Surga Hitam

Surga Hitam
Iri bilang Bos!


__ADS_3

Rona kuning terlihat indah di cakrawala timur untuk menemani sang surya menampakkan diri. Udara pagi masih terasa dingin tapi semua itu tak menyurutkan semangat sepasang suami istri yang sedang jalan kaki mengelilingi desa. Siapa lagi kalau bukan Intan dan Aji. Selepas sholat subuh, tiba-tiba saja Intan ingin berkeliling di desa yang ia tempati selama ini.


Intan menarik napasnya dalam ketika merasakan sejuknya udara di desanya. Ia berjalan beriringan dengan Aji menapaki aspal yang basah tanpa alas kaki. Rileks, mungkin itulah yang dirasakan Intan saat ini, tubuhnya terasa tenang saat telapak kaki itu menyentuh tanah tanpa alas kaki.


Bibir sepasang suami istri itu terus melengkung indah tatkala berpapasan dengan warga sekitar. Semua orang pun tau siapa pria yang sedang berjalan kaki dengan istrinya itu. Keluarga kyai Yusuf benar-benar dihormati di desanya.


"Sayang, lebih baik kita istirahat dulu, ini sudah terlalu jauh loh!" ucap Aji seraya menatap istrinya.


"istirahat di warung nasi pecel saja ya, Mas. Itu loh yang ada di dekat sawah." Intan menatap Aji dengan sorot mata penuh harap.


"Baiklah, sekalian kita sarapan di sana saja," ucap Aji setelah menatap istrinya sekilas.


Aji tetap menggandeng tangan Intan meskipun di depan umum. Ia tidak perduli meskipun banyak mata yang memandang. Keromantisan kecil yang ditunjukkan Aji terkadang membuat iri orang-orang yang ada di sekitarnya.


"kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Aji setelah duduk di bangku panjang yang ada di teras warung. Hamparan hijau yang luas pagi ini terlihat indah di pandangan. Tanaman padi yang baru tumbuh itupun berhasil menambah keindahan yang tercipta.


"pecel semanggi saja, Mas!" jawab Intan tanpa menatap Aji. Ia sibuk melihat para petani yang sedang mengurus padi nya.


Usia kandungan Intan sudah memasuki minggu kesepuluh. Rasa mual di kala sore hari mulai berangsur hilang. Rasa mual itu hanya datang dua kali saja selama satu minggu. Namun, ada kalanya ia merasakan ngidam, tentunya keinginan yang tak masuk akal. Beberapa hari yang lalu, Intan ngidam jus salak yang di campur dengan rambutan.


"Anak ayah kalau besar mau jadi profesor ya, masih dalam perut kok suka eksperimen yang aneh-aneh,"


Ya, itulah yang dikatakan Aji ketika mendengar permintaan sang istri, ia berbicara di hadapan perut Intan yang belum terlihat buncit. Saat itu Aji berusaha membeli jus yang diinginkan Intan di setiap pedagang Jus dalam satu kecamatan. Tetap saja Aji tidak bisa membelikan Intan jus tersebut, ia pulang dengan membawa satu kresek buah salak dan rambutan sebagai gantinya. Calon ayah itu pun akhirnya bisa mewujudkan keinginan istrinya dengan cara membuat sendiri di rumah.


"Uh, ternyata rasanya enak meskipun agak aneh!" seperti itu lah komentar Intan setelah menghabiskan segelas jus salak campur rambutan. Melihat wajah ceria sang istri, membuat Aji bergidik ngeri karena ia sempat mencicipi jus aneh yang diminta Intan.


Lamunan tentang jus salak pun hilang seketika setelah Aji mendengar suara sang pemilik warung yang sedang berdiri di sisi mejanya. Pemilik warung tersebut meletakkan satu persatu makanan pesanan Aji di atas meja, "monggo, Gus!" ucap pemilik warung tersebut sebelum berlalu pergi.


Pecel semanggi di warung 'Barokah' ini menjadi favorit para warga dikala pagi untuk sarapan. Warung ini tidak pernah sepi pembeli karena rasa pecelnya memang enak.

__ADS_1


"Mas, itu yang berhenti di sebrang jalan jualan apa sih?" tanya Intan saat mengedarkan pandangan ke depan.


"Sepertinya itu jualan klanting, Sayang," jawab Aji setelah menguyah makanannya.


Setelah menghabiskan makanannya, Intan segera bangkit dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Aji seorang diri di warung tersebut. Rupanya menantu ummi Sarah itu ingin membeli jajanan bernama klanting itu.


Aji mengamati sang istri yang sedang berinteraksi dengan pembeli lainnya, ia bahagia karena melihat istrinya yang ramah dan mau berbaur dengan orang lain, tidak seperti Firda—kakak ipar Aji itu terkadang tidak mau hadir jika di undang ke acara yang ada di desa.


Aji tercengang melihat kresek besar yang sedang dijinjing Intan. Aji bertanya-tanya dalam hati untuk apakah klanting sebanyak itu, "Sayang, beli sebanyak itu untuk apa?" tanya Aji dengan kening yang berkerut.


"nanti di bagi sama ning Isna dan si Pirda kan bisa. Abah dan ummi pasti mau 'kan?" ucap Intan setelah duduk kembali di sisi Aji.


Merek berdua duduk santai di warung tersebut dengan ditemani segelas wedang jahe. Rasa hangat perlahan menjalar di tubuh yang sempat diterpa rasa dingin karena sang mentari telah menampakkan diri.


***


"Ning, ini ada klanting untuk Ning Isna dan Mas Aslam," ucap Intan seraya menyerahkan beberapa bungkus untuk kakak iparnya.


"Ya sudah, kita santai makan bareng di sini saja," jawab Aslam seraya menggeser tubuhnya untuk memberi Aji dan Intan tempat.


Gelak tawa renyah terdengar di sana, mereka bercanda dan menggoda anak-anak Aslam yang sangat lucu itu. Intan pun tak henti menggoda Ikhsan hingga bocah berusia tiga tahun itu menjadi kesal. Beberapa menit kemudian, dari arah depan terlihat Firda sedang berjalan bersama tiga anaknya menuju gazebo, mungkin ia ingin bergabung bersama saudara yang lain.


"Ning Fir, sini Ning!" ujar Isna setelah jarak Firda semakin dekat.


Firda ikut bergabung di gazebo tersebut setelah menurunkan putra ketiganya dari sepedah. Ia duduk berhadapan dengan Intan di sisi gazebo, "Ning, ini klanting untuk Ning dan Mas Sholeh," Intan memberikan beberapa bungkus klanting kepada Firda.


"Terima kasih," jawab Firda singkat setelah menatap Intan, "Tapi aku sendiri tidak seberapa suka dengan klanting," jawab Firda yang membuat ekspresi wajah Intan berubah seketika.


"Kalau Ning gak suka biar anak-anak yang makan, nanti kalau kurang, ini masih banyak kok," ucap Intan seraya mengeluarkan beberapa bungkus lagi untuk Firda.

__ADS_1


"loh memangnya kamu beli berapa bungkus?" tanya Firda, "itu yang di kresek isinya klanting semua?" Firda mengernyitkan keningnya setelah melihat kresek putih yang ada di sisi Intan.


"Iya Ning," jawab Intan seraya menatap Firda dengan sorot mata yang mulai berubah.


"Duh, kenapa beli makanan seperti ini banyak sekali! mending beli yang lain, Dik! kalau seperti ini cepat basi dan rasanya juga biasa aja, gak terlalu enak," ujar Firda yang berhasil membuat Intan meradang.


Aji ketar-ketir ketika melihat perubahan ekspresi wajah sang Istri. Perasaan Aji mulai tak menentu ketika istrinya itu mulai turun dari gazebo dan berdiri menghadap Firda. Intan sendiri sering mengalami perubahan mood, ia lebih sensitif dari sebelumnya apalagi dengan istri Sholeh itu, meskipun tidak hamil Intan sangat sensitif dengan Firda.


"Susah ya sehari saja gak pakai nyinyir?" tanya Intan dengan wajah yang merah karena menahan amarah yang bergejolak dalam hati.


"Loh, aku ini kan cuma ngasih saran aja." Firda bersikap tenang sambil bersandar di tiang gazebo, mungkin istri pertama Sholeh itu ingin memancing emosi adik iparnya itu


Intan semakin geram setelah mendengar ucapan Firda. Ia harus menahan emosinya agar tidak berlebihan, tangannya saja sudah gatal ingin menyentuh pipi wanita yang dianggapnya munafik itu.


"Memang benar ya kata orang-orang! apa yang kita lakukan tidak pernah benar di mata seseorang yang tidak suka dengan kita. Kenapa sih Ning Firda kok suka banget membuat saya kesal?" tanya Intan dengan pandangan yang tak lepas dari Firda.


"Ning tidak suka ya liat saya dan Ning Isna bahagia dengan kehidupan kami? atau jangan-jangan Ning gak pernah mendapatkan keromantisan seperti kami hingga Ning selalu nyinyir?" sarkas Intan dengan wajah yang terlihat semakin muram itu.


"Kalau iri bilang boss!" ujar Intan sebelum pergi dari gazebo. Tanpa pamit, ia pergi begitu tanpa memperdulikan ketiga orang yang tercengang karena kalimat pedas yang ia ucapkan.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 maapkan othor yak karena kemarin gak up🙏 kemarin othor ada acara di balai desa, menjadi bu ibu sosialita😂😝 oh iya, btw aku mau ngasih tau nih rupa klanting yang ada di sini, awas jangan ngiler😂



🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2