
Rona jingga mulai terlihat di ujung barat, suara adzan ashar pun telah berkumandang sejak empat puluh lima menit yang lalu. Aji baru saja sampai di halaman rumah setelah menempuh perjalanan jauh dari Surabaya. Ia baru saja mengantar Aga ke salah satu rumah sakit swasta yang dekat dengan rumahnya, itupun sesuai permintaan Aga, ia ingin di rawat orangtuanya sendiri.
Aji masih betah berada di dalam mobil, ia sedang menyusun kalimat yang akan ia ucapkan bila keluarganya bertanya dimana keberadaan Aga saat ini. Sekilas Aji menatap wajahnya lewat kaca spion dalam mobil, ada luka lebam di sudut bibirnya karena tadi sempat terkena pukulan dari Aga.
"Bismillahirrahmanirrahim ...." gumam Aji sebelum membuka pintu mobilnya. Ia sudah menyiapkan semua jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan di layangkan kedua orangtuanya nanti.
Aji terus melangkah menuju rumahnya, ia masuk lewat pintu samping dengan perasaan yang berdebar kencang, apalagi ketika melihat kedua orangtuanya dan Ninis sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Assalamualaikum ...." ucap Aji setelah dekat dengan ruang keluarga.
"Waalaikumsalam ...." jawab serempak ketiga orang yang sedang duduk di ruang keluarga.
Ummi Sarah tertegun ketika melihat Aji dari dekat, ada luka lebam yang menghiasi wajah tampan putra bungsu itu, "kenapa wajahmu seperti ini, Nak?" tanya Ummi Sarah.
Ninis seketika menajamkan pandangannya, ia menatap Aji dengan tatapan nyalangnya. Ninis mengamati satu persatu bagian tubuh adiknya, ia hanya ingin memastikan jika tidak ada luka lain di tubuh Aji.
"Di mana Aga sekarang?" tanya Ninis,
"Aga di Surabaya, tadi Aji yang mengantarnya kesana," ucap Aji setelah duduk di samping Ummi Sarah.
Tanpa di tanya, Aji menjelaskan alibi yang sudah tersusun rapi sejak dirinya pulang dari Surabaya. Aji mengatakan jika dirinya dan Aga terlibat perkelahian dengan salah satu musuh lama Aga. Ia pun menceritakan kondisi Aga saat ini.
"Ji, jangan sampai kamu punya musuh!" Sebuah nasihat singkat dari Kyai Yusuf setelah mendengarkan cerita putra itu.
"Nis, sekarang tolong telfon Bulik mu! Ummi pengen tau keadaan Aga," ucap Ummi Sarah seraya menatap Ninis.
Aji segera pamit ke kamarnya ketika melihat Ummi Sarah sedang melakukan panggilan Video bersama ibunya Aga. Rasa bersalah karena membohongi kedua orangtuanya akhirnya mulai menyerang ketenangan jiwa Aji. Ia benar-benar resah dan merasa bersalah, terutama kepada Ummi Sarah.
Aji menghempaskan diri di atas ranjangnya. Ia mengusap wajahnya kasar setelah mengingat apa saja yang sudah ia perbuat kepada Aga. Tapi di sisi lain ia merasa lega karena bisa meluapkan semua emosi yang memuncak di kepalanya.
__ADS_1
"Tan, harusnya kamu melihat sendiri bagaimana aku memberi Aga pelajaran," batin Aji dengan pandangan yang tak beralih dari plafon kamarnya.
Rasa lelah telah di rasakan Aji saat ini, ia memutuskan untuk tidur sejenak, melepaskan semua beban yang ia rasakan saat ini. Menurutnya semua yang terjadi saat ini adalah hal terberat dalam hidupnya. Ia telah keluar dari zona nyamannya selama ini.
***
Suara adzan isyak telah berkumandang. Aji mengerjapkan matanya pelan ketika mendengar suara adzan. Aji terkesiap ketika melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan angka tujuh malam.
"Ya Allah, aku melewatkan sholat magrib!" seru Aji. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sholat isyak.
Tidur terlalu nyenyak membuat Aji lupa waktu. Dunia mimpi yang indah telah membuatnya lupa jalan pulang ke dunia nyata ini. Sepuluh menit kemudian, Aji akhirnya selesai bersiap. Ia segera memakai peci dan menggelar sajadah di kamarnya dan beberapa menit kemudian, Aji telah selesai menunaikan kewajiban empat rakaatnya.
Aji keluar dari kamarnya, suasana rumah besar ini sunyi sepi, tak ada tanda-tanda keberadaan Ummi Sarah ataupun Ninis. Aji terus berjalan sampai di dapur, di sana Aji melihat Mbok Sumi sedang merebus air.
"Mbok, Ummi sama Ning pada kemana?" tanya Aji setelah duduk di kursi yang ada di dapur.
"kalau Abah?" Aji menatap Mbok Sumi.
"Abah di pendopo belakang, ini Mbok sedang membuatkan Abah kopi," ucap Mbok Sumi, lalu beliau pamit dari hadapan Aji untuk mengantar kopi Kyai Yusuf.
Sepeninggalan Mbok Sumi, Aji mengedarkan pandangannya. Ia menatap pintu gudang yang tertutup itu, lalu ia bangkit dari tempatnya saat ini dan berjalan menuju gudang penyimpanan alat kebersihan.
Aji tertegun setelah melihat keadaan gudang tersebut. Tak lupa ia menghidupkan lampu gudang untuk melihat keadaan di dalam sana. Seketika bayangan wajah Intan yang menangis pilu berkeliaran di kepalanya.
"Apa di tempat ini kamu kehilangan masa depanmu?" gumam Aji dengan mata yang berkabut karena tak kuasa membayangkan kejadian yang menimpa Intan.
Bulir bening itu perlahan menetes tanpa komando. Bukan karena Aji pria yang cengeng, tapi hatinya benar-benar terluka karena kejadian itu. Bunga yang di harapkan tumbuh dengan baik, kini telah layu dan tak memiliki madu.
Aji memutuskan keluar dari tempat ini, ia sudah tidak kuat lagi menahan beban ini sendiri. Aji butuh seseorang untuk berbagi semua keresahan yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
"aku harus bicara dengan Abah," gumam Aji setelah keluar dari gudang yang menyesakkan itu.
Tak butuh waktu lama, kini Aji sudah sampai di pendopo, di mana Kyai Yusuf sedang duduk seorang diri. Setelah mengucapkan salam, Aji segera duduk di hadapan Kyai Yusuf.
Pertama kali, Aji mencoba basa-basi kepada Kyai Yusuf. Ia melaporkan bagaimana cafe yang ia kelola bersama Farhan, ia mencari momen yang tepat untuk mengatakan semua dosa yang telah ia lakukan.
"Bah ..." ucap Aji setelah beberapa menit terdiam, "Aji ingin ngobrol serius dengan Abah," akhirnya Aji memberanikan diri untuk mengakui semua kesalahannya.
Kyai Yusuf hanya mengulas senyumnya, beliau seakan sudah tau apa maksud kedatangan Aji saat ini, "hal serius apa yang membuatmu resah seperti ini, Ji?" ucap Kyai Yusuf sambil menatap Aji dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah keriput itu.
Aji menyodorkan kedua tangannya di hadapan Kyai Yusuf, ia menundukkan kepalanya karena tak sanggup untuk menatap wajah yang selalu mengulas senyum itu.
"Aji telah membuat kesalahan yang besar, Bah. Aji siap di hukum," ucap Aji dengan kepala yang tertunduk.
Kyai Yusuf hanya diam sambil mengamati putra bungsunya itu, beliau seakan memiliki banyak stok untuk tersenyum, "kesalahan apa yang membuatmu seperti ini?"
"Kedua tangan ini lah yang membuat Aga mengalami patah tulang, Bah. Jadi, Aji siap dihukum walau di cambuk sekalipun." akhirnya, Aji mengakui kesalahannya meskipun semuanya terasa berat.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1