
Dua hari telah berlalu begitu saja, kondisi Intan mulai membaik, napsu makannya mulai kembali seperti sebelumnya. Hal itu membuat tubuhnya lebih bertenaga. Namun, rasa kesall kepada Aji sepertinya sulit untuk dihilangkan meski sikapnya tak sedingin kemarin lusa.
Ninis sampai saat ini masih menginap di rumah abah Yusuf. Dia lah yang menemani Intan dan memberinya semangat agar tidak terlarut dalam kesedihan yang di selimuti amarah.
"Kamu sudah makan, Dik?" tanya Ninis setelah duduk di samping Intan.
"Sudah, Ning ... tadi sebelum Mas Aji berangkat," jawab dengan suara yang lirih.
Aji ke rumah sakit untuk menjemput ummi Sarah. Kesehatan ibu mertua Intan itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Sejak kemarin ummi Sarah terus memaksa pulang setelah mendengar Intan sakit.
"Dik, aku lihat kemarin kamu sepertinya tidak suka sama Ning Firda, memang ada apa?" Ninis pura-pura tidak mengetahui permasalahan diantara Intan dan Firda.
Sekilas Intan menatap Ninis, helaian napas yang berat terdengar di sana. Sebenarnya Intan sendiri enggan untuk membahas ipar yang sangat ia benci itu, tapi ia belum lega jika tidak mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hati.
"Saya itu muak Ning dengan istrinya Gus Sholeh itu! dia itu bermuka dua, Ning!" ucap Intan sambil m-e-r-e-m-a-s rok levisnya.
"Kalau itu sih sudah dari dulu," jawab Ninis tanpa menatap Intan, pandangannya lurus ke depan sambil mengingat memori di masa lalu.
"Saya rasa si Pirda itu iri Ning sama saya. Mungkin dia itu sebenarnya tidak rela Gus Sholeh menikah lagi jadi dia memprovokasi ummi agar menyuruh Mas Aji mengikuti jejak gus Sholeh. Selama ini Mas Aji 'kan tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada saya, jadi si Pirda itu pasti iri lihat keromantisan kami," cerocos Intan dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat kesal, ia tidak mau memanggil iparnya itu dengan sebutan Ning lagi.
Ninis menepuk bahu Intan, ia berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan adik iparnya itu. Meski Ninis sendiri kesal dengan Firda, ia tidak mau jika ikut mempengaruhi Intan dengan menceritakan masalahnya dulu dengan Firda.
"Kamu tidak mandi?" tanya Ninis setelah mendengar suara adzan ashar telah berkumandang.
"Ning duluan saja, saya nyantai karena tidak sholat," jawab Intan seraya menatap Ninis.
"Ya sudah kalau begitu, aku bersiap ke mushola dulu," pamit Ninis sebelum berlalu dari hadapan Intan.
Kini tinggallah Intan seorang diri ruang keluarga, ia menatap layar televisi yang sedang menampilkan FTV di chanel ikan terbang. Awalnya Intan tertarik dengan drama yang ditayangkan tersebut tapi lama-lama ia menjadi kesal karena jalan ceritanya.
__ADS_1
"Drama seperti ini nih yang di contoh si Pirda!" gerutu Intan setelah menekan tombol off di remote control.
Intan memutuskan untuk pergi ke kamar saja, meski tidak mandi, setidaknya ia harus ganti baju dan memoles wajahnya dengan sedikit make-up.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Langit yang cerah perlahan mulai redup kala sang surya hilang bersama senja. Tepat setelah sholat magrib mobil yang dikendarai Aji telah sampai di halaman rumah. Kedatangan ummi Sarah di sambut oleh anak dan menantunya yang baru saja pulang dari mushola menunaikan kewajiban tiga rakaat.
"Ummi mau duduk diruang keluarga," pinta ummi Sarah ketika melewati ruang keluarga.
"kalian beberes dulu saja, nanti setelah isyak kalian kumpul lagi di sini karena ada yang akan ummi bahas bersama kalian," ucap ummi Sarah sambil menatap satu persatu anak dan menantunya.
Semua mengikuti perintah ummi Sarah, Aji dan Ninis berjalan menuju kamar masing-masing sedangkan Aslam dan Sholeh pulang ke rumah masing-masing.
"Firda! kemarilah sebentar!" ummi Sarah melambaikan tangannya agar menantunya kembali ke tempat beliau berada saat ini.
Senyum Firda mengembang begitu saja ketika mendengar perintah ummi Sarah, sepertinya ... rencananya akan berhasil kali ini, "baik, Mi ... Rahma akan saya panggil kesini," ucap Firda sebelum berlalu dari hadapan ummi Sarah.
Malam ini ummi Sarah terlihat bahagia meski wajahnya masih terlihat pucat. Entah apa yang membuat wanita paruh baya itu bahagia, yang pasti beliau tidak mau masuk kamar sebelum menyampaikan rencananya.
Detik demi detik telah berlalu ... waktu yang ditunggu ummi Sarah pun akhirnya tiba. Semua anak dan menantunya berkumpul diruang keluarga kecuali abah Yusuf dan Nuril. Abah Yusuf sedang menghadiri undangan untuk mengisi pengajian akbar di salah satu daerah yang ada di Jombang sedangkan Nuril baru saja kembali ke rumahnya tadi pagi.
Intan tak sedikitpun mengembangkan senyumnya, ekspresinya terlihat datar, hatinya tidak tenang karena menerka apa yang akan di bahas diruangan ini. Kehadiran Rahma disana semakin memperburuk suasana hatinya.
Aji terus menggenggam tangan Intan, karena ia tahu jika istrinya itu sedang menahan sesuatu di dalam hatinya. Ia sendiri belum tahu permasalahan apa yang akan dibahas sang ibu.
"ummi bahagia sekali melihat kalian berkumpul seperti ini," ucap ummi Sarah sambil menatap satu persatu anggota keluarganya. Hanya Aslam yang belum hadir di ruangan ini.
Ummi Sarah memberikan kode untuk Rahma agar duduk di sebelahnya. Binar bahagia terpancar dari wajah ummi Sarah tatkala Rahma berada di sampingnya.
__ADS_1
"Rahma, ummi sudah menemukan jodoh seperti yang kamu inginkan," ucap ummi Sarah seraya mengusap lengan Rahma.
Rahma sedikit terkejut mendengar ucapan ummi Sarah, ia reflek mengalihkan pandangan ke arah Aji. Namun, tak lama setelah itu ia kembali menatap ummi Sarah karena takut dengan wanita yang ada di samping Aji.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu kalau kamu mencintai pria yang akan menjadi suamimu ini?" tanya ummi Sarah. Beliau terlihat antusias sekali malam ini.
"emmm bukankah ummi sudah tau kalau selama ini saya menyimpan rasa untuknya?" gumam Rahma dengan kepala yang tertunduk, ia tak sanggup untuk menegakkan kepalanya karena malu.
Rahma terlihat salah tingkah. Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya menjadi istri sah Aji setelah ini. Cita-citanya untuk menjadi menantu di keluarga ini sebentar lagi mungkin akan terwujud, ia menyimpulkan sendiri semua ucapan ummi Sarah yang belum tentu arahnya kemana.
"ummi lega karena setelah ini kamu akan memiliki seorang suami dan menjadi keluarga ummi," ucap Ummi Sarah yang berhasil membuat Intan, Aji dan Ninis membelalakkan mata.
Aji semakin menggenggam telapak tangan Intan. Ia tidak mau istrinya berbuat apapun saat ini. Ia sendiri bingung bagaimana bisa ibunya itu memutuskan hal yang besar tanpa persetujuannya.
"Keluarga ummi?" Rahma meyakinkan lagi ucapan ummi Sarah yang membuat jantungnya semakin berdegup kencang.
"Tentu saja. Kamu akan menjadi keluarga ummi karena sebentar lagi kamu akan ummi nikahkan dengan A ...." ummi Sarah menghentikan ucapannya saat melihat dua orang pria masuk ke ruang keluarga.
"Assalamualaikum ...." ucap kedua pria yang baru saja menghentikan langkahnya di ruang keluarga.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
Hay, aku punya rekomendasi cerita yang bagus nih, yuk kepoin😍
__ADS_1