummi kepada semua anggota keluarganya.
Kyai Yusuf hanya diam saja, beliau tidak mau membuat istrinya itu kecewa karena tidak diizinkan untuk pergi bersama Aji. Sesungguhnya, Kyai Yusuf sendiri berat untuk membiarkan Intan pulang malam ini tapi mau bagaimana lagi, gadis itu tidak nyaman berada di sini karena sikap dingin Ummi Sarah.
Semua keluarga Kyai Yusuf berdiri di halaman rumah untuk mengantar keberangkatan Aji dan kedua wanita berbeda generasi itu. Mobil putih Aji pun akhirnya berangkat menuju Lamongan, tempat tinggal bibi Intan yang baru.
Keheningan terasa di dalam mobil yang sedang melaju kencang itu. Ummi Sarah duduk di belakang, beliau mengawasi interaksi putranya dan wanita yang duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
Intan merasa tidak nyaman dengan situasi yang ia rasakan saat ini. Sesekali ia menatap Aji yang sedang fokus pada laju kendaraannya. Rasa canggung itu hadir karena sebuah tato yang terukir indah di tubuhnya. Intan sangat berharap situasi ini segera hilang, ia pun berdoa agar kebekuan Ummi Sarah segera mencair seiring dengan berjalannya waktu.
"Allah itu sangat mencintai semua makhluknya, Nak. Allah mengharamkan sesuatu hal bukan karena Allah membenci hal itu, tapi karena Allah sayang kepada umatnya. Allah tidak ingin tubuh umatnya menjadi rusak,"
"Coba pikirkan ucapan Abah ini. Bukankah kamu tahu sendiri bagaimana rasanya di tato? sakit kan, Nak? Nah, itulah salah satu alasan Allah melarang umatnya untuk menato tubuhnya,"
"Abah tidak menyalahkan keadaanmu saat ini, Nak, karena Abah tau, semua yang kamu lakukan selama empat tahun ini pun, terjadi atas kehendak Allah,"
"Abah hanya berharap, kamu segera kembali. Jika kamu tidak tahu jalan pulang, maka Abah dan Aji yang akan menunjukkan petanya. Kembalilah, Nak! itupun jika kamu sudah siap,"
"Apa yang kamu dapatkan dari protes kepada Allah?"
__ADS_1
Ya, semua ucapan Abah Yusuf tadi sore berhasil mengobrak-abrik perasaan Intan. Intan terus memikirkan setiap nasihat yang diucapkan Abah Yusuf, semua yang di katakan Abah Yusuf memanglah benar. Intan merasakan sakit di tubuhnya ketika proses pengerjaan tato, ia pun kembali merasakan sakit ketika harus menghapus tato itu.
"Tidak! aku tidak menyesal atas apa yang aku lakukan di Tangerang. Aku justru bersyukur karena aku bisa mendapatkan banyak pengalaman hidup sebagai Intan, anak angkat mantan preman." gumam Intan dalam hatinya.
Tak terasa kini mobil yang di kendarai Aji mulai masuk ke kawasan hutan Manting. Hutan yang tidak panjang dan tidak lebat. Beberapa kendaraan pun masih ada yang melewati jalan ini menuju Lamongan agar lebih cepat sampai.
"Gus! Stop! jangan lewat jalur itu!" teriak Intan tatkala Aji memutar setirnya ke jalan lain, karena jalan utama yang ia lewati terhalang mobil yang malang melintang di jalan.
"Kenapa? bukankah itu ada penunjuk arah kesana? mobil itu mogok di tengah jalan, mungkin jalannya sengaja dialihkan, Tan!" ujar Aji tatkala melihat petunjuk jalan yang tak jauh dari mobil itu.
"Kita tunggu pengendara lain saja, Gus! mungkin ini hanya sebuah jebakan." Intan menatap Aji dengan wajah penuh harap. Hidup di Tangerang membuatnya peka terhadap hal-hal seperti ini.
"Daripada berhenti di tengah hutan lebih baik jalan terus saja, Ji. Mungkin itu memang jalan lain yang bisa di lewati," ucap Ummi Sarah setelah mengamati interaksi Aji dan Intan.
Aji akhirnya mengarahkan setir mobilnya sesuai dengan petunjuk jalan ke arah lain. Tanpa ragu ia mulai lewati jalan yang sangat gelap itu. Sementara itu, tubuh Intan semakin tegang karena mengamati situasi yang ada di hadapannya. Ia membuka dasboard mobil Aji untuk mencari sesuatu ketika pandangannya melihat beberapa orang menghadang jalannya.
"Astagfirullah!" teriak Ummi Sarah ketika melihat mobil Aji di hentikan lima orang bertubuh besar.
Aji berpikir sejenak sebelum turun untuk menemui kelima pria yang sedang berkacak pinggang itu, ia mengatur strategi untuk menghadapi mereka semua, "Jaga Ummi di sini, jangan ikut turun! jika memungkinkan untuk mencari bantuan, lakukannlah!" ucap Aji sebelum keluar dari mobil.
Ummi Sarah sangat takut melihat putranya berhadapan dengan kawanan perampok yang ada di sana. Beliau terus menangis dan berdoa agar mereka semua selamat dan segera pendapat pertolongan. Derai air mata terus membasahi pipi Ummi Sarah ketika melihat putranya mulai bertarung dengan kelima orang tersebut.
Intan merogoh ponselnyanya. Ia menekan angka di layar ponselnya untuk menekan nomor darurat kantor polisi, "Gus!" teriak Intan ketika lengan Aji terkena sayatan senjata tajam. Intan meletakkan ponselnya begitu saja.
"Ummi! saya harus menolong Gus Aji! Ummi tetap di sini saja ya!" ucap Intan sebelum keluar dari mobil.
"Jangan, Nak! jangan!" teriak Ummi Sarah, tapi semua itu sia-sia karena Intan tetap keluar dari mobil.
Intan berlari ke tempat Aji di keroyok. Ia melepas kerudungnya ketika dekat dengan Aji, "Stop!! jangan main keroyokan!" teriak Intan ketika berada di sana, "Setelah ini kita tarung saja satu lawan satu! tapi tunggu aku mengobati luka ini!" teriak Intan tanpa rasa takut sedikit pun.
__ADS_1
Intan segera mengikat lengan Aji yang terluka dengan kerudungnya. Aji pun meringis kesakitan atas apa yang di lakukan Intan, jujur saja Aji sedang mengkhawatirkan Intan saat ini karena ia belum tahu jika Intan biasa ikut bentrok.
"lebih baik kamu mundur saja! kami tidak suka melawan wanita! atau serahkan mobil kalian sekarang juga!" ujar salah satu pria bertubuh kekar itu.
"Cih! jangan mimpi!" Intan semakin membuat kelima orang tersebut murka.
Pertarungan kembali terjadi, Intan dan Aji berusaha semaksimal mungkin melawan lima pria yang kuat tersebut. Intan terus menyerang pria yang lebih muda dengan beberapa trik yang pernah di ajarkan Tommy dulu.
Dada Ummi Sarah semakin sesak tatkala melihat Aji dan Intan menghadapi lima orang tersebut. Beliau turun keluar dari mobil ketika keadaan aman. Berbekal kekuatan yang masih ada dalam diri beliau, Ummi Sarah berjalan cepat ke arah jalan utama. Beliau berharap mendapat bantuan di sana, Ummi Sarah tertatih-tatih melewati jalan makadam itu, beliau tidak takut berjalan seorang diri dalam gelapnya hutan ini.
"Aww!" teriak Intan ketika tubuhnya tersungkur di tanah karena terkena tendangan musuhnya.
Intan terlihat kelelahan melawan musuh yang tak imbang itu. Ia menatap Aji yang sedang melawan empat orang sekaligus. Intan terhenyak ketika melihat pria yang ada di belakang Aji mengangkat kayu yang cukup besar.
"Gus!" teriak Intan saat berlari ke arah Aji. Ia mendekap tubuh Aji dari belakang dan akhirnya Intanlah yang harus menerima kerasnya kayu itu di kepalanya.
Aji tecengang, ia menggenggam erat tangan yang ada di pinggangnya agar tubuh yang lemah itu tidak ambruk di tanah. Kelima pria bertubuh kekar itu pun segera pergi dari sana ketika mendapat kesempatan membawa kabur mobil Avanza putih itu. Sayangnya, kelima perampok itu harus gigit jari, ketika tak menemukan kunci mobil Aji di sana.
"Intan ... Tan!" teriak Aji, saat ini ia sedang duduk di jalan makadam itu sambil memangku Intan yang sudah tak sadarkan diri. Aji panik karena darah yang keluar dari kepala Intan cukup banyak.
"Intan ...."
_
_
Maaf ya up nya telat😂 semalam othor ada acara jadi gk sempat nulis😁
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷