
Penunjuk waktu sudah berada di angka satu dini hari, tapi Intan belum bisa tidur nyenyak. Ia sibuk menatap Aji yang sedang terlelap di bed penunggu pasien. Intan terus mengembangkan senyumnya ketika melihat wajah yang terlihat tenang itu. Senyum manis itu seketika pudar tatkala dalam pikiran Intan muncul sebuah pertanyaan yang membuat tubuhnya meremang.
"Bagaimana kalau dia meminta hak nya sebagai seorang suami?"
Intan menutup kelopak matanya seketika tatkala membayangkan hal itu. Jujur saja ia takut melakukan hal itu karena kejadian di masa lalu, rasa trauma sepertinya belum hilang dari memori otaknya.
"Tidak! tidak!" Intan bergumam setelah mengubah posisinya. Ia kembali terlentang untuk menatap langit-langit ruangan itu. Tubuhnya semakin meremang saat membayangkan bagaimana jika Aji meminta haknya setelah ini.
Aji mengerjapkan matanya tatkala mendengar suara Intan. Ia menajamkan matanya ke arah Intan, ia melihat Intan masih menatap langit-langit kamar padahal ia seharusnya istirahat di jam-jam seperti ini.
"Kenapa belum tidur, Tan?" tanya Aji setelah duduk di samping bed Intan.
"Emm—saya ... saya belum bisa tidur, Gus," ucap Intan seraya memutar bola matanya.
Aji menyatukan ujung alisnya karena melihat kebohongan di wajah Intan. Tangannya terulur untuk meraih tangan kiri Intan, dikecupnya punggung tangan itu beberapa kali.
"apa yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Aji seraya menatap Intan dengan mata teduhnya.
Intan kembali memutar bola matanya ke segala arah, ia mencoba mencari alasan yang tepat untuk di ucapkan kepada suaminya itu, tapi sepertinya kali ini otaknya tidak bisa bekerja maksimal untuk mencari alasan.
"saya belum siap jika Gus minta hak yang semestinya di dapat seorang suami," ucap Intan dengan suara yang sangat lirih, ia sebenanrnya malu untuk mengatakan semua itu, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak punya pilihan lain selain jujur.
Aji hanya diam dengan pandangan yang tak lepas dari Intan. Sekuat tenaga ia harus menahan tawanya karena gemas melihat Intan. Mana mungkin dirinya meminta hak itu di saat Intan tak berdaya seperti ini, bahkan luka jahitan di kepalanya saja belum kering.
__ADS_1
"Kamu tidak usah memikirkan hal itu, Tan. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan kewajiban sebelum kamu siap," ucap Aji seraya mengusap pipi mulus Intan.
"Lebih baik sekarang kamu tidur. Kamu harus istirahat agar cepat sembuh," ucap Aji dengan diiringi senyum manis setelahnya, "Jangan memikirkan apapun yang membuatmu resah, semua bisa kita bicarakan berdua, oke?" lanjut Aji dengan pandangan yang tak lepas dari Intan.
Intan akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar jawaban dari Aji. Setidaknya ia masih punya waktu untuk mempersiapkan diri jika memang hal itu akan terjadi. Ia akan berusaha melupakan kejadian menyakitkan itu agar tidak takut lagi jika suatu saat Aji meminta haknya.
Dengkuran halus mulai terdengar di sana. Intan terlelap setelah beberapa menit ngobrol dengan Aji. Setelah memastikan Intan tertidur pulas, Aji melepaskan genggaman tangannya, ia bangkit dari tempatnya dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Waktu sepertiga malam adalah waktu yang paling tepat untuk melepas rindu kepada Sang Pencipta. Keheningan alam menambah syahdunya suasana merajut kasih dengan Sang Khalik. Aji duduk bersila dengan kepala yang tertunduk, kelopak matanya tertutup karena saat ini ia sedang melepaskan segala kerisauan hatinya kepada-Nya.
"Terima kasih Engkau telah memberikan rangkaian kejadian yang menyesakkan di hari yang lalu. Kini, Engkau telah menggantinya dengan kebahagiaan berkali-kali lipat sampai hamba tidak percaya jika semua ini nyata, Ya Rabb,"
"Hamba tidak tahu setelah ini harus bagaimana, hamba berserah diri kepadaMu, wahai Sang Pemilik jagat. Tuntun hamba agar bisa menetapkan hati pada satu keyakinan, bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendakMu,"
"Ya Rabb, Engkau adalah pemilik kehidupan yang ada di dunia ini. Hanya Engkau yang bisa membolak-balikkan hati umatmu. Maka dari itu, hamba meminta agar Engkau menetapkan hati hamba di surga yang telah Engkau kirim hari ini."
Sementara itu di tempat lain—lebih tepatnya di pondok pesantren Al-Khadijah, ada seorang gadis yang masih terjaga di sepertiga malam ini. Gadis itu tak bisa menutup kelopak matanya walau hanya sekejap saja. Air matanya seakan tak ada habisnya karena meratapi takdir Tuhan yang tak berpihak padanya.
Ya, gadis itu tak lain adalah Rahma. Ia menangis karena tidak rela Aji menikahi gadis pilihannya. Ia tidak pernah menyangka jika akhirnya ummi Sarah semudah itu memberikan restunya kepada Aji.
"Kenapa? kenapa bukan aku saja yang menjadi istrinya?" gumam Rahma dengan kepala yang bersandar di dinding. Ia duduk seorang diri di depan kamarnya, karena tak mungkin ia menangis di dalam, di mana ada dua temannya di sana.
Rasanya begitu sakit jika memendam rasa seorang diri, apalagi pria pujaannya selama ini sudah resmi menjadi seorang suami walaupun hanya sah di mata agama. Ia terus me-re-mas ujung hijabnya karena tak kuasa menahan sesak di dada.
__ADS_1
Rahma tidak terima jika Aji menjatuhkan hatinya kepada gadis bertato itu. Jika saja ia bisa menghentikan pernikahan itu, pasti sudah ia lakukan. Sayangnya, ia hanya bisa menangis dan meratapi semua yang sudah terjadi.
"Jika aku tidak bisa menjadi istri pertama, setidaknya aku masih bisa menjadi istri yang kedua," gumam Rahma di sela-sela isak tangisnya.
Gadis itu seakan kehilangan pedoman dalam hidupnya, ia lupa semua pelajaran yang ia peroleh di pondok selama ini. Obsesi yang besar telah mengalahkan segalanya. Seharusnya gadis cantik seperti Rahma mempunyai bekal untuk memperoleh pria yang lebih sempurna dari Aji.
"Aku tidak rela Gus Aji menjadi milik wanita itu!" ujar Rahma dengan pandangan lurus ke depan
Kondisi gadis itu memprihatinkan, Ia tenggelam dalam perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan, bahkan pria yang selama ini ia sebut dalam doa itu tak sedikitpun mengetahui tentang perasaannya.
Waktu terus berjalan tanpa bisa di hentikan, Ayam jantan pun mulai berkokok, tanda sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Rahma segera beranjak dari tempatnya saat ini karena sebentar lagi rutinitas pagi akan segera di mulai. Mata yang sembab dan pandangan yang sayu terlukis di wajahnya karena semalaman ia tidak tidur. Ia terlarut dalam kekalahan sebelum berperang, patah hati sebelum berpacaran. Rahma mengayun langkah menuju kamar mandi, mungkin mengguyur kepalanya di pagi buta bisa menjernihkan pikirannya saat ini.
"Aku harus mencari cara sebelum Gus Aji mengesahkan pernikahannya nanti," gumam Rahma saat mengguyur tubuhnya dengan air kran.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka😍♥️
Btw, Aji dan Intan enaknya punya panggilan apa ya? kasih saran dong gengs😂
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷